Married With My Besti

Married With My Besti
Resmi Jadi Bapak


__ADS_3

...Otw Jadi Bapak kecuali ****Abbas****...


**Anda** : sent a picture


Anda : mohon doanya om-om semua๐Ÿ™


**Ohim** : heh, anak siapa itu, Gha?


Anda : menurut lo? ๐Ÿ˜’


Anda : ya anak gue lah, segala pake nanya


Abbas : hah? Gimana? Lu jangan bercanda!


Abbas : kemarin katanya lamaran tau2, ijab qobul. Terus sekarang tau2 jadi bapak?


Abbas : lu hobi banget sih bikin gue senam jantung begini


Anda : hehe โœŒ๏ธ


Ohim : bentar, bentar, gue lagi kelon. Ini seriusan Mala udah lahiran?


Abbas : ๐Ÿ™„ atas gue ini sengaja bNget


Ohim : iya, emang gue sengaja mau pamer ke lo. Bini gue lagi hamil muda, jadi bawaannya emang maunya nempel gue terus๐Ÿ™ƒ


Abbas : apaan sih? ๐Ÿ˜’ gue block juga ya lu, Him, lama-lama


Anda : woi, woi, kenapa malah pada ribut sendiri sih?


Ohim : jadi ini seriusan Mala udah lahiran? Bukannya kemarin lo bilang kalau HPL-nya masih bulan depan apa gmn gitu?


Abbas : iya, gue masih inget banget. Lu bohongin kita?


Anda : enggak lah, anjir, ngapain juga gue bohong. Iya, HPL-nya emang masih bulan depan. Cuma emang dasar bocahnya yang nggak sabar pengen ketemu bapaknya, jadi minta kakeknya buat keluarin dia cepet-cepet๐Ÿ˜‚


Ohim : caesar?


Anda : iya


Abbas : cewe apa cowo?


Anda : cowo


Setelah menutup room chat, gue langsung meletakkan ponsel di atas meja nakas. Pandangan gue kembali terfokus pada Mala yang akhirnya mulai terlelap di dalam tidurnya. Beberapa sesaat yang lalu, sejak efek obat biusnya mulai hilang, tidur Mala terlihat gelisah. Tak jarang dia merintih kesakitan di dalam tidurnya.


"Dek, makan dulu gih! Kamu belum makan loh sejak sore. Mala biar gantian Bunda yang nemenin."


Gue bahkan belum makan dari tadi siang.

__ADS_1


Sebenarnya Mama mertua gue juga nginap di sini, tapi beliau sudah tidur. Berbeda dengan Bunda yang susah tidur kalau nggak di rumah sendiri, apalagi di rumah sakit, Mama mertua gue termasuk yang gampang tidur. Mungkin terbiasa sama ritme jam tidurnya semasa muda, yang harus pinter-pinter nyuri waktu buat tidur, jadi di mana saja asal tidur. Soalnya gue juga gitu. Kecuali di rumah orang sih, soalnya kalau di rumah sakit, gue di mana aja bisa tidur.


"Nanti lah, Bun," balas gue.


Gue melirik arloji gue. Sudah hampir tengah malam. Lagian gue juga nggak nafsu makan.


"Enggak boleh gitu, Dek, nanti kalau malah kamu sakit gimana? Kan anak kalian juga udah lahir, nggak papa, Mala juga udah tidur itu. Makan sana! Kalau udah tidur bentar. Kamu juga perlu istirahat," ucap Bunda menasehati.


Gue menggeleng. "Nggak nafsu, Bun," aku gue jujur.


"Ya, dipaksa. Dikit-dikit, asal perutnya ke isi, jangan dibiarin kosong. Ayo, buruan makan dulu!" omel Bunda sambil menepuk pundak gue pelan.


Akhirnya, secara terpaksa gue berdiri, meninggalkan kursi dan berjalan menuju sofa.


"Bunda udah makan belum?"


Bunda mengangguk. "Udah, tadi Bunda makan di kantin sama Ayahmu."


Gue mengangguk paham lalu mulai makan. Selesai makan, gue langsung menyuruh Bunda istirahat.


"Bunda tidur, gih, biar Mala Agha yang jagain."


Bunda tidak protes. Beliau hanya menatap gue tajam sambil geleng-geleng kepala. Meski begitu beliau langsung berdiri dan membiarkan gue duduk di kursi dekat ranjang. Setelah kenyang, gue merasa mengantuk. Akhirnya gue memutuskan untuk merebahkan kepala gue pada tepi ranjang.


Sepertinya mata gue perlu diistirahatkan meski hanya sebentar. Gue benar-benar nyaris terlelap kalau saja tidak mendengar suara Mala memanggil nama gue.


Gue langsung menegakkan tubuh dan menaruh atensi sepenuhnya pada Mala. "Ya, kenapa, La? Ada yang sakit? Mau aku panggilin dokter?"


Gue tersenyum lalu mengangguk. "Dia hebat, kuat, kayak Mama-nya. Jenis kelaminnya laki-laki, berat badan 2,1 kg, tinggi badan aku lupa, semua organ lengkap, dan hebatnya dia udah bisa bernapas sendiri tanpa bantuan. Tapi tetap masih di inkubator karena berat badannya masih kurang. Masih perlu observasi lanjutan juga. Aku tadi udah sempet ambil fotonya. Kamu mau lihat?" tawar gue kemudian.


