Married With My Besti

Married With My Besti
Telat


__ADS_3

*


*


*


"Gha! Agha!"


Mala berdecak kesal karena sang suami sejak tadi dibangunin susah banget. Ia bahkan sudah selesai make up, tinggal ganti kebaya. Kai sudah keren dengan celana bahan dan kemeja panjang batiknya. Sedangkan Agha bahkan masih betah bersembunyi di balik selimutnya.


"Gha, bangun sekarang atau aku tinggal!" ancam Mala sambil memukul pantat sang suami dengan cukup keras.


Agha gantian berdecak sambil membenarkan selimutnya. "Pusing, La," keluhnya kemudian.


Beberapa hari terakhir fisiknya sedang tidak begitu bagus karena terlalu kelelahan. Terlalu banyak malam-malam begadang yang sudah ia lakukan. Dan Agha merasa ia sekarang mulai membutuhkan istirahat.


"Terus mentang-mentang pusing kamu nggak mau dateng ke nikahan temen kamu sendiri?"


"Izin aja lah dulu. Aku takut pingsan deh kalau maksain diri."


Mala berdecak lalu mengecek suhu tubuh sang suami. Memang sedikit hangat, tapi sedikit berlebihan kalau pria itu menyebut dirinya akan pingsan nantinya.


"Kamu bahkan nggak demam tinggi, Gha, udah nggak usah banyak alesan. Langsung bangun terus ganti baju, siap-siap ke nikahan Abbas."


Emosi Mala hampir meluap, namun, ia harus tetap bersabar karena Kai masih ada di sana. Takutnya kalau ia mengamuk dan itu dilihat langsung oleh sang putra, nantinya berefek tidak bagus bagi tumbuh kembang sang putra.


Di luar dugaan, Agha terkekeh dengan kedua mata masih enggan untuk terbuka.


"Abbas? Abbas mau nikah sama siapa, La, ada-ada aja kamu. Udah lah, aku mau tidur nyenyak. Please, jangan ganggu aku kali ini. Kayaknya aku beneran sakit deh hari ini, nggak kuat ngapa-ngapain. Aku libur bantu jaga Kai ya?"


Agha sedikit mengintip sang istri untuk meminta persetujuan.


Emosi Mala sudah berada di ambang batas.


"Gha, jangan bikin aku ngamuk di depan Kai, ya. Abbas mau nikah sama siapa?" Mala mendengus tidak percaya, "ya tentu sama calonnya. Alisa lah, Gha. Kamu ini makanya kalau dikasih tahu bangun dulu biar fokus!"


Abbas


Alisa


Menikah?


Astaga, ya ampun.


Reflek Agha langsung bangun dengan tiba-tiba. Ia mengaduh tak lama setelahnya karena bangun tiba-tiba membuatnya sakit kepala.


"Astagfirullah, La, aku lupa. Kamu kenapa nggak bangunin aku padahal kamu udah hampir siap gitu." Agha panik celingukan mencari ponselnya.


Ada sekitar 12 panggilan tak terjawab. Masing-masing dari Ohim, Farhan, Rumi, dan calon pengantin yang hari ini akan menggelar ijab qobul.


Astaga, mereka terlambat.


Cepat-cepat Agha melompat dari kasur lalu berlari menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Handuknya jangan lupa, Gha!" tegur Mala sambil berdecak.


Kebiasaan sekali pria itu, kalau mau mandi pasti lupa membawa handuk. Dan Mala malas kalau harus membawakan handuk saat pria itu sudah mandi atau sekedar melepas bajunya. Karena biasanya otak usil sang suami seolah tak pernah absen.


Mau tidak mau Agha kembali keluar dengan kaos yang ternyata sudah dilepas.


"Kalau nggak berani mandi nggak usah mandi, aku males kalau harus dengerin keluhan kamu nanti."


