Married With My Besti

Married With My Besti
Cemburu


__ADS_3

*


*


*


Karena mulai tidak tahan, gue akhirnya memutuskan untuk menghampiri mereka. Enak aja, gue pegel dari tadi nungguin sambil gendong Kai, Mala malah enak-enakan ngobrol sama pria lain. Tentu saja gue nggak terima.


Ehem ehem


Gue sengaja berdehem cukup keras saat sampai di samping mereka, suara deheman gue bahkan sampai menarik minat petugas kasir yang melayani. Gue tahu petugas itu terlihat seperti sedang menahan senyumnya.


"Eh, siapa dia, Sheen?"


Sheen?


Siapa ini yang dipanggil Sheen? Gue langsung melotot tajam ke arah pria itu.


"Kakak sepupu lo?" tanya pria itu seolah tanpa dosa.


Emosi gue semakin meradang. Tidak terima. Mana Mala malah tertawa bukannya langsung memperkenalkan diri gue sebagai suaminya. Emang sengaja mau tebar pesona sama pria lain apa gimana sih ini istri gue? Kok gue jadi ikutan kesel sama Mala.


"Mau gantian gendongnya?" tawar Mala.


Kini giliran gue yang melotot tajam ke arah Mala. Kok dia malah nanya begitu dan bukannya langsung kenalin gue sebagai suaminya? Sengaja pengen banget gue emosi duluan apa giman sih ini?


"Ini anak lo?"


Lah, kampret. Kalau udah bisa nebak ini bayi digendongan gue sebagai anak Mala, lantas kenapa gue masih dikira kakak sepupunya?


"Iya, anak gue. Mirip gue nggak?"


Pria itu menggeleng. "Enggak. Mirip bapaknya ya pasti?" tebaknya sambil terkekeh geli. Seolah mengabaikan keberadaan gue di antara mereka.


Double sialan.


Tak tahan gue langsung memperkenalkan diri. "Iya, dan gue bapaknya." Gue kemudian mengulurkan sebelah tangan gue, "Agha, suami Mala."


Pria itu langsung menjabat tangan gue tanpa ragu. "Oh, Bagas. Temen lama Afsheen."


Anjir, Afsheen? Sejak kapan Mala punya panggilan itu?


Gue langsung menoleh ke arah Mala untuk meminta penjelasan. Namun, bukannya langsung menjelaskan Mala malah meminta Kai untuk gantian digendong Mala.


"Jadi total semuanya 1.253.500 rupiah, Bu."


Gue menolak dan meminta Mala untuk membayar lebih dahulu. Sementara gue kembali menyingkir, pandangan mata gue seolah tidak mau lepas dari pria yang memperkenalkan diri sebagai Bagas itu. Apalagi pandangan mata itu seolah tidak mau lepas juga dari pandangan Mala.


Enggak sopan banget sih ini orang, jelas-jelas di sini ada suaminya tapi kok masih berani-beraninya menatap Mala seolah enggan berkedip.


*


*

__ADS_1


*


"Siapa sih cowok tadi?" tanya gue dengan nada sebal yang jelas tidak bisa gue sembunyikan. Lebih tepatnya gue males juga buat nyembunyiin, biar Mala tahu sekalian betapa jengkelnya gue sekarang.


Dari tadi gue udah mencoba menahan diri untuk tidak tanya karena tidak mau mengganggu tidur nyenyaknya Kai. Berhubung sekarang gue udah ada di rumah dan Kai sudah dipindahkan ke kamar dan kita lagi ada di lantai bawah, setidaknya itu aman. Kai tidak akan terusik tidurnya meski seandainya obrolan kami ini akan berujung ribut.


"Kan tadi udah kenalan, Gha, dia temen aku. Masih kurang jelas?"


"Kurang. Sok asik banget tahu dia tuh, La, kayak nggak ngehargai aku banget sebagai suami kamu. Aku tersinggung deh."


Mala berdecak. "Apaan sih? Enggak usah lebay bisa?"


Kedua matanya terlihat melirik gue tajam sebelum akhirnya Mala memutuskan membawa belanjaan kami menuju dapur.


