
Brak!
Gue spontan langsung menoleh ke arah belakang, saat hendak membuka pintu mobil, lalu tiba-tiba ada orang yang langsung menutup pintu itu. Detik berikutnya gue langsung melotot kesal ke arah pelaku, yang ternyata orang itu adalah Ohim.
"Ikut mobil gue!" ucapnya semena-mena.
"Mau ke mana, anjir, gue harus jemput anak gue."
Mendengar jawaban gue, Ohim langsung menghentikan langkah kakinya dan berbalik. "Kemana?" tanyanya kemudian.
"Apanya?" Gue balik bertanya karena tidak paham dengan arah pembicaraannya.
"Anak lo. Emang dia di mana? Lo mau jemput dia kemana?"
"Rumah nyokap."
"Berarti lo ikut gue," ucapnya final sambil menarik tangan gue.
"Kenapa gue harus?"
Ohim berdecak sambil melotot tajam ke arah gue. "Bisa nggak sih lo nurut aja dan nggak usah banyak bacot," balasnya emosi.
Gue mengerutkan dahi bingung. Bukannya harusnya gue yang emosi, ya, kenapa ini justru sebaliknya?
"Lagi berantem sama Rumi apa gimana sih lo?" tanya gue sebelum masuk ke dalam mobil.
Ohim tidak langsung membalas dan malah masuk ke dalam mobil begitu saja. Sambil berdecak gue pun memutuskan untuk masuk ke dalam mobil Ohim.
"Woi, lo kenapa?" tanya gue mulai khawatir, "gue aja yang nyetir gimana?" tawar gue kemudian.
Masalahnya sekarang gue udah punya tanggungan anak dan juga istri, kalau gue kenapa-kenapa kan bahaya. Soalnya Ohim kalau nyetir dalam keadaan emosi tuh serem, ugal-ugalan, berasa kek nantangin malaikat maut.
"Gue aja yang nyetir nggak papa."
"Tapi lo emosi begini kan gue takut, anak gue bahkan belum ada setahun umurnya."
Ohim langsung menoleh dan menatap gue sinis. "Anak gue bahkan belum lahir, anjir, jadi lo tenang aja. Aman. Gue nggak mungkin mencelakai diri kita."
Gue menghela napas lalu mulai memakai seat belt gue dengan perasaan harap-harap cemas.
"Sebenernya kita mau ke mana sih?" tanya gue sekali lagi, karena dari tadi belum dijawab-jawab.
"Nemui Farhan."
Gue langsung ber'oh'ria sambil manggut-manggut paham. Oh, karena masalah Abbas. Pantas saja Ohim kayak orang kesetanan yang menyimpan dendam kesumat. Ternyata karena Farhan toh, pantesan. Setelahnya gue tidak bertanya lebih lanjut, bahkan tidak ada obrolan di antara kami. Paling gue sesekali membuka suara untuk sekedar mengingatkan agar Ohim menyetir lebih hati-hati. Buset, ugal-ugalan banget ini si Ohim nyetirnya, udah kayak supir angkot kejar setoran.
__ADS_1
Begitu sampai di tempat tujuan, gue cepat-cepat melepas seat belt dan turun dari mobil Ohim dengan langkah terburu-buru. Perut gue rasanya mual dan sesuatu yang bergejolak di dalam perut gue seolah minta dikeluarkan, meski rasanya tidak ada yang benar-benar keluar dari dalam sana.
"Lo norak banget sih naik mobil bagus kok muntah," cibir Ohim sambil berjalan mendekat ke arah gue.
Gue langsung menatap Ohim tajam. "Eh, kampret, gue begini gegara cara lo bawa mobil yang ugal-ugalan ya, bukan karena gue yang norak. Lo yang norak, punya mobil bagus tapi nyetirnya kayak supir angkot kejar setoran," balas gue tidak mau kalah, "kenapa kejar setoran buat biaya lahiran ya lo?"
Ohim terkekeh sambil mengumpat samar, tangannya kemudian terulur dan membantu memijat tengkuk gue saat gue berusaha mengeluarkan sesuatu dari dalam perut gue yang bergejolak, namun, tetap saja tidak ada yang keluar.
"Muntah beneran nggak sih lo?"
Gue menggeleng. "Enggak. Cuma mual banget gue buset rasanya, tapi enggak ada yang keluar."
"Mala hamil lagi?"
Gue langsung memukul kepala Ohim cukup kencang. "Sembarangan aja lo, Kai belum ada setahun, anjir."
Ohim terkekeh. "Ya mana gue tahu, kali aja lo ngebet pengen nambah lagi."
"Kaga lah, pake otak lah, Him, ya kali Kai masih sekecil itu udah dikasih adik aja. Kasian, gini aja dia masih suka kekurangan kasih sayang karena kesibukan gue sama Mala apalagi ntar kalau ditambah?" gue langsung menggeleng tegas, "enggak lah."
Respon Ohim setelahnya hanya manggut-manggut saja. Pria itu tidak berkomentar lebih. Sedangkan gue beralih menatap bangunan yang ada di hadapan kami, setelah rasa mual gue mulai reda.
