
Setelah pulang dari rumah sakit, gue memutuskan untuk pergi ke rumah Ohim. Jahatnya gue di sini membiarkan Mala pulang sendiri. Gue nggak tahu kenapa gue setega ini, tapi yang jelas gue benar-benar belum sanggup untuk sekedar bertemu dengan Mala saat ini. Ego gue terlalu besar dan gue belum berhasil meruntuhkannya.
"Ini, Kak, silahkan diminum tehnya," ucap istri Ohim sambil meletakkan dua cangkir teh di atas meja, satu untuk gue dan yang satu untuk Ohim.
"Makasih, Rum."
"Makasih, sayang," ucap Ohim ikut-ikutan dan nggak mau kalah. Bahkan pria itu beberapa kali sampai mengedip genit terhadap sang istri. Sampai Rumi sendiri kayak malu sama sikap suaminya sendiri.
"Sama-sama, Kak, kalau gitu saya permisi," pamit Rumi langsung pergi undur diri.
Gue terkekeh gemas melihat betapa lugunya istri Ohim. Gue nggak menyangka kalau seorang pria seperti Ohim akan menikahi gadis seperti Rumi.
"Istri lo masih gemes aja sih, Him? Masih panggil lo Kakak juga?" Gue kemudian menyeruput teh buatan istri Ohim.
"Panggilan sayang tuh, jangan iri lo."
Gue langsung mencibir. "Apaan, gue juga dipanggil kak, ya, anjir. Jadi lo nggak sespesial itu."
"Dari pada bini lo manggil lo nama, terus lo-gue lagi. Hayooo, masih mending siapa?"
Gue berdecak kesal karena merasa kalah. "Iya, iya, menang lo. Gue sama Mala mah cuma apa atuh."
"Wisshh, kenapa jadi begitu nada bicara lo? Lagi baper yak?"
Gue memilih tidak menjawab dan hanya melempari pria itu dengan bantal sofa.
"Kenapa? Cerita sini sama gue yang lebih pengalaman dikit."
"Mala hamil," ucap gue tanpa berbasa-basi. Rasanya gue kayak udah nggak sanggup untuk sekedar berbasa-basi.
"Anjir," respon Ohim spontan, "tokcer amat lo langsung jadi. Bini gue aja belum, Gha, lo kok bisa langsung jadi gitu? Kasih tips dan trik dong buat gue. Anjir, beda kelas ya kalau yang kolaborasi udah pro semua, gila, kesalip aja gue, njir," gerutunya kemudian. Diiringi decakan kagum tak lama setelahnya.
Gue langsung menatap Ohim datar. Kesel banget gue sama kalimatnya.
__ADS_1
"Apaan sih, lo kata balapan salip-salipan. Hamil itu antara rezeki dan amanah, bukan balapan," balas gue rada kesal.
"Iya, iya, serius banget sih lo."
"Gue lagi emosi," balas gue galak.
Ohim menaikkan sebelah alis tak paham. Mungkin dia merasa aneh karena harusnya gue seneng dengan berita kehamilan Mala, eh, ini malah emosi.
"Emosi kenapa? Bini lo hamil kenapa lo malah emosi?" tanyanya heran, "kalian rencananya mau nunda apa gimana? Terus ini kebobolan gitu ceritanya?"
Gue menggeleng sebagai tanda jawaban.
"Lha terus kenapa?"
"Lo pernah denger kehamilan simpatik?"
Ohim tidak langsung menjawab dan terlihat berpikir sebentar. "Kayak pernah denger, itu yang suaminya ngalami morning sick pas istrinya hamil bukan?"
Gue mengangguk dan membenarkan. "Bener . Gue suka mual atau muntah-muntah tiap pagi."
Gue langsung mengangguk sekali lagi untuk mengiyakan. "Nggak cuma itu, gue juga jadi super sensitif sama wewangian."
Ohim melongo sesaat, ekspresinya terlihat sedikit shock. "Bentar, jadi ini lo emosi karena yang ngalami itu semua lo?" tanyanya ragu-ragu.
Gue berdecak lalu menggeleng cepat. "Ya kali, Him, bukan gegara itu lah."
"Terus gegara apa?"
"Gue tahu Mala hamil dari Danu."
"Hah?"
Ohim langsung menutup bibirnya rapat-rapat. Seperti ragu-ragu untuk mengeluarkan suara. Mungkin takut kalau salah ngomong. Setidaknya itulah yang gue tangkap dari ekspresinya sekarang.
__ADS_1
"Bentar, gue bingung mau komentar apa."
"Menurut lo wajar nggak sih kalau gue marah."
Ohim langsung mengangguk cepat. "Wajar kok, Gha, wajar banget. Gue kalau jadi lo juga bakal sama kecewanya sama lo. Cuma saran gue jangan terlalu lama-lama lo kecewanya. Gue yakin kok Mala pasti punya alesan."
"Tapi gue tetep kecewa."
Ohim mengangguk paham."Iya, gue ngerti--"
"Assalamualaikum!"
Ohim mendadak menghentikan kalimatnya karena ada suara--yang tidak asing di indera pendengaran kami--. Dan saat gue menoleh ke asal suara, beneran kenal. Ternyata Abbas menyusul kemari.
"Ngumpul-ngumpul nggak ajak-ajak, tega bener kalian berdua, ya," decaknya dengan ekspresi kesal yang dibuat-buat.
"Ya, gimana gue sungkan takutnya ntar lo minder karena tinggal lo yang belum taken," gurau Ohim sambil terbahak puas.
Abbas langsung mengambil ancang-ancang untuk memukul Ohim. Namun, tidak benar-benar dilakukan pria itu.
"Emang kambing ya lo, Him," umpat Abbas geram. Pria itu akhirnya memilih duduk di sebelah gue. Gue spontan menutup hidung saat mencium parfum semerbaknya, yang tidak dapat gue toleransi.
"Anjir, abis mandi parfum apa gimana sih lo?" amuk gue, "gila, mana baunya nggak enak banget lagi," gerutu gue kemudian.
"Lah kenapa ini orang, Him." Abbas langsung mengadu pada Ohim sambil menunjuk ke arah gue, "gue pake parfum yang biasa, nggak suka gonta-ganti juga, anjir," sambungnya tidak terima.
"Bininya hamil, lagi sensitif jadinya dia."
"HAH?! BINI SIAPA YANG HAMIL?!" seru Abbas heboh.
Gue sudah tidak tahan. Perut gue rasanya seperti diaduk-aduk. Akhirnya gue memutuskan untuk langsung berdiri dan segera bergegas menuju kamar mandi meninggalkan mereka berdua begitu saja. Mengabaikan seruan heboh Abbas yang dari tadi memanggil nama gue untuk meminta penjelasan.
Dasar manusia tidak peka, udah tahu temennya lagi begini kok masih ditodong penjelasan.
__ADS_1
Tbc,