
*
*
*
Tanpa berpikir untuk mandi lebih dahulu, Agha langsung berlari turun menuju lantai bawah sambil memanggil nama sang istri.
"La! Nirmala!"
Yang dipanggil langsung berdecak. "Apaan sih masih pagi udah teriak-teriak. Berisik, Gha," omel Mala.
"Ayah sama Bunda kecelakaan, aku mau ke rumah sakit sekarang kamu mau ikut nggak?"
"Hah? Kecelakaan? Kok bisa? Terus gimana keadaan mereka? Nggak luka parah kan?"
Agha menggeleng sebagai tanda jawaban tidak tahu. "Enggak tahu, makanya ini aku mau langsung ke rumah sakit buat liat kondisi mereka. Kamu mau ikut nggak?"
"Kamu nggak mau mandi dulu sekalian? Udah jam segini loh, Gha?"
"Enggak. Nanti aja di rumah sakit. Gampang, sekarang aku mau mastiin kondisi Ayah sama Bunda dulu."
"Ya udah kalau gitu kamu langsung ke rumah sakit aja dulu, nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi aku ya. Aku nggak mungkin kalau ikut sekarang, Gha. Kai gimana kalau aku ikut? Dia belum sarapan, belum mandi juga. Nanti aku nyusul aja deh."
Agha kemudian menoleh ke arah sang putra lalu mengangguk paham. Benar juga ya, kan mereka sudah punya Kai, jadi tidak memungkinkan untuk mengajaknya. Apalagi ini masih terlalu pagi dan Kai belum mandi atau sarapan.
"Ya udah kalau gitu aku langsung berangkat ya, nanti kalau kamu nyusul ke rumah sakit bawain aku baju ganti ya. Aku mau langsung ke rumah sakit sekarang."
Setelah mengatakan itu, Agha langsung berlari keluar rumah begitu saja. Tanpa membiarkan Mala yang tadinya hendak protes dan menyuruh pria itu mandi dulu sebelum pergi. Tapi, mau gimana lagi, pria itu sudah terlanjur kabur.
Begitu sampai di rumah sakit, Agha langsung bergegas menuju nurse station yang ada di IGD. Untuk menanyakan keberadaan sekaligus kondisi kedua orang tuanya. Setelah diberitahu, ia langsung bergegas mencarinya.
Ia lumayan bernapas lega saat menemukan kedua orang tuanya terlihat baik-baik saja. Untuk sang Ayah hanya terdapat perban kecil di dahinya dan beberapa luka lecet yang sangat wajar terjadi pada orang yang mengalami kecelakaan. Dan untuk kondisi sang Ibunda, sejauh ini ia belum menemukan luka sama sekali, tapi itu justru membuatnya khawatir. Terlebih sang Bunda masih berbaring di bed rumah sakit, sedangkan Ayahnya hanya duduk di tepi bed.
"Ayah sama Bunda nggak papa kan? Enggak ada luka yang serius?"
Randu mengangguk dan mengiyakan. "Ayah nggak papa, cuma kalau Bunda-mu masih nunggu hasil pemeriksaan lanjutan. Soalnya tadi Bunda sempet pingsan padahal nggak ada yang luka sama sekali."
"Ayah nggak diperiksa semua sekalian?"
Ale mengangguk dan berusaha menenangkan sang adik. "Udah, Gha, untuk hasil pemeriksaan Ayah, semua aman."
__ADS_1
"Terus Bunda? Ada masalah?"
Semua mendadak diam saat mendengar pertanyaan Agha, hal ini mengundang kerutan heran di dahi pria itu.
"Kenapa sih?"
"Bunda nggak papa, Dek," ucap Ayu sambil tersenyum, "Kakak sama Ayahmu saja yang berlebihan."
Merasa ada yang janggal, Agha memutuskan untuk mengajak Ale menjauh.
"Sebenernya ada apa sih, Kak? Ada masalah dengan kesehatan Bunda? Apa ada luka serius?"
Ale menggeleng. "Enggak ada luka serius karena kecelakaan itu, Gha."
"Syukur lah, sumpah, Kak, gue panik banget tadi pas tahu kalau Ayah sama Bunda abis kecelakaan. Tapi sekarang gue lega karena nggak ada luka serius pada Bunda. Tapi kenapa kalian kayak masih khawatir dan panik gitu sih kalau tahu Bunda nggak papa?"
Ale menghela napas berat. "Gue nggak bilang kalau Bunda nggak kenapa-kenapa, Gha. Gue cuma bilang kalau nggak ada luka serius karena kecelakaan tersebut."
