
*
*
*
"Agha!"
Spontan gue berbalik saat mendengar nama gue dipanggil, celingukan sebentar karena pengunjung rumah sakit hari ini cukup ramai, eh, tapi kalau dipikir-pikir kapan sih rumah sakit sepi? Ya pas malem doang sih. Kalau jam kerja begini udah jelas dan pasti ramai.
"Agha!"
"Astaga, mampus gue," desis gue reflek saat menemukan siapa orang yang memanggil gue barusan.
Beliau adalah Tante Rika, saudara jauh dari keluarga nyokap yang cerewetnya minta ampun, gue kurang yakin sih beliau itu siapanya nyokap gue, pokoknya yang jelas beliau itu dari keluarga tiri nyokap gue, jadi biar lebih gampang kita sebut saudara jauh, kan nggak ada ikatan darah sama sekali juga sama nyokap gue. Padahal beliau tuh nggak deket sama sekali sama nyokap gue, soalnya emang nyokap nggak terlalu kenal sama keluarga tirinya, bahkan bertemunya juga sangat amat jarang, tapi tiap ketemu, astaga Tuhan, semua dikomentarin. Males banget lah orangnya. Pengen kabur aja gue rasanya. Tapi nggak enak, meski sebenernya kalau dipikir-pikir stay dan menemui beliau lebih nggak enak lagi rasanya.
"Astaga, beneran kamu to, Gha. Tak pikir bukan, makin kurus aja to kamu setelah mbojo," komentar beliau.
Kan, langsung mulai aja. Mana pedes banget lagi, langsung body shaming.
Gue meringis canggung. "Iya, Tante, diet," jawab gue asal.
"Lah, lanangan ngapain diet segala? Aneh-aneh aja kamu ini, mbok yo ora usah aneh-aneh nak wes mbojo ki. Takut banget ditinggal istrimu atau bagaimana kok diet segala?" beliau berdecak sambil geleng-geleng kepala, "gimana istrimu? Udah isi belum? Atau apa malah udah berapa anakmu?"
(Trans : lah, pria ngapain diet segala? Aneh-aneh saja kamu ini, udah nggak usah aneh-aneh kalau udah nikah itu)
"Alhamdulillah, udah mau dua, Tante."
"Walah, kok cepet men, meteng disek yo bojomu?"
(Trans : Kok cepet amat, hamil duluan ya istrimu?)
Tante Rika kembali berdecak dan geleng-geleng kepala. "Anak muda jaman sekarang bener-bener ya, kalau disuruh nikah susah, maunya kejar karir, sekolah ndak uwes-uwes, seneng-seneng tok, eh, tahu-tahu meteng. Nah, kalau sudah begini baru mah nikah. Jian tenan kok. Kamu juga to? Disuruh nikah nggak mau, maunya sekolah terus, eh, tahu-tahu ijab qobul. Wah, bener berarti selama ini ternyata meteng disek to?" tuduhnya kemudian, "reti aku."
Sotoy! Jerit gue dalam hati. Serius, gue rasanya pengen banget teriak begitu. Tapi ya nggak mungkin juga sih.
Gue memilih tidak menjawab dan mengalihkan pembicaraan. Karena males nanggepinnya, bodo amat beliau mau mikir apa yang penting gue nggak begitu.
"Ngomong-ngomong Tante Rika ke sini ada perlu apa? Jenguk orang sakit atau mau chek kesehatan?"
"Walah, ora dijawab berarti bener iki," asumsinya sambil berdecak prihatin, "ya uwes, ora popo, seng uwes yo ben uwes, seng penting sak iki lan mbesuk ora ngono meneh. Nak dadi kepala keluarga ki seng bener."
Trans : nggak dijawab berarti benar ini. Ya sudah, nggak papa, yang udah biarin udah, yang penting sekarang dan seterusnya nggak begitu lagi. Kalau jadi kepala keluarga itu yang benar.
Gue hanya manggut-manggut seadanya karena males menjelaskan yang kondisi yang sebenarnya. Biarin saja lah. Males panjang soalnya gue.
"Jadi, Tante ke sini mau jenguk atau chek up kesehatan?'
