
*
*
*
"Hah? Kok lo yang dateng?" sambut Abbas begitu ia membuka pintu unit apartemennya. Padahal tadi yang ia hubungi Ohim, lalu kenapa justru Agha yang datang.
Bukan apa-apa, Abbas merasa sungkan dengan kedatangan pria itu. Apalagi mengingat kesibukan Agha, yang tidak hanya mengurus pasien, tapi kini kesibukannya semkin bertambah karena sang Bunda jatuh sakit.
"Emang lo berharap siapa yang dateng?"
"Ohim."
Agha berdecak sambil memasang wajah pura-pura tersinggungnya.
Abbas langsung menggeleng panik. "Maksud gue, kan tadi yang gue chat Ohim, gue jadi gue berharap yang dateng dia lah. Kaget gue, anjir, karena malah lo yang dateng."
"Makanya sebelum chat, pastiin dulu lo chatnya ke siapa!"
Abbas memasang wajah bingungnya. "Gue chat ke elo?"
Kali ini giliran Agha yang menggeleng lalu nyelonong masuk ke dalam apartemen begitu saja, tanpa menunggu dipersilahkan masuk.
"Ke grup," jawabnya kemudian.
Buru-buru Abbas mengecek ponselnya dan benar saja ternyata ia memang salah mengirim chat ke grup dan bukannya chat pribadi ke Ohim. Ia meringis malu tak lama setelahnya.
"Kan Bunda lo lagi sakit, Gha, harusnya lo nggak usah ke sini lah."
"Udah ada bokap gue." Agha menghempaskan tubuhnya pada badan sofa dengan tangan menutupi wajahnya. Helaan napas berat terdengar tak lama setelahnya, "gue butuh suasana baru biar nggak sumpek."
Abbas ikut menghela napas lalu ikut duduk. "Tapi kan kasian, Gha, bokap lo aja begitu kok. Gue aja nggak tega ngeliat beliau."
Agha tersenyum tipis. "Tenang aja, bokap gue sekarang lebih tegar kok setelah nyokap mulai kemo." ia kemudian menegakkan tubuhnya, "sebelum dan sesusah operasi kan lo tahu sendiri kayak apa bokap gue, bahkan beliau kemarin sempet drop, tapi alhamdulillah banget begitu Bunda mulai kemo, bokap gue bener-bener lebih kuat. Mungkin karena nggak tega liat Bunda yang mulai ngerasain efek kemo sih, Bas, jadi beliau lebih tegar. Sekarang apa-apa bener-bener bokap yang ngurusin, kita cuma lebih kayak nemenin doang."
"Udah mulai kemo?"
Agha mengangguk dan mengiyakan.
__ADS_1
"Terus gimana? Baik-baik aja kan? Maksud gue biasanya efeknya sampe bikin orang lemes dan lainnya. Nyokap lo begitu?"
"Iya, nyokap gue sampai lemes. Mual, muntah, biasa lah, sewajarnya orang yang abis kemo. Tapi untungnya nyokap gue semangatnya besar jadi bagus lah."
"Yang sabar dan kuat ya kalian, gue yakin Bunda pasti sembuh."
Agha mengangguk dan mengamini.
"Lo sendiri kenapa nyuruh Ohim ke sini? Mau curhat soal apa lo? Alisa?"
"Gue nggak enak lah kalau mau curhat ke lo, lo kan udah terlalu banyak beban. Masa iya masih mau gue tambahin."
Jawaban Abbas seketika langsung membuat Agha terbahak. "Lebay lo," komentarnya kemudian, "gue padahal selow."
"Iya, lo selow, gue yang nggak enak, anjir. Lo pasti ngerasa stres banget ya, Gha, akhir-akhir ini? Lo keliatan kurusan loh."
"Diet gue, anjir," gurau Agha sambil terkekeh.
"Diet apaan? Lo dilarang makan Mala yang berminyak dikit aja nggak nurut, apalagi sok-sokan diet. Ya mana mungkin gue percaya."
"Iya in kenapa sih?"
Agha menggeleng. "Gengsi gue. Ya gue akui emang gue lumayan stres akhir-akhir ini dengan apa yang gue lalui, tapi, ya nggak papa, Bas, namanya juga hidup. Kadang stres, kadang stres banget kan?"
"Lo lagi ada masalah sama Alisa? Berantem?" tebak Agha.
"Keliatan banget?"
Agha menggeleng cepat. "Ya enggak sih, gue asal nebak aja, cuma kan lo sekarang udah ada Alisa, jadi ya kemungkinan itu nggak sih?"
Abbas tidak langsung menjawab. Pria itu meraup wajahnya frustasi. "Pusing gue," keluhnya kemudian, "ternyata nyiapin pernikahan itu bikin pusing ya."
"Ya namanya juga hidup, ntar udah nggak pusing kalau udah di surga, Bas," guraunya setengah bercanda, "emang ada apa sih? Coba cerita siapa tahu gue bisa kasih saran atau masukan."