"Ini di mana?"
"Udah, nggak usah banyak nanya. Mending kita langsung masuk aja," ajaknya kemudian.
Dalam hati gue mengumpat samar, terus fungsinya dia ngajakin gue apa sih ini, kalau sekarang aja gue langsung ditinggal begitu aja?
Dengan langkah terburu-buru, gue langsung menghampiri mereka.
"Pilihan lo cuma dua, ikut gue langsung dengan suka rela atau gue seret lo keluar dari sini. Tinggal pilih, nggak usah kebanyakan bacot lo!" seru Ohim emosi.
Farhan menatap gue. Gue menyapanya sekilas, lalu dia berdiri dan mengajak gue dan Ohim untuk keluar dari ruangan.
"Ada apa sih sebenernya? Kenapa kalian tiba-tiba datang ke sini? Kalian bahkan bukan Abang gue, tapi kenapa sok ngatur."
"Kita ke sini karena Abang lo bego dalam mengatur lo," balas Ohim sinis.
"Makanya kita dateng buat ngatur lo," sambung gue kemudian.
Farhan tertawa meremehkan. Gue langsung mengumpat dalam hati. Sialan. Wajahnya ngeselin banget sumpah, tangan gue jadi gatel pengen nonjok mukanya.
"Kalian cuma temennya, gue rasa kalian nggak punya hak mengomentari cara Abang gue dalam ngatur gue."
Ohim mendengus tidak percaya. "Lo emang beneran minta gue hajar ya?"
__ADS_1
"Gue sibuk, kalau nggak ada yang pent--"
Bugh!
Gue nggak tahan. Maka dari itu gue langsung memutuskan untuk menonjok wajah Farhan, bodo amat kalau sampai besok meninggalkan bekas.
Raut wajah Ohim dan Farhan, dua-duanya terlihat kaget.
"Gha, lo nggak papa?" tanya Ohim aneh, kan gue yang nonjok kenapa malah gue yang ditanyain kenapa?
Farhan langsung memprotes tidak terima. "Kan yang ditonjok Bang Agha gue, Bang, kenapa malah Bang Agha yang lo tanyain?"
"Bodo amat, gue nggak peduli sama lo."
Farhan mendengus sambil memegang sudut bibirnya yang sedikit berdarah. "Kalian kalau nyari perkara sama gue, gue bisa lapor polisi loh, ini namanya penyerangan. Gue nggak salah apa-apa tapi tiba-tiba diginiin."
"Han, lo kalau mau ngomong sesuatu bisa pake otak dulu nggak sih?" tanya gue heran, "lo serius nggak nyadar apa salah lo?"
Dengan wajah santainya, Farhan mengangkat kedua bahunya secara bersamaan.
"Salah lo itu manfaatin kebaikan Abang lo, brengsek!" ucap gue emosi sambil mendorong tubuh Farhan hingga membentur tembok.
Ohim langsung menarik gue. "Gha, gue ngajak lo biar gue nggak emosian ngehajar ini bocah, tapi kenapa sekarang yang malah emosian justru lo?"
"Abis gue kesel, Him."
"Iya, gue ngerti, gue juga kesel, anjir. Sama kayak lo, gue juga rasanya gatel banget pengen gebukin ini orang, tapi kita harus ingat Farhan itu siapa. Dia itu adiknya Abbas, sahabat kita. Abbas bahkan rela melakukan apa saja demi si kutu kupret ini, jadi kita nggak bisa sembarangan ngehajar dia karena takutnya ini nanti akan semakin membuat Abbas ngerasa bersalah."
Benar juga, ya, mau bagaimana pun juga, untuk saat ini pasti Abbas sudah merasa cukup bersalah karena merasa sudah salah mendidik sang adik. Kalau gue tambahin, yang ada dia malah makin bersalah.
"Sorry," sesal gue kemudian, "gue terbawa emosi, Han."
Farhan langsung tersenyum penuh kemenangan. "Nyesel kan lo, Bang?"
Bugh!
Bukan, bukan, itu bukan gue yang mukul tapi Ohim. Gue langsung menoleh ke arah pria itu dengan ekspresi bingung.
Lah, abis kesurupan ini orang? Belum juga lima menit nasehatin gue, udah ngehajar orang aja.
Astaga, gue mau heran tapi masalahnya ini Ohim.
Gue bahkan tidak bisa berkomentar lebih lanjut dan hanya mampu terkekeh geli.
Gue kemudian menepuk pundak Farhan iba. "Bro, lo salah orang, mungkin lo bisa seenaknya sendiri sama Abang lo, tapi kalau sama kita, enggak. Kita bisa bikin lo babak belur, kalau sampai bikin Abang lo menderita karena ulah lo. Paham? Saran gue, sekarang lo pikirin dulu semua baik-baik sebelum ambil keputusan, karena orang yang akan lo hadapi kita kalau lo sampai bikin keputusan yang salah."
__ADS_1
Farhan tidak berani berkomentar dan hanya menatap gue dan Ohim dengan wajah khawatirnya. Seketika gue langsung tersenyum puas.