Married With My Besti

Married With My Besti
Diskusi


__ADS_3

"Udah beneran tidur dia?" tanya gue pada Mala yang sedang membenarkan selimut Kai. Pandangan gue terfokus ada bayi kami yang terlihat terlelap di dalam box bayi besarnya.


Sejak tadi sore Kai agak rewel karena jam tidurnya sedikit keganggu. Biasanya kalau habis mandi sore dia akan langsung tidur, namun, tidak dengan tadi sore. Alhasil ia agak rewel.


Mala mengangguk dan mengajak gue menyingkir, agak menjauh dari box bayi. Agar tidur Kai tidak terganggu oleh obrolan kami.


"Capek banget ya jagain Kai seharian? Yuk, aku pijitin," tawar gue sambil merangkul pinggang ramping Mala.


Jujur, gue nggak tahu makanan atau suplemen apa yang Mala konsumsi sehingga tubuhnya kembali seperti sebelum hamil.


"La, kamu diet ya?" tanya gue random.


"Kenapa mikir gitu?" Bukannya menjawab, Mala malah balik bertanya.


"Pinggang ramping kamu cepet banget baliknya. Minum suplemen apaan kamu?"


Mala menggeleng lalu membaringkan tubuhnya pada ranjang. "Enggak minum suplemen apapun. Enggak diet juga. Cuma pola makan aku atur dikit sama sesekali aku sempetin treadmill bentar. Lagian kan emang sejak hamil maupun melahirkan berat badan aku nggak nambah banyak banget, cuma berapa kilo aja kan, jadi masih nggak terlalu sulit buat dibalikin ke semula."


Gue menepuk lengannya pelan. "Enggak jadi dipijit?"


Mala tidak membalas dan langsung mengubah posisinya menjadi tengkurap. Gue lalu duduk di sebelahnya dan mulai memijat pundaknya yang terasa kaku.


"Emang sempet treadmill, La? Bukannya makan aja kamu suka telat? Dibanding nyempetin treadmill, mending makan dulu lah, La, yang diutamain. Aku juga nggak masalah kalau semisal kamu gemuk sekalipun."


Mala emang tipe yang sangat peduli dengan bentuk tubuhnya, gue sendiri juga suka sih liatnya, cuma masalahnya gue kurang suka kalau Mala terlalu mentingin bentuk tubuhnya ketimbang yang lain.


"Itu kan kalau Mbak Ratih izin nggak masuk, Gha, jadi mau makan aja susah, tapi kalau Mbak Ratih masuk mah kerjaan oke, aku masih bisa treadmill kalau Kai tidur. Mbak Ratih kalau libur aku beneran kewalahan ngurus rumah sama Kai, apalagi bulan kemarin emang Mbak Ratih lumayan sering izinnya."


Gue menghentikan pijatan. "Apa mau ganti ART aja?" tawar gue kemudian.


"Emang kenapa?"


"Ya, itu kata kamu Mbak Ratih sering izin. Kalau sering izin mending diganti aja, kan kita pake ART biar pekerjaan rumah kamu lebih ringan. Biar kamu nggak perlu urus ini-itu dan fokus sama Kai dan diri kamu."


"Mbak Ratih izin karena emang kemarin lagi banyak acara gitu, ada sodaranya yang menikah. Jadi ya, izin."

__ADS_1


Gue kembali melanjutkan pijatan gue. "Jadi nggak perlu ganti kan? Mbak Ratih kerjanya oke?"


Mala mengangguk untuk mengiyakan. "Iya, nggak perlu ganti, Gha. Aku udah cocok sama Mbak Ratih, males juga kalau harus ganti-ganti."


"Terus buat ngurus Kai nanti gimana, La? Kan kamu bentar lagi udah mulai masuk kerja kan?"


"Soal Kai, kemarin Mama sama Bunda udah kasih tawaran sih."


"Loh, kok Mama sama Bunda? Kita nggak pake baby sister aja, La? Kalau pake orangtua kok kesannya kita terlalu hemat atau nggak mau keluar uang buat sewa baby sister, ya? Aku udah siapin dana buat sewa baby sister kok, La, kemarin juga aku udah dapet beberapa yayasan yang bagus. Nanti kamu tinggal pilih yang mana."


"Aku kurang srek kalau pake baby sister, Gha. Kayak kurang percaya aja gitu kasih Kai ke orang lain. Iya, kalau mereka beneran bisa sayang sama Kai nantinya? Tapi kalau seumpama dia baik cuma kalau ada kita aja gimana? Ah, aku nggak mau. Mending biar ikut sama Mama atau Bunda selama kita kerja. Dulu aku juga diurus Nenek kok selama Papa sama Mama kerja."


