Married With My Besti

Married With My Besti
Waduh


__ADS_3

*


*


*


**Wifei ❤️** : Gha, pulang dari RS jangan lupa beli susu


**Anda** : susu buat siapa?


****Wifei ❤️**** : buat gue lah, masa buat anak lo. Kan anak lo belum lahir. Jangan buat gue emosi ya


Anda : hayoooo, kok lo-gue lagi? Aku aduin Mama loh


Wifei ❤️ : abis kamu ngeselin 🙄


Anda : haha, iya, iya. Bercanda.


Anda : gk papa sih menurut aku kalau semisal di chat bisa kok balik ke lo-gue. senyamannya kamu aja


Wifei ❤️ : 😌 hm, yang penting jangan lupa


Anda : iya, beres. Mau rasa apa? Kayak biasa atau ganti rasa?


Wifei : coba ganti coklat deh


Anda : Okey😘


Gue langsung memutuskan untuk berbelok di salah satu mini market yang gue temui, begitu selesai membaca chat Mala.


Gue memutuskan untuk kembali mengirim pesan ke Mala begitu sampai di mini market.


Anda : sent a picture


Anda : mau coba ganti merk gk?


Wifei ❤️ : emm, boleh deh. tapi yang kecil aja


Anda : okeiiii


Wifei ❤️ : berapa?


Anda : ya, satu kan?


Wifei ❤️ : maksudnya harganya. Coba liat berapaan


Anda : astaga, kamu kayak sama siapa aja sih, masa masih nanyain harga. Udah beres, aman pokoknya. Gk usah peduliin harga. Aku yang bayar.


Wifei ❤️ : 😌 sombong!!


Anda : ya kan buat kalian tuh gk boleh perhitungan, La. Apa aja bakal aku kasih yang penting kalian seneng. Udah.


Wifei ❤️ : iya, iya, terserah deh


Wifei ❤️ : oh ya, sama beli frozen food sekalian deh, Gha. Stok frozen food kamu udah mau abis, tinggal buat sarapan besok aja. Barusan aku bikin cemilan soalnya.


Anda : siap. Ada tambahan?


Wifei ❤️ : enggak deh kayaknya.


Anda : sent a picture


Anda : mau es krim nggak?


Wifei ❤️ : es krim di rumah masih, Gha


Anda : pengen Viennetta😂


Anda : kalau kamu mau, aku beli dua, tapi kalau kamu nggak mau aku beli satu aja.


Wifei ❤️ : beli satu aja


Anda : tapi nanti kamu nggak boleh minta ya😒


Wifei ❤️ : astaga, masa sama istri sendiri pelit banget🥴


Anda : pelit gimna? Ini aku nawarin loh, sayanggg


Wifei ❤️ : ya itu, nggak mau berbagi. Kalau bukan pelit apa namanya.


Anda : aku mau makan satu, sendirian. Kalau kamu mau aku beli dua.


Anda : ya udah, aku beli dua kalau gitu


Wifei ❤️ : beli satu aja, astaga

__ADS_1


Anda : duaaa


Wifei ❤️ : ya udah, beli satu tapi aku gk minta😒


Anda : okeiii, aku bayar dulu kalau gitu


Selesai dengan semua yang ingin dibeli, gue langsung bergegas menuju kasir. Beruntung bagian kasir tidak harus antri. Selesai membayar gue langsung keluar.


Gue tidak dapat menahan keterkejutan gue, begitu keluar dan menemukan Ririn sedang duduk melamun di depan mini market. Perasaan gue seketika langsung bimbang, samperin nggak ya? Disamperin takut sok asik, nggak disamperin kok sombong banget gue kesannya sama tetangga sendiri. Ya udah lah samperin aja.


"Rin, lagi ngapain?"


Lamunan Ririn seketika langsung buyar. Perempuan itu kemudian menoleh dengan wajah bingungnya.


"Kak Agha? Kak Agha ngapain di sini?"


Bukannya menjawab pertanyaan gue, Ririn malah balik bertanya. Hal ini membuat gue menghela napas sambil menggoyangkan plastik belanjaan gue.


"Ini abis nyariin susu buat istri. Kamu ngapain sore-sore di sini bukannya pulang? Bentar lagi udah mau maghrib loh, Rin."


Gue kemudian duduk di salah satu kursi yang kosong dan meletakkan plastik belanjaan gue di atas meja.


"Iya, Kak, lagi nunggu ojol."


"Loh, emang mobil kamu ke mana?"


Ririn meringis malu. "Bengkel. Kemarin abis kecelakaan kecil, nabrak pohon, Kak."


"Astaga, ya ampun. Aku turut bersedih, tapi kamunya nggak papa kan?"


Sambil tersenyum tipis, Ririn menyibak rambut poninya. Lalu terpampanglah dahi Ririn yang terdapat plaster luka ukuran jumbo.


Kali ini giliran gue yang meringis. "Enggak sampe dijahit kan itu?"


