
Anya hanya mengikuti langkah Rafa yang membawanya ke beberapa butik di dalam mal itu. Tangannya terus di genggam oleh Rafa, seolah Dia takut kalau Anya akan pergi darinya.
Rafa mengambil dua gaun yang terlihat sangat cantik. Sudah dapat di pastikan kalau harganya pasti sangat mahal.
Anya hanya diam saat mencocokan gaun itu ke tubuhnya. Setelah dirasa cocok Rafa langsung membayarnya.
Dia ini beli baju buat siapa si?
"Sayang" panggil Anya pelan
"Apa? Ada yang mau kau beli?" tanya Rafa
Anya menggeleng cepat "Bukan itu. Aku cuma mau minta izin untuk ngajak Rara ya nanti pas acara pernikahan adik kamu?"
"Ya ampun sayang, aku sampai lupa gak undang saudara kamu. Ya udah kamu ajak aja, sekalian orang tuamu juga di ajak. Maaf ya aku terlalu sibuk sampai lupa buat ngundang keluargamu" kata Rafa
"Gak papa, lagian aku cuma mau ajak Rara aja. Kalau Bunda sibuk ngurusin adik aku yang masih bayi" jelas Anya
"Wahh. Apa kau masih punya adik yang masih bayi?" tanya Rafa
"Iya, baru aja berusia 3 bulan" jelas Anya
"Wah lagi lucu lucunya ya. Aku jadi penasaran dengan keluargamu Sayang. Aku juga dulu suka banget sama adik bayi" kata Rafa antusias
"Hmm. Sekarang kita pulang ya, aku udah capek nih dari tadi keliling mal" keluh Anya
Rafa mengelus rambut Anya yang tergerai "Iya Sayang. Ayo kita pulang sekarang"
Mereka telah sampai di parkiran. Rafa langsung membukakan pintu mobil untuk Anya.
Rafa melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Semua belanjaan yang Rafa beli di simpan di kursi belakang.
__ADS_1
"Sayang. Itu kan tadi aku beli gaun nya dua. Kau berikan saja satu untuk Rara, biar nanti kamu aku belikan lagi" kata Rafa masih fokus pada kemudinya
"Hah? Maksudnya itu semua untuk aku gitu?" tanya Anya tidak percaya
Rafa tersenyum tipis "Tentu saja. Untuk siapa lagi"
"Tapi aku tidak perlu, lagian aku masih punya banyak baju kok" kata Anya berusaha menolak
Rafa mengelus kepala Anya "Kau harus tampil berbeda pada acara pernikahan adik ku nanti. Makanya aku membelikanmu gaun, sepatu dan tas" jelas Rafa
Maksudnya apa? Apa Dia malu dengan penampilanku yang seperti ini?
Anya diam, ada rasa sakit di hatinya. Tapi bukan Anya jika tidak bisa menutupi semua perasaan nya itu.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Anya masuk ke dalam kamarnya. Menghampiri Rara yang sedang tiduran sambil membaca novel. Anya menyimpan tas selempangnya di atas tempat tidur juga paper bag belanjaan nya.
"Rafa yang beliin, mana mampu Gue beli barang mahal kaya gini" kata Anya. Rara hanya mangut mangut mengerti
"Nih buat Lo" Anya memberikan satu paper bag pada Rara
"Buat Gue??" Rara menunjuk wajahnya sendiri seolah tidak percaya dengan apa yang katakan Anya.
Anya menangguk "Iya, itu gaun buat nanti Lo hadirin acara pernikahan adiknya Rafa. Tadi Rafa yang nyuruh Gue buat kasih ke Lo"
Rara semakin bingung, tapi Dia meraih paper bag dari Anya dan membukanya.
"Lo yakin ini buat Gue? Ini pasti mahal banget loh Nya" kata Rara menatap Anya
Anya mengangkat bahunya acuh tak acuh "Gue juga tau kalo itu barang mahal. Tapikan kalo kita di kasih, ya terima aja Ra. Rezeki gak boleh di tolak"
__ADS_1
"Oke dech. Kalo gitu Gue terima, bilangin makasih banyak sama Rafa" kata Rara
"Iya. Nanti kita barengan ya ke pesta pernikahan adiknya Rafa" kata Anya
Rara mengangguk "Iya"
"Tapi Ra" Anya membenarkan posisi duduknya. Menatap Rara dengan tatapan menyelidik.
"Apa Lo gak di ajak sama Doi ke pernikahan adiknya Rafa?" tanya Anya heran karna setahunya Nevan dan keluarga Rafa sangat dekat. Mana mungkin Dia tidak di undang.
Entahlah. Aku pun bingung dengan hubungan ini. Apa pantas kami di sebut sebagai sepasang kekasih saat hanya akulah yang selalu menganggapnya kekasih. Sementara Dia tidak.
Semakin berjalan nya waktu Rara semakin merasakan kejanggalan dalam hubungan nya dengan Nevan.
Sudah dua bulan mereka saling mengenal dan menjadi sepasang kekasih sekitar sebulan lebih. Tapi yang di rasa Rara hanya kehampaan. Tidak ada rasa kehangatan saat mereka bersama.
Nevan hanya berbicara seperlunya seperti biasa. Walau tidak separah dulu saat pertama kali bertemu. Tapi Rara tetap merasakan ada kejanggalan dengan hubungan ini.
"Ra, hei" teriak Anya sambil menepuk bahu Rara
Rara mengerjap "Ehh. Enggak Gue gak di ajak sama Nevan"
"Loh kenapa? Apa Dia lupa?" tanya Anya bingung
Rara terdiam beberapa saat "I..iya mungkin Dia lupa. Ya, pasti Dia lupa kalau gak mana mungkin Dia gak ngajak Gue"
Rara mencoba menghilangkan segala keraguan dan keresahan nya. Dia selalu ingin berfikiran positif pada Nevan.
Meski hatinya tak bisa di bohongi kalau Rara memang merasa ada yang Nevan sembunyikan.
Bersambung
__ADS_1