Married With My Besti

Married With My Besti
Nikah, yuk!


__ADS_3

*


*


*


Abbas reflek mengerutkan dahi heran saat sampai di ruang tamu mendengar suara helaan napas berat dari Alisa. Ia kemudian menyerahkan secangkir teh hangat untuk perempuan itu dan duduk di sampingnya.


"Kenapa?" tanyanya heran. Abbas melirik Alisa sekilas sebelum akhirnya menyesap kopi miliknya.


Alisa menggeleng sambil memainkan permukaan cangkir. Helaan napas kembali terdengar.


"Enggak, aku cuma mikir kasian Agha sama Mala deh. Mereka pasti sedih banget deh, apalagi Mala."


Abbas berpikir sejenak. Ia sedikit heran dengan pendapat Alisa barusan. "Tapi, Sa, kan Mala awalnya nggak mau hamil dulu sebelum Kai umur tiga tahun. Kalau Agha kan lebih pengen tuh karena gap years-nya dia sama Kak Ale nggak jauh juga. Jadi harusnya yang lebih kasian Agha lah," sahutnya kemudian.


"Justru itu, Bas."


Abbas meletakkan cangkirnya, pandangannya kini sepenuhnya fokus pada Alisa dengan sebelah tangan yang menopang pipinya.


"Mala pasti ngerasa sedih sekaligus bersalah karena calon bayi itu hadir tanpa direncanakan, apalagi Mala sendiri kemarin sempet denial sama kehadiran janin itu, terus pas dia udah mulai belajar nerima, eh, ternyata bayi itu memilih pergi. Kan pasti sedih banget jadi Mala, Bas, apalagi mengingat ikatan batin seorang ibu." Tanpa bisa dikontrol kedua matanya tiba-tiba berair, "apalagi aku pernah ngalami yang namanya kehilangan calon bayi, Bas. Sedih banget tahu rasanya, berat banget buat nerima semua kenyataan kalau kita harus kehilangan."


Melihat Alisa menangis, Abbas langsung berdiri untuk mengambil tisu dan menyerahkan tisu tersebut kepada Alisa. Apa yang dikatakan Alisa ada benarnya. Ternyata ia terlalu sok tahu. Apalagi ia sempat melupakan fakta bahwa Alisa dulu sempat mengandung buah hati bersama mantan suaminya. Ada perasaan iri dan juga cemburu.


"Sa, kamu masih ada wedding dream lain nggak?" tanya Abbas tiba-tiba.


"Hah?" Alisa melongo bingung.


"Nikah secepatnya, yuk!" ajak Abbas tanpa beban, seolah sedang mengajak pergi jajan ke Indomaret yang di mana-mana gampang ditemuin, "nggak usah pake acara-acaraan, no resepsi, no party, langsung nikah di KUA, yang penting sah nikah secara agama dan negara. Kamu mau nggak?"

__ADS_1


"Bas, tenang dulu, bukan aku nggak mau, tapi..."


"Tapi apa?"


Alisa menghela napas pendek. Pandangannya menatap sang kekasih dengan ekspresi serius. "Memang kamu nggak pengen ngerasain duduk di atas pelaminan?" tanyanya dengan nada hati-hati dan suara lembutnya.


Tanpa perlu berpikir panjang, Abbas menggeleng cepat. "Enggak, aku nggak pengen. Kata Agha duduk di pelaminan, menyalami tamu yang nggak ada abisnya itu melelahkan. Aku nggak tertarik buat nyoba ngerasain."


"Tapi, Bas--"


"Aku cuma pengen nikah sama kamu, Sa," potong Abbas dengan nada suara yang terdengar seperti orang yang sedang putus asa, "aku pernah kehilangan momen dan juga kesempatan sampai akhirnya kamu menikah sama pria lain, Sa, dan sekarang aku nggak pengen kalau sampai aku keduluan yang lain lagi."


"Hei, Bas, dengerin aku! Aku nggak akan ke mana-mana, aku pasti akan nikah sama kamu, aku nggak akan mengulangi kesalahan yang sama. Percaya sama aku! Oke?"


Abbas mengangguk. "Aku tahu, Sa, aku percaya sama kamu, tapi aku pengen nikah sama kamu. Secepatnya."


Kali ini Alisa terkekeh. "Kamu udah nggak tahan banget ya, Bas?"


"Kan semua harus melalui step by step, emang mau langsung loncat?"


Abbas kembali mengangguk cepat. "Iya, aku mau langsung loncat ke hubungan yang serius, biar kayak Agha sama Mala. Mereka bahkan mau tunangan dulu aja tapi langsung di-ijab qobulin loh, Sa, aku rasa kita juga bisa kayak mereka."