"Loh, aku lebay gimana, La?" protes gue tidak terima. Gue langsung menyusulnya sambil membawa sisa belanjaan yang tidak bisa Mala bawa.


"Ya itu, kamu itu kalau lagi cemburuan tuh nggak jelas, Gha. Perasaan dulu kamu sama mantan-mantan kamu nggak begitu deh, kenapa sekarang jadi begini sih?"


"Kamu istri aku, La, wajar kan?"


"Ya itu menurut kamu. Enggak menurut aku, Gha. Aku bahkan nggak pernah protes kalau kamu deket sama perempuan manapun termasuk mantan kamu Ririn. Kamu pikir aku nggak tahu waktu kamu anterin Ririn periksa kandungannya tanpa bilang ke aku? Aku tahu, Gha. Tapi emang pernah aku protes? Enggak kan? Aku enggak protes juga bukan lantas karena aku enggak cemburu atau aku yang enggak sayang sama kamu. Tapi karena aku percaya sama kamu, Gha, aku percaya kamu sebagai suami aku. Aku percaya kamu sebagai Papa-nya Kai, aku juga percaya kalau kamu nggak akan menyakiti kita dengan memilih perempuan lain. Aku kasih kamu kepercayaan lebih, Gha, tapi kamu? Yang kamu lakuin cuma dikit-dikit protes kalau aku deket dikit sama pria lain. Kamu nggak perlu sekhawatir itu, Gha, aku tahu batasnya menjadi seorang istri dan juga ibu. Sesusah itu ya, buat percaya sama istri kamu sendiri?"


Mala terlihat sangat marah. Setelah melampiaskan semuanya emosinya dia langsung pergi meninggalkan dapur begitu saja, padahal belanjaannya masih belum dia beresin. Masih tergeletak berantakan di atas meja.


Gue mendesah berat sambil menatap punggung Mala yang kini sepenuhnya sudah menghilang. Jadi kali ini gue yang keterlaluan?


Gue menjambak gue sendiri dengan rambut frustasi, saat menyadari betapa bodohnya diri gue. Gue bahkan lupa kalau pernah mengantarkan Ririn ke rumah sakit untuk periksa kandungan tanpa cerita sama Mala.


Enggak, enggak, kalian jangan salah sangka dulu. Demi Tuhan gue lagi nggak coba modus untuk melancarkan aksi yang tidak-tidak. Sama seperti Mala, gue juga tahu diri posisi gue sebagai suami orang. Gue nggak mungkin juga godain mantan gue yang posisinya udah jadi istri orang sekaligus tetangga gue sendiri. Waktu itu kebetulan gue juga mau ke RS, dan Ririn lagi nunggu taksi, dan kebetulannya lagi Aldi nggak lagi di rumah. Berhubung saat itu gue nggak sengaja lihat dia, ya udah gue tawarin buat bareng sekalian. Dan ternyata Ririn nggak menolak. Tapi serius gue cuma nebengin doang, kita juga pisah di parkiran karena gue saat itu emang posisinya lagi buru-buru karena harus cek kondisi pasien.


Gue dan segala ketakutan gue yang berakhir menyakiti perasaan istri gue sendiri.


Arrghhh, bego banget sih gue?


*


*


*


Setelah selesai membereskan belanjaan kami hari ini, gue memutuskan untuk naik ke lantai atas. Berniat langsung meminta maaf sama Mala. Saat sampai di kamar, Mala sedang menyusui Kai sambil rebahan, tangannya dengan cepat langsung meraih ponselnya untuk dimainkan setelah menyadari keberadaan gue. Raut wajahnya pun langsung berubah.


Gue menghela napas. Sesaat gue terkekeh geli saat melihat tingkah polah Kai yang tidak bisa diam padahal sedang minum.


"Dek, nggak boleh gitu, ah, nggak sopan," tegur gue sambil membantu menurunkan kakinya yang sedikit terangkat.


Mendengar suara gue, Kai langsung menoleh ke arah gue sambil tersenyum. Mala langsung menutup kancing dasternya dan sedikit menggeser tubuhnya.