Agha itu tipe yang rewel dan super manja kalau sedang kurang sehat dikit. Terkadang hanya flu ringan saja rengekannya udah seperti orang yang sekarat, dan ia sedang tidak berminat mendengar rengekan pria itu. Seperti kemarin, hidungnya mampet mengeluhnya semalaman sampai membuatnya harus begadang semalaman. Padahal cuma hidup mampet doang, tapi begitu lah Agha, manjanya minta ampun. Dikit-dikit merengek persis seperti bocah, padahal putra mereka kalau flu yang masih tergolong ringan tidak serewel Agha. Ya mungkin Kai akan kesulitan tidur nyenyak, tapi setidaknya tidak akan sampai membuatnya harus begadang semalaman.


Entah lah, terkadang Mala merasa heran. Siapa yang bocah siapa yang bikin bocahnya.


"Emang kenapa nggak berani mandi?"


Agha tidak jadi kembali masuk ke kamar mandi dan justru menatap sang istri dengan tatapan herannya.


"Dingin maksudnya, Gha."


"Kan ada air hangat."


"Ya, masalahnya kamu lagi sambat sakit terus kalau mandi takutnya malah kamu-nya demam, aku males dengerin."


Agha merengut. "Jahat banget sih sama suami sendiri, bukannya khawatir tapi malah males dengerin keluhan aku," rajuknya kemudian.


"Udah buruan mandi, Gha! Nanti kita telat," decak Mala mulai kehilangan kesabaran.


"Nggak papa. Emang udah telat soalnya. Mau ngebut juga nggak bakalan tepat waktu. Udah pasti telat."


Demi Tuhan, Mala ingin sekali melempar catokan rambutnya ke arah sang suami. Tapi sayang karena catokan rambutnya masih baru, jadi ia tidak tega melakukannya. Sekarang ia tidak peduli. Terserah suaminya saja lah. Yang penting ia mau siap-siap untuk menghadiri pernikahan Abbas dan Alisa.


Agha tertawa melihat kelakuan sang istri, yang tidak jauh berbeda dengan perempuan kebanyakan.


"Kalau anaknya nggak mau jangan dipaksa lah, La, kasian mau main itu. Udah tahu anaknya nggak suka difoto kok sukanya maksa," gerutu Agha sambil membuka lemari. Tangannya memilah-milah kemeja mana yang hendak ia pakai.


"Mau ngapain?"


Itu bukan pertanyaan. Tapi lebih terdengar seperti sindiran. Setidaknya itu lah yang Agha tangkap.


"Ya mau cari baju lah, La, masa iya cari masalah."


Mala mendengus. "Kalau kamu masih nyari baju di lemari itu artinya emang lagi cari masalah, Gha. Kamu nggak liat di atas kasur aku udah nyiapin baju buat kamu?"


Agha langsung menoleh ke arah ranjang lalu beralih pada sang istri dan sang putra. "Oh, pake baju seragam toh, bilang dong, La, dari tadi," komentarnya saat menyadari rok batik yang Mala kenakan, kemeja Kai, dan kemejanya yang tergeletak di atas tempat tidur sama.


Agha manggut-manggut paham lalu segera memakainya. Tidak butuh waktu lama, ia pun sudah siap dan mereka pun siap berangkat.


"Nanti yang nyetir siapa?" tanya Mala saat keduanya menuruni anak tangga.


Bukan apa-apa, masalahnya ia masih ingat dengan kalimat Agha yang tadi.


"Aku lah, La, masa iya Kai." Agha mendengus sambil geleng-geleng kepala.


"Tadi katanya kamu bilang lagi sakit, katanya juga kalau maksain diri kamu bisa pingsan. Aku males sih kalau sampai harus mengalami kecelakaan karena kamu."

__ADS_1


"Dih, kapan aku bilang begitu? Emangnya aku selemah itu?"


Mala langsung menggeleng cepat. "Sebenarnya sih kalau fisik kamu mah kuat, tapi mulut kamu itu loh, nggak berenti kalau ngeluh padahal cuma flu doang. Kamu tahu nggak sih, Gha, aku lebih pusing kalau kamu lagi masuk angin ketimbang Kai yang sakit. Serius," ucapnya bersungguh-sungguh. Sedangkan Agha hanya terbahak saat mendengarnya.


*


*


*


"Bener-bener ya lo, Gha, bisa-bisanya lo jam segini baru dateng?" omel Abbas sambil memukul tubuh Agha secara bertubi-tubi, "gue bahkan jadi MC di acara lo, tapi bisa-bisa lo dateng bareng tamu-tamu yang lain. Yakin lo sebut kita keluarga?" decaknya tidak percaya sekaligus emosi.


Benar, sesuai tebakan Agha, mereka memang datang terlambat. Ijab qobul sudah digelar sejak satu jam yang lalu. Awalnya Agha berpikir kalau mereka akan terlambat beberapa menit doang, eh, tahunya mereka kejebak macet cukup parah, alhasil ya begini telat.


"Sorry, bro, sorry banget, gue lagi kurang sehat jadi bangunnya telat," sesal Agha dengan wajah tidak enaknya, "beneran minta maaf gue."


Serius. Ia benar-benar sungkan karena tidak bisa menyaksikan hari bersejarah sang sahabat.


"Omelin aja, Bas, tadi gue udah coba bangunin berkali-kali tapi itu orang malah nggak bangun-bangun. Mana pas aku kasih tahu si Agha masih sempet-sempetnya ngeledek kamu. Katanya kamu mau nikah sama siapa gitu."


"La, kamu harusnya belain aku dong," protes Agha kesal karena tidak dibela sang istri.


"Ya kan kamu yang salah, Gha, gara-gara kamu aku jadi nggak liat acara ijab qobulnya Abbas sama Alisa secara langsung."


"Ya kan kamu tahu aku lagi sakit, La. Wajar dong kalau susah dibangunin. Aku juga sedih tahu nggak bisa lihat langsung momen bersejarahnya couple AA kita. Buset, setelah belasan tahun Abbas nunggu cintanya Alisa, akhirnya sah juga. Beneran udah sah belum sih kalian? Rasanya kayak nggak percaya deh karena gue belum liat langsung."


"Ya, salah lo kenapa telat," omel Abbas, "bener-bener deh lo, Gha. Tega-teganya lo giniin kita."


"Ya, maaf kan ini di luar kuasa dan kehendak gue. Kalau bisa muter waktu, ya gue puter lah, Bas, tapi masalahnya gue nggak bisa."


"Udah sih, nggak papa, yang penting doa sama restu kalian cukup kok. Kalian bisa dateng dalam keadaan sehat saja sudah cukup," ucap Alisa menengahi.


"Tapi gue lagi sakit, Sa," gurau Agha sambil terkekeh, "kalian harusnya nggak protes lah, gue bela-belain ke sini juga demi kalian meski lagi sakit.


Di sampingnya Mala langsung mendengus. "Halah, masuk angin doang kamu itu, Gha. Nggak usah lebay."


"Cuma istri gue nih yang suaminya lagi sakit malah dikatai lebay."


"Tapi emang kamu lebay, Gha," sahut Mala dengan sedikit kesal.


Agha merengut. "Iya, iya, aku lebay. Udah yuk, mending kita foto bareng dulu. Mumpung masih ganteng nih gue-nya," ajaknya kemudian.


"Padahal harusnya lo yang jadi fotografer gue, anjir, malah lo yang minta foto."


Agha tertawa. "Ya kan gue udah bilang dari awal kalau gue nggak bisa, bro."


"Pas nikahan lo gue juga sibuk kali, tapi gue sempet-sempetin loh."


Agha manggut-manggut sambil menepuk pundak Abbas. "Iya, iya, maaf, bro. Lo jangan bikin gue makin bersalah begini lah, Bas."


"Emang itu tujuan gue, pokoknya lo harus bersalah karena udah bikin gue kesel," decak Abbas masih dengan wajah menahan kesal.


Agha tidak membantah karena apa yang sudah ia lakukan emang cukup bersalah dengan Abbas.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2