Married With My Besti

Married With My Besti
Abbas Patah Hati


__ADS_3

Warning!!! Terdapat umpatan kasar ya part ini✌️😂


*


*


*


Gue langsung meluncur ke apartemen Abbas, setelah mendapat kabar dari Ohim tentang kondisi pria itu. Ohim bilang Abbas tidak bisa dihubungi sejak kemarin, pria itu bahkan juga absen dari kantor dan menghilang tanpa kabar, hal ini tentu saja membuat kami khawatir. Karena tidak biasanya Abbas begini kecuali pria itu sedang memiliki masalah.


Saat gue sampai di sana, ternyata Ohim sudah lebih dulu berada di sana. Tapi pria itu masih berada di luar unit apartemen dan bukannya langsung masuk. Gue yang baru keluar dari lift hanya mampu menaikkan sebelah alis heran, lalu berjalan menghampirinya.


"Kenapa nggak langsung masuk?"


"Nggak dibukain, njir. Gue sampe pegel dari tadi berdiri di sini," keluh Ohim diiringi helaan napas putus asa.


"Kan bisa pake kode sandi, Him, jangan kayak orang susah yang nggak ngerti ginian deh." Gue menggerutu kesal dengan kelakuannya.


"Masalah gue nggak tahu kode sandinya, nyet!" balas Ohim tidak kalah kesal.


"Serius lo nggak tahu?"


"Ya, menurut lo?" Ohim menatap gue galak, "udah, nggak usah banyak nanya buruan buka!" sambungnya kemudian.


Gue mengangguk paham dan mulai menekan digit angka untuk membuka akses pintu. Ohim terlihat takjub saat pintu itu terbuka. Bukan, bukan, bukan karena fakta gue tahu dan hafal kode sandi apartemen Abbas. Melainkan karena kode sandi yang dipakai pria itu.


"Njir, berapa tadi?" tanya Ohim terlihat masih sedikit shock dan agak kaget.


Gue terkekeh. "Iya, bener kok tanggal ulang tahun Alisa."


"Anjir, temen lo sebucin itu ya sama temen gue?"


Ohim berbicara seolah-olah dia hanya berteman dengan Alisa, dan gue hanya berteman dengan Abbas, padahal nyatanya kami berempat berteman.


Gue langsung mengangguk dan mengiyakan karena malas berdebat. Ohim masih terlihat setengah tidak percaya. Gue sedikit terkekeh melihat ekspresi tidak percayanya lalu menutup pintu.


Bau semerbak alkohol seketika langsung menyambut indera penciuman kami setelahnya. Di samping gue Ohim menghentikan langkah kakinya seraya mengumpat kasar. Sedangkan gue memilih untuk langsung mencari keberadaan Abbas, yang ternyata pria itu sedang berpesta minuman terlarang seorang diri. Rambutnya acak-acakan, kemejanya lusuh, dan botol minuman alkohol berserakan di mana-mana.


Gue semakin terheran-heran dibuatnya. Ini sebenernya Abbas kenapa sih? Kok sampai begini? Gue benar-benar penasaran. Niat gue ingin bertanya pada Ohim lebih dahulu, tapi pria itu malah lebih dulu menghampiri Abbas. Merebut botol alkohol yang tadinya sedang dipegang pria itu lalu membantingnya ke sembarangan arah.


Spontan gue memejamkan mata seraya mengumpat kasar. Emang kambing Chindo Arab yang satu ini. Kenapa coba harus pake acara dibanting botolnya? Kan bisa pake alternatif lain, ditaroh di meja semisal.


Ya Tuhan, tolong beri hamba kesabaran yang cukup untuk menghadapi keduanya.


Plak!


Gue langsung membuka mata saat mendengar sebuah tamparan. Oh, enggak, kayaknya nggak mungkin sih seorang Ibrahim Atharrazka cuma nampar, minimal ngegampar sih pasti. Tapi beruntung karena Ohim tidak meninju pria itu.


"Gue harus bilang berapa kali sih, njing, mau sestress apapun lo, jangan pernah sekali-kali berurusan sama minuman haram! Dosa tolol!"


