Married With My Besti

Married With My Besti
Pendarahan


__ADS_3

*


*


*


"Gha, aku pengen yang seger-seger deh."


Agha langsung menggeleng tegas saat merespon kalimat sang istri. Pandangannya masih fokus pada layar ponsel yang menampilkan permainan game.


"Enggak ada."


"Iiih, maksud aku yang seger-seger berkuah, Gha."


Agha langsung menegakkan tubuhnya reflek. "Siap laksanakan! Mau apa?"


"Apa aja sih yang penting berkuah seger gitu loh, Gha. Bakso enak deh kayaknya. Aku mau itu aja."


Agha mengacungkan jempolnya. "Oke. Beres. Eh, tapi kalau aku ke bawah buat nyari makan, kamu sama siapa?"


"Sendiri nggak papa, Gha. Tenang aja, aku bisa jaga diri kok."


Agha menggeleng tidak setuju. Tadi saja ia tinggal dan nggak ada yang menemani sekarang nasih Mala harus dirawat inap begini, jadi mana tega ia pergi dan membiarkan Mala sendirian.


"Bentar, aku minta perawat jaga temenin kamu lah kalau gitu."


Kali ini giliran Mala yang menggeleng tidak setuju. "Jangan suka ngerepotin orang begitu lah, Gha. Enggak enak, kamu pikir mereka nggak ada kerjaan apa?"


"Enggak papa, kan cuma bentar doang, La. Biar aku tenang. Tunggu, bentar, ya!"


Mala tidak bisa berkomentar banyak selain membiarkan sang suami keluar dari kamar inapnya begitu saja. Agha kalau sudah bertitah begitu, akan sulit baginya untuk membantah. Biasanya kalau mode begini memang ia akan selalu kalah. Jadi biarkan saja lah.


Tak lama setelahnya Agha kembali bersama seorang perawat. Mala meringis canggung lalu menyapa perawat itu.


"Maaf ya, saya dan suami saya jadi ngerepotin begini," sesal Mala merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, dok, saya maklum, kebetulan memang kerjaan saya bisa ditinggal."


"Tetap saja saya yang nggak enak."


"Udah lah, La, nggak papa. Kamu nggak usah khawatir, sekarang aku tinggal dulu ya. Kalian ngobrol aja yang santai. Aku nggak akan lama kok." Agha mengedip genit ke arah sang istri sambil mengacungkan jempolnya. Setelahnya ia langsung pergi keluar kamar inap.


Setelah memastikan sang suami pergi, Mala langsung menyuruh sang perawat melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


"Berhubung suami saya pergi, kamu bisa kembali ke meja-mu, saya nggak papa kok sendiri, nanti kalau saya butuh apa-apa tinggal pencet tombol buat panggil."


Si perawat mendadak salah tingkah. "Waduh, gimana ya, dok, saya nggak enak sama dokter Agha karena udah terlanjur janji sama beliau, masa nggak saya tepati?"


Mala tersenyum maklum. "Enggak papa, nanti saya yang bilangin ke dia biar nggak marahin kamu. Percaya sama saya!"


"Dokter Mala yakin nggak papa saya tinggal?"


Mala mengangguk yakin. "Eh, tapi, btw, nggak perlu panggil saya dok atau dokter, kan saya sekarang nggak lagi menjabat. Hehe."


"Beneran nggak papa, dok?"


"Iya." Mala mengangguk dan mengiyakan dengan wajah yakinnya.


"Ya sudah kalau memang dokter Mala lebih nyaman sendiri saya tinggal saja, tapi janji ya, dok, kalau butuh sesuatu hubungi saya."


Sekali lagi Mala mengangguk dan mengiyakan. Setelahnya perawat itu pergi keluar dari kamar inap Mala, sedangkan Mala memilih untuk beristirahat. Rasanya kurang nyaman mau tidur kalau ditungguin orang asing. Jadi Mala memilih sendiri.


*


*


*


Agha berdecak samar saat masuk ke dalam kamar inap Mala dan menemukan sang istri justru malah terlelap. Perasaannya bimbang, mau dibangunin kasian, nggak dibangunin ntar bakso kuahnya keburu dingin, kalau udah dingin pasti nggak enak.


Ragu-ragu akhirnya Agha memutuskan untuk membangunkan Mala. Dari pada ntar keburu dingin, mending dibangunin dulu lah. Pikirnya.


"Nirmala sayang!" panggilnya lagi karena tak kunjung mendapat jawaban.


Nyenyak banget tumben. Pikir Agha. Ia kemudian memutuskan berjalan mendekat ke arah ranjang lalu duduk di tepi ranjang, pelan-pelan ia membangunkan sang istri, namun, sebisa mungkin tidak membuatnya terkejut.


"La, bangun, ini baksonya udah aku beliin. Makan dulu, yuk!"


"Mama Kai?"


Hening. Masih belum ada respon dari Mala. Hal ini membuat Agha seketika panik. Ia langsung berdiri dan memeriksa denyut nadi sang istri yang terasa melemah. Ia kemudian menyibak selimut Mala, dan betapa terkejutnya ia saat menemukan permukaan kasur yang sudah bersimbah darah.


Astaga Tuhan, istrinya pendarahan.


Karena panik dan tidak bisa berpikir jernih ia langsung memanggil dokter jaga bukannya memanggil lewat tombol nurse call.


"Dokter! Istri saya pendarahan!"

__ADS_1


Agha panik luar biasa. Ia langsung menelfon Ayahnya dan mertuanya. Setelah selesai menghubungi mereka, ia mencoba menghubungi Abbas, namun, ia tidak mendapat respon. Ia berdecak kesal karena baru ingat kalau Abbas sedang berada dalam urusan penting bersama Alisa. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Ohim.


"Him, ini gue."


"Iya, gue tahu, gue belum hapus nomor lo btw."


"Lo bisa ke rumah sakit sekarang nggak, Him? Gue butuh lo nih."


"Hah? Rumah sakit? Siapa yang sakit. Gue lagi di rumah mertua sih, cuma nggak papa, gue bisa balik kalau emang emergency. Siapa yang sakit."


"Mala. Gue panik, Him, gue takut. Sorry, banget, bisa nggak kalau gue minta lo ke sini?"


Tanpa perlu banyak berpikir, Ohim langsung mengangguk dan mengiyakan. "Lo tenang dulu, gue sama Rumi bakal langsung otw ke sana, sama sekalian gue coba hubungi Abbas."


"Enggak usah, Abbas lagi dalam misi penting, jangan telfon dia."


"Enggak ada yang lebih penting dari kondisi temen yang butuh bantuan dan juga support dari sesama temen, Gha. Udah nggak papa, lo nggak usah mikir aneh-aneh! Cukup berdoa yang bener, gue bentar lagi ke sana."


Agha mengangguk patuh. "Iya, gue tunggu. Thanks, bro!"


Klik. Sambungan terputus. Pikiran Agha kalut, ia tidak bisa berpikir jernih. Bagaimana kalau terjadi sesuatu di antara anak dan istrinya?


Serius Agha tidak sanggup membayangkan hal itu jika terjadi.


Tak lama setelahnya Ale datang, kebetulan kakak perempuannya itu memang sedang menuju ke mari saat Agha menghubunginya.


"Gha, lo nggak papa?" tanya Ale khawatir.


Detik itu juga Agha langsung menangis dan memeluk tubuh sang kakak. "Kak, gue takut banget, Mala pendarahan banyak banget," isaknya dengan suara bergetar.


Keduanya sangat dekat sehingga Agha tidak sungkan menumpahkan semua kegundahan di dalam hatinya. Ia benar-benar menangis tersedu-sedu di dalam pelukan sang kakak. Sementara Ale hanya mampu menepuk pundak Agha, mencoba membiarkan sang adik menumpahkan segala keresahannya. Sementara sang kakak ipar, memilih untuk menyingkir sebentar, memberi waktu untuk kakak-beradik itu saling menguatkan satu sama lain.


"Gue suami dan Papa yang buruk ya, Kak? Nggak bisa jaga istri dan anak sendiri dengan bener," rancaunya tidak jelas.


"Gha, nggak usah ngomong yang aneh-aneh! Lo udah berusaha semampu lo, jangan terlalu merasa bersalah. Mala pasti nggak suka kalau liat lo begini."


"Ale benar, Gha. Kamu harus lebih kuat sebelum menguatkan istrimu," ucap sang kakak ipar yang akhirnya ikut mendekat ke arah mereka.


Cepat-cepat ia menghapus sisa air matanya. Ia merasa sedikit sungkan karena menangis di hadapan sang kakak ipar.


"Kata dokternya gimana?"


Agha menggeleng. "Enggak tahu, masih ditangani dokter. Tapi Mala sampai kehilangan kesadaran, denyut nadinya pun tadi sempat melemah, Kak. Gue takut banget sumpah."

__ADS_1


Tak lama setelahnya pintu kamar terbuka, dokter jaga yang tadi memeriksa Mala keluar ekspresinya terlihat gugup. Entah karena mereka sedang berhadapan dengan keluarga dokter atau karena kondisi Mala yang tidak begitu bagus. Agha tidak dapat menebaknya. Tapi kalau boleh dikasih harapan, Agha berharap yang benar bukan opsi kedua. Entah apapun itu.


Tbc,


__ADS_2