
*
*
*
Karena bingung hendak membujuk Alisa apa, pulang dari kantor Abbas memutuskan untuk memasak. Tadi siang setelah ia berkonsultasi dengan Agha, Abbas memutuskan untuk memasak dan membereskan apartemen mereka. Menurutnya, ini adalah tindakan sederhana yang katanya disukai beberapa wanita. Soalnya kalau mengingat sifat sang istri, Alisa bukan tipe yang hobi belanja seperti Ale, bukan tipe yang suka makan seperti Mala, atau yang dikit-dikit perlu diperhatiin kayak Arumi. Maka dari itu Abbas memilih beberes dan memasak. Semoga usahanya tidak sia-sia.
"Assalamualaikum!"
Senyum Abbas seketika langsung berubah cerah saat menyadari suara sang istri. Cepat-cepat ia melepas celemeknya dan menyambut Alisa. Niat awalnya ingin memberi surprise sang istri, ternyata dia yang dikasih surprise.
"Astagfirullah, Alisa!" seru Abbas heboh, "kamu kenapa?" tanyanya panik.
Suami mana yang tidak panik saat melihat istrinya pulang-pulang dengan kondisi kaki pincang, heels-nya ditenteng asal dan bibirnya sedari tadi menahan ngilu.
"Keseleo," ringis Alisa sambil menahan sakit.
Abbas kemudian membantu sang istri berjalan, lalu menuntunnya menuju sofa. Kaki Alisa terlihat bengkak lumayan besar.
"Kok bisa sih sampai begini? Terus kenapa nggak nelfon aku? Kan tahu begini tadi aku jemput kamu. Nyetirnya gimana tadi?"
"Ya dikuat-kuatin. Abis aku gengsi mau nelfon kamu."
Abbas berdecak gemas, ingin rasanya ia menyentil dahi sang istri saking gemasnya.
"Gimana ceritanya kok bisa sampe keseleo terus bengkak begini?"
"Kayaknya aku kualat deh karena berangkat kerja nggak tunggi izin kamu, makanya jadi apes begini."
"Ya, siapa suruh langsung berangkat gitu aja? Udah tahu punya suami, tapi main langsung pergi gitu aja. Sekarang kapok nggak?"
Bak seorang anak yang sedang dimarahi orangtuanya, Alisa langsung mengangguk cepat.
Abbas meringis ngilu saat melihat kaki bengkak sang istri. "Ini tadi kapan kamu keseleonya kok sampe begini?"
"Tadi pagi."
Abbas melotot tidak percaya. "Apa?!"
"Iya, tadi pagi pas nyampe kampus. Sebenernya tadi pagi juga belum bengkak begini, cuma kayaknya karena aku paksain buat jalan terus masih pake heels jadinya begini." Alisa meringis takut-takut karena sang suami merubah ekspresi melototnya semakin tajam, "ya, kan aku nggak tahu juga kalau bakalan jadi begini. Awalnya emang nggak sakit banget kok makanya aku masih tetep pake heels, baru berasa pas mau pulang tadi."
Abbas menghela napas pasrah karena tidak tahu harus beraksi apa. Dirinya sudah terlalu speechless menghadapi sang istri kalau mode begini.
"Aku nggak mungkin ninggalin mahasiswa aku cuma karena keseleo dikit lah, Bas."
__ADS_1
"Dikit kamu bilang? Ini sampe bengkak begini tapi kamu masih bisa bilang keseleo dikit?" tanya Abbas dengan ekspresi tidak percayanya. Ia menghela napas tidak percaya, kini bahkan ia tidak bisa berkomentar apapun.
Alisa menundukkan kepalanya takut-takut. "Aku lagi sakit, Bas, jangan diomelin gitu lah. Kamu bikin aku takut," akunya jujur.
Abbas kalau sedang mode mengomel begini di mata Alisa sangat lah menyeramkan.
Tak ingin membuat sang istri merasa tidak nyaman, ia langsung merubah ekspresinya.
"Ya udah, udah terlanjur juga kan. Sekarang ayo, mandi dulu, terus kita makan malem!" ajak Abbas.
Alisa meringis dengan ekspresi bersalahnya. "Tapi aku belum beli lauknya."
"Aku udah masak. Aku bahkan udah beberes rumah juga. Udah, nggak usah mikirin yang lain, sekarang ayo, buruan!"
Abbas langsung mengangkat tubuh sang istri. Reflek Alisa pun mengalungkan lengannya pada leher Abbas.
"Harus banget begini?"
"Biar nggak banyak gerak dulu. Abis ini mau dicariin tukang urut?" tawar Abbas.
Sang istri langsung menggeleng sebagai tanda jawaban. "Enggak mau--"
Abbas menghentikan langkah kakinya dan melotot tajam.
"Aku belum selesai ngomongnya, Bas, aku nggak mau dibawa ke tukang urut, besok kita ke rumah sakit aja. Aku takut kalau diurut soalnya."
Tanpa ragu, Alisa mengangguk cepat. "Masih kok. Nggak papa, kan aku strong, masa nunggu besok aja nggak bisa. Soalnya aku beneran takut kalau harus ke tukang urut."
"Ya udah, iya, kita ke dokter, nggak ke tukang urut. Apa mau ke dokternya malam ini aja?" tawar Abbas lagi.
Alisa langsung memukul pundak sang suami. "Besok aja, lagian dokter spesialis mana yang malem masih dinas?"
"Agha sama Mala biasanya kalau operasi sampai malam."
"Ya, itu kan karena operasi, gimana sih?"
Abbas terkekeh sambil manggut-manggut paham. "Bercanda. Ini gimana? Mau mandi sendiri atau dimandiin?"
"Enggak usah aneh-aneh, Bas, kaki aku sakit."
Sambil tertawa Abbas mengangguk paham. "Ya udah, sana mandi sendiri. Ntar kalau udah panggil aku aja ya."
Alisa hanya mengangguk seadanya sebagai tanda jawaban.
*
__ADS_1
*
*
"Kok aku diturunin di sini?" tanya Alisa heran. Padahal mereka mau makan malam, tapi bukannya dibawa ke dapur, ia malah diturunkan di ruang tengah depan televisi.
"Tuh," ujar Abbas sambil menunjuk ke arah meja.
Alisa kemudian mengangguk paham. Meski sejujurnya ia sedikit heran juga, karena hanya ada satu piring di sana.
"Kok cuma satu?" tanyanya heran. Ia berniat meraih piring itu tapi ditahan Abbas dengan cepat, "terus buat aku mana, Bas? Kok kamu curang udah tahu kaki aku lagi begini tapi malah nggak kamu am--"
"Aaa!"
Alisa menaikkan sebelah alisnya heran. "Maksudnya apa nih?"
Abbas berdecak kesal. "Udah, nggak usah banyak nanya, Sa, buruan buka mulutnya! Aku suapin."
"Kan yang sakit cuma kaki aku, Bas, tangan aku baik-baik aja, masih bisa nyendok--"
"Ssst! Udah, nggak usah banyak protes! Nurut sama suami!" potong Abbas cepat.
Alisa merengut. Namun, secara terpaksa akhirnya menurut karena takut kualat lagi. Lirikan sinis ia tunjukkan pada Abbas. Terlihat cukup imut karena kedua pipi Alisa terlihat menggembung imut. Setidaknya itu lah yang ada di mata Abbas. Maklum bucin.
"Kamu nggak makan?" tanya Alisa dengan mulut penuhnya. Soalnya Abbas tidak memberi jeda, terus menjejalinya dengan nasi.
Abbas mengangguk. "Udah tadi pas kamu mandi."
"Kok aku ditinggal."
"Ya, biar bisa fokus nyuapin kamu lah."
Alisa berdecak sambil geleng-geleng kepala tidak habis pikir. "Emang kenapa kalau aku makan sendiri sih?" ia mendengus tak lama setelahnya, "orang yang sakit kaki aku, bukan tangan, kok bisa-bisanya pake disuapin segala. Kamu itu bener-bener deh."
"Biar kamu tahu aku ini suami yang perhatian, Sa."
"Tanpa kamu suapin aku, aku tahu, Bas, kalau kamu ini orangnya perhatian. Aku kenal kamu udah berapa tahun sih? Terus ini, masakin aku, bantu beberes ini-itu, bagi aku itu udah jadi bukti kalau kamu emang orangnya perhatian. Perhatian tiap orang itu bentuknya beda-beda, Bas, dan aku tahu bentuk perhatian kamu kayak apa. Jadi, kamu nggak perlu khawatir."
Mendadak Abbas merasa terharu. "Emang nggak salah ya, aku nungguin jandanya kamu."
Alisa mendengus. "Salahnya kamu karena ngebiarin aku nikah sama orang lain dulu, Bas."
Kali ini Abbas merengut. "Enggak usah diingetin kalau ini, aku suka sebel kalau inget soalnya."
Alisa hanya mampu tertawa puas tak lama setelahnya.
__ADS_1
Tbc,