Married With My Besti

Married With My Besti
Gagal Nonton


__ADS_3

*


*


*


"Lo yang nyetir," ucap Mala sambil menyerahkan kunci mobilnya pada gue.


Gue ingin memprotes, cuma urung karena sekarang gue yang nebeng jadi harus sadar diri. Mobil gue masih diservis di bengkel, harusnya sih sore ini selesai tapi kata orang bengkel ada sedikit kendala jadi baru beres besok pagi. Akhirnya terpaksa gue nebeng Mala daripada harus nyari taksi atau tukang ojek. Ya, meski resiko dari nebeng dia itu harus jadi supir dia.


"Nonton dulu kayaknya seru deh, Gha. Mau nggak lo?" tanya Mala saat gue menyusul masuk ke dalam mobil.


"Nonton di bioskop?" tanya gue ragu-ragu.


Selama bertahun-tahun kami berteman belum pernah sekalipun kami menonton di bioskop. Maksudnya berdua, ya. Mala itu jarang nonton di bioskop, selain karena kesibukan tapi karena perempuan itu memang kurang suka nonton di bioskop. Katanya bikin ngantuk lah, apa-apa mahal lah, bikin orang berbuat mesum lah, kurang seru lah dan lainnya. Padahal menurut gue malah lebih seruan nonton di bioskop sih. Cuma nggak papa lah, namanya selera lah, ya. Suka-suka dia.


"Di apartemen aja. Manfaatin akun netflix biar nggak mubazir bayarnya."


Gue terkekeh sambil memasang seatbelt. "Netflix and chill nih?" goda gue.


Dengan ekspresi semangatnya Mala langsung mengiyakan. Detik berikutnya gue hanya mampu terbahak. Emang gue yang salah sih nantangin Mala. Harusnya gue langsung mengiyakan gitu aja atau minimal diem aja tadi, nggak perlu pake adegan ngegodain dia.


"Dih, cemen juga sok-sokan mau godain gue," ledek Mala di sela ketawanya, "langsung melempem kan lu."


Gue hanya mampu menghela napas pasrah dan memilih melajukan mobil meninggalkan area rumah sakit tanpa kembali menoleh ke arah Mala.


"Mampir cari makan dulu nggak?" tanya gue di sela perjalanan.


"Mampir dong, cari sate padang, yuk. Sama cari jajanan apa gitu buat temen nonton ntar."


"Mau yang di mana?"


"Tempat biasa aja gimana? Yang searah sama apartemen gue?"


"Dimakan di tempat apa bungkus?"


"Bungkus. Makan di apartemen. Ntar biar gue yang turun dan beli, lo tunggu di sini mobil. Lo kayaknya ngantuk banget, abis nginep di rumah Kak Ale lagi?"


"Abbas."


"Tumben?"


"Lagi patah hati dia."


"Gegara Alisa mau nikah sama Radit ya?" tebak Mala membuat gue terkejut.


"Kok lo tahu?"


"Liat di IG, kan abis party tahun baruan kemarin gue sama Alisa follow-followan sosmed. Jadi tahu, emang kamu nggak tahu?"


Gue menyipitkan kedua mata gue horor. "Kamu?" Lalu terbahak.


"Ya elah, kepleset lidah gue. Lo maksudnya," ralat Mala dengan wajah cemberutnya, "lagian perkara kamu doang masalah banget emang?"


Gue mengangguk. "Geli gue dengernya, njir. Nih, ya, kalau pun seandainya nanti endingnya kita nikah beneran, gue nggak mau kita jadi aku-kamuan, kecuali udah ada anak. Nggak sanggup gue dengernya."

__ADS_1


Mala makin cemberut. "Dih, percaya diri banget lo kalau kita nanti beneran mau nikah."


"Seandainya," balas gue ngegas, "gue bilang seandainya, ya, Nirmala Afsheen Gavaputri!"


Mala tidak membalas, perempuan itu hanya terbahak puas setelahnya.


*


*


*


"Agha! Buruan ke sini, ini filmnya udah hampir mulai," teriak Mala tiba-tiba.


Untung saja air minum yang gue teguk nggak nyembur karena kaget mendengar teriakan Mala.


"Bentar," balas gue ikut berteriak.


Mala itu sebenernya lebih suka nonton sendirian ditemani cemilan, tapi kalau ngajakin gue nonton alasannya karena dia tidak cukup berani nonton sendirian. Soalnya Mala itu sebenarnya penakut tapi hobinya nonton thriller, aneh banget kan?


"Cepetan, Gha! Ntar keburu setannya muncul! Gue takut, njir!"


Setan? Ini genre film yang ditonton Mala, genre horor? Tumben banget. Bukan apa-apa, genre film horor adalah genre yang paling Mala benci, lalu kenapa perempuan itu mendadak ingin menonton genre horor?


Karena tidak tahan dengan suara berisik Mala, gue akhirnya meninggalkan dapur dan bergabung ke ruang tengah, menyusul Mala. Perempuan itu sedang duduk bersila di sofa sambil memeluk bantal sofa, kedua matanya terlihat menatap layar tv dengan pandangan was-was.


"Nonton apaan sih lo?"


"Itu," ucap Mala sambil menunjuk ke arah layar.


Gue langsung menoleh ke arah layar. Gue tidak tahu film apa yang sedang Mala tonton. Tapi kalau dilihat dari setting tempat dan nuansanya sih emang film horor.


"Kalau takut nggak usah nonton," komentar gue.


"Tapi gue penasaran, Gha."


"Ya udah, sok ditonton. Gue mau tidur."


Gue langsung menyandarkan punggung gue pada sofa sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Baru dua detik memejamkan mata, Mala tiba-tiba memukul gue.