"Cuma dua kok, Kak."


"Astaga, ya ampun. Lain kali nyetirnya hati-hati, Rin, apalagi kalau pikiran lagi kacau, mending naik taksi deh daripada begini. Enggak baik, selain membahayakan diri kamu sendiri bisa membahayakan orang lain," ucap gue menasehati.


Ririn meringis sambil mengangguk paham. "Hehe, iya, Kak."


"Ya udah, ayo pulang bareng aku aja daripada nunggu ojol," ajak gue sambil berdiri.


Ririn menggeleng dengan wajah sedihnya. Hal ini membuat gue terpaksa kembali duduk.


"Aku masih pengen di sini, Kak. Aku juga belum pesen ojol sebenernya." Ririn tersenyum tipis.


Gue melirik arloji yang melingkar pada pergelangan tangan. "Tapi bentar lagi mau maghrib, Rin, mending bareng aku aja. Daripada ntar susah nyari ojol."


Ririn menggeleng sebagai tanda penolakan. "Enggak papa, Kak. Kak Agha pulang aja duluan, pasti udah ditungguin Kak Mala."


Mulut Ririn mungkin tanpa keraguan bisa dengan mudahnya bilang nggak papa. Tapi ekspresi wajahnya justru mengatakan sebaliknya. Gue jadi bimbang harus gimana. Enggak mungkin juga gue tinggalin Ririn dengan kondisi yang begini. Ntar kalau diapa-apain orang atau kenapa-kenapa, bisa gue yang disalahin. Bukannya nolongin orang yang lagi bersedih hati malah ditinggalin gitu aja.


Duh, bisa rusak dong ntar image pria baik-baik gue.


"Lari dari masalah itu nggak baik loh, Rin," ucap gue tiba-tiba.


Gue kembali masuk mini market untuk membeli tisu, air mineral dan juga sendok. Setelah mendapatkan barang yang gue cari, gue kembali keluar dan duduk di kursi. Ririn terlihat seperti habis menangis. Gue langsung menyerahkan tisu ke dia.


Bukannya berterima kasih, Ririn malah semakin terisak.


Gue kemudian membuka es krim yang gue beli tadi. "Katanya makan es krim bisa bikin seseorang yang lagi sedih merasa lebih baik, Rin, mau coba?" tawar gue.


"Loh, itu kan punya Kak Mala, Kak. Kok dibuka di sini?"


Gue menggeleng sambil menyerahkan sendok plastik yang baru saja gue beli. "Ini aku sendiri kok yang pengen bukan Mala. Lagian di rumah juga masih ada stok es krim, jadi nggak papa."


Ririn mengangguk paham lalu mulai menyendok es krim berbentuk seperti kue ini. Saat es krim itu meleleh di dalam mulutnya, ekspresinya terlihat berubah.


"Gimana?"


Ririn mengangguk. "Enak."


"Maksud aku perasaan kamu."


"Oh, iya, kayak ikut meleleh bareng es krimnya, Kak. Kayaknya emang bener, es krim sama coklat bisa bikin orang yang lagi sedih merasa lebih baik. Makasih ya, Kak."


"Sama-sama. Ayo, buruan diabisin, abis itu kita pulang."


"Hah?"


Gue mengerutkan dahi bingung. "Kenapa? Ada yang salah? Kan kita tetanggaan berarti pulang bareng kan?"


"Oh, iya. Hehe, aku lupa, Kak."


"Ada-ada aja kamu."

__ADS_1


"Kak," panggil Ririn tiba-tiba, "kalau boleh tahu, sebelum nikah sama Kak Mala, kalian pacaran berapa lama?"


Gue langsung tertawa. "Aku sama Mala nggak pacaran."


"Terus kalian dijodohin?" Ririn bertanya dengan raut ekspresi ragu-ragu.


Gue tersenyum. "Pernah denger temen tapi menikah nggak?"


Ririn mengangguk cepat.


"Ya begitu lah aku sama Mala. Kita temenan tapi akhirnya sepakat memutuskan menikah."


Ririn ber'oh'ria sambil mengangguk paham. Sudut bibirnya membentuk senyuman tipis. "Enak ya, nikah sama temen sendiri. Jadi udah tahu baik buruknya masing-masing."


Pikiran gue kemudian menerawang. "Ya, sama aja sih, ada enak dan nggak enaknya. Namanya juga rumah tangga, Rin, kan nggak melulu enak terus. Pasti ada aja sisi nggak enaknya juga." Gue kemudian tersenyum tipis tak lama setelahnya.


Ririn kembali terlihat sedih. "Tapi seenggaknya lebih baik karena menikah atas pilihan sendiri."


"Tapi terkadang pilihan orang tua lebih baik ketimbang pilihan kita sendiri."


Ririn tidak membalas kalimat gue, perempuan itu hanya memilih tersenyum tipis, yang menurut gue menjurus ke agak tersenyum miris.