Nasehatin orang tentang dosa tapi mulutnya nggak kalah berdosa? Ya, Ohim orangnya. Dia kalau emosi mulutnya beneran nggak kenal filter, kasar banget.


"Jangan kayak manusia nggak berTuhan, bangsat! Lo juga punya kita, ngapain lo bego banget pake acara minum sendirian? Lo pikir gunanya kita apa? Figuran?"


Gue masih berdiam diri tempat semula, mendengarkan segala umpatan Ohim yang tidak terlalu direspon oleh Abbas, karena pria itu terlihat cukup mabuk berat.


Gue berjalan mendekat ke arah mereka, Abbas mulai meracau tidak jelas, lalu kepalanya ambruk di atas meja dengan kedua mata terpejam. Hembusan napas teratur terdengar setelahnya, menandakan kalau pria itu kini sudah sepenuhnya terlelap karena pengaruh alkohol yang baru saja dikonsumsi.


"Sialan, malah tepar duluan padahal gue belum puas maki-maki dia," decak Ohim dengan wajah kesalnya.


Gue terkekeh tanpa sadar saat mendengarnya. "Dilanjut besok. Ini sekarang mending kita pindahin ke kamar dulu," ajak gue. Namun, dengan segera langsung ditolak Ohim.


"Ogah. Biarin tidur di situ, ntar juga kalau mulai pegel pindah sendiri. Udah biarin aja, mending kita beresin barang laknat ini dulu, nggak tahan banget gue sumpah. Bikin kepala gue kleyengan, njir," keluh Ohim sambil menggulung kemejanya. Dengan gerakan cekatan ia langsung membereskan bekas botol yang berserakan.


Melihat itu jelas gue tidak bisa tinggal diam. Gue langsung membantunya membereskan kekacauan yang dibuat sang tuan rumah.


Kami langsung merebahkan diri di atas sofa setelah selesai beberes. Rasa lapar mulai menyerang. Gue langsung menoleh ke arah Ohim.


"Laper nggak lo?"


Ohim menjawab dengan gelengan kepala. "Gue baru abis makan sebelum ke sini. Masih kenyang banget, bro."


Mendengar jawaban Ohim, gue langsung berdiri dan berjalan menuju dapur. Membuka kulkas untuk mencari sesuatu yang bisa gue makan. Ternyata tidak sesuai harapan, kulkas Abbas ternyata hanya berisi telur dan minuman bersoda, tidak seperti biasa yang selalu ready stok bahan makanan.

__ADS_1


"Go-Food aja," ucap Ohim menyarankan.


Pria itu kini sudah berdiri di belakang gue. Gue spontan bergeser saat menyadari tangannya terulur untuk mengambil kaleng soda.


"Kelamaan. Keburu laper gue, njir, belum makan dari tadi siang," keluh gue sambil memegangi perut.


Ohim langsung mendengus mendengar jawaban gue. "Pinter banget lo kalau nyuruh orang biar nggak telat makan, tapi lo-nya sendiri begitu? Dan lo sebut diri lo dokter? Malu sama gelar kali, Gha," cibirnya kemudian. Ia kembali melanjutkan cibirannya saat melihat gue mengambil mi instan dari kabinet, "udah telat makan malah mau dihajar sama mi instan lagi. Sumpah, Gha, gue yang bukan dari kalangan paramedis aja malu sama kelakuan lo, apalagi rekan sejawat lo?"


Reflek gue tertawa pasrah saat mendengar sindiran Ohim. Tangan gue kemudian menyalakan kompor dan membuka bungkus mi instan milik Abbas.


"Yang penting lambung gue nggak bingung mau mencerna apa. Lagian gue tadi siang ada operasi cito sebelum jaga poli, jadi ya nggak sempet makan berat. Baru mau nyari makan malah lo telfon suruh ke sini."


"Alesan aja lo," dengus Ohim, "tambahin satu lagi mie-nya, telur yang banyak," imbuhnya tiba-tiba.


"Lah katanya masih kenyang?"


"Ya, kalau indomie nggak bisa nolak gue," balas Ohim santai lalu menarik kursi dan duduk di sana.


