Married With My Besti

Married With My Besti
Kena Mental


__ADS_3

*


*


*


"Eh, berdua aja? Mana baby-nya yang kemarin?" Bagas terkekeh lalu menjawab pertanyaannya sendiri, "lo bohong kan, Sheen, kalau yang kemarin itu anak lo. Kan sekarang ketahuan."


Orang gila, nanya-nanya sendiri dijawab sendiri juga. Mana sembarangan banget lagi mulutnya. Kalau nggak inget lagi di tempat umum udah gue tonjok mukanya, serius. Ekspresi mukanya ngeselin banget sumpah.


Iya, oke, gue akui dari segi penampilan pria ini cukup oke. Wajah good looking, senyum yang cukup menawan, terlihat ramah-sebenernya-minus nyebelin aja, karena sok asik campur sok tahu. Kalau dilihat dari brand yang menempel di tubuhnya, kayaknya juga bukan orang sembarangan. Bucket hat-nya saja merk Prada, lalu kaosnya Versace, dua-duanya susah terjangkau oleh kantong gue. Sebenernya bukan nggak mampu, cuma sayang aja duitnya, anjir. Mending duitnya buat beli susu atau popok Kai, masih nyisa juga itu buat nyenengin istri.


Oke, lalu kita lanjut ke celananya. Hm, untuk celana masih terjangkau lah, Calvin Klein. Gue juga punya sih kalau merk ini, bahkan kayaknya hampir semua produk Calvin Klein gue punya, kecuali parfumnya. Soalnya gue kurang suka aja sama baunya. Bukan selera gue.


Pandangan gue kemudian beralih pada pergelangan tangannya, yang sukses membuat gue membulatkan kedua mata spontan karena kaget. Anjir, jam tangannya Rolex model terbaru. Gue udah lumayan lama ngincer ini barang, tapi belum kebeli karena belum dapet acc dari Mala. Setelah menikah gue nggak bisa sembarangan beli-beli sebelum dapat persetujuan dari Mala, yang kini bertugas sebagai menteri keuangan di rumah kami.


Kata Mala, gue bukan si eksekutif muda yang butuh banget koleksi jam tangan Rolex banyak-banyak, karena koleksi jam tangan gue jumlahnya lebih banyak ketimbang perhiasan Mala. Read; Mala soalnya kurang begitu suka sama perhiasan.


Ya, gue akui untuk koleksi jam tangan gue emang nggak sedikit karena gue ngaumpulinnya emang dari zaman kuliah. Yang sampai sekarang beberapa masih bagus dan layak dipakai. Tapi untuk koleksi merk Rolex, gue cuma punya tiga kalau enggak empat. Dan untuk model ini gue emang udah jatuh cinta banget dari awal ini produk dikeluarin. Cuma sayangnya sampe sekarang gue belum bisa memiliki.


Kata Mala, gue itu kebanyakan maunya, kalah sama Mala yang notabene-nya perempuan. Yang harusnya lebih banyak maunya ketimbang laki-laki.


Oke, mari kita lupakan soal jam tangan yang bikin gue iri setengah mampus ini.


Kali ini pandangan gue langsung turun ke bawah. Lagi-lagi gue harus dibuat jantungan olehnya. Buset, dia memang hanya menggunakan sandal jepit untuk alas kakinya. Tapi yang jadi masalah adalah sandal yang dia pakai. Merk brand Chipkos. Sandal jepit yang katanya termahal di dunia karena berkolaborasi dengan seniman ternama, David Palmer. Yang gokilnya ini harganya setara dengan harga mobil.

__ADS_1


Fix, Bagas bukan orang sembarangan. Ini mah definisi the real of Sultan, no hoax, no debat.


Ya Tuhan, gue rasanya hampir kejang-kejang. Ini Mala bisa kenal pria modelan beginian dari mana sih?


"Enggak lah, yang kemarin beneran anak gue, ya. Dan ini beneran suami gue. Lagi ikut neneknya dia."


Senyum gue seketika langsung berubah cerah saat mendengar pengakuan Mala. Ditambah lagi dengan perlakuannya yang tiba-tiba menggandeng tangan gue.