"Jangan tidur! Tugas lo itu nemenin gue nonton. Lagian sejak kapan sih lo jadi ***** di apartemen gue?"


Lah, iya juga ya? Gue udah beberapa kali ketiduran di apartemen Mala, padahal gue nginep di rumah Kak Ale aja masih susah tidur.


"Lo ribet banget deh, nyuruh-nyuruh gue mulu. Nikah aja lah kita, biar kalau pas lo suruh-suruh gue punya alesan buat nyenengin istri. Lumayan kan dapat pahala"


"Lah, nyenengin temen juga dapet pahala kali," balas Mala tidak terima.


"Ya, tapi lebih banyak dapet dosanya, kita kebanyakan berduaan, njir. Mending nikah aja lah, yuk, anggep aja cincin yang gue beliin kemarin sebagai cincin lamaran." Gue menyenderkan kepala gue pada lengannya. Yang apesnya langsung ditepis perempuan itu.


"Heh, kalau mau nikahin anak orang tuh nggak gitu caranya!" omelnya kemudian.


Gue terkekeh dan kembali menyandarkan kepala gue pada lengannya, yang kali ini tidak mendapat penolakan.


"Terus gimana dong caranya?"

__ADS_1


"Datengin nyokap bokap gue lah."


Gue langsung menegakkan tubuh. "Bener ya? Minggu depan gue ajak Ayah gue buat dateng nemuin nyokap bokap lo," ucap gue tidak main-main.


Mala terlihat mau menjawab. Namun, terpaksa harus diurungkan karena suara bell berbunyi. Perempuan itu langsung berdiri sambil menggerutu untuk membuka pintu.


"Siapa sih malem-malem datang bertamu, ganggu aja," gerutunya.


Tak lama setelahnya samar-samar terdengar obrolan mereka yang kedengerannya seru. Hal ini menimbulkan rasa kepo gue. Alhasil, gue pun akhirnya berdiri dan mengintip siapa tamunya. Dan betapa terkejutnya gue saat melihat seorang pria dengan perawakan tinggi besar yang sialannya ganteng, dan sama sekali nggak gue kenal tengah berdiri di depan pintu. Mala tidak mempersilahkan pria itu masuk, namun, pria itu juga tidak kunjung pamit dan mereka malah mengobrol di depan pintu dengan akrabnya.


Siapa sih ini orang? Sok asik banget perasaan.


Bosan menunggu, akhirnya pria itu pamit dan pergi. Mala kemudian menutup pintu dan berbalik. Detik berikutnya perempuan itu terkejut karena melihat gue berdiri tidak jauh darinya. Ekspresinya terlihat seperti orang yang baru saja ketahuan selingkuh.


Gue menyilangkan kedua tangan gue di depan dada dan menatapnya datar. "Kenapa ekspresi lo kaget gitu? Kayak orang abis ketahuan selingkuh?"


Mala mendengus lalu berjalan melewati gue. "Dih, apaan sih nggak jelas banget. Siapa juga yang selingkuh?"


"Ya, mana gue tahu." Gue langsung menyusulnya, "siapa tadi?" tanya gue kepo.


"Tetangga unit sebelah."


"Tetangga? Kok gue nggak pernah lihat? Padahal kan gue sering banget ke sini."


"Ya, soalnya dia baru pindah kemarin. Jadi ya sebelumnya lo nggak pernah lihat lah."


Gue ber'oh'ria. "Oh, tetangga baru. Ganteng ya? Gue perhatiin juga kalian udah akrab gitu tadi padahal baru kenal kemarin kan?"


"Siapa bilang baru kenal kemarin?"


Sialan. Jadi mereka udah saling kenal gitu sebelumnya makanya bisa akrab gitu? Kok tumben Mala nggak cerita?


"Oh, jadi udah kenal sebelumnya? Kenal berapa lama? Kok lo nggak pernah cerita? Jadi dia itu gebetan baru lo? Boleh juga ya selera lo."


"Kalau iya kenapa? Baru tahu lo kalau selera gue bagus? Kenapa lo cemburu?" Mala langsung mematikan layar setelahnya. Kedua tangannya menyilang di depan dada dengan tatapan sinis.


"Nikah dulu sama gue baru gue bakal cemburu," ketus gue kesal. Gue kemudian mengambil dompet dan ponsel gue, "udah lah, mau balik aja gue. Lo kan juga nggak jadi nonton."


"Kunci mobil," ucap Mala terdengar seperti memperingatkan. Gue otomatis berbalik dan menatapnya sinis.


"Enggak gue bawa, anjir, noh, masih di atas meja. Takut banget lo kalau mobil lo gue bawa."


Di luar dugaan gue, Mala justru tertawa agak sinis sambil mengambil kunci mobilnya dan menyerahkan pada gue. "Ya emang harusnya mobil gue lo bawa, Gha. Mobil lo kan masih di bengkel, kalau nggak bawa mobil gue, lo pulangnya mau naik apa? Aneh banget lo."


"Masih ada aplikasi ojek online kali," balas gue.


"Emang lo punya?"


Kemarin sebenernya gue punya sih, cuma nggak sengaja kehapus dan sekarang gue belum download lagi karena emang merasa belum membutuhkan.


"Enggak punya kan? Udah buruan lo bawa mobil gue, besok jemput jam setengah delapan teng. Nggak pake telat. Awas aja lo kalau telat!"


"Iya, iya," balas gue pasrah, "ya udah, gue cabut duluan."


"Hm, hati-hati nyetirnya!"

__ADS_1


"Iya, bawel banget lo," gerutu gue sebelum benar-benar keluar dari unitnya.


Tbc,


__ADS_2