Married With My Besti

Married With My Besti
Siapa Dirga?


__ADS_3

Meski Bagas sudah pamit pergi dan tidak mengganggu kami lagi, tapi mood gue terlanjur jelek. Gue jadi males mau ngapa-ngapain. Yang gue lakukan hanya pasrah ditarik-tarik Mala menuju sana-sini. Dan yang membuat gue bertambah kesal, Mala masih bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal muka gue udah masam sejak tadi.


"Kamu masih bad mood ya, gara-gara Bagas?"


Gue memutar kedua bola mata gue kesal. Masih pake nanya lagi. Ya iya lah gue kesal. Harusnya, liburan kami kali ini, itu menjadi liburan paling menyenangkan, karena kita bisa menikmati quality time berdua tanpa diganggu si bocil. Eh, endingnya malah begini. Tentu saja gue kesal.


"Udah sih, Gha, Bagas itu emang begitu orangnya dari dulu. Suka iseng. Jangan terlalu dipikirin deh. Percaya sama aku!" ucap Mala membujuk dan berusaha menenangkan.


Sebenarnya, usapan lembut yang Mala berikan pada lengan gue cukup membuat gue merasa lebih baik, meski rasa kesal itu tetap masih ada walau sedikit.


"Kata kamu berhubung kita udah terlanjur sampe sini jadi nikmati aja. Tapi kenapa kamu malah manyun mulu dari tadi, kalau begini mending pulang aja deh kita. Ngapain di sini?" Mala kini mulai melayangkan aksi protesnya.


Hal ini tentu saja membuat gue langsung melotot kesal ke arahnya. "La, yang lagi kesel itu aku, ya, kenapa kamu malah ikut-ikutan? Kan harusnya kamu itu bujuk aku biar dulu biar nggak ngambek, bukannya malah kamu yang ikutan ngambek," protes gue kemudian.


Mala mendengus. "Ya salah sendiri ngeselin. Aku udah bersabar ya sejak tadi, tapi kamu ngelunjak. Sekarang terserah kamu lah, kesel aku lama-lama. Sejak nikah sama kamu tuh rasanya aku kayak ngurusin bocah yang dikit-dikit ngambekan, Gha. Ditambah sekarang udah ada Kai, rasanya udah kayak ngurusin dua bocah jadinya," curcolnya kemudian.


Gue langsung melotot tidak terima. "Sembarangan banget aku-nya dibilang bocah, gini-gini aku ini partner kamu bikin bocah kali, La, kalau kamu lupa," balas gue kemudian. Dengusan tak percaya terdengar tidak lama kemudian.


Mala terkekeh. "Iya, iya, udah lah, makanya nggak usah ngambekan. Aku tuh capek tahu kalau harus bujuk-bujuk kamu terus, mana giliran aku yang ngambek kamu-nya pasti malah kabur dan bukannya bujuk balik. Ngeselin banget sih kamu jadi manusia, Gha?"


"Aku nggak kabur, La," balas gue tidak terima, "tapi aku kasih kamu waktu buat sendiri dulu. Lagian kamu kalau ngambek langsung dibujuk tuh, pasti yang ada makin ngegas, ya udah aku milih menyingkir dulu," sambung gue kemudian.


"Halah, kebanyakan alesan kamu tuh, Gha."


Gue langsung menatap Mala datar. "Ini serius kita mau lanjut berantemnya?"

__ADS_1


"Kamu yang ngajakin, aku udah bujuk-bujuk kamu dari tadi ya, tapi kamu-nya yang masih ngeselin."


"Ya, abis aku tuh masih kesel sama si Bagas-bagas itu, La." Bayangan muka Bagas yang ngeselin masih terlalu tergambar jelas di ingatan gue.


Mala berdecak kesal. "Kan aku udah bilang, Gha, Bagas itu emang orangnya begitu. Iseng. Bisa nggak sih nggak usah diperbesar masalah ini?"


Gue menatap Mala datar. Selain sama Bagas, kekesalan gue makin bertambah karena pria itu bawa-bawa nama yang membuat gue makin kesal lagi kalau inget.


Dirga?


Siapa sih sebenernya Dirga. Kenapa Mala juga nggak mencoba untuk menjelaskan siapa pria itu?


"Ya udah, kalau masih kesel berarti nggak ada jatah malam ini," ancam Mala terdengar tidak main-main.


Aduh, ancamannya serem banget. Gue langsung menggeleng cepat sebagai tanda tidak setuju. "Enak aja, mana bisa begitu?" sahut gue tidak terima.


Gue langsung tersenyum sambil memamerkan gigi. "Tuh, udah nggak manyun. Jatah malam ini nggak boleh, nggak dapet. Tapi kamu jelasin dulu siapa itu Dirga."


Raut wajah Mala sedikit berubah. Namun, Mala terlihat berusaha untuk tetap setenang mungkin. "Astaga, kamu kemakan omongan Bagas?"


Gue mengangkat kedua bahu tidak peduli. "Udah sih, yang penting jelasin dulu siapa Dirga," ucap gue ngotot.


Mala menghela napas panjang lebih dahulu sebelum akhirnya mulai menjelaskan. "Dirga itu kembaran Bagas."


"Ada terusannya kan pasti?" tebak gue sambil menatap Mala curiga.

__ADS_1


Enggak mungkin kalau cuma begitu. Apalagi kalau ingat kalimat Bagas tadi 'ini cuma gue loh, Sheen, bukan Dirga'. Tuh, dari kalimat ini aja udah cukup mencurigakan.


Apalagi ditambah dengan gelagat Mala yang membuat gue jadi tambah mencurigainya. Gue yakin pasti ada sesuatu di antara mereka.


"Terusan yang gimana?"


Gue berdecak kesal, karena Mala terkesan seolah tidak paham. Padahal gue yakin dia paham arah pembicaraan gue. "Ya, hubungan kalian. Antara kamu sama Dirga dan Bagas itu. Pasti ada sesuatu kan di antara kalian bertiga?" tebak gue kemudian.


Mala menghela napas berat sambil menatap gue ragi. "Bisa nggak kita bahas ini kapan-kapan aja? Kita nikmati aja dulu waktu berdua kita, Gha, mumpung lagi nggak ada yang gangguin. Aku nggak mau merusak suasana."


Seketika gue langsung diam. Mala nggak mau merusak suasana makanya memilih untuk tidak bercerita secara langsung, sedangkan menurut gue kalimat Mala justru yang merusak segalanya. Gue yang tadi cuma agak kesal, kini mendadak berubah menjadi sangat kesal karena kalimatnya itu. Memang apa susahnya sih bercerita?


"Gha," panggil Mala hati-hati. Sebelah tangannya menyentuh punggung tangan gue, "kamu marah?"


Gue menggeleng cepat. Mood gue seketika langsung terjun bebas. "Aku kayaknya mendadak nggak enak badan deh, La. Aku ke kamar duluan, ya," pamit gue langsung berdiri, "aku nggak papa. Kamu di sini aja dulu kalau semisal kamu emang masih pengen di sini," sambung gue saat melihat Mala hendak berdiri.


Dia terlihat terpaksa kembali duduk saat gue menyuruhnya untuk tetap di sini.


Gue jadi tidak tega melihatnya. "Tapi kalau kamu emang pengen ikut, ya udah, ayo!" ajak gue kemudian.


"Aku ikut ya?" pintanya yang membuat gue langsung mengangguk cepat.


"Kasih aku waktu, ya, aku janji kalau udah siap aku pasti kasih tahu kamu," imbuhnya yang gue balas dengan senyuman tipis. Karena jujur gue juga nggak tahu harus merespon bagaimana.


Gue bingung. Di satu sisi gue merasa tidak adil karena Mala yang enggan bercerita, tapi di sisi lain, gue juga merasa egois kalau memaksa dia untuk bercerita padahal Mala terlihat belum siap untuk bercerita. Gue nggak tahu, gue bingung harus bagaimana menghadapinya. Yang bisa gue lakukan hanya tersenyum tipis sambil mengangguk ragu dan mengajak Mala untuk segera kembali ke kamar. Semoga Dirga-dirga ini tidak menimbulkan boomerang dalam hubungan gue sama Mala.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2