Married With My Besti

Married With My Besti
AA Story Couple 19


__ADS_3

*


*


*


Alisa merasa tidak enak dengan kedatangan Mala. Bagaimana tidak, saat perempuan hamil itu masuk ke dalam apartemennya, air matanya tidak mampu ia cegah. Langsung turun begitu saja tanpa bisa dikomando, hanya karena ia merasa iri melihat perut besarnya.


"Eh, Sa, kok malah nangis?" tanya Mala dengan raut wajah bingung sekaligus panik. Cepat-cepat ia langsung memeluknya, "ssst, udah, nggak papa. Nggak usah nangis."


"Sorry," sesal Alisa dengan wajah bersalahnya, "aku emang lagi mode melow gitu. Maaf ya."


Mala langsung mengelus pundak perempuan itu, berharap sedikit menenangkannya. Tak lama setelahnya ia ikut menangis.


"Udah dong, Sa, nanti gue ikutan nangis."


Alisa sedikit terkekeh geli sambil mengusap pipinya yang basah. "Lo emang udah ikutan nangis." pandangannya kemudian beralih pada Kai, bocah berumur dua tahun yang terlihat menatapnya dan sang Mama dengan ekspresi bingungnya, "hai, ganteng," sapanya lalu menyejajarkan posisinya dengan bocah tersebut.


"Salim dulu," ujarnya sambil menyodorkan telapak tangannya.


Meski awalnya ragu-ragu, Kai tetap mau diajak salim.


"Duh, manis banget sih. Udah makan belum?"


Kai mengangguk dan mengiyakan. Mungkin ia masih sedikit kaget melihat kedua perempuan dewasa itu menangis jadi belum berani banyak bicara.


"Makan sapa apa?"


Bukannya menjawab, Kai malah menoleh ke arah sang Mama. "Mam sama apa, Ma?"


"Lah, kok malah tanya Mama? Tadi kamu-nya makan sama apa? Kenapa malah nanya Mama?"


Kai menggeleng. "Ndak tau," jawabnya kemudian, membuat Alisa gemas melihatnya.


"Ya ampun, La, anak lo gemes banget sih," ujar "Mau es krim nggak? Tante punya es krim dong."


"Ma?" Kai menoleh ke arah Mala sambil menarik telapak tangan sang Mama.


Alisa sedikit panik karena khawatir Kai tidak boleh makan es krim. "Enggak boleh, La?"

__ADS_1


Mala mengangguk. "Boleh kok. Cuma asal nggak ada kacangnya."


"Kenapa?"


"Alergi dia."


"Gatel-gatel gitu?"


Alisa kemudian menyuruh keduanya ke ruang tengah sementara dirinya menuju dapur yang letaknya tidak jauh dari ruang tengah. Tidak ada pembatas sehingga keduanya masih tetap bisa mengobrol.


Mala menggeleng. "Iya, awalnya begitu, terus lama kelamaan kayak sesek napas gitu, Sa. Ini baru ketahuan belum lama, kan ceritanya waktu itu dia lagi bete gitu kan karena nggak ada temen main, anak gue tuh nggak bisa kalau nggak ada temen kan, terus gue ajak dia main indomaret lah, dia beli es krim yang ada kacangnya sampai belum sampai di rumah udah dibuka kan, sumpah, Sa, dia baru makan dikit banget tiba-tiba dia ngeluh gatel-gatel kan. Awalnya gue pikir tuh karena kena bulu ulet atau apa, soalnya emang tadi dia main di sekitar semak-semak. Gue omeli tuh dia, eh, nggak lama setelahnya dia kayak orang kejang, Sa. Panik lah gue, nangis, untung kita belum sampe rumah jadi gue bawa Kai ke rumah sakit dibantuin orang baik yang lewat. Sepanjang perjalanan gue nangis karena ngerasa bersalah. Nah, bocahnya jadi mikir-mikir juga sekarang kalau mau makan es krim. Kadang kalau gue jelasin ngerti tapi kadang enggak. Makanya dia kalau tiap mau makan es krim tanya dulu ke gue. Sama Papa-nya aja semisal beli es krim berdua harus dengan persetujuan gue."


Alisa mengangguk paham. "Berarti emang ngerti ya. Pinter banget mentang-mentang emak-bapaknya dua-duanya dokter spesialis." ia sudah menyusul keduanya di ruang tengah sambil membawa cemilan dan es krim untuk Kai.