Agha mengerutkan dahi bingung. "Maksudnya?" tanyanya tidak paham.
"Karena ternyata Bunda sakit, Gha."
Agha masih terlihat tidak paham. "Sakit gimana?"
"Hah? Tumor, Kak? Ada tumor di tubuh Bunda? Kok bisa?"
Ale menghela napas panjang. "Lo kayak nggak tahu Bunda aja sih, Gha, selain kalau sakit nggak pernah bilang ke kita, Bunda tipe yang susah kalau disuruh general chek up."
"Gue mau liat," ucap Agha.
Ale kemudian langsung mengajak Agha menuju nurse station. Ia meminta salah satu dokter jaga IGD untuk menunjukkan hasil CT-scan sang Bunda.
Kaki Agha mendadak terasa lemas. Tangannya sedikit gemetar saat menyentuh mouse.
"Lo yakin ini punya Bunda, Kak?"
Dengan berat hati, Ale mengangguk dan mengiyakan. Kedua matanya nampak memerah karena menahan tangis. Tidak jauh beda dengan ekspresi wajah Agha yang sekarang.
"Ayah udah tahu?"
"Belum lah, Gha, lo yang bener aja. Ayah masih shock karena kecelakaan ini, beliau bahkan sempet nyalahin dirinya karena nekat nyetir malem-malem. Nggak mungkin lah gue kasih tahu. Gue masih punya akal sehat kali, Gha."
__ADS_1
Agha sudah tidak mampu berpikir jernih. Otaknya mendadak seperti kosong. Dalam hati ia masih berharap kalau ia sedang bermimpi. Atau minimal hasil CT-scan yang sedang dilihatnya bukan milik sang Bunda.
"Lo bisa kan, Gha, nanti bilang pelan-pelan sama Ayah?"
Agha menggeleng cepat. Ia tahu seberapa besar cinta sang Ayah untuk sang Bunda, dan ia tidak sanggup melihat wajah terpukul sang Ayah saat mengetahui kondisi istrinya.
"Gue nggak bisa, Kak, gue nggak tega. Lo aja lah nanti yang bilang ke Ayah."
"Kan yang lebih deket sama Ayah lo, Gha."
"Justru itu, Kak, karena gue lebih deket sama beliau, gue nggak tega. Ayah nanti bakalan terpukul banget. Gue nggak mau." Agha menggeleng tegas, "lo aja, seenggaknya meski lo perempuan, lo lebih kuat dan tegar. Nggak kayak gue yang nggak tegaan, Kak."
Ale berdecak kesal. "Bener-bener nggak bisa diandelin lo jadi laki, heran banget gue kenapa Mala mau lo nikahi."
Agha mengangguk dan mengiyakan. "Sama gue juga heran. Mungkin dia terpaksa."
Ale mendengus. "Ya udah, lo kalau gitu lo urus Bunda sementara gue ajak pulang Ayah dulu."
"Lo mau ajak Ayah pulang? Dengan kondisi Bunda yang begini? Menurut lo bokap bakalan mau?"
Sambil mendengus tidak percaya, Ale kemudian menjitak kepala sang adik. "Lo yang bener aja lah, Gha, kan Ayah belum tahu kondisi Bunda yang sebenernya. Gimana sih?" decaknya kemudian.
"Lah, iya, bener juga ya, Kak. Kok gue baru kepikiran."
"Soalnya otak lo kosong, heran banget gue gimana bisa lo lulus spesialis?"
Belum juga menjawab, Agha lebih dulu harus menjawab panggilan telfon.
"Bentar, Kak."
Ale berdecak sekali lagi sambil menggerutu kesal.
"Halo, selamat pagi, dok, masih kejebak macet atau udah di parkiran ya?"
"Saya udah di RS, tapi mau ganti baju dulu. Bentar lagi kita visit. Kalian siap-siap!"
"Baik, dok."
"Sorry, Kak, bukannya gue nggak mau jagain Bunda sekarang, tapi--"
"Halah, emang dasar nggak guna lo, Gha," potong Ale kesal lalu meninggalkan sang adik.
__ADS_1
Sementara dirinya garuk-garuk kepala bingung. Serba salah juga sebenernya, ingin menjaga ibunda sendiri tapi ia punya kewajiban menanti.
"Maafin Agha ya, Bun," sesal Agha sambil menahan sedih. Ia benar-benar merasa bersalah kala mengingat kondisi serius sang ibunda.