"Ngomong-ngomong, Kak Agha kerja di mana?" tanya Ririn mengalihkan pembicaraan.


"RS Permata Kasih."


Ririn terlihat terkejut. "Hah? Rumah sakit?"


Gue mengangguk cepat. "Aku dokter loh," ucap gue agak jumawa. Kedua alis gue mainkan naik-turun.


"Kok bisa?" desisnya masih terlihat tidak percaya, "bukannya dulu Kak Agha pernah bilang nggak mau jadi dokter?"


Entah, hanya perasaan gue atau apa. Menurut gue ekspresi Ririn terlihat seperti kecewa. Gue nggak terlalu yakin juga sih, tapi sepenglihatan gue dia terlihat seperti kecewa.


Gue terbahak. "Ya namanya hidup, Rin, kadang emang selucu itu kan? Aku bahkan pas masuk SMA juga masih nggak kepikiran buat jadi dokter, tapi baru kepikiran masuk kedokterannya pas lulus SMA. Jujur aku sendiri juga nggak nyangka sih, sesuatu yang menurutku nggak aku sukai di awal ternyata pada akhirnya bener-bener aku sukai."


"Oh."


"Nggak jauh beda sama pernikahanku sama Mala. Dari awal aku nggak berekspektasi bakal nikah sama dia, tapi ternyata takdir menyatukan kita. Jodoh mau pun rezeki adalah rahasia Tuhan, nggak semuanya ditunjukan dengan cara indah, tapi percayalah nantinya bakal indah. Tuhan lebih tahu apa yang kita butuhkan ketimbang kita inginkan, Rin. Aldi mungkin bukan orang yang kamu inginkan, tapi bisa jadi dia bakalan jadi orang yang paling kamu butuhkan nantinya."


Ririn terlihat terkejut. "Kak Agha tahu?"


Sambil tersenyum tipis gue mengangguk dan membenarkan.


"Bukan maksudnya aku mau ikut campur, Rin, tapi kalau boleh aku kasih saran, lupakan mantan kamu itu, ya. Kamu sudah sah jadi istri orang, meski belum ada cinta di antara kalian tapi bukan berarti kalian bisa untuk tidak saling peduli. Bagaimanapun kalian harus tetap menjaga hati satu sama lain."


"Kak Agha nggak penasaran siapa orang yang belum bisa bikin aku move on?" tanya Ririn tiba-tiba.


Gue gelagapan. "Enggak. Itu bukan urusan aku, Rin. Jadi aku nggak perlu tahu."


"Kalau aku bilang orang itu adalah Kak Agha, apa menurut Kakak itu masih bukan urusan Kakak?"


Gue diam sesaat tanpa membalas dan hanya menatap Ririn serius. Gue sedang berusaha mencari tahu kebenaran dari apa yang baru saja perempuan ini katakan.


"Aku rasa ini tentang perasaan kamu, Rin. Apa yang kamu rasakan tetap menjadi urusan kamu dengan diri kamu sendiri. Aku nggak punya hak untuk ikut mengurusinya. Kamu perempuan dewasa jadi harusnya tahu mana yang terbaik buat kamu dan yang nggak baik buat kamu."


Gue langsung menarik tisu untuk mengelap ujung bibir gue. Baru setelahnya gue membuka segel air mineral dan menyerahkan pada Ririn.


"Udah mau maghrib, Rin, mau pulang bareng atau masih mau nunggu ojol?"


"Naik ojol aja, Kak."


Gue mengangguk paham. "Ya udah, buruan order, aku tunggu sampai ojolnya dateng." Lalu bersedekap di depan dada.


"Enggak usah, Kak."


"Tetep aku tungguin." Gue tetap bersikukuh. Bukan tanpa alasan, Ririn kan tetap tetangga gue. Jadi nggak mungkin gue pergi gitu aja sebelum memastikannya dia dapet ojek onlinenya.


"Kak," panggil Ririn terdengar putus asa. Kedua matanya terlihat kembali memerah dan seperti siap menangis lagi.


"Buruan, Rin, keburu maghrib!"


Ririn terlihat tidak suka dengan sikap gue. Meski demikian dia tetap menuruti apa yang gue perintahkan. "Kak Agha nggak pernah berubah ya?" tanyanya tiba-tiba. Dan entah kenapa terdengar di indera pendengaran gue seperti sebuah sindiran.


Hal ini membuat gue mau tidak mau pada akhirnya terkekeh. "Enggak juga, banyak hal yang telah berubah, Rin. Ada beberapa yang mungkin memang tidak berubah, tapi percayalah lebih banyak hal lain yang udah berubah."


"Kak, boleh aku nanya sesuatu?"


Gue tidak langsung menjawab dan hanya menatap Ririn. Tak lama setelahnya, gue pun akhirnya mengangguk.


"Dulu waktu kita pacaran Kak Agha beneran sayang nggak sama aku?"


Waduh,


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2