*


*


*


Saat gue dan Ohim kembali ke ruang tengah, Abbas sudah berpindah posisi. Berbaring di atas sofa dengan posisi tengkurap dan sebelah tangan yang menjuntai ke lantai. Sesekali bibir itu meracau tidak jelas. Gue dan Ohim hanya mampu merespon dengan helaan napas berat saat melihatnya.


Ohim menoleh. "Lo oke nggak kalau gue larang balik abis ini?"


"Kenapa?" Bukannya menjawab, gue malah balik bertanya.


Ohim berdecak. "Lo kayak nggak tahu temen lo kalau lagi mabok aja sih, Gha. Nyusahin, njir, ogah ngurusin gue. Noh, lihat! Udah mulai kan?" Jari menunjuk ke arah Abbas yang kini sedang meracau tidak jelas, tangannya terlihat melambai seperti sedang mencari sesuatu dan tak lama setelahnya terdengar isak tangis yang terendam karena posisinya tengah tengkurap.


"Sa, gue sayang banget sama lo, jangan nikah sama orang lain selain gue. Plis, nikah sama gue aja! Gue cinta sama lo udah lama. Alisa, gue nggak mau kehilangan lo."


Gue meringis saat melihat Abbas. Gawat. Pawangnya Abbas kalau mabuk itu cuma Alisa. Biasanya pun hanya Alisa yang bisa sabar dan telaten ngurusinnya, gue sama Ohim jelas angkat tangan. Terus sekarang gimana? Masa iya gue minta perempuan itu datang dan mengurus Abbas.


Saat otak gue sedang serius berpikir untuk mencari solusi. Tanpa aba-aba Ohim tiba-tiba mendorong gue. Gue yang merasa tidak melakukan kesalahan langsung berbalik dan menatap pria itu galak.


"Apa-apaan sih lo? Kenapa dorong-dorong?"


Gue memutar kedua bola mata malas. "Eh, kampret! Dia juga temen lo kalau lo lupa, kita bertiga temenan, nyet!" balas gue tidak terima. Ini orang lama-lama ngeselin. Meski sebenarnya emang dari dulu sih dia nyebelinnya.


Ohim mengangguk acuh tak acuh. "Iya, iya, yang penting itu lo urus dulu!"


"Gue harus ngapain, njir?"


Gue beneran tidak tahu harus ngapain karena Abbas masih terus memanggil-manggil Alisa sambil menangis. Oh, jangan lupakan tangannya yang terlihat seperti hendak meraih sesuatu itu. Itu orang nyari apaan sih?


"Elus kepalanya. Biasanya Alisa suka gituin Abbas."


Gue langsung menatap Ohim sinis. "Dan lo berharap gue ngelakuin itu juga?"


Dengan wajah datarnya Ohim mengangguk cepat.


"Lo yang bener aja lah, Him, ya kali. Ogah lah, lo aja kalau gitu."


"Ya, kalau nggak lo siapa?"


"Ya kan lo bisa juga, njir."


"Gue ogah."


Gue tidak mau kalah. "Ya sama, gue juga ogah."


"Lo tega?"


Gue langsung menoleh ke arah Abbas yang terlihat begitu patah hati. Sialan. Ohim paling tahu gue itu orangnya tidak tegaan. Akhirnya dengan pasrah, gue berjalan mendekat ke arah Abbas ragu-ragu.


"Bas," panggil gue.


Sumpah gue kaget banget karena pergerakan Abbas yang tiba-tiba menarik lengan gue dan memeluknya erat.


Reflek gue mengumpat. "Anjing!"

__ADS_1


Di ujung sana Ohim terlihat sedang berusaha menahan diri agar tidak terbahak.


"Sa, jangan tinggalin gue, plis! Cuma malem ini aja. Gue mohon," racau Abbas yang mengira gue ini adalah Alisa.


Rasanya pengen banget gue tonyor kepala Abbas terus teriak tepat di telinganya dan bilang kalau gue bukan Alisa. Tapi dengan kondisi Abbas yang serapuh ini mana tega gue begitu.


"Iya, gue nggak bakal kemana-mana, Bas," balas gue dengan nada suara datar. Berharap Abbas notice kalau gue ini bukan Alisa. Cuma namanya orang mabuk ya mana mungkin sadar. Yang ada pelukan pada lengan gue makin kuat.