Gue menghela napas. "Masih marah?" tanya gue hati-hati.


Mala masih dalam mode diamnya dan memilih sibuk dengan ponsel.


"Aku minta maaf. Aku tahu aku salah, sikap aku terlalu berlebihan. Enggak seharusnya aku begitu. Maafin, ya?" bujuk gue, "La? Nirmala? Sayang? Ma?"

__ADS_1


"Apaan sih? Emangnya gue nyokap lo?" ketusnya kemudian.


Gue terkekeh lalu menempelkan dagu gue pada pinggangnya. "Maafin," rengek gue seperti anak kecil.


Posisi Mala saat ini sedang membelakangi gue.


"Apaan sih? Berat, Gha."


"Makanya maafin dulu!"


"Enggak. Gue masih kesel."


"Iya, boleh kesel, cuma nggak usah pake lo-gue bisa kan?"


"Suka-gue gue," balas Mala ketus.


Gue kembali menghela napas berat. "La, jangan gitu lah. Aku beneran bingung gimana bujuknya. Iya, kan aku ngaku salah, maafin. Aku begitu juga ada alasannya."


"Iya, alesannya karena kamu nggak cukup percaya kan sama aku?"


"Bukan. Karena aku takut kehilangan kamu. Aku takut kamu nyaman sama pria lain dan bakalan lebih memilih mereka."


"Iya, kalau kamu percaya sama aku, kamu nggak bakal takut kehilangan aku, Gha. Aku cuma minta kamu percaya. Sesulit itu ya, untuk percaya sama istri kamu sendiri? Aku punya kamu dan selamanya akan punya kamu, Gha, bisa nggak sih nggak usah terlena masa ketakutan kamu yang nggak mendasar itu? Aku capek lama-lama kalau kamu begini terus."


"Iya, maafin aku makanya. Aku janji bakal kurang-kurangin buat nggak cemburuan sama kamu. Tapi kamu juga bantuin aku makanya, aku kalau udah keliatan cemburu kamu harusnya nenangin aku. Bukannya malah bersikap seolah nggak terjadi apa-apa, kan aku jadinya makin kesel, La. Bukankah kamu bilang rumah tangga yang pengen kamu bangun itu tentang kerja sama kita?"


Mala menghela napas panjang. Tangannya kemudian terulur dan membelai rambut gue. Ia membalik posisinya menjadi terlentang, gue langsung meletakkan kepala gue di atas perutnya.


"Ya udah, maafin aku juga kalau menurut kamu sikap aku kurang bantu kamu mengurangi rasa cemburu kamu."


Gue mengangguk seraya memejamkan kedua mata, menikmati perlakuan Mala yang kini sedang mengelus rambut gue.


Mala langsung memukul pundak gue kencang saat gue iseng mencium perutnya.


Gue kemudian terbahak. "Kira-kira adeknya Kai mulai ada kapan ya, La?" tanya gue iseng.


"Ngawur! Kai aja baru mau belajar makan, kamu udah mikirin adek Kai aja."


"Ya, enggak papa. Kan harus di-plan mulai sekarang. Nanti kalau bisa jarak umurnya nggak usah jauh-jauh. Setahun aja kali ya?"


"Enak aja setahun. Paling deket kalau enggak 3, ya, 4 tahun. Kalau setahun kamu aja yang hamil."


Seketika gue langsung terbahak karena bayangan random perut gue yang besar. "La, masa aku random banget ngebayangin perut aku gede beneran."


"Ya udah, kamu aja yang hamil lagi."


"Kalau bisa, aku sih rela-rela aja, La. Tapi kan sayangnya nggak bisa. Aku dijatah dapet morning sicknya kayak kemarin lagi nggak papa kok."


"Enggak usah ngaco deh, Gha, kamu aja masih cemburuan gitu kok."


"Ya kan nanti belajar di--"


Kalimat gue terpaksa harus terpotong karena mendengar suara jatuh. Gue sama Mala saling bertukar pandang. Detik berikutnya terdengar suara tangisan Kai.

__ADS_1


Astaga, Kai jatuh dari ranjang?


Tbc,


__ADS_2