Married With My Besti

Married With My Besti
Curhat ke Abbas


__ADS_3

*


*


*


*


Gue benar-benar merasa tersinggung saat Abbas baru membuka pintu dan langsung menutup hidungnya spontan, saat menyambut gue. Pria itu mengeluh pada detik berikutnya.


"Anjir, lo baru balik dari RS banget?"


"Lo nggak mau mempersilahkan gue masuk dulu?"


Bukannya menjawab pertanyaannya, gue malah balik bertanya. Tidak lupa dengan nada suara maupun ekspresi kesal yang tidak perlu repot-repot gue sembunyikan.


Tanpa mengeluarkan suara Abbas langsung menggeser tubuhnya, memberi jalan agar gue bisa masuk ke dalam.


Masih dengan tangan yang menjepit hidungnya, Abbas kemudian mengeluarkan suara. "Langsung mandi dulu sana lo, Gha, kalau nggak mau gue usir. Gue nggak suka banget bau antiseptik yang masih nempel di baju lo. Ganti baju sekalian, pake punya gue, lo cari sendiri di lemari."


"Anjir, yang bener aja lo. Terus ****** gue gimana? Lo berharap gue pake ****** lo gitu?"


"Gue abis beli baru. Boleh lo pake satu. Nggak usah dibalikin. Ntar gue ambilin. Bajunya lo boleh milih sendiri," ujar Abbas lalu berjalan mendahului gue menuju kamarnya.


Gue hanya mampu memasang wajah bengong sambil menatap punggung Abbas yang kini sudah menghilang di balik pintu. Salah gue juga sih kenapa tadi gue nggak sempetin diri buat mandi dulu ya sebelum ke sini?


Kayaknya ini efek dari kekecewaan gue yang sedikit berlebih makanya gue sampe nggak kepikiran buat mandi dulu.


"Woi, ngapain lo malah ngelamun di situ, nyet! Bukannya langsung mandi?"


Lamunan gue buyar lalu mengangguk dan segera bergegas masuk ke dalam kamar Abbas.


Setelah mandi gue merasa lebih segar. Abbas sendiri ternyata sudah sibuk menyiapkan makan malamnya. Pria itu terbiasa memasak sendiri. Masakan Abbas menurut gue enak. Percaya nggak percaya, tapi gue tipe orang yang setuju kalau cowok terbiasa masak itu jaminan masakan mereka enak.


Kenapa gue mikir demikian?


Soalnya Kakak gue lumayan terbiasa masak setelah nikah, tapi masakannya gitu-gitu aja. Enggak enak. Serius. Bukan masalah dia bisa masak atau enggak, tapi emang masakan dia dari dulu sebelum nikah sampai sekarang udah punya anak, emang begitu-begitu aja. Aneh.


Ssstt, jangan aduin ke orangnya, ya, kalau masakannya gue bilang aneh. Takut diamuk gue soalnya.


"Lo kenapa sih nggak males masak sendiri? Maksud gue, lo kan ya sibuk juga di kantor. Masa pulang, masih aja nyempetin diri buat masak? Nggak capek lo?" tanya gue sambil menarik kursi dan duduk di sana.


"Ya justru itu yang gue cari. Capeknya. Kan kalau badan udah capek jadi gampang tidurnya, Gha."


Gue hanya mampu meringis kala mendengar jawaban Abbas. Ternyata semacam pengalihan toh, ceritanya. Pantesan.


"Ayo, buruan dimakan, Gha. Nggak usah berlagak sungkan lo. Nggak cocok."


Gue tersenyum sambil menggeleng. "Enggak berlagak sungkan. Cuma gue udah makan. Masih kenyang. Lo makan aja sendiri."


"Lah, masa gue makan sendiri?"


"Bukannya biasanya gitu?"


"Tapi kan sekarang ada lo, nyet." Agha mendadak sewot.


Gue hanya terkekeh saat mendengarnya.