Tak lama setelahnya Ohim ikut bergabung dan duduk lesehan di sebelah gue.


"Ini gue harus begini sampai kapan?"


"Ya, sampe orangnya bosen," balas Ohim santai. Mana ekspresinya selow banget, nggak ada rasa sungkan-sungkannya. Malah asik ngegame juga sekarang.


"Eh, iya, gue baru ingat. Lo beneran ngelamar Mala?"


"Kenapa lo mikir gitu?" Gue balik bertanya.


"Ya, orang bego mana yang nggak mikir begitu, kalau abis lihat postingan Mala yang pamer cincin berlian yang lo beliin?" Ohim langsung mencibir, "begitu lo kata temen? Tai!"


Gue mengangkat kedua bahu gue acuh tak acuh. "Ya, bisa aja kan temen hidup."


"Si anjir, jadi beneran serius nih lo bakal nikahin dia? Belum juga usaha udah ditikung temen? Ngegas banget sih lo? Kemarin-kemarin ke mana?"


"Sibuk."


"Anjir."


Gue kembali mengangkat kedua bahu acuh tak acuh. Pandangan gue beralih pada Abbas yang masih setia memeluk lengan gue, yang sebenarnya membuat gue makin risih dibuatnya. Tapi tiap gue berusaha menarik diri, Abbas justru semakin memeluk lengan gue erat, seolah-olah gue ini beneran Alisa.


"Him, emang Alisa mau nikah sama siapa?"


"Lo belum denger beritanya?"


Gue menggeleng pelan.


"Belum liat postingan Alisa juga?"


Lagi-lagi gue kembali menggeleng. "Udah lama nggak liat IG gue, IG gue silent, berisik banget, njir."


"Wkwk, siapa suruh bikin geger."


"Bikin geger gimana, njir? Gue kan cuma beliin apa yang dia mau, salah gue di mana?"


"Salahnya di gue, kenapa gue bisa temenan sama lo-lo pada," ucap Ohim sambil menunjuk gue dan Abbas secara bergantian, "heran banget punya temen nggak ada yang bener. Ini ntar kalau Mala minta rumah atau mobil juga bakal lo kasih gitu?"


"Dia udah ada mobil kali nggak bakal minta, dan kalau rumah dia nggak minta juga sih, tapi gue udah beli."


Ohim langsung menatap gue. "Lo beliin dia?"


"Buat berdua."


"Anjir, beneran mau nikah ya kalian?"


Karena gue dan Mala sendiri belum tahu kepastiannya, gue hanya mengangkat kedua bahu gue secara bersamaan sebagi respon.


"Jawab yang bener, njir, jangan bikin orang penasaran begini." Ohim dan batas kesabarannya yang hanya sebatas tisu terlihat emosi dan tidak sabaran.


Gue pun ikut emosi dibuatnya. "Ya, emang belum tahu, Ohim. Tapi katanya sih kemungkinan, iya. Jadi lihat ntar deh. Sekarang kita bahas dulu Alisa, dia mau nikah sama siapa?"


"Calon suaminya lah," ketus Ohim.


"Siapa? Gue nggak tahu, njir."


"Itu loh, yang dibawa pas acara party malam tahun baru kemarin."


Otak gue berpikir keras. Mencoba mengingat siapa yang Ohim maksud karena jujur gue lupa.


Gue tidak dapat menahan keterkejutan gue saat mengingat siapa yang Alisa bawa waktu pesta malam tahun baru kemarin."Anjir, jadi sama yang itu?" Ekspresi gue masih terlihat shock, "kok bisa? Bukannya berondong ya? Gue pikir nggak jadi, njir."


"Ya, enggak brondong juga sih, Gha, gap years-nya sama kita juga nggak sampe 2 tahun deh kalau nggak salah, cuma emang lebih muda yang cowok aja."


"Ya, tetep aja brondong sih gue bilang," balas gue kurang setuju.

__ADS_1


Ohim hanya mengangguk dan mengiyakan seadanya. Pria itu lebih memilih menyibukkan diri dengan ponselnya kembali.


Tbc,


__ADS_2