Married With My Besti

Married With My Besti
Curiga


__ADS_3

*


*


*


Mendengar pertanyaan gue, raut wajah Mala makin tidak bersahabat. Sebelah alisnya terangkat tinggi. Kedua tangannya menyilang di depan dada.


"Kamu berharap aku hamil lagi di umur Kai yang bahkan baru satu tahun?"


Sambil meringis, gue langsung menggeleng cepat. Tentu saja karena cari aman, bisa diamuk Mala gue. Soalnya Mala sudah mewanti-wanti gue agar main aman, plan dia kita bisa nambah momongan lagi minimal setelah Kai masuk play grup. Kalau gue sendiri sih nggak masalah, kalau semisal dikasih cepet pun enggak masalah.


"Ya udah, kalau gitu jangan ngomong sembarangan. Nanti kalau ada malaikat yang lewat terus dikabulin gimana?"


"Ya, amin kan?"


Gue langsung meringis takut saat mendapat pelototan mata tajam dari Mala.


"Ya mau gimana lagi sih, La, kalau emang udah dikasih? Masa mau ditolak? Kan lebih nggak mungkin?"


Mala mendengus lalu menatap Kai. "Itu Kai-nya di suruh udahan main airnya ntar kedinginan bisa flu, aku mau masak lah kalau gitu."


"Yang makein baju siapa ntar?"


Mala berbalik dan menatap gue datar. "Harus aku juga?"


Sambil meringis gue menggeleng cepat. "Enggak, aku bisa kok. Selamat masak Mama!"


"Aku bukan Mama-mu, Gha!" sembur Mala galak.


Hahaha, Mala memang paling anti kalau gue memanggilnya Mama. Padahal kan ya harusnya nggak masalah kan? Toh, banyak suami yang akhirnya ikut memanggil istrinya dengan sebutan Mama, Bunda, Ibu dan lainnya setelah anaknya lahir. Tapi pengecualian buat Mala. Dia enggan jika dipanggil demikian.


"Ya kan, Mama Mala, La," ucap gue kemudian.


Mala menggeleng tegas. "Enggak ada. Yang boleh memanggil aku Mama itu cuma Kai doang, kamu nggak usah ikut-ikutan," ucapnya final lalu keluar dari kamar.


Sementara gue langsung menggendong Kai setelah memakaikan bocah itu handuk. Tumben dia nggak protes, biasa kalau diajak udahan mandinya pasti pakai acara ngedrama dulu. Bahkan saat coba gue pakaikan baju pun dia cukup menurut dan tidak banyak berulah seperti biasa.


"Pinternya anak Papa," ucap bangga lalu memberi kecupan pada pipi Kai yang sekarang sudah tidak terlalu gembil seperti sebelumnya. Setelah sembuh dari sakit kemarin terus dilanjut mulai belajar jalan, berat badan Kai memang menurun.


"Sekarang gilirian Papa yang mandi, Adek nonton dulu ya? Enggak boleh nakal, oke?"


Kai menggeleng saat merespon gue, ia kemudian langsung kabur dan mencari mainannya.


"Enggak nonton aja?"


Kai menoleh ke arah gue sebentar lalu menggeleng sekali lagi. Gue tidak protes dan langsung mengangguk paham.


"Janji ya nggak boleh nakal?"


Kali ini Kai tidak merespon gue. Gue berpikir sebentar, kira-kira aman nggak ya kalau gue tinggal mandi?

__ADS_1


Berhubung gue takut Kai aneh-aneh saat gue tinggal mandi, gue pun memutuskan untuk turun ke bawah menuju dapur. Setidaknya kalau bersama Mala lebih aman ketimbang gue tinggal mandi dan dia di kamar sendirian.


"La," panggil gue sambil celingukan mencari keberadaan Mala.


Gue dan Kai sudah sampai di dapur dan tidak ada siapapun di sana. Padahal di wajan ada bekas bumbu yang buat menumis, terus ini orangnya ke mana?


"Lah, Mama-mu ke mana, dek, kok nggak ada?"


"Kenapa?"


Gue langsung menoleh ke asal suara dan menemukan Mala sambil membawa kantong plastik berisi styrofoam. Gue tidak bisa menyembunyikan kerutan di dahi gue.


"Itu apa?" tanya gue heran sambil menunjuk bungkus styrofoam yang sekarang Mala letakkan di atas meja makan.


"Bubur ayam, pagi ini kita sarapan itu."


Gue tidak masalah sih sebenernya, karena gue tim pemakan segala. Apapun yang Mala hadapkan di meja makan, asal itu halal dan bisa dimakan bakalan tetep gue makan. Cuma masalahnya kan tadi Mala bilang mau masak, di wajan juga ada bumbu yang siap buat menumis, lalu kenapa sekarang malah beli bubur ayam? Bukankah wajah kalau gue heran?


"Kenapa? Enggak mau?"


Gue menggeleng cepat lalu mendudukkan Kai pada baby chair-nya. "Bukan masalah aku mau atau enggak mau, La, aku sih nggak masalah, mau sarapan apa aja. Ini posisinya aku lagi heran."


"Heran karena?"


"Kenapa kamu beli bubur ayam lah." gue kemudian menunjuk ke arah wajan, "itu buat apaan emang?"


"Tadi sih rencana mau bikin nasi goreng, tapi mendadak batal. Makanya aku beli bubur ayam."


"Enggak mood," balas Mala terdengar ngasal.


Gue sejujurnya masih agak heran, tapi tidak protes dan langsung pamit pergi untuk mandi.


*


*


*


Gue merasa jauh lebih segar setelah mandi. Berhubung perut gue mulai terasa lapar, gue langsung memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Biasanya kalau pulang agak sore, Mala akan bereksperimen dengan masakannya. Gue kebetulan udah lumayan nggak ngerasain masakan Mala, akhir-akhir ini Mala seolah enggak begitu bersahabat dengan yang namanya dapur dan lainnya. Dan agak ngeselinnya menu gue monoton soto terus hampir seminggu ini, cuma beda varian semisal hari ini soto Betawi besoknya soto Lamongan dan seterusnya. Sejujurnya gue pengen protes, tapi gue merasa tidak punya kuasa untuk melakukan hal demikian.


Gue menuruni anak tangga dengan cukup riang, gue langsung menghampiri Kai dan memberinya kecupan di seluruh wajahnya. Karena kesal acara bermainnya diganggu, ia langsung memukul wajah gue.


Gue terbahak. Sementara Mala langsung menegur sang putra.


"Adek, enggak boleh pukul-pukul!" setelah menegur sang putra, ia kemudian beralih ke gue dan melempar bantal sofa ke arah gue tapi sengaja tidak benar-benar dikenakan gue, "kamu juga, anaknya lagi asik main jangan digangguin begitu dong, Gha. Kamu kan kalau lagi asik sendiri digangguin juga kesel."


Gue meringis. "Hehe, maafin Papa ya?" gue kemudian menyodorkan telapak tangan, Kai dengan nurutnya langsung menjabat tangan gue dan mencium punggung tangan gue.


Duh, gemes banget deh anak gue kalau lagi mode nurut begini.


Setelah puas merecoki Kai, gue kemudian berdiri dan mendekat ke arah Mala yang kini tengah sibuk berselancar di aplikasi belanja online. Pandangan gue kemudian salah fokus ke keranjangnya yang sudah 99+.

__ADS_1


Buset, banyak banget.


"Itu apaan sampai 99+ gitu? Beli aja, ntar aku yang bayar, jangan cuma dimasukin keranjang doang lah, aduh, La, aku sebagai suami kan jadi gengsi ntar dikira aku pelit lagi sama istri."


Mala menggeleng. "Enggak perlu, barang nggak penting itu."


Gue menaikkan alis heran. "Kalau nggak penting kenapa dimasukin?"


Kali ini Mala terkekeh. "Ya, enggak papa, suka-suka. Bahagianya orang itu beda-beda, Gha, ada yang ngerasa bahagia dengan beli semua barang yang di keranjang belanjaannya ada juga yang bahagia dengan cukup masukin ke barang ke keranjang tanpa benar-benar membelinya."


Reflek gue garuk-garuk kepala. "Agak aneh ya kamu, La," komentar gue kemudian


Mala merengut kesal. "Aneh-aneh begini istri kamu ya, Gha."


"Hehe, iya, sayang." gue langsung menyandarkan kepala pada pundak Mala, "sayang, mau makan."


Mala mendengus lalu menarik diri agar kepala gue tidak bersandar pada pundaknya.


"Ambil sendiri lah, Gha, kamu kan bukan Kai yang apa-apa perlu diambilin."


"Kan dalam rangka nyariin kamu pahala, La."


"Kebanyakan alasan." Meski dengan raut wajah antara rela dan tidak rela, tapi Mala tetap berdiri dan mengambilkan nasi buat gue.


Gue tidak bisa menahan bibir gue untuk tidak melongo saat melihat Mala kembali sambil membawa nampan berisi mangkuk, piring dan gelas.


Waduh, perasaan gue enggak enak.


Dalam hati gue merapal semoga bukan soto lagi menu makan malam gue kali ini. Aamiin.


Namun, saat gue mencium bau semerbaknya gue dapat menebak dengan pasti kalau memang ini soto.


"Kenapa ekspresi kamu begitu?" tanya Mala heran. Ia meletakkan nampan dan langsung menyuruh gue untuk makan. Tapi rasanya gue seperti sudah tidak berselera. Bahkan rasa lapar gue sudah menguap entah ke mana.


"Masak sendiri?"


Mala menggeleng cepat.


"Terus kenapa yang dibeli soto lagi, La?"


"Soalnya pengen."


"Tapi kita udah hampir seminggu loh makan soto, La. Masa kamu nggak bosen?"


"Kan beda-beda."


"Tapi tetep aja soto loh, La," rengek gue putus asa.


Mala menatap gue datar. "Enggak mau tinggal enggak usah makan, nggak usah banyak komentar," ucapnya sarkas.


Sementara gue hanya mampu menutup mulut rapat-rapat. Ini gue curiga deh lama-lama, jangan-jangan Mala beneran hamil melihat tingkah dia akhir-akhir ini.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2