"Habis jenguk orang sakit, itu ada salah satu jemaah pengajian komplek di daerah tempat tinggal Tante dirawat di sini. Padahal ki cuma masuk angin biasa sampai dirawat di rumah sakit gede begini, gaya bianget to mentang-mentang berduit, kalau Tante mah sayang, Gha, meski Tante berduit kalau sakit milih jalan alternatif dulu, soalnya kalau ke rumah sakit itu cuma buang-buang uang."
Astaga, ini Tante Rika kok bisa-bisanya ngomong begitu ke gue yang notabenenya kerja di rumah sakit? Dan gue dokter lagi, kalau gue-nya staf management mah masih mending.
"Beneran, Gha, nih, kemarin ada loh, Gha, tetangga Tante adiknya Pak RT masih muda, sakit apa gitu Tante lupa namanya, cuma pas berangkat masih keliatan sehat itu, Gha, dia pergi ke rumah sakit sendiri, berangkat sendiri, ngurus ini-itu sendiri, eh, keluar dari rumah sakit malah jadi keliatan kayak orang sakit beneran. Kan nggak bener, Gha. Tiap duduk harus dikasih bantalan gitu, kasian, padahal sebelumnya enggak begitu."
Gue berpikir sejenak, jangan-jangan sakit ambeien nih?
"Ambeien ya, Tan?"
__ADS_1
"Nah, iya, itu, ambeien. Cuma ambeien dibawa ke rumah sakit biar sembuh kok malah jadi begitu. Kan kasian, Gha."
Cuma katanya? Buset dah.
Gue kembali meringis canggung. "Ya, kalau pasien ambeien memang begitu, Tante, untuk proses pemulihannya."
"Ya tapi masa sampai begitu sih, Tante rasa itu kasus malpraktek deh, dokter magang yang operasi pasti," tuduhnya kemudian.
Astaga, Tuhan, ini gimana gue jelasinnya? Harus dimulai dari mana ini?
"Dokter magang mana boleh operasi pasien, Tante? Semua ada prosedurnya, nggak bisa sembarangan," balas gue kemudian.
Sebagai tim medis, gue nggak terima kalau rekan sejawat dibilang melakukan malpraktek asal, padahal kami sudah melakukan semua hal sesuai prosedur yang berlaku. Orang-orang awan yang tidak tahu apa-apa mana boleh komentar seenaknya begini.
"Tapi ya udah lah, bukan urusan kita."
Gue memutar kedua bola mata malas. Dalam hati gue menggerutu, sekarang jadi urusan saya dan Tante karena omongan Tante loh. Ngeselin.
"Kamu lagi nganggur, Gha?"
Gue menaikkan sebelah alis heran. "Emang kenapa, Tante?"
"Gini tadi kan Tante ke sininya sama rombongan, rame-rame, terus pas mau pulang kita Tante kebelet pipis, ya otomatis Tante nyari toilet, eh, keluar dari toilet Tante bingung gimana turunnya, kamu bisa nggak bantuin Tante? Kayaknya Tante nyasar deh. Ini rombongan Tante udah di parkiran, tapi Tante bingung."
"Oalah, Agha kira kenapa. Ya udah, mari Tante, saya anterin. Kebetulan saya juga mau nyari makan."
"Loh, jam segini kok udah mau makan?"
Gue meringis tipis. "Makan siang, Tante."
Gue tersenyum tipis. "Dedikasi, Tan."
"Mana ada, ini mah nyepelein kesehatan."
"Iya deh, terserah Tante mau bilang apa," komentar gue pasrah. Namun, tentu saja dengan suara pelan. Soalnya kalau suara normal bisa kena julid lagi gue ntar.
*
*
*
"Itu kayaknya rombongan Tante," ucap gue sambil menunjuk ke arah rombongan yang mengenakan gamis seragam dengan gamis yang Tante Rika kenakan.
"Iya, bener, itu rombongan Tante. Makasih loh, Gha, udah anterin Tante. Maaf loh jadi mengganggu kamu yang mau sarapan malah nggak jadi," ledeknya sambil tertawa, "ya cuma kamu ini, Gha, dokter kok makannya telat, jam segini baru mau makan siang. Gimana to?"
Gue hanya meringis sebagai respon.
"Ya udah, berhubung kamu udah terlanjur di sini, ayo, Tante kenalin sama temen-temen Tante."
Gue tersentak kaget karena tiba-tiba beliau menarik tangan gue. "Eh, nggak usah, Tante," tolak gue, tapi percuma, gue nggak bisa menolak karena udah ditarik beliau.
Sebenarnya bisa saja gue lepaskan tangan beliau, tapi ya tidak mungkin gue melakukan itu.
"Jeng, jeng, semua, ayo kenalin ini ponakan saya."
Gue tersenyum tipis lalu menyalami mereka semua yang jumlahnya lebih dari 10 orang kayaknya. Buset, ini orang sebanyak ini tapi muat satu mobil doang?
__ADS_1
Ah, nggak mungkin deh kayaknya.
"Ganteng banget, Jeng, udah punya pacar belum, ganteng!"
Gue agak tersentak kaget saat dagu gue tiba-tiba dicolek oleh salah satu ibu-ibu.
"Enggak punya pacar--"
"Wah, kebetulan banget, saya punya anak gadis tahun depan lulus SMA, mau saya jodohin sama anak saya?"
"Jangan mau sama anaknya Jeng Harti, mending sama anak saya, dia udah kerja. Jadi di kantor kecamatan, lebih cocok sama anak saya dong, Jeng, yang satu pegawai kecamatan yang satu pegawai rumah sakit. Ngomong-ngomong Mas Ganteng udah PNS belum?"
"Jeng Sarah ini lucu, masa perawat ditanyain udah PNS atau belum?"
"Loh, memang perawat emang ada yang bisa jadi PNS kali, Jeng, memangnya guru aja, bener kan saya Jeng Rika? Bener kan saya Mas Ganteng?"
Gue dan Tante Rika mengangguk untuk mengiyakan. "Ya memang bener, tapi ada yang kurang tepat, soalnya ini ponakan saya bukan perawat."
"Oalah, bukan perawat, terus apa kalau bukan perawat? Staf rumah sakit saja?"
"Loh, nggak liat penampilan ponakan saya?"
Para ibu-ibu itu kemudian melihat penampilan gue dari bawah hingga atas. Lalu mereka saling bertukar pandang dan tertawa.
"Biasa aja," komentar salah satunya, "kayak perawat kok."
Gue hanya terkekeh samar.
Tiba-tiba Tante Rika berdecak lalu menunjukkan ID Card gue yang menggantung pada atasan scrub suit gue.
"Nih, lihat! Fotonya pake jas putih, liat gelar depan dan belakangnya. Dokter bedah ini ponakan saya, enak saja dibilang perawat," ucap Tante Rika dengan nada tersinggung.
Padahal gue yang dibilang perawat biasa aja loh, tapi kenapa Tante Rika yang justru seolah tidak terima.
"Oalah, dokter toh, pantesan ganteng pol."
Apa urusannya muka ganteng sama profesi gue?
"Ya sudah, kamu kan pasti sibuk mau operasi lagi, mending balik lagi ke dalam sekarang, takutnya ntar dicariin anak buah kamu."
"Saya nggak punya anak buah, Tante," ringis gue sambil garuk-garuk kepala, "saya adanya tim, bukan anak buah, Tante."
"Tuh, liat, udah ganteng, humble, jabatan dokter. Baik banget pula, padahal dia ini sibuk loh mau operasi tapi malah repot-repotin anter saya."
Eh, tunggu sebentar, ini kok kayak ada yang nggak beres?
Saat hendak protes, Tante Rika malah mendorong tubuh gue, namun, dengan gerakan pelan.
"Udah, kamu masuk aja ke dalam! Tante kan udah bareng rombongan jadi aman."
"Tapi--"
"Enggak papa, ini langsung pulang kok kita."
Gue hendak protes, tapi mendadak nggak jadi karena kode mata yang Tante Rika berikan. Mau tidak mau, gue pun hanya mampu mengangguk pasrah dan kembali masuk ke dalam rumah sakit. Dalam hati gue berdecak, ngapain juga sih gue nurutin beliau?
Tbc,
__ADS_1