"Tapi status aku beda, Bas, aku janda loh, pernah menikah. Belum tentu ibu kamu bisa langsung nerima aku. Kamu paham kan maksud aku?" Alisa menggenggam telapak tangan Abbas dan mengelusnya pelan, senyum tipis tersungging pada bibirnya, "pelan-pelan ya? Aku janji nggak akan ke mana-mana. Kita akan menikah, Bas, cepat atau lambat. Tapi untuk sekarang sabar dulu ya?"


"Kalau ibu aku yang jadi masalah di sini, kamu nggak perlu khawatir, Sa, yang mau nikah itu aku, tugas beliau cukup memberi restu. Beliau nggak punya hak buat melarang anaknya bahagia. Lagian aku cowok, meski tanpa ibu, aku tetep bisa nikahi kamu."


Kedua bola mata Alisa membulat sempurna, genggaman pada telapak tangannya spontan terlepas. Ia menggeleng cepat tak lama setelahnya. "Bas, aku nggak suka ya kamu ngomong begitu. Kamu jangan lupa, surga tetap berada di bawah telapak kaki ibu, aku nggak akan mau kamu nikahi kalau ibu kamu nggak kasih restu buat hubungan kita. Kamu paham?" ucapnya tegas.


Abbas mengangguk dengan wajah memelas nya. "Maaf, aku nggak bermaksud ngomong gitu. Aku cuma.." Abbas kehilangan kata-kata, "aku nggak tahu, Sa. Aku ngerasa kayak putus asa pas kamu ngomong gitu. Padahal aku pengen banget secepatnya nikah sama kamu, cuma itu. Setelah kesulitan yang udah aku lalui, rasanya akan nggak adil kalau aku gagal nikahi kamu cuma karena ibu nggak suka sama status kamu. Aku nggak terima gitu loh."

__ADS_1


"Enggak boleh gitu, Bas, mau gimana pun, restu seorang ibu tetap yang utama. Kita nggak bisa apa-apa loh tanpa ibu. Kamu paham kan?"


Raut wajah Abbas tiba-tiba berubah. "Tapi ibu aku beda," gumamnya kemudian.


Alisa yang paham dengan kondisi keluarga mereka pun tersenyum maklum. Tangannya kembali meraih telapak tangan Abbas.


"Semua ibu pasti beda, Bas, nggak ada yang sama dan nggak akan ada yang mampu disamakan. Anak saja yang lahirnya dari rahim yang sama sifatnya beda-beda kan?"


Abbas mengangguk setuju. "Aku sayang sama kamu, Sa, sayang banget. Meski terdengar klise dan bullshit, tapi rasanya aku beneran nggak akan sanggup hidup tanpa kamu."


Mendengar itu, Alisa langsung mencibir. "Gombalannya norak!"


"Enggak papa, norak-norak begini kamu tetep sayang kan?" goda Abbas sambil mencolek dagu Alisa.


Alisa mendengus samar. "Oh ya? Siapa yang bilang?"


"Aku," ucap Abbas penuh rasa percaya diri.


Reflek Alisa langsung tertawa. Namun, tak lama setelahnya senyum itu perlahan pudar karena tatapan Abbas yang tiba-tiba berubah menatapnya intens. Mendadak Alisa merasa gugup, apalagi saat ia mulai merasakan wajah Abbas yang semakin mendekat.


Apakah ini akan menjadi ciuman pertama mereka sebagai sepasang kekasih?


Duh, mendadak Alisa gugup. Apalagi kalau diingat-ingat, ia sudah lama tidak berciuman. Ditambah lagi orang itu Abbas. Ya Tuhan, Alisa merasa lemas seketika. Reflek ia memejamkan kedua matanya.


Diam-diam Abbas berusaha menahan diri agar tidak tertawa saat melihat reaksi Alisa yang terlihat gugup. Ia tidak boleh merusak suasana, karena sekarang suasana benar-benar mendukung.


Tepat saat bibir mereka saling menempel, tiba-tiba terdengar suara tangisan. Spontan Alisa membuka mata dan menjauhkan diri. Keduanya saling bertukar pandang, sama-sama diam dengan ekspresi bingungnya masing-masing. Sebelum akhirnya keduanya tersadar.


"Astaga, ya ampun, Kai!" koor mereka bersamaan.

__ADS_1


Lalu dengan cepat keduanya berlari menuju kamar Abbas, di mana Kai tidur di sana. Dan betapa terkejutnya mereka saat menemukan Kai menangis tersedu-sedu di lantai bawah sambil memanggil Mama-nya.


Tbc,


__ADS_2