Mala tertawa. "Ya, lumayan sih, tapi ini berlaku cuma buat es krim. Masalahnya dia kan alergi kacang, nah, dia mikirnya es krim yang ada kacangnya doang yang bikin dia alergi. Kemarin aja dia mau nekat makan roti selai kacang, eh, bukan roti deh, tapi martabak. Papa-nya ceritanya lagi ngidam martabak coklat kacang--"


"Lah, bukannya Agha nggak bisa makan kacang?" potong Alisa dengan ekspresi herannya.


"Bukan nggak bisa sih kalau Agha, dia nggak ada alergi, bisa makan, cuma biasa kurang suka aja. Tapi katanya dia tiba-tiba lagi pengen makanya beli. Gue omelin lah, soalnya gue udah mewanti-wanti Agha biar nggak beli makanan yang ada kacangnya soalnya Kai alergi. Anak gue kan orangnya gampang pingin, jadi susah-susah gampang kalau membujuk tuh. Eh, Bapaknya malah beli martabak rasa coklat kacang."


Alisa manggut-manggut paham. "Terus-terus jadinya makan beneran nggak?"


"Siapa? Lo sama Agha yang adu mulut?"


Mala kemudian menunjuk ke arah Kai yang kini sibuk memakan es krim cup kecilnya.


"Lo sengaja beli ginian buat anak gue? Soalnya nggak mungkin lo nyetok es krim segini."


"Enggak, emang gue beli beberapa soalnya kalau beli yang gede kan cepet bosen jadi beli yang beginian biar bisa banyak variasi. Serius."


"Berarti di kulkas masih ada?"


Alisa mengangguk dan mengiyakan. "Iya, masih. Kenapa? Lo mau?"


"Mau. Kayaknya anak gue pengen deh."


"Emaknya yang pengen juga boleh kok." Alisa terkekeh geli lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur untuk mengambil es krim, "mau rasa apa?" tawarnya kemudian.


"Apa aja boleh deh."

__ADS_1


"Yang rasa oreo enak nih." Alisa kembali sambil membawa es krim cup lalu menyerahkannya pada Mala.


"Thanks."


"Lo sama sekali nggak ada kendala di makan, La? Semua bisa lo makan?"


Mala mengangguk cepat sambil menyuapkan sesendok besar es krim ke dalam mulutnya. "Gue mual muntah tuh pas hamil kedua, yang pertama sama sekarang sama sekali nggak ngerasain. Beneran Agha doang yang ngerasain kalau ini."


"Tapi sekarang udah aman kan? Nggak mual muntah parah?"


"Masih, kadang aja suka diledek Kai. Mereka tuh kan kadang klop, tapi kadang kayak musuh bebuyutan. Nasi aja belum bisa masuk loh, Sa. Kadang gue juga kasian ngeliatnya."


"Hah? Nggak bisa makan nasi? Terus makan apa?"


"Kentang, ubi-ubian, gitu-gitu. Makanan yang aromanya kuat atau rasa aja masih suka nggak mau loh, jadi kadang dia cuma makan rebus-rebusan doang. Hampir tiap hari ngeluh dia. Tapi tetep aja nggak bisa makan."


"Cinta banget ya berarti Agha sama lo, La. Kan katanya gitu, saking cintanya suami sampe bersimpati segitu seriusnya. Morning sick aja sampe dia sendiri yang ngerasain."


"Abbas juga cinta banget sama lo, Sa. Buktinya dia rela nunggu lo meski lo pernah nikah, dia bahkan sesetia itu sama lo."


Alisa manggut-manggut setuju. "Tapi nggak munafik, La, perasaan takut itu tetep ada."


Mala langsung menegakkan tubuhnya dan meletakkan es krimnya. "Sa, apa yang lo takutin? Masih kurang pembuktian Abbas selama ini?"


"Gue takut dia pergi karena gue nggak bisa kasih dia anak."


"Sa, lo ngomong apaan sih? Lo cuma keguguran, gue yakin lo pasti bisa hamil lagi."


"Tapi bisa aja gue kehilangan dia lagi, La."


Mala menghela napas lalu memeluk Alisa. "Jangan begitu, Sa. Percaya sama gue, lo pasti bakalan dikasih kesempatan itu. Mungkin bukan sekarang, tapi nanti."


Kedua mata Alisa terlihat kembali memerah. "Tapi kapan, La? Gue capek, La, capek banget."


Mala manggut-manggut paham. "Enggak papa, wajar kok kalau lo capek. Lo nggak salah, Sa, gue paham. Lo boleh ngeluh, ngeluh sepuas lo, tapi abis lo harus bangkit lagi ya."


Alisa tidak berkata apa-apa selain menangis sesegukan di pelukan Mala.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2