Duh, rasanya hati gue langsung berbunga-bunga kayak anak SMP baru pertama kali pacaran.


"Masa? Kok gue nggak percaya?" tanya Bagas. Ekspresinya terlihat benar-benar seolah sedang tidak percaya, bahkan kedua matanya menyipit curiga.


Buset, perlu banget nih gue tunjukin buku nikah sama akta kelahiran Kai dan kartu keluarga kami? Batin gue kesal. Sayang, gue nggak bawa itu semua jadi nggak bisa ngomong langsung dan cuma bisa membatin doang.


Bagas mengangguk cepat. "Iya. Lo nggak keliatan kayak udah bersuami apalagi udah beranak-pinak. Haha, body lo abisnya nggak kayak Emak-emak pada umumnya."


Mala ikutan kembali tertawa. "Anjir, beranak-pinak banget bahasa lo," protesnya kemudian, "tapi nggak papa deh. Thanks, gue anggap itu sebagai pujian."


"Of course, itu emang pujian." Bagas kembali mengangguk cepat.


Gue memutar kedua bola mata gue datar mendengar obrolan keduanya. Sialan. Kalau begini ceritanya gue yang ada dijadiin obat nyamuk di siang bolong ini mah.


"Tapi bukannya lebih aneh, ya, kalau seandainya gue yang udah umur segini belum nikah atau belum punya anak?" tanya Mala.


Kali ini Bagas mengangguk setuju. "Iya, juga sih, lebih aneh perempuan secantik lo belum punya pasangan. Duh, nggak mungkin banget," komentarnya kemudian.

__ADS_1


Gue langsung berdehem keras. Pandangan mata gue kini benar-benar sudah tidak bersahabat. Sedangkan Bagas malah terbahak-bahak setelah melirik gue.


"Laki lo agak posesif, ya?" ucapnya terang-terangan.


Pria itu bahkan tidak ada niatan untuk sekedar berpura-pura memelankan nada bicaranya.


Hei, sekarang gue tanya suami mana yang nggak kesal kalau istrinya dipuji pria lain secara terang-terangan di depannya langsung. Gue rasa nggak ada. Apalagi pria model Bagas begini. Udah jelas sih, mereka pasti nggak akan tenang.


Bagas kemudian tertawa. "Banyakin sabar aja, ya, La, ngadepin laki posesif begitu. Kalau lo udah bosen atau nggak tahan ngadepinnya, bisa telfon gue kok, anytime, spesial buat perempuan cantik kayak lo." Ia kemudian mengerling jahil setelahnya.


Telapak tangan gue makin terkepal kuat. Apalagi reaksi Mala yang malah ikutan tertawa. Wah, ini dua manusia kayaknya sengaja banget mau nguji kesabaran gue yang cuma seujung sendok Nyam-Nyam. Pengen banget rasanya gue pecahin itu kepala Bagas saking jengkelnya.


"La, pegang tangan aku kuat-kuat sebelum aku hajar temen kamu ini," ucap gue masih berusaha untuk tidak terbawa emosi. Meski aslinya gue udah emosi setengah mati.


Mala langsung merangkul lengan gue lebih kencang, sesuai perintah. Sesekali usapan lembut ia berikan.


"Bagas, udah, iiih, lo jangan godain laki gue, kenapa sih?"


Bagas kembali tertawa. Serius, gue nggak suka banget liat cara dia ketawa. Ngeselin abis soalnya, kayak ngeledek gue.


"Abis ekspresi laki lo lucu banget kalau lagi cemburu gini. Padahal ini cuma gue loh, Sheen, gimana kalau Dirga."


Kening gue seketika mengernyit heran. Siapa lagi itu si Dirga? Ini si Bagas doang aja gue udah sensi setengah mampus, eh, malah nambah lagi ini. Mana namanya masih asing di indera pendengaran gue lagi. Kayaknya gue belum pernah denger deh. Apa mungkin itu mantan Mala? Seingat gue mantan Mala itu cuma si kampret deh. Tapi kalau mantan SMA dan lainnya gue nggak tahu sih, soalnya Mala nggak pernah cerita.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2