Married With My Besti

Married With My Besti
Harap Bersabar!


__ADS_3

*


*


*


Agha menaiki anak tangga dengan langkah terburu-buru saat menuju kamarnya. Takut kalau Mala berubah pikiran dan nggak jadi kasih izin dia pulang, soalnya terkadang mood Mala sulit ditebak. Suka random mendadak, tapi suka serem mendadak. Dan Agha belum terbiasa akan semua itu.


"Ngapain pulang?" sambut Mala begitu Agha masuk ke dalam kamar. Pria itu melongo beberapa saat lalu menoleh ke arah Alisa dengan kedua mata melotot tajam, bermaksud meminta penjelasan pada perempuan itu.


"Gue yang nyuruh Agha pulang, La, abis lo dari tadi bilang nggak bisa tidur terus, ya udah gue inisiatif buat telfon laki lo lah."


Sekarang gantian Mala yang melototi Alisa. "Kok lo nggak nanya dulu sama gue sih?" decaknya kesal.


"Ya kalau gue nanya, jawaban lo pasti nggak setuju. Padahal aslinya lo pengen Agha di sini tapi lo gengsi kegedean."


Mala mendengus kesal. "Dih, siapa juga yang gengsi. Gue nggak tuh," elaknya bersikeras.


Kali ini giliran Alisa yang mendengus. "Yang namanya gengsi mana mau mengakui," cibirnya kemudian, "udah lah, gue mau pulang," pamitnya kemudian.


"Siapa yang kasih izin lo pulang?"


"Ya gue kebetulan nggak nunggu izin lo sih, La, kalau gue mau balik ya tinggal balik lah, siapa lo ngatur-ngatur?"


Mendengar jawaban Alisa, Agha langsung melotot kesal ke arah perempuan itu. Ekspresinya terlihat seperti sedang berbicara 'lo jangan cari perkara dulu, please! Gue masih butuh bantuan lo!'. Tapi sayangnya Alisa tidak cukup peka.


"Ya elah, kenal berapa tahu kalian tuh, masa handle gini aja nggak bisa? Udah lah, pokok gue mau cabut. Dah, Kai udah tidur soalnya jadi gue nggak ngerasa perlu di sini lagi. Sampai ketemu besok ya, besok gue mau main lagi."


"Sa, terus ini nasib gue gimana, anjir!" protes Agha pada Alisa. Tapi perempuan itu tetap tidak peduli.


Selepas perempuan itu pergi, kini hanya tinggal Agha dan sang istri. Mala sendiri langsung melengos setelah melirik sang suami sekilas. Tapi detik berikutnya ia kembali menoleh ke arah pria itu saat menyadari sesuatu.


"Astaga, Gha, itu kemeja kamu kenapa kotor semua?" tanya Mala galak, "kamu abis ngapain?"


Mendengar pertanyaan sang istri, Agha langsung mengecek kemejanya sendiri. "Oh, nggak papa kok, La, nggak abis ngapa-ngapain."


"Enggak abis ngapa-ngapain gimana? Itu kotor semua loh."


Agha meringis tipis. "Tadi abis main basket sama Abbas."


"Apa? Main basket? Pake kemeja? Kenapa nggak ganti dulu?" omel Mala kemudian, "abis main pasti kalian langsung baringan di lapangan gitu aja," tebaknya tepat sasaran.


Sekali lagi Agha meringis. Mulai mempersiapkan mental kena omelan lanjutan dari sang istri.


"Kamu tahu itu berapa harga kemeja yang kamu pakai?"


Dengan gelengan cepat dan wajah polosnya, Agha menjawab. "Enggak tahu, emang berapa?"


Merasa tidak mendapat jawaban, Agha kembali bertanya, "Emang yang beliin siapa? Kok tahu mahal? Terus kamu kayak--" mendadak Agha menyadari sesuatu.


Jangan bilang ini yang beli Mala? Batin Agha mulai panik. Ia semakin panik saat menyadari perubahan wajah sang istri.


Oho.... Sepertinya Agha melakukan kesalahan cukup fatal.


"Kamu beneran lagi menguji kesabaran aku ya, Gha?"


Agha langsung menggeleng cepat sambil mengibaskan kedua telapak tangannya tak kalah cepat.

__ADS_1


"Enggak gitu, La, aku--"


"Buruan mending kamu mandi deh, Gha, dari pada bikin aku makin emosi," potong Mala dengan kesabaran yang mulai menipis.


Tak ingin membuat sang istri makin tersulut emosi, Agha langsung bergegas menuju kamar mandi.


*


*


*


"Gha," panggil Mala dengan nada manja, membuat Agha merinding seketika.


Perasaan tadi saat sebelum ia masuk kamar mandi, Mala berada pada mode ingin memakannya hidup-hidup, lalu kenapa begitu ia keluar langsung mode jinak begini?


"Kenapa? Kamu ngidam? Pengen makan apa?"


Mala menggeleng sedih. "Aku kesel deh," curhatnya kemudian.


Agha langsung meletakkan handuk ke tempatnya lalu berjalan mendekat ke arah sang istri.


"Maafin, aku bikin kamu kesel banget ya?"


Sekali lagi Mala menggeleng, hal ini membuat Agha mengerutkan dahi heran. Batinnya mulai was-was.


"Aku kesel deh sama diri aku sendiri akhir-akhir ini, capek banget rasanya hamil yang sekarang," keluhnya sambil menangis, "aku kesel banget sama sikap egois aku, yang tiba-tiba ngeselin, rese, terus mood yang naik-turun. Capek banget rasanya, Gha. Aku rasanya kayak nggak kuat deh jadi begini"


"Ssst, kok ngomongnya gitu, La. Harus semangat dong, kan ada aku," ucap Agha sambil mengusap kedua pipi basah Mala menggunakan ibu jarinya.


"Tapi kamu ngeselin." Mala kembali cemberut.


"Soalnya kamu emang ngeselin, Gha. Sekarang juga ngeselin. Ah, aku tuh kalau liat kamu bawaannya pengen marah-marah, tapi kalau nggak ada kamu aku pengen liat kamu. Ngeselin banget kan?"


Sambil tertawa Agha mengangguk setuju. "Iya kok kamu ngeselin banget sih, La?" tangannya kemudian mengelus perut sang istri, "anak kita cewek bukan ya ntar? Cewek nggak sih?"


"Tapi kalau ternyata cowok gimana? Kamu nggak mau?"


Sekali lagi Agha tertawa, kali ini sambil menyingkirkan anak rambut Mala yang sedikit menjuntai menutupi wajahnya.


"Kalau nggak mau emang mau dikasih siapa? Ada-ada aja kamu ini. Ya mau lah, La, mau dia cewek atau cowok, aku mau semua. Dua-duanya juga mau kok."


"Jangan sembarangan! Bukan kembar nih, satu doang," decak Mala kesal.


"Iya, iya, aku tahu kok, biasa aja kali."


"Tapi kalau punya anak kembar seru kali ya," ucap Mala tiba-tiba.


"Mau coba program?"


Mala langsung melotot tajam. Ia berdecak sebal lalu menjambak rambut sang suami dengan wajah kesal.


"Kamu ini bener-bener lagi nguji kesabaran aku banget ya, Gha?"


"Sakit, La," protes Agha sambil mengusap rambutnya yang habis dijambak sang istri, "kan maksud aku begitu adik Kai lahir baru abis itu kita coba program anak kembar."


"Tapi kamu yang hamil, melahirkan, dan menyusui? Kalau semua kamu, aku sih nggak masalah."

__ADS_1


Agha langsung manggut-manggut paham. "Jadi dua anak cukup nih?"


Di luar dugaan Agha, Mala justru menggeleng.


Spontan pria itu bilang, "Lah? Terus mau berapa?"


"Tiga."


"Berarti satu lagi ya abis ini?" tanya Agha memastikan.


Mala mengangguk cepat.


"Kenapa ganjil sih, La? Empat aja sekalian biar genap kalau nggak mau dua."


"Empat kebanyakan kali, Gha," sahut Mala tidak setuju, "repot ntar, tiga cukup lah."


Mau tidak mau Agha mengangguk setuju. "Ya udah sih, kalau emang itu mau kamu, toh, yang hamil dan ngelahirin kamu. Aku nurut."


"Harus lah."


Agha menguap sekali. "Udah, yuk, tidur, ngantuk nih aku."


"Bentar deh!"


"Mau ngapain lagi?"


"Aku kok tetiba pengen martabak ya, Gha."


Agha menghembuskan napas lega. Setidaknya kalau martabak ia tadi sudah sempat beli. Jadi ia tidak perlu repot-repot keluar untuk membeli dulu.


"Oke, siap, aku ambilin dulu!"


"Ambilin di mana?"


"Di bawah, tadi aku udah beli soalnya."


"Apaan? Orang udah diabisin Alisa, Bunda, sama Mama juga. Lagian aku nggak pengen martabak manis."


Seketika wajah Agha berubah masam. Namun, detik berikutnya ia langsung tersenyum cerah. Lalu turun dari ranjang.


"Oke, aku beliin sekarang."


"Kalau aku ikut boleh nggak?"


Agha langsung menatap Mala datar. "Enggak usah aneh-aneh bisa?"


Sambil merengut, Mala mengangguk cepat. "Hati-hati bawa motornya, terus perginya jangan lama."


"Iya, kamu juga jangan tidur sebelum aku pulang."


"Kalau aku ngantuk?"


"Ya ditahan."


Mala kembali merengut. "Jahat banget," komentarnya kemudian.


Agha tertawa. "Haha, bercanda, La, kalau kamu ngantuk boleh tidur kok, ntar kalau aku udah pulang kamu-nya udah tidur, aku bangunin."

__ADS_1


Mala mengangguk paham, lalu Agha pergi untuk membeli martabak asin sesuai pesanan sang istri.


Tbc,


__ADS_2