"Alisa ngambek." Abbas menggeleng cepat lalu meralatnya, "enggak deh, gue rasa dia nggak sekedar ngambek, tapi marah. Lo tahu sendiri kan Alisa itu jarang banget marah atau sejenisnya."
"Kecuali PMS sih," koreksi Agha, "lagi PMS kali," sambungnya kemudian.
"Dia udah kelar."
__ADS_1
"Eh, tapi kan dia lebih sensitif sebelum dan sesudahnya. Justru kadang kalau lagi PMS-nya dia nggak sensi, malah lebih selow."
Abbas menggeleng putus asa. "Enggak tahu lah, intinya yang jelas dia marah sama gue. Diemin gue dari kemarin."
"Emang ceritanya gimana bisa sampai ngambek begitu?"
"Kemarin gue sama dia ke rumah nyokap gue karena beliau undang kita. Ya lo tahu sendiri lah nyokap gue ngurus ponakan jadi nggak mungkin beliau yang ngunjungi Alisa atau keluarga, jadi gue sama Alisa ngalah dan ke rumah nyokap gue. Nah, di situ pas kita mulai bahas soal acara, nyokap gue ngotot minta diadain resepsi. Cuma lo tahu lah kondisi gue, anjir, bukan masalah gue nggak ada duit atau apa, ya kalau duit sih ada, tapi masalah itu duit mau gue pake buat beli rumah, Gha, jadi gue nggak mungkin lah gelar resepsi. Toh, gue sama Alisa emang dari awal sepakat buat nggak gelar acara resepsi, ya cuma party kecil-kecilan aja lah, undang orang-orang terdekat, udah. Tapi nyokap gue nggak setuju."
"Bentar, sorry, motong, bukannya Alisa dapet rumah ya dari mantan suaminya? Kenapa--" Agha langsung menutup bibirnya rapat-rapat sambil mengangguk, "oke, gue paham. Sok, atuh, dilanjut!" sambungnya kemudian.
"Nyokap gue bener-bener pengen gue nikah pake resepsi dan lainnya, alasannya karena ini pernikahan pertama gue. Gue bilang lah ke beliau kalau gue nggak ada duit sekalian, karena gue terlanjur kesel dan emosi. Karena bukan apa-apa, Gha, nikahan Farhan sampai lahiran Glorya, gue semua yang urus. Gue bilang lah kalau tabungan gue hampir ludes karena itu, eh, ngeselinnya nyokap gue malah minta acara resepsi biar ditanggung sama pihak Alisa. Ya gue makin emosi lah. Gue bilang nggak usah neko-neko gitu loh, seadanya aja karena emang baik gue sama Alisa, aslinya pengen yang biasa-biasa aja, tapi nyokap gue malah nyinggung soal status Alisa. Katanya beliau udah kasih restu tapi cuma minta diadain resepsi doang nggak dikabulin, ya udah katanya nggak usah undang beliau sekalian. Makin gedek lah gue, apalagi Alisa juga tiba-tiba berubah pikiran dan mau gelar resepsi. Gue emosi dan bilang aja kalau nanti gue sama Alisa bakalan nikah tanpa undang beliau. Terus pamit pulang."
Ekspresi Agha seketika langsung berubah canggung. Tangannya menggaruk-garuk kepalanya yang mendadak gatal.
"Waduh, nekat juga ya lo. Terus abis itu, gantian Alisa yang marah karena lo main ngeiyain aja?"
Dengan ekspresi sedihnya, Abbas mengangguk dan mengiyakan. "Dia sampe nggak mau pas mau gue anterin pulang."
Agha menghela napas. "Ya, lo juga sih yang salah. Kenapa lo-nya main iyain gitu aja. Gue kalau jadi Alisa juga bakalan bersikap demikian."
"Habis gue kesel banget sama nyokap gue, Gha. Maksudnya kalau gue dari keluarga yang berada banyak duit sih gue nggak masalah lah, tapi masalahnya nyokap gue itu suka banyak maunya tapi nggak mau kasih modal. Ya wajar dong kalau gue kesel."
Kembali menggaruk rambut bagian belakangnya, Agha kemudian mengangguk dan mengiyakan.
"Iya juga sih, orang sabar kalau digituin ya pasti kesel juga."
"Nah kan!"
"Terus gimana? Lo udah coba hubungi Alisa lagi?"
"Belum. Katanya nggak boleh."
"Terus lo nurut?"
"Awalnya enggak, tapi terpaksa nurut karena dia ngancem serem. Ya udah, mau nggak mau gue harus nurut lah."
Agha hendak berkomentar, tapi ia urungkan karena suara bell yang terdengar.
"Kayaknya itu Ohim deh," ujar Agha menebak.
__ADS_1
Abbas kemudian langsung berdiri dan melangkah menuju pintu untuk membuka dan memastikan siapa tahunya. Tapi ternyata dugaan Agha salah. Orang itu bukan Ohim.
Tbc,