Married With My Besti

Married With My Besti
When Para Istri Ngambek


__ADS_3

"Jadi, bisa kalian jelaskan maksud dan tujuan kalian datang ke sini?" tanya Abbas dengan kedua mata menatap gue dan Ohim secara intens. Kedua tangannya menyilang di depan dada.


Baik gue dan Ohim masih dalam mode diam. Yang kami lakukan hanya saling menyenggol paha satu sama lain. Seperti tidak ada yang berani membuka suara. Sampai akhirnya Abbas kehilangan kesabaran dan menggebrak meja.


Mohon maaf ya, guys, kesabaran Abbas benar-benar lagi setipis iman gue kalau melihat Mala akhir-akhir ini.


Ngomongin Mala, gue sama dia belum baikan sejak kemarin. Masih terjadi perang dingin di antara kami. Eh, sebenernya gue enggak deh. Gue mah cinta damai. Cuma Mala aja yang masih belum mau gue ajak baikan. Dari semalam gue masih didiemin doang, padahal berangkat kerja juga bareng, tapi gue-nya dicuekin, gimana nggak makin kesal.


"Kalau kalian mau diem-dieman doang gini, mending pulang deh!" usir Abbas galak, "gue mau tidur."


"Ya elah, masa jam segini mau tidur. Masih sore nih, Bas," sahut gue.


Balasan yang gue dapat adalah pelototan tajam darinya. "Lah, suka-suka gue lah mau tidur jam berapa. Apa urusannya sama lo?"


Buset dah, sewotnya 11-12 sama Mala sejak kemarin.


"Lo masih dendam ya sama kita?"


"Masih lah, anjir. Kalian berdua tuh tai semua. Pas lagi akur aja yang diinget cuma bini, giliran ribut nyarinya gue. Kurang tai apa kalian?"


Seketika gue sama Ohim langsung saling menyalahkan. Dan lagi-lagi hal ini membuat Abbas semakin naik pitam. Kalau udah begini gue sama Ohim langsung diam.


Abbas menghela napas panjang lalu melirik gue secara bergantian. "Kalian berharap dapet saran apaan sih dari bujang tanpa pengalaman macem gue, hah?"


"Kita cuma butuh didengar," ucap Ohim.


Gue langsung mengangguk cepat tak lama setelahnya. Setuju banget gue sama Ohim.


"Ya udah, sok, cerita! Istri kalian kenapa emang?"


"Ngambek," koor gue sama Ohim dengan kompak.


"Eh, bini lo bisa ngambek juga? Gue pikir enggak, anjir, serius. Orang kayaknya kalem nggak neko-neko gitu kok," komentar gue setelahnya.


Jujur gue beneran agak kaget waktu tahu Rumi yang ngambek. Karena gue awalnya mikir Ohim lah yang kesal sama istrinya. Tahunya sama aja nasibnya kayak gue. Karena menurut gue, beberapa kali bertemu dengan istri Ohim menurut gue, Rumi tidak terlihat seperti perempuan yang akan gampang merajuk.


Eh, tapi Mala juga bukan tipe yang gampang merajuk deh, tapi sekalinya merajuk, buset, bikin pusing tujuh keliling.


"Jangan salah lo, dia kalau udah ngambek, beuh." Ohim berdecak sambil geleng-geleng kepala, "kalian tahu nggak apa ancaman dia kalau dia ngambek?"


Gue berpikir sebentar lalu teringat ancaman Mala yang meminta gue tidur di luar semalam. "Lo disuruh tidur di luar?"


"Masih mending itu, bro."

__ADS_1


"Lo nggak dapet jatah?" Abbas ikut-ikutan menebak.


Ohim menggeleng. "Bukan."


"Terus apaan?" tanya gue kepo.


"Minta dipulangin ke rumah Umi sama Abi."


"Anjir," ucap gue sama Abbas spontan.


Serem banget ini mah. Nyuruh di luar mah masih mending. Lah, ini sampe minta dipulangin? Kan horor. Jujur, gue beneran nggak nyangka kalau dia tipe yang begitu.


"Gegara apa itu?"


"Apa aja, pokok kalau ngambek minta dipulangin, njir. Gimana gue nggak stress? Parahnya kemarin sih, padahal niat gue baik."


Tapi kalau dipikir-pikir lagi, Arumi ini kan masih muda banget, anak bungsu jadi wajar sih.