Mala mengangguk. Gue langsung meraih ponsel gue dan menunjukkan foto yang tadi sempat gue ambil.


"Mirip siapa ini?"


Gue menggeleng tidak yakin. "Enggak tahu, kayaknya belum mirip kita deh. Enggak tahu mirip siapa."


"Mirip kamu nggak sih?"


Gue terus menggeser layar yang menampilkan wajah anak kita yang terlihat lebih jelas secara bergantian.


"Matanya mirip kamu?" tanya gue ragu-ragu.


"Hidung sama bibirnya mirip kamu ini," ucap Mala mengimbuhi, "enggak nyangka banget ya, Gha, perasaan kemarin kita masih saling curhat tentang pasangan masing-masing. Eh, tahu-tahu aku udah lahiran anak kamu aja."


Gue mengangguk setuju. Jujur, gue sendiri juga tidak menyangka karena semua berjalan begitu cepat dan tiba-tiba semua. Mulai dari acara lamaran lalu tiba-tiba langsung dinikahin, abis itu dikasih hamil cepet, eh, tau-tau lahiran sebelum waktunya.


"Iya, cepet banget ya waktu berjalannya. Kita udah jadi orang tua aja. Semua serba cepet banget ya di kita?"


Mala tersenyum sambil mengelus pipi gue. "Aku barusan ganggu tidur kamu ya? Tidur lagi gih!" balasnya tidak nyambung.

__ADS_1


"Enggak." Gue langsung menggeleng cepat sambil memegang telapak tangan Mala yang ia gunakan untuk mengelus pipi gue, "kamu gimana? Jahitannya masih sakit nggak?"


Bukannya langsung menjawab pertanyaan gue. Mala malah terkekeh. "Pertanyaan kamu, Gha, jelas masih lah. Kamu pikir iklan sakitnya bentar doang."


"Terus sekarang aku harus gimana?" tanya gue bingung.


"Tidur."


Gue langsung merengut kesal sambil berdecak. "Jangan bercanda deh!"


"Aku juga serius, Gha, nggak bercanda. Kamu keliatan capek banget tahu, Gha. Jadi mending kamu istirahat deh, tadi kamu pasti khawatir banget ya?"


"Iya lah, pake nanya. Tapi sekarang aku ngerti sih kenapa Papa nggak ngebiarin Mama hamil lagi setelah kamu lahir. Aku ngerti banget perasaan beliau sekarang, La."


Di luar dugaan, Mala tiba-tiba melotot kesal ke arah gue. "Kamu jangan coba-coba buat ngikutin gaya Papa, ya," ancamnya galak membuat gue spontan tertawa, "aku masih mau hamil lagi," sambungnya kemudian.


"Iya, aku kan cuma bilang kalau aku ngerti perasaan beliau. Enggak ngelarang kamu buat hamil lagi juga kan? Semua keputusan tetal ada di tangan kamu, aku nggak akan maksa kamu buat hamil atau nggak hamil lagi, La."


"Bener loh ya?"


Gue mengangguk yakin. "Iya, sayang."


"Najis," balas Mala membuat gue kembali tertawa, "eh, tapi, Gha, kan kita belum nyiapin nama. Kamu udah ada ide belum?"


"Ya belum lah, La, aku mana kepikiran. Dari tadi yang aku pikirin cuma kalian, nggak kepikiran yang lain, apalagi nama. Besok-besok lah kita pikirin, sekalian minta saran sama kakek-kakeh sama nenek-neneknya."


Mala mengangguk setuju. Lalu hening setelahnya, gue menopang dagu sambil memainkan jari-jemari Mala.


"Ngantuk, Gha?"


"Belum."


"Tapi mata kamu keliatan ngantuk banget. Tidur, gih! Di sofa kan nganggur."


Gue menggeleng tidak setuju. "Mau deket kamu."


"Ya, kan aku abis caesar. Kalau cuma sakit tifus doang nggak papa kita tidur seranjang buat berdua."


"Aku tidur di sini, La. Enggak papa," tolak gue.


Mala berdecak sambil menggeleng tidak setuju. "Nanti kamu pegel. Emang besok nggak ada jadwal operasi?"


Gue berpikir sejenak untuk mengingat-ingat. "Ada. Tapi cuma dua kok."


"Terus jadwal praktek rawat jalannya?"


Kali ini gue tidak menjawab dan hanya meringis sebagai tanda respon.


Kali ini Mala mendengus. "Tidur sana di sofa, kamu butuh rebahan. Kasian pinggang kamu ntar encok, kamu udah tua, Gha. Jangan sok muda lagi!" omelnya galak.

__ADS_1


Dengan wajah cemberut, akhirnya kali ini gue pasrah dan nurut sama Mala.


Mala kalau udah bertitah dengan wajah galaknya begitu, mana berani gue menolak. Apalagi kondisi dia yang baru saja selesai berjuang hidup dan mati demi melahirkan anak gue, jadi sekarang gue harus nurut tanpa banyak bertingkah. Cari aman juga lah.


__ADS_2