
*
*
*
"Udah jenguk Alisa?" tanya gue begitu menemui Ohim.
Gue baru kelar selesai jaga poli klinik, mau visit pasien tapi terpaksa gue tunda karena pria itu tiba-tiba menelfon dan minta ditemui. Enggak tahu deh dalam rangka apa.
"Belum. Gue nungguin lo, lo udah kelar jaga poli-nya?" Ohim balik bertanya.
Gue mengangguk. Belum juga mengeluarkan suara Ohim tiba-tiba langsung mengajak gue.
"Ya udah, mending kita langsung ke ruangan Alisa aja. Daripada ntar lo sibuk."
"Wait, bro, gue emang udah kelar jaga poli kliniknya, tapi gue masih mau visit pasien dulu. Belum bisa jenguk Alisa sekarang."
Ohim langsung berdecak. "Lama nggak itu kira-kira?"
"Ya, gue nggak tahu, soalnya kalau visit pasien suka nggak bisa ditebak. Karena gue nggak tahu pasti berapa pasien gue, kalau dikit ya bisa cepet, kalau banyak, ya, bisa lama. Tapi ya, nggak pasti juga, soalnya kadang wali pasien tuh minta konsultasi dulu."
Ohim berdecak sebentar lalu mengangguk paham. "Ya udah, nggak papa deh, tetep gue tungguin."
Gue menatap Ohim heran sambil berdecak dan geleng-geleng kepala. "Ngapain pake segala nungguin gue sih?" tanya gue heran, "Gue kemarin udah jenguk sama Mala, sama Kai juga. Jadi ya, gue agak santai."
Di luar dugaan, Ohim tiba-tiba menjentikkan jarinya lalu merogoh kantong untuk mengambil ponsel ternyata. "Bener, Mala, gue ajakin Mala aja deh."
Gue makin geleng-geleng tidak habis pikir dengan kelakuannya. Perkara jenguk doang kenapa harus ajak-ajak orang deh. Heran banget.
Ohim langsung berdecak saat usahanya untuk menghubungi Mala tidak berhasil. "Enggak diangkat, Gha, coba lo yang telfon."
Gue menaikkan alis heran. "Lah, apa bedanya?"
"Ya, beda lah, kan lo suaminya, gimana sih?"
Kali ini gue mendengus. "Enggak ada hubungannya, Him, dia kalau sempet mau siapa aja yang nelfon ya pasti diangkat. Kalau nggak diangkat berarti ya nggak sempat, kayaknya lagi operasi deh."
"Udah, dicoba dulu kenapa sih, Gha!" suruh Ohim memaksa.
Gue berdecak sekali lagi lalu merogoh saku dalam jas putih gue, mengeluarkan benda pipih keluaran negeri Gingseng itu dan langsung mencoba menghubungi Mala. Sama seperti Ohim, telfon gue tidak dijawab. Gue langsung menunjukkan layar ponsel kepada Ohim.
__ADS_1
"Tuh, sama aja, nggak diangkat, Him. Lagi join operasi dia pasti. Udah lo mending ke ruang rawat inap Alisa sendiri, ntar gue susul. Gue cuma tinggal visit pasien doang, jadwal operasi gue masih nanti."
Ohim mengangguk. "Ya udah, gue tungguin sekalian kalau gitu."
Lah, gue pikir dia mengangguk karena setuju mau jenguk Alisa sendirian dulu. Eh, tahunya.
Gue terkekeh geli. "Ya udah deh, terserah lo, gimana enaknya. Gue cabut dulu, ntar begitu kelar visit gue telfon."
"Oke. Beres. Selamat bekerja pak dokter!"
Gue hanya merespon dengan dengusan lalu pamit pergi.
*
*
*
"Ya, gimana, La?"
"Kebalik!"
Tidak gue tidak menemukan Mala. Gue juga tidak salah menempelkan ponsel. Lalu apanya yang kebalik?
Gue kembali menempelkan ponsel pada telinga dan memilih untuk langsung bertanya pada Mala. "Apanya yang kebalik, La?"
Terdengar decakan dari seberang."Harusnya aku yang nanya, Gha. Kenapa kamu telfon tadi?"
"Oh, itu tadi yang nyuruh Ohim. Mau minta ditemenin jenguk Alisa."
"Lah, kenapa mau jenguk doang minta ditemenin?" tanya Mala heran, "emang nggak berani jenguk sendiri? Arumi gimana?"
"Enggak tahu lah, emang nggak jelas dia mah. Mungkin ngampus kali bininya makanya nyari temen."
"Padahal kalau cuma nyari temen bisa ntar-ntar ke sininya, nunggu Arumi pulang kampus atau gimana gitu. Terus sekarang gimana? Masih butuh ditemenin nggak?"
"Enggak usah, kalau sekarang aku udah bisa. Kamu istirahat aja dulu."
"Oke, kalau gitu ntar kabarin aja ya perkembangan Alisa."
"Iya."
__ADS_1
Setelah menutup sambungan telfon dengan Mala, gue langsung menghubungi Ohim untuk menanyakan keberadaan pria itu.
"Di mana?" tanya gue tidak ingin berbasa-basi.
"Lo udah kelar?" Bukannya menjawab Ohim malah balik bertanya.
"Udah. Lo di mana?"
"Kantin. Bentar, gue bayar dulu bentar lagi langsung ke sana."
Klik. Sambungan telfonnya langsung ditutup gitu saja. Lah, gimana sih ini orang, masa nggak nanya gue-nya di mana?
Gue mengangkat kedua bahu acuh tak acuh, lalu memutuskan untuk ke kantin nyamperin Ohim.
"Lah, baru juga mau ditelfon udah nyamper aja lo, Gha," ucap Ohim saat akhirnya kita bertemu
Gue hanya memutar kedua bola mata saat merespon kalimatnya. Tanpa perlu banyak bicara gue langsung mengajak Ohim untuk langsung menemui Alisa di ruang rawatnya.
"Gha, ini seriusan Alisa mau cerai?" tanya Ohim begitu kami masuk ke dalam lift dan kebetulan liftnya kosong dan hanya ada kita berdua.
Sambil menghela napas, gue mengangguk dan mengiyakan. Sedih juga sih sebenernya, tapi mau gimana lagi, kata Alisa ini sudah keputusan terbaik mereka. Gue sebenernya setuju sih kalau mereka memutuskan untuk berpisah, tapi yang nggak gue setujui karena Alisa tidak memperkarakan kasus KDRT yang Kevin lakukan. Ini sangat gue sayangkan.
Ohim kemudian berdecak. "Dari awal emang gue tuh sebenernya nggak suka banget sama si Kevin ini. Songongnya itu loh, eh, tahunya beneran bermasalah kan orangnya. Harusnya dari awal kita nggak usah kasih restu buat mereka," gerutunya kemudian.
"Udah kejadian juga kali, Him," respon gue diiringi helaan napas. Meski sejujurnya gue juga ikut nyesel sih, tapi mau bagaimana lagi semua sudah terjadi, Alisa sendiri lagi berusaha untuk bangkit kembali, masa kita nggak yang malah begini.
"Abbas juga sih, dari awal kenapa nggak berani deketin Alisa kan jadinya dia malah ketemu cowok nggak bener dan berujung disakitin kan." Ohim mendengus, "emang dasar bego banget itu temen lo, Gha."
"Temen gue lo juga ya, Him, berarti lo termasuk yang bego itu?
"Enak aja, ya enggak lah," sahutnya tidak terima, "tapi gue penasaran deh, Gha, emang Alisa kenapa sampai harus dikuret? Apa abis jatuh atau gimana?"
"Enggak jatuh sih katanya, faktor pikiran dan stress bikin kondisi janinnya nggak berkembang dengan baik, jadi ya begitu lah. Nggak bisa diselamatin."
"Alisa pasti sedih banget ya, Gha."
Gue mengangguk setuju. Mau bagaimana pun pernikahan mereka udah lumayan, gue tahu betul betapa Alisa menginginkan anak, begitu dikasih, eh, diambil lagi. Tentu saja Alisa pasti sangat terpukul.
"Tapi yang penting si Kevin itu nggak main tangan kan, Gha?"
Gue seketika langsung diam. Harus gue jawab apa nih? Soalnya Abbas sudah memperingatkan kalau gue nggak boleh kasih tahu Ohim perihal ini, mengingat sifat dan kepribadian pria itu. Masalahnya gue kalau sama Ohim susah bohong, terus sekarang gue harus jawab apa nih?
__ADS_1