"Kan kita nanti bisa cari dari yayasan terpercaya, La. Banyak kok yayasan penyalur baby sister gitu yang bagus. Kenapa nggak dicoba dulu?"


Mala tetap pada pendiriannya. "Katanya buat anak nggak boleh coba-coba, Gha. Jadi keputusan aku tetap sama. Enggak deh, Gha. Menurut aku kalau kita pake baby sister tuh quality time kita sama Kai bakal berkurang. Kai nanti pasti lebih ngabisin waktu sama dia ketimbang kita. Kalau kita titipin ke Mama atau Bunda kan pasti begitu kerjaan kita kelar langsung kita ambil, waktu Kai bener-benar bakal sama kita abis itu."


"Bener juga sih. Tapi beneran Mama atau Bunda bisa dan mau? Soalnya aku belum bahas ini sama Bunda, La."


"Bisa. Dua-duanya udah nawarin kok, biar adil ntar gantian aja nitipinnya."


Mendengar pertanyaan gue, Mala langsung menoleh. "Emang mobil kamu kenapa?" tanyanya heran.


Gue menggeleng. "Ya, enggak kenapa-kenapa. Pengen ganti aja."


Seketika Mala langsung mencibir. "Sok kaya banget kamu ganti mobil cuma karena pengen doang?"


"Emang kenapa, nggak boleh?"


"Enggak," balas Mala cepat.


Seketika gue langsung tersenyum kecut. Pupus sudah harapan gue buat ganti mobil.


"Kok berhenti?" protes Mala karena gue memang menghentikan pijatan.


"Ngantuk. Udahan, yuk, mau tidur."

__ADS_1


"Ngambek?"


"Enggak. Cuma bete dikit abis kamu nggak kasih izin aku ganti mobil. Mobil aku itu udah lama loh, La, dari zaman residen tahun ke tiga. Sekarang udah jadi spesialis, udah punya anak juga."


"Lah, salah sendiri dulu nggak ganti sebelum nikah. Sekarang kamu udah punya anak dan istri, nggak bisa sesuka hati kamu sendiri, paham?"


Gue semakin cemberut. Hal ini membuat Mala menghela napas panjang.


"Ya udah, iya, iya, boleh ganti mobil tapi nabung dulu."


Gue berpikir sejenak lalu akhirnya mengangguk setuju. "Oke, mau lanjut lagi nggak dipijitinnya? Apa mau pijit yang lain?" tawar gue kemudian. Kalau ada maunya istri wajib dibaik-baikin.


Mala mendengus sambil memukul wajah gue menggunakan batal. "Enggak ada pijit-pijit yang lain. Tidur!"


Gue kembali merengut. "Yah, padahal aku mau loh. Sekali, yuk, La, mumpung Kai masih nyenyak tidurnya, nggak bakal keganggu sama suara kamu nantinya."


Mala terlihat berpikir sejenak. "Beneran sekali kan?" tanyanya memastikan.


Gue langsung mengangguk cepat. "Tapi nanti kalau kamu mau nambah juga boleh. Hehe."


"Ya udah, ayo, tapi matiin dulu itu lampunya."


Gue berdecak samar, tapi meski demikian gue tetap turun dari ranjang dan berjalan menuju saklar dan langsung mematikan lampu.


"Ah, kamu mah, nggak asik, La, sukanya gelap-gelapan," gerutu gue sebelum melompat ke atas ranjang dan menindih tubuh Mala.


Mala langsung menjerit kaget pada detik berikutnya. Dan kalian tahu apa yang terjadi setelahnya? Benar, Kai terbangun dan nangis kenceng banget. Mala otomatis langsung mengomel sambil menendang tubuh gue, lalu berlari ke arah box bayi dan menggendong putra semata wayang kami.


"Gha, nyalain dulu itu lampunya!"


Gue merengut kesal lalu turun dari ranjang dan berjalan menuju saklar untuk menyalakan lampu. Padahal jelas-jelas deketan dia ketimbang gue.


Pada momen-momen seperti ini rasanya gue pengen banget musuhan sama anak gue sendiri. Demi Tuhan kalau begini Mala nggak bakalan mood ngelayani gue, yang ada gue disuruh main sama sabun. Resiko nikah sama temen sendiri ya begini, dia bakal setega itu sama kita.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2