Married With My Besti

Married With My Besti
Curhat di Grup


__ADS_3

*


*


*


...Kapan Hilal Abbas Taken Nampak?...


Ohim : Gha, Mala kenapa?


Abbas : anjir lah, ini kenapa nama grup kita ganti lagi sih? Begitu banget lagi namanya😠 kenapa gue lagi yang kena, gue terus yang kena?


Gue langsung tertawa saat membaca chat Abbas yang berisi protes keras perkara nama grup yang sering banget gue dan Ohim ubah. Bukan tanpa alasan kami mengubahnya tapi memang itu semacam motivasi buat Abbas agar terketuk hatinya dan mulai bertindak cepat. Karena sepengamatan kami, Abbas tuh antara kayak niat dan nggak niat.


Ohim : salpok aja lu, Bas😒


Anda : soalnya lu sasaran paling empuk🤣🤣


Ohim : woe, Gha, buruan jawab pertanyaan gue, si Mala kenapa?


Abbas : emang Mala kenapa? Bukannya kemarin udah sehat? Udah dinas juga deh perasaan🤔


Ohim : lo belum liat igs Agha?


Abbas : agak sibuk sih gue kebetulan😎, jadi belum ada waktu buat scroll sosmed. Kan saya pekerja keras yang rajin tidak seperti orang-orang yang nggak mau ambil pusing dan mau terima beres😌


Ohim : lo nyindir siapa? Gue gk ngerasa sih soalnya, masa iya mau nyindir Agha yang kerja kerasnya udah bagai kuda begitu?


Abbas : elu lah!


Ohim : gue juga kerja keras yang rajin ya, lu jangan sembarangan! Lu kata gue ceo di novel-novel yang kerjaannya bikin masalah doang😒


Abbas : keliatannya gitu sih soalnya


Ohim : 😏


Anda : 😂


Abbas : jadi Mala kenapa, Gha?


Gue menoleh ke arah ranjang di mana Mala terlelap di sana. Hari ini yang menunggu Mala cuma gue, Bunda lagi pulang ke rumah dan Mama gue suruh mengajak pulang Kai, alhasil di sela dinas gue nyolong-nyolong waktu buat nemenin Mala.


Gue kemudian mengambil foto Mala yang masih terlelap lalu mengirimkannya di grup


Anda : sent a picture


Anda : lagi istirahat dia. Semalam gk bisa tidur, untung siang ini bisa.


Anda : gue mau kasih kabar guys, kalau Mala beneran hamil. Dia gk sakit.


Abbas : hamil beneran?


Anda : iya, beneran, Bas, ada calon anak kedua gue di perut Mala


Ohim : terus kenapa sampai dirawat kalau cuma hamil? Ada masalah kah?


Anda : semalam sempet pendarahan, kita tahu Mala beneran hamilnya juga karena itu


Abbas : loh, kalian kan sama-sama dokter masa iya baru tahunya gegara pendarahan?


Gue tersenyum miris saat membaca chat Abbas. Benar juga ya, kami kan sama-sama dokter yang berkecimpung di dunia kesehatan. Harusnya lebih peka akan kondisi biar kejadian ini bisa terhindarkan, bukannya malah tahunya setelah Mala mengalami pendarahan.


Ohim : dokter juga manusia kali, Bas

__ADS_1


Ohim : terus kondisi Mala dan calon bayi kalian gimana? Baik-baik aja kan?


Anda : ada sedikit masalah, janin berkembang kurang baik


Abbas : turut bersedih bro, lo yang sabar dan kuat ya


Ohim : terus saran bokap apa?


Anda : bokap gue sebenernya saranin buat relain janinnya, mengingat ini kehamilan tidak terencana dan kondisi janin yang berkembang kurang baik. Bokap mempertimbangin karir dan perhatian Mala ke Kai nantinya juga. Karena mengingat kondisi janin yang sekarang, bokap gue kasih saran agar Mala bed rest total sampai waktu yang belum bisa ditentukan


Ohim : terus lo sendiri mau nya gimana?


Ohim : keputusan kalian gimana?


Abbas : gue tebak Agha pengen pertahanin bayinya terus si Mala maunya relain. Soalnya kan Mala pengennya gap years Kai sama adeknya minimal 3 atau 4 tahun, sedangkan sekarang masih setahun, masih jauh lah


Ohim : gue nanya Agha, Bas, bukan lo


Anda : sayangnya tebakan lo salah @Abbas


Ohim : Mala mau mempertahankan?


Anda : naluri keibuannya


Abbas : padahal Mala itu galak loh


Gue reflek terkekeh lalu mengangguk dan mengiyakan, setuju dengan pendapat Abbas yang satu ini. Mala memang galak, tapi meski demikian dia sebenernya baik dan juga penuh perhatian. Ya, meski lagi-lagi dia sedikit galak.


Anda : kalau yang ini bener, Bas😂


Abbas : tapi kenapa lo mendadