
*
*
*
Saat gue sampai di rumah, Kai masih menangis kencang. Bahkan Mala terlihat kewalahan dengan sikap Kai yang terkesan seperti tidak mau digendong. Gue kemudian langsung mengambil alih Kai dari gendongan Mala. Tangis Kai mereda tak lama setelahnya. Gue kemudian menyadari suhu badan Kai yang terasa sedikit hangat.
"La, badan Kai angetan?" tanya gue sambil mengecek suhu tubuh Kai dan gue merasa memang sedikit demam, "iya deh, badan Kai anget, La."
"Masa sih?" tanya Mala seolah tidak percaya, ia kemudian mengulurkan telapak tangannya untuk memeriksa suhu tubuh Kai.
Tangan Mala tidak sengaja bersentuhan dengan gue, gue kemudian menyadari kalau suhu tubuh Mala terasa hangat juga.
"La, badan kamu kok anget juga?" gue kemudian menempelkan telapak tangan gue pada leher Mala, "lah, iya, ini mah kamu demam juga. Pantesan kamu nggak sadar kalau Kai demam."
Gue kemudian langsung bergegas mencari termometer dan langsung memberikannya pada Mala. "Coba kamu cek suhu tubuh kamu, La, aku ambil gendongan dulu."
Setelah menyerahkan termometer pada Mala, gue pergi sebentar untuk mengambil gendongan kain, agar menggendong Kai lebih nyaman. Setelah menemukan barang yang gue cari, gue kembali mendekat ke arah Mala.
"Berapa?"
"39,5."
"Astaga, ya ampun, La. Kamu udah makan belum? Makan dulu, ya, terus minum obat abis itu langsung istirahat."
Mala tidak melakukan apa yang gue perintah, yang ia lakukan malah mengecek suhu tubuh Kai.
"38,9. Mau dibawa ke rumah sakit sekarang atau gimana?"
Gue mengintip ke arah Kai yang berada di gendongan gue, yang terlihat mulai mengantuk. "Kita kasih paracetamol aja dulu gimana? Besok kalau belum turun baru kita bawa ke rumah sakit. Lagian jam segini dokter anak nggak ada yang praktek kan, La."
Mala mengangguk paham lalu keluar kamar. Tak berapa lama kembali ke kamar sambil membawa botol sirup paracetamol dan sendok.
"Kamu nggak sekalian minum obat dulu tadi, La?"
"Udah, Gha. Tenang aja kamu."
Gue menghela napas. "Kalau kalian berdua malah sakit begini, gimana sama plan liburan kita?"
"Kamu ini masih sempet-sempetnya mikirin liburan, orang anaknya lagi sakit juga," gerutu Mala sambil menuang obat sirup ke sendok.
Gue berusaha membangunkan Kai yang nyaris terlelap. "Dek, jangan tidur dulu, minum obat dulu, sayang." beruntung Kai tidak banyak drama, ia dengan mudahnya minum obat yang Mala suapkan.
Gue kemudian tersadar akan sesuatu. "La, kamu nggak bawain minum?"
"Lah, iya, Gha, aku lupa. Bentar, aku ambilin dulu."
Gue langsung mencegahnya sambil menggeleng lalu menunjuk ke arah Kai. "Udah mau tidur lagi bocahnya," bisik gue kemudian, "mending kamu ikut tidur biar besok enakan."
__ADS_1
Mala menatap gue tidak yakin. "Terus kamu?"
"Nanti kalau Kai tidurnya udah lelap, aku nyusul."
"Ya udah, kalau gitu aku tidur duluan, ya. Nanti Kai-nya jangan tidurin di box ya, biar gampang ceknya tidur bareng kita aja," saran Mala yang gue respon dengan anggukan kepala.
Mungkin karena efek obat, Mala terlelap lebih cepat daripada dugaan. Gue mulai gerah dan pengen mandi, gue sedikit mengintip ke arah Kai, dia mulai terlihat nyenyak tidurnya. Akhirnya gue berinisiatif untuk membaringkan Kai di ranjang dengan hati-hati. Namun, belum sepenuhnya gue membaringkan Kai, bocah berusia setahun ini langsung menangis. Hal ini membuat tidur Mala terusik.
"Hah? Kenapa, Gha?" tanya Mala dengan wajah panik. Kedua matanya masih terlihat memerah dan napasnya terdengar sedikit ngos-ngosan.
Gue meringis tidak enak. "Aku bangunin kamu, ya? Maaf," sesal gue kemudian, "aku gerah pengen mandi tapi Kai malah kebangun, padahal tadi udah keliatan nyenyak banget."
"Astaga, ya ampun, kalau gitu biar Kai sama aku, kamu mandi dulu, gih!"
Gue memandang Mala ragu kemudian mengulurkan telapak tangan untuk memeriksa suhu tubuhnya, gue langsung menggeleng saat merasakan suhu tubuhnya yang masih terasa panas. "Jangan deh, La, kamu masih demam ini. Mending tidur aja dulu, biar Kai sama aku. Ntar kalau udah bener-bener nyenyak baru aku baringin."
"Daripada kamu nggak nyaman, Gha, udah kamu mandi dulu biar Kai sama aku. Lagian mandi kan cuma bentar."
Gue memandang Mala ragu-ragu. "Yakin nggak papa?"
Mala mengangguk dan berusaha meyakinkan gue. Berhubung gue mulai merasa makin tidak nyaman, gue pun akhirnya menyerahkan Kai pada Mala.
Namun, belum ada dua menit Kai digendong Mala, tiba-tiba Kai kembali menangis. Gue dan Mala seketika langsung panik. Cepat-cepat gue kembali mengambil alih Kai dari gendongan Mala.
Ini tumbenan banget Kai ogah digendong Mala dan cuma mau sama gue? Apa gegara ini bocah tahu kalau emaknya lagi sakit makanya maunya sama bapaknya doang dan nggak mau makin nyusahin emaknya. Duh, kalau beneran begitu, gue salut sih sama anak gue.
"Eh, kok Kai nggak mau sama aku sih, Gha?" keluh Mala agak kesal, ekspresinya terlihat seperti orang tidak percaya, "Kai, sayang, ini Mama loh. Sama Mama, yuk, biar Papa mandi dulu," bujuknya kemudian.
Kai melirik Mala sebentar lalu kembali menangis.
"Eh, seriusan nggak mau sama Mama?"
"Udah, La, kayaknya Kai tahu kamu juga sakit makanya nggak mau sama kamu. Udah mending sekarang kamu tidur, istirahat. Mungkin dia kurang nyaman karena suhu tubuh kamu yang tinggi."
"Terus kamu gimana?"
Gue menghela napas panjang sambil membenarkan gendongan gue. "Aku yang jagain Kai, kamu tidur aja, udah, nggak papa."
"Tapi kan kamu belum mandi, Gha, pasti rasanya nggak nyaman banget."
"Enggak papa, La, aku masih bisa tahan kok." gue berusaha mengangguk dan meyakinkan Mala kalau gue baik-baik saja, "kamu tidur lagi aja sana! Kai aman sama aku," sambung gue kemudian.
Gue berjalan menjauh dari Mala. Jalan mondar-mandir di dalam kamar sambil sedikit mengayunkan tubuh Kai agar lebih cepat terlelap dalam tidurnya. Mala tidak menuruti gue, ia malah duduk bersandar di sofa dengan kedua mata yang dipaksa agar tetap terjaga.
Gue langsung menghampiri Mala dan mencolek pundaknya pelan. "Ssst, tidur di kasur jangan di sini, aku nggak bisa pindahin karena gendong Kai, La."
"Enggak tidur, kan aku nemenin kamu."
Seketika gue langsung mendengus. Enggak tidur apa, orang matanya tinggal dua watt.
__ADS_1
"Kamu ngantuk, La, tidur aja di kasur, nggak papa, kan kamu sakit juga. Ayo lah, kerja samanya. Aku nggak bisa jagain kamu karena harus jagain Kai. Kali ini mandiri dulu ya?" tangan gue kemudian terulur dan memegang dahinya yang terasa semakin panas, "kamu tadi beneran minum obat nggak sih?" tanya gue heran.
Mala ikut memegang dahinya sendiri. "Beneran lah, Gha, masa bohong. Kamu pikir aku anak kecil."
"Mau coba pake plaster demam?" tawar gue, "soalnya kalau dikompres ribet, La, kalau sambil gendong Kai. Kita masih punya nggak sih?"
"Masih, tapi di bawah. Aku males ambilnya, Gha."
Tanpa mengeluarkan suara, gue langsung memutuskan keluar kamar dan turun ke lantai bawah untuk mengambil plaster demam. Saat gue kembali ke kamar, Mala kembali terlelap, tapi tak lama kemudian ia langsung membuka mata.
"Aku ketiduran lagi?"
Gue terkekeh sambil membuka bungkus plaster demam. "Enggak papa. Mungkin karena efek obatnya, La, makanya kamu gampang ketiduran."
Mala mengangguk setuju. "Kayaknya iya, susah melek banget rasanya mata aku, Gha."
"Makanya tidur!"
"Kasian kamunya capek."
"Rambut kamu, La!" instruksi gue agar Mala menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi dahinya, "yang ada aku makin capek loh kalau kamu maksain diri terus tambah sakit. Enggak kasian?"
Mala langsung merengut kesal sambil membenarkan plaster demam yang tadi gue tempelkan. "Enak aja, kamu doain sakit aku tambah parah?"
"Aku nggak bilang gitu kan?"
"Tapi nyerempet kan?"
Spontan gue langsung terbahak. Hal ini membuat tidur Kai sedikit terusik. Gue kembali berjalan mondar-mandir agar tidur Kai kembali nyenyak.
"Langsung pindah, La, please, kerja samanya, ya, sayang?"
"Iya, bentar, lagi."
"Terserah kamu lah," ucap gue pasrah. Saat gue berbalik, Mala sudah terlelap dalam tidurnya dengan posisi yang terlihat tidak nyaman.
Gue langsung berdecak dan menendang kakinya pelan. "Ssst, pindah kamar!" omel gue kemudian, "kalau dikasih tahu suami yang nurut dong, La."
Kali ini tanpa protes, Mala langsung bangun. Sebelum berbaring di ranjang, ia mampir untuk mengecup pipi gue sekilas.
"Maaf, ya, sayang, aku tidur duluan. Makasih udah jaga anak kita," ucapnya terlihat seperti orang yang sedang setengah sadar.
Reflek gue tertawa. Lalu menatap Kai yang berada di gendongan gue yang sudah terlelap. Gue menghela napas. Kalau gue baringin, takut Kai bangun lagi, nanti kasian Mala juga, dia baru saja terlelap.
"Dek, sayangnya Papa-Mama, Papa capek dan ngantuk juga nih. Duduk nggak papa ya?" ucap gue dengan nada berbisik. Lalu dengan hati-hati, gue pun duduk di sofa.
Tidur Kai sempat terusik sebentar, tapi tak lama setelahnya dia kembali tidur dengan nyaman. Oke, nggak papa tidur gue malam ini duduk dan sambil memangku Kai, yang penting gue bisa istirahat sejenak. Soalnya gue besok ada jadwal operasi pagi. Bisa gawat kalau gue enggak tidur sama sekali malam ini.
Tbc,
__ADS_1