"Baik menurut lo belum tahu baik menurut orang lain," sahut Abbas cepat.


Gue terkekeh samar sambil mengangguk dan mengiyakan.


"Njir, lo jangan asal potong dong! Dengerin dulu cerita gue," balas Ohim tidak terima, "gue cuma kasih perhatian ke istri gue yang akhir-akhir ini lagi banyak kegiatan di kampus. Emang salah?"


"Emang lo ngapain sampai bikin Rumi ngambek?" tanya gue kepo.


Pasalnya Ohim emang kadang kalau kasih perhatian suka overdosis, jadi gue agak curiga dikit sama dia.


"Anter-jemput dia."


"Doang?"


Abbas terlihat tidak percaya. Gue pun sebenernya iya. Masa iya cuma anter-jemput sampe bikin ngambek sih? Kan nggak masuk akal.


"Sama traktir temen-temennya makanan. Kan gue baik, gue duit ada, masa cuma beliin buat istri gue doang? Ya, nggak mungkin kan?"


Gue sama Abbas kembali bertukar pandang. Sebenernya, benar kata Ohim sih, enggak salah. Berbagi itu indah. Cuma, gimana ya, gue masih curiga sama ini Arab KW. Pasti ada sesuatu hal yang lain.


"Yakin cuma itu?"


"Gue tungguin--"


"Dasar Arab KW bego!" umpat Abbas sambil melempar tinju ke udara. Ia kemudian tertawa sumbang sambil membelakangi Ohim, "Gha, kasih tahu temen lo itu."

__ADS_1


Sedangkan respon gue hanya tertawa. Ohim terlihat tidak terima.


"Dengerin dulu, nyet, alasan gue jangan main lo potong-potong. Gue males kalau kudu bolak-balik ke kampus dia, jadi ya udah gue milih nungguin dia. Lagian kalau gue nungguin lebih efektif tahu kali, lebih hemat bensin juga."


"Emang dasar China ya, China aja lo, Him. Muka lo juga udah terlalu China, pokoknya jangan pernah sekali-kali ngaku Arab lo, gue takut lo digebukin masa."


Ohim langsung menyerang Abbas karena tidak terima. "Darah gue lebih banyak darah Arabnya, ya," balasnya tidak terima.


"Tapi muka lo lebih China," balas Abbas lagi dan jelas saja tidak mau kalah.


Gue sendiri bingung mau komentar apa, karena apa yang dikatakan keduanya benar semua. Keluarga ibunya yang memiliki darah China pun, juga memiliki darah Arab, lalu keluarga Ayahnya juga mayoritas berasal dari keluarga Arab. Tapi anehnya muka Ohim sangat China sekali ketimbang kearab-araban. Aneh banget kan?


Saat sibuk dengan lamunan gue sendiri tiba-tiba Abbas menyenggol kaki gue. Gue langsung menoleh ke arahnya dengan ekspresi bingung.


"Kalau lo abis bikin kebodohan apa?"


Mendengar kata kebodohan, Ohim langsung tidak terima. "Heh, gue kasih perhatian ke istri gue, anjir, kenapa lo sebut itu kebodohan?"


"Ya, masalahnya perhatian lo berlebihan Pak Ceo Arab KW, yang sampe bikin bini lo sendiri nggak nyaman sama perhatian lo." Abbas berdecak tak lama setelahnya, "lo itu paham nggak sih konsep 'kalau segala sesuatu yang berlebih itu tidak baik'. Paham nggak sih lo?"


Kali ini Ohim hanya mampu diam saja.


"Nah kan, nggak bisa jawab lo." Abbas kemudian beralih ke gue, "buruan sekarang giliran lo!"


Gue langsung garuk-garuk kepala bingung. Gimana, ya, ceritanya?


"Dia ngambek karena cemburu."


Abbas langsung terbahak. "Gokil, bisa cemburu juga si Mala? Gue pikir enggak loh." Ia langsung menepuk pundak gue bangga, "gue bangga sama lo, bro. Congrat's ya!"


Lain halnya dengan Ohim. "Mala cemburu sama siapa, Gha?"


Nah, ini dia pertanyaan bagus.


"Mantan gue."


Abbas dan Ohim langsung bertukar pandang. "Siapa?"


"Mantan SMP gue yang sekarang jadi tetangga gue."


"Anjir/mampus," koor mereka bersamaan tapi beda kalimat.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2