"Mau curhat soal apaan lo sampe pulang dari RS langsung ke sini?"


"Mala?" tebak Abbas.


Tanpa ragu-ragu, gue langsung mengangguk cepat.

__ADS_1


"Berantem?"


Gue mengangguk sekali lagi. "Gue marah."


"Alasannya?"


"Gue kecewa."


Abbas menatap gue datar. "Bisa langsung ke inti?"


Gue menggeleng tidak setuju. "Gue nungguin lo kelar makan dulu, njir. Biar sekarang lo menikmati makanan lo dulu."


Abbas tertawa. "Enggak usah, gue selow kok. Cerita aja langsung!"


"Lo tahu kan kalau Mala abis ada masalah gitu sama mantannya?"


Abbas langsung mengangguk cepat.


Gue menghela napas panjang seraya menyugar rambut gue ke arah belakang. "Menurut lo, wajar nggak sih kalau gue marah di saat Mala memutuskan buat damai sama mantannya itu?"


Gerakan tangan Abbas yang tadi hendak menyuap mendadak terhenti. Diletakkan sendok berisi nasi itu kembali ke piring.


"Bentar, maksudnya damai itu..."


Abbas menggantungkan kalimatnya, seperti tidak yakin hendak meneruskannya.


Gue yang paham maksudnya langsung mengangguk dan mengiyakan.


"Laporannya udah dicabut dan dia udah bebas." Amarah gue kembali naik kala mengingatnya. Secara reflek gue menjambak rambut gue sendiri karena frustasinya.


"Anjir," respon Abbas. Pria itu terlihat kembali kehilangan kata-kata.


"Menurut lo wajar kan kalau gue marah sekarang?"


"Nggak usah ngatain bego juga, njir. Calon bini gue itu."


Abbas kehilangan kata-kata sesaat. "Anjir, masih aja bucin," ledeknya kemudian, "najis."


Gue memilih untuk mengabaikannya dan langsung mengganti topik. "Nge-bir setengah kaleng yang low alkohol dosa nggak sih, Bas?" tanya gue random.


"Nanggung banget cuma setengah kaleng. Mana bisa bikin mabuk, njir. Dua minimal lah, Gha."


Gue langsung menatap Abbas datar. "Kok lo lebih setan?"


"Ya abis nanggung banget, setengah doang. Dikit banyak namanya bir ya haram, itungannya ya tetep dosa lah. Mending banyak sekalian kan?'


Kali ini gue berdecak sambil geleng-geleng kepala. "Ngeri ya, kelakuan manusia sekarang kayaknya lebih setan daripada setannya sendiri. Gue rasa setan pun mulai minder ngeliat kelakuan manusia."


Abbas terbahak. "Sialan lo."


*


*


*


"Inget pulang juga kamu akhirnya."


Tubuh gue seketika langsung membeku saat mendengar sambutan bokap, yang terdengar sedang menyindir. Gue meringis canggung sambil mengusap tengkuk gue yang terasa sedikit hangat. Pantesan seharian ini gue seperti ngerasa tidak enak badan.


"Udah berapa hari kamu nggak pulang?" tanya beliau dengan ekspresi dan nada suara yang terdengar serius.


Bokap gue termasuk tipekal yang jarang bersikap demikian terhadap anak-anaknya. Beliau cenderung lebih senang bersikap santai saat sedang mencoba menasehati kami. Hanya momen-momen tertentu yang membuat Ayah bersikap demikian.

__ADS_1


"Maaf, Yah, jadwal operasi Agha emang agak penuh akhir-akhir ini--"


"Dek, kamu jangan lupa, Ayah juga dokter loh," potong bokap, "spesialisasi kita memang beda tapi bukan berarti Ayah nggak tahu apa-apa. Ayah juga praktek di RS yang sama, meski nggak setiap hari Ayah di sana, tapi temen Ayah kasih laporan, katanya kamu hampir selalu terima kalau ada permintaan operasi cito. Padahal jelas-jelas jadwal operasi kamu sendiri aja udah penuh. Maksudnya apa? Kamu lagi kekurangan uang?"


Astaga, kenapa Ayah bisa sampai kepikiran ke arah sana?


Cepat-cepat gue menggeleng panik lalu duduk di hadapan beliau. "Enggak, Yah, Agha nggak lagi kekurangan uang kok."


"Terus kenapa? Kamu ini manusia, dek, bukan robot. Tubuh kamu bisa lelah, bisa capek, bisa sakit juga. Jangan mentang-mentang kamu dokter terus kamu bisa berlagak nggak bisa sakit gitu. Ayah nggak suka. Kamu masih muda. Masih pengen nikah, punya anak, liat anak kamu nikah nggak?"


"Iya, Yah, maafin Agha," sesal gue serius.


Memang benar ya, kalau orang jarang marah sekalinya marah itu serem.


"Lagi berantem sama Mala?" tebak bokap tiba-tiba.


Gue nyaris tersedak ludah gue sendiri karena kagetnya. Gue kemudian menggeleng panik. "Enggak kok."


"Masih nggak mau jujur sama Ayah?"


"Iya. Agha lagi berselisih sama Mala," ungkap gue jujur, "Agha ngeiyain operasi cito di tengah jadwal operasi Agha yang padat, karena lagi menghindar dari masalah sama Mala. Agha butuh banyak kegiatan biar nggak terlalu kepikiran."


"Terus karena kamu lagi ada masalah, kamu berhak memforsir tubuh kamu seenaknya begitu?"


Gue menggeleng dengan kepala menunduk takut. "Enggak, Yah."


"Terus kenapa tetep dilakuin?"


Kali ini gue memilih diam karena tidak tahu harus membalas apa.


"Ayah tuh suka kesel banget tahu nggak, karena keras kepala kamu itu mirip banget sama Bunda kamu."


Wajah bokap mendadak berubah panik saat tiba-tiba nyokap gue datang sambil membawa secangkir teh.


"Oh, jadi Ayah suka kesel sama Bunda?"


Ayah menggeleng cepat-cepat. "Enggak gitu, sayang, maksudnya. Cuma apa, ya, gemes gitu loh. Nggak kesel kok serius, cuma salah memilih kosakata aja tadi."


Bunda berdecak sambil sambil geleng-geleng kepala lalu duduk di sebelah gue. Tangan beliau langsung membelai rambut gue penuh kasih sayang.


"Ya ampun, nggak tidur berapa hari kamu, dek?" tanya Bunda khawatir, "agak anget juga ini badan kamu," imbuhnya saat telapak tangan beliau tidak sengaja bersentuhan dengan dahi gue.


Baru saja gue hendak menjawab agar Bunda tidak terlalu khawatir, karena gue baik-baik saja. Tapi Ayah tiba-tiba menyahut dengan sewot.


"Iya, itu, efek kalau tubuh abis diforsir ya, begitu. Kamu itu dokter loh, Gha, masa nggak paham juga konsep kalau tubuh dibuat kerja terus-terusan bakal berujung sakit?"


"Agha tahu, Yah. Tapi sekarang Agha baik-baik aja kok, cuma agak nggak enak badan dikit." Gue kemudian menempelkan telapak tangan gue pada tengkuk gue, "demamnya juga cuma demam ringan, Yah."


"Iya, sekarang, tapi nanti malam? Besok? Siapa yang tahu."


Gue langsung menatap bokap datar. "Ayah doain Agha sakit?"


"Iya," balas bokap dengan lugasnya, "biar kamu kapok."


"Ayah!" tegur Bunda dengan kedua mata melototnya.


Bokap langsung menyengir takut. "Iya, bercanda, Bun. Jangan galak-galak kenapa sih sama Ayah?"


"Ya makanya jangan sembarangan kalau ngomong."


"Salah mulu perasaan."


Tbc

__ADS_1


__ADS_2