Kau Istriku Bukan Simpananku

Kau Istriku Bukan Simpananku
Part 80


__ADS_3

Dea duduk terdiam di Cafe Apple. Menunggu kehadiran Viza, beberapa kali menoleh ke arah pintu berharap lelaki yang di tunggunya datang.


Satu jam


Dua jam


Tiga jam


Yang di tunggu tidak juga datang. Jelas Dea kecewa dan marah karna merasa di bohongi oleh Viza.


Kenapa kau harus percaya perkataan nya si Dea.


Beberapa kali Dea melihat jam tangan nya dan melihat ponselnya berharap Viza akan mengirimkan pesan padanya. Dengan perasaan kecewa Dea pergi dari Cafe itu.


Mungkin Dia memang tidak akan datang.


Sementara itu di lain tempat, Viza baru saja selesai melakukan operasi cesar pada pasien nya. Saat Dia akan berangkat menemui Dea, tiba tiba datang pasien nya yang membutuhkan pertolongan pertama saat itu juga.


Viza berlari keluar dari rumah sakit dan segera pergi menuju Cafe Apple. Dia berharap Dea masih ada disana. Tiga bulan lebih Dia tidak bertemu dengan Dea membuat Dia sadar kalau ternyata hatinya sudah mempunyai perasaan lebih pada gadis itu.


Setiap malam Viza selalu terbayang wajah Dea dan senyuman manisnya. Viza hampir gila karna menahan rasa rindu. Dia masih merasa gengsi untuk mengatakan cinta pada Dea. Tapi sekarang Viza akan mengatakannya langsung. Sudah tidak ada keraguan lagi di hatinya.


Viza melihat Cafe Apple sudah tutup, Dia memukul kemudi dengan kesal. Dea pasti sudah pergi, ini sudah terlalu malam dan Viza merasa sangat bersalah karna telah mengingkari janjinya.


"Baiklah, akan aku temui besok di kampusnya"


Viza kembali masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju apartemen miliknya.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Semalaman Dea menangis, Dia benar benar kecewa pada Viza. Lebih sakit dari pada saat Viza mengatakan kalau Dea pacar sementaranya. Viza telah mengingkari janjinya.


Dea baru saja sampai di kampusnya. Dengan mata sembab Dia tetap berangkat kuliah. Karna kalau hanya di rumah saja Dea akan semakin merasa sakit ketika terus kefikiran Viza.


"Deaaa"


Dea menoleh dan melihat Alin berlari ke arahnya "Ada apa Lin?"

__ADS_1


"Kamu baru datang ya? Dari tadi aku cariin tau gak? Ada yang nunggu kamu dari tadi di sana" Alin menunjuk ke arah taman yang berada di sebrang kampusnya.


Dea mengerutkan keningnya "Siapa? Kenapa harus menunggu disana coba?"


"Udah ayo ikut aja "


Alin menarik tangan Dea dan berjalan ke arah taman. Dea hanya mengikuti langkah Alin, walaupun Dia bingung siapa yang mau bertemu dengan nya.


"Itu tuh yang mau bertemu denganmu" Alin menunjuk ke arah seseorang yang duduk membelakangi mereka di bangku taman.


"Siapa si Lin, aku gak tau Dia siapa?" kata Dea tidak berniat untuk menghampiri orang itu.


"Ihh udah samperin dulu aja De, siapa tau Dia mau ngomong yang penting sama kamu" kata Alin mendorong tubuh Dea sampai Dea hampir tersungkur.


"Oke kalau gitu aku ke sana dulu ya De, nanti aku absenin kamu" Alin langsung pergi meninggalkan Dea yang masih bingung harus berbuat apa.


"Terus aku harus ngapain coba sekarang?"


Dea berbalik dan ingin melangkah pergi dari sana. Ngapain harus menemui orang yang bahkan Dea pun tidak tahu siapa.


"De, tunggu"


Deg


Dea berbalik dan matanya langsung terbelalak melihat Viza yang sudah berdiri di depan nya.


Viza langsung mencekal pergelangan tangan Dea saat gadis itu akan pergi darinya.


"De, pliss dengerin aku dulu" kata Viza tetap memegang tangan Dea. Tidak ingin gadis itu pergi sebelum Dia menjelaskan semunya.


"Apa? Apa yang harus Kakak jelaskan? Tidak ada yang perlu di jelaskan" Dea melepaskan tangan Viza dan langsung melangkah pergi.


"Aku mencintaimu De, jadilah kekasihku" teriak Viza


Deg


Dea berhenti melangkah, diam mematung. Detak jantungnya berdetak cepat. Viza langsung menyusul Dea yang diam mematung di tempatnya.

__ADS_1


Tanpa aba aba Viza memeluk Dea dari belakang. Menyandarkan dagu di bahu Dea, menghirup aroma tubuh gadis itu.


Deg Deg Deg


Jantung keduanya berdetak kencang. Dea bingung harus melakukan apa saat ini. Dia hanya diam mematung.


"Aku mencintaimu Dea, jadilah kekasihku" bisik Viza di telinga Dea yang tertutup hijab.


Dea tersadar, Dia langsung melepaskan pelukan Viza dan berbalik menatap mata lelaki itu.


"Bukannya kita sudah menjadi sepasang kekasih ya? Kekasih sementara" kata Dea dengan mata berkaca kaca


Viza meraih kedua tangan Dea, menatap lekat matanya "Aku mau kau menjadi kekasihku Dea. Bukan pacar sementara, aku sadar kalau aku sudah jatuh cinta sama kamu"


"Jatuh cinta? Lalu kenapa selama ini Kakak tidak pernah menemuiku atau sekedar menghubungi ku? Kenapa? Saar Kakak menghubungiku dan mengajak ku bertemu. Kakak tidak datang kan" kata Dea dengan suara bergetar


"Dea tidak percaya kalau Kakak benar benar cinta sama Dea" setetes air mata menetes di pipi Dea.


Viza segera menghapus air mata Dea dan mencium kening nya. Dea terbelalak atas perlakuan Viza.


"Maafkan aku De, semalam aku tidak bisa datang karna ada pasien yang harus aku tangani segera di rumah sakit" jelas Viza


Viza pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi semalam yang membuatnya tidak datang menemui Dea.


"Kakak jahat tau gak" Dea memukul dada Viza, pertahanan nya runtuh. Dia menangis terisak.


Viza memeluk Dea, peduli Dea terus memukuli dadanya. Di biarkan gadis itu meluapkan kekesalan nya padanya.


"Kakak jahat, Dea benci Kakak" Dea terus memukul dada Viza


"Iya aku jahat, tapi kamu jangan membenciku" Viza mengelus punggung Dea


Setelah Dirasa Dea mulai tenang. Viza melepaskan pelukan nya. Menatap manik mata Dea yang basah. Di usapnya sisa air mata di pipi gadis itu.


"Maafkan aku, maukah kau menjadi kekasihku? Menjadi calon istriku mulai saat ini sampai kau siap untuk membina rumah tangga bersamaku?" kata Viza menatap intens pada Dea


Tak mampu berkata kata lagi, Dea hanya mengangguk membuat Viza tersenyum bahagia dan kembali memeluk Dea.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2