Married With My Besti

Married With My Besti
Perkara Nasi Goreng


__ADS_3

*


*


*


Gara-gara Mala, hampir seharian ini gue jadi bahan ledekan para perawat dan juga dokter residen yang bertugas hari ini. Gue kesel banget sama Mala yang pada akhirnya benar-benar memaksa gue untuk potong rambut gaya under cut, padahal gue udah bilang ke dia kalau gue tidak setuju. Tapi Mala masih saja memaksa.


Sebenarnya sih beberapa dari mereka kalau gue masih sangat cocok menggunakan gaya rambut ini, dan sebagian juga tidak mempermasalahkannya, tapi tetap saja gue merasa tidak percaya diri. Masalahnya terkesan seperti bukan gaya gue banget lah.


Mereka meledek karena gue potong rambut gaya ini atas paksaan istri, nah, makanya mereka gencar banget ngegodain gue. Sialan bener si Mala, sengaja banget pamer kalau potong rambut ini atas kemauan dia.


Baiklah, pokoknya hari ini gue ngambek pengen pulang telat. Mau nongkrong sama Abbas atau Ohim. Eh, tapi kalau Ohim sepertinya tidak mungkin deh kan anaknya masih kecil, kasian Rumi ntar kalau ditinggal sendiri meski udah ada baby sister yang bantu jagain. Berbeda dengan gue, Ohim memilih pakai bantuan baby sister. Sebenernya gue juga pengen begitu tapi Mala dan kedua Kakek dan Nenek Kai tidak setuju. Ralat, sepertinya para Kakek tidak masalah deh dengan itu, kecuali bokap gue sih. Bokap gue soalnya orangnya agak rewel.


Baru masuk mobil dan melepas topi, (read;berhubung gue masih belum terlalu percaya diri, gue memang memilih menggunakan topi sebelum turun ke lantai bawah) tiba-tiba ponsel gue tampak menyala. Bukan panggilan masuk melainkan notif chat masuk.


Wifei ❤️ : udah mau pulang belum, Gha?


Gue menghela napas lalu mencoba menghubungi Mala, dengan sedikit terpaksa sejujurnya.


"Pulang jam berapa?" tanya Mala to the point begitu sambungan terhubung.


Gue tidak langsung menjawab dan memilih untuk melirik arloji yang melingkar pada pergelangan tangan kiri gue.


"Kayaknya--"


"Aku laper deh, Gha, nitip sesuatu dong. Kamu pulang telat?"


Gue menghela napas sekali lagi sambil menggeleng pelan. "Enggak, ini udah di mobil, mau pulang," balas gue agak lesu, "mau dibeliin apa emang?"


"Nasi goreng."


"Berapa?"


Terdengar decakan dari seberang. "Ya satu lah, Gha, emang aku kalau makan sebanyak apa sampai kamu tanyain mau dibeliin nasi goreng berapa?"


"Ya namanya orang nanya, siapa tahu lagi ada tamu siapa gitu. Makanya aku nanya dulu, malu bertanya sesat di jalan, La."


"Iya, iya, udah pokoknya beliin. Satu aja, jangan pedes. Buat kamu terserah, kalau kamu mau berarti beli dua, kalau nggak mau satu aja cukup berarti."


"Hm. Pakai telur enggak?"


"Ya, pake dong, Gha, masa makan nasi goreng nggak pake telur. Udah ya, aku tutup telfonnya kalau gitu. Jangan lama-lama Pak suami, Kai udah tidur loh."


Mendengar kata Kai sudah tidur, ekspresi wajah gue seketika langsung berubah cerah. "Oke, siap, sayang, abis ini langsung gas meluncur ke dalam pelukanmu. Tunggu suamimu yang ga--"


"Najis," potong Mala langsung mematikan sambungan begitu saja.


Emosi gue meradang. Cepat-cepat gue berusaha menghubunginya sekali lagi.


Begitu sambungan terhubung, gue langsung mendengar decakan sebal. "Apaan lagi sih?"


"Minta maaf atau nggak jadi aku beliin nasi gorengnya. Enak aja, masa sama suami begitu, dinajis-najisin. Udah nyuruh, nggak sopan, ngatain lagi."


Terdengar helaan napas panjang. "Iya, iya, aku ngaku salah karena nggak sopan. Maafin ya?"


"Iya, aku tutup telfonnya. Assalamualaikum."


"Wa'alikumsalam."


*


*


*


Wifei ❤️ : Gha, lama banget sih kok nggak pulang-pulang?


Wifei ❤️ : jangan bilang lagi ngegodain cewek orang ya?


Gue berdecak sebal saat membaca chat yang Mala kirimkan. Udah nggak sabaran, nuduh tanpa bukti lagi. Gue kemudian langsung memotret beberapa antrian.


Anda : sent a picture


Anda : tuh, masih antri, La, astaga sabar dikit kenapa sih? Kayak orang lagi hamil, ngidam aja, nggak sabaran banget


Wifei ❤️ : kan keburu laper


Anda : masak mi kalau gitu

__ADS_1


Wifei ❤️ : dokter gadungan ya kamu?


Anda : IYAAAA


Anda : 😑😑


Wifei ❤️ : berhubung masih antri begitu, cari jajanan apa gitu dulu, Gha


Eh, tumben nih perhatian banget si Mala? Cepat-cepat gue mengetik balasan


Anda : masih kenyang kok aku, La. Makasih perhatiannya😘


Wifei ❤️ : apaan? Jajanannya buat aku, di situ ada apa aja? Di sekitar penjual nasgornya


Eh, ternyata gue yang kegeeran.


Anda : ya ada banyak, mau apa?


Anda : sent a picture


Anda : ada penjual piscok nih. Mau?


Wifei ❤️ : boleh. Ada yang lain nggak? Martabak? Aku mau juga deh, Gha


Anda : banyak amat, beli nasi goreng, piscok, masih mau nambah martabak? Emang muat ntar? Bakalan dimakan gitu semua? Laper banget kamu?


Wifei ❤️ : ya asal kamu nggak beli banyak-banyak, pasti abis lah


Anda : 👌 oke, sip, aku pesen piscok sama martabak dulu kalau gitu


Wifei ❤️ : jangan lama-lama, buruan pulang!


Anda : kenapa? Udah kangen?


Wifei ❤️: nasgornya!!


Anda : oke, berarti akunya nggak usah pulang, nggak papa kan?


Wifei ❤️ : coba aja kalau berani😑


Anda : hehe, enggak berani sih😂


Wifei ❤️ : udah, gk usah dibales buruan pesen terus pulang!


Wifei ❤️ : iyaaaaa


*


*


*


Setelah mendapatkan semua pesanan Mala, gue memutuskan untuk langsung pulang. Tapi saat gue udah sampai di rumah ternyata Mala sudah tidur di sofa ruang tamu. Otak gue berpikir sejenak, emang tadi gue lama banget sampai Mala ketiduran begini?


Pelan-pelan ia mencolek pundak Mala. "Ssst... La, bangun, ini pesenan kamu udah sampai. Ayo, buruan dimakan!" ucap gue berusaha membangunkannya.


"Hmmm..."


Tidur Mala sedikit terusik. Ia menggeliat sesaat lalu berusaha mencari posisi ternyamannya dan bukannya bangun.


Gue berdecak samar. "La, ini nasi gorengnya gimana nasibnya?"


Mendengar kata nasi goreng, Mala langsung bangun dan duduk. Ia menguap sekali sambil mengucek matanya. "Udah pulang?" basa-basinya kemudian.


Kali ini gue mendengus. "Kalau udah di depan kamu berarti udah pulang lah, La. Ini nasi gorengnya. Aku ambilin sendok sama piring ya?"


Mala menggeleng lalu berdiri. "Besok aja deh. Aku sekarang ngantuk banget, Gha," ucapnya sambil kembali menguap.


Gue melongo.


Besok saja katanya?


Gue capek-capek antri, cepet-cepet biar cepet sampai rumah tapi endingnya nggak jadi dimakan? Besok? Mala pasti bercanda. Wanita itu mana sudi makan nasi goreng sisa semalam.


"Buang aja gimana?" tawar gue kadung jengkel.


Mala melotot menatap gue galak. "Jangan lah! Mubazir, Gha. Udah simpen aja dulu, di kulkas atau di mana terserah, besok aku panasin."


"Terus yang makan siapa?"

__ADS_1


"Kamu lah."


Tuh, kan!


Gue menghela napas panjang, berusaha untuk meredam emosi gue agar tidak menyembur.


"Tadi kamu minta aku cepet-cepet pulang karena katanya kamu udah keburu laper, begitu aku sampai di rumah, eh, kamunya malah mau tidur. Kamu sengaja mau ngerjain aku atau ngajak berantem?" tanya gue dengan nada kesal.


"Ya abis kamu lama, kan sekarang aku udah nggak mood."


"Tadi katanya laper."


"Sekarang udah enggak."


Gue menyipitkan kedua mata curiga. "Emang kamu udah makan?"


Mala mengangguk dengan cepat. "Udah. Di rumah Bunda tadi pas jemput Kai."


Gue mengangguk paham. Lalu menyuruh Mala agar segera naik ke lantai atas untuk melanjutkan tidurnya. Karena kalau tidak demikian sepertinya gue pengen ngajak Mala berantem. Kasian ntar Kai kalau sampai kebangun gegara suara kami.


Pagi harinya


Gue sedang asik memandikan Kai sambil bermain, kalau waktunya agak longgar biasanya gue memang selalu mengajak Kai bermain dulu. Lalu tiba-tiba Mala masuk kamar sambil teriak-teriak memanggil nama gue.


"Gha! Agha!"


"Apa?"


"Nasi goreng yang semalem kamu taroh mana sih? Kok aku nggak nemu."


Gue kemudian langsung menunjuk kloset. "Tuh, udah masuk situ."


"Kamu buang?"


"Ya aku makan, diproses lambung aku abis itu baru dibuang, La."


Di luar dugaan, Mala tiba-tiba membanting benda yang ia bawa. Gue melirik ke arah benda tersebut. Kedua mata gue spontan melotot kaget saat menyadari barang itu adalah ponselnya.


Mampus, pasti abis ini langsung minta ganti yang baru tuh.


"Lah, kok kamu makan? Kan itu nasi goreng aku."


"La, jangan banting-banting barang di depan Kai. Nanti dia ngikutin," tegur gue berusaha untuk tetap tenang, padahal aslinya gue pengen marah juga.


"Abis kamu dulu yang mulai," balas Mala tidak mau kalah.


"Kok jadi aku?"


"Ya, kan itu nasi goreng aku, kenapa kamu makan gitu aja tanpa tanya aku?"


"Loh, bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu ngantuk terus mau tidur? Kamu bilang juga nasinya buat aku kan?"


Tiba-tiba Mala merengut. "Tapi sekarang aku mau!" nada bicaranya kali ini lebih pelan, udah nggak ngegas seperti sebelumnya.


"Terus maunya sekarang gimana?"


"Enggak tahu, aku kesel, aku pengen marah-marah sama kamu pokoknya."


"Di depan Kai begini?"


Mala kemudian melongok ke arah Kai yang kini berada di dalam bak mandinya. Tengah asik bermain air dan untungnya seperti tidak terlalu tertarik dengan perdebatan kami.


Mala tidak berkomentar apapun dan langsung memilih pergi, gue kemudian memanggilnya.


"Itu hapenya ketinggalan," ujar gue mengingatkan.


Mala menoleh dengan raut wajah bingung. "Hape siapa?" tanyanya heran.


"Tuh!" gue sedikit mengangkat dahu gue guna menunjuk ponselnya yang tergeletak di atas lantai.


Eh, tunggu sebentar, kok itu mirip punya gue bukan punya Mala?


"Itu hape siapa?" tanya gue mulai panik.


Mala mengangkat ponsel itu dan mencoba menghidupkannya. Mampus, itu beneran hape gue?


"Masih idup kok," ucap Mala sambil menunjukkan layar ponsel gue ke arah gue. Meski beneran masih idup tapi tetap saja layarnya terlihat retak, "tinggal ganti anti gores aja ini mah, Gha."


Gue tidak berkomentar apapun selain hanya meliriknya sinis. Gue sudah mulai kehilangan kesabaran menghadapi polah tingkah Mala yang makin aneh saja ini.

__ADS_1


"La, sekarang jujur sama aku, kamu sebenernya hamil lagi ya?"


Tbc,


__ADS_2