
*
*
*
Ternyata Ohim menyusul gue tak lama setelahnya gue keluar. Ia langsung menghalangi gue saat hendak membuka pintu.
'Apaan sih, Him? Gue mau pulang nih," decak gue sebal.
"Lo nggak bisa lah pergi gitu aja, jangan kayak bocah deh, Gha!"
"Apa lo bilang? Gue kayak bocah? Kalau gue lo bilang kayak bocah terus Abbas apa? Dia duluan yang mulai dan bikin gue kesel, Him. Lo kalau semisal ada di posisi gue dan istri lo digituin, menurut lo, lo bakal terima gitu aja?"
Tanpa perlu berpikir panjang, Ohim langsung menggeleng cepat. "Iya, gue ngerti perasaan lo, cuma nggak lantas bikin lo langsung ngambek begini lah, Gha. Abbas nggak maksud begitu."
"Tapi gue terlanjur kesel."
"Gue minta maaf, Gha."
Tak lama setelahnya gue langsung mendengar suara Abbas, ternyata dia juga menyusul gue.
"Sumpah demi Tuhan gue nggak maksud begitu."
"Udah lah, lupain!" balas gue acuh tak acuh.
"Ya mana bisa gue lupain kalau lo-nya begini."
Gue menghela napas lalu mengangguk. "Iya, iya, gue maafin, gue minta maaf juga kalau reaksi gue tadi berlebihan."
"It's okay. Masuk lagi, yuk!" ajak Abbas yang langsung gue tolak dengan cepat.
"Enggak lah, mau cabut aja gue. Udah nggak mood."
__ADS_1
"Lo masih marah?"
Sambil terkekeh gue menggeleng. "Enggak, udah nggak marah kok, kan nggak baik menyimpan dendam. Pengen pulang gue, pengen memastikan sesuatu."
"Kalau Mala hamil beneran atau enggak?" tebak Ohim yang langsung gue anggukin.
Gue menghela napas, meski tidak yakin Mala bakalan mengakui tapi setidaknya gue pengen memastikan hal itu. Ohim dan Abbas mengangguk paham tak lama setelahnya.
"Doa yang terbaik ya buat kalian, apapun kondisinya semoga itu yang terbaik."
"Aamiin," sahut Abbas mengamini kalimat Ohim.
Gue mengangguk dan mengucapkan terima kasih, setelahnya baru lah gue benar-benar pamit pulang.
Sesampainya di rumah, rumah nampak sepi, gue panggil-panggil Mala dan juga Kai tapi enggak ada yang menyahut. Padahal biasanya kalau semisal Mala lagi di kamar mandi atau di mana gitu dan dia nggak denger, maka Kai yang bakal menyahut dan nyamperin gue. Karena tidak menemukan keduanya di lantai bawah, gue kemudian memutuskan naik ke lantai atas.
Saat sampai di kamar, ternyata Kai sudah tidur pulas di dalam box bayinya. Pantesan saja gue panggil-panggil enggak menyahut, udah pules ternyata.
Gue tersenyum lalu mengecup dahinya. Elusan lembut gue berikan setelahnya. Anak gue udah segede ini ya ternyata, perasaan kemarin pas gue gendong bisanya nangis masih doang, sekarang udah segede ini aja. Enggak nyangka waktu cepet banget berlalunya.
"La, kamu kenapa?" tanya gue panik saat menemukan dia sedang berusaha memuntahkan sesuatu dari dalam perutnya.
"Kamu udah pulang?" tanyanya sambil membersihkan bibirnya, "kapan? Kok aku nggak denger?"
"Baru saja, kamu lagi nggak enak badan?" tanya gue khawatir.
Mala menggeleng. "Enggak, kayaknya kebanyakan makan deh jadi perut aku protes."
Gue menyipitkan kedua mata curiga, tidak puas dengan jawaban dia. Tapi setelahnya pun gue tidak bertanya lebih lanjut.
"Beneran nggak papa, Gha, khawatir banget. Kai udah tidur ya?"
Gue mengangguk dan mengiyakan. "Emang tadi belum tidur?"
__ADS_1
Mala kemudian keluar dari kamar mandi. "Belum. Tadi masih asik main sih pas aku tinggal."
Gue kemudian menyentuh dahi dan turun ke leher Mala untuk memastikan apakah perempuan itu demam atau tidak.
"Aku nggak sakit, Gha, enggak demam."
"Terus kenapa? Beneran hamil lagi kamu?"
Ekspresi wajah Mala berubah ketus. "Enggak."
"Enggak mau nyoba tes, La."
Di luar dugaan, Mala malah terlihat begitu kesal. "Aku bilang aku nggak hamil, ya enggak hamil, Gha. Kamu nggak percayaan banget sih? Segitu ngarepnya kamu mau aku hamil lagi? Inget, Gha, Kai masih setahun."
Gue menghela napas panjang. "Aku nggak lupa kalau Kai masih setahun, La, iya, aku inget, nggak usah kamu ingetin terus begitu. Ini bukan perkara aku udah ngarep punya anak lagi atau bukan, tapi aku cuma nanya. Kalau enggak beneran hamil ya udah," balas gue tak kalah kesal.
"Ya abis pertanyaan kamu itu loh, Gha, ngeselin banget. Bilang aku hamil terus, kamu tahu nggak sih kalau ucapan itu adalah doa, nanti kalau beneran aku hamil lagi di saat Kai masih umur segini gimana?"
"Ya enggak gimana-gimana lah, La, kalau Tuhan aja udah kasih kepercayaan itu artinya memang Tuhan udah percaya kalau kamu bisa, kita bisa, La. Kamu nggak perlu sekhawatir ini."
"Enak banget kamu bilang enggak usah khawatir," balas Mala tidak terima, "yang hamil dan melahirkan aku, Gha, bukan kamu."
Gue menghela napas panjang sekali lagi. "Jadi, beneran hamil lagi kamu?"
Mala melotot tajam. "Aku bilang enggak, ya, enggak, Gha." ia berdecak kesal, "tahu lah, aku mau tidur. Serah kamu mau ngapain. Awas aja kalau sampai mikir aku hamil lagi," ancamnya lalu naik ke atas ranjang.
"Aku nggak akan mikir begitu kalau kamunya enggak begitu, La."
"Emang aku kenapa?"
"Enggak kayak biasa, La. Sikap dan kelakuan kamu itu kayak bukan Nirmala banget, kayak orang lain. Pokoknya bikin orang mikir kalau kamu itu lagi hamil."
"AKU BILANG AKU NGGAK HAMIL, AGHA!" seru Mala emosi.
__ADS_1
Buset, kok ngegas? Untung saja hal itu tidak sampai membangunkan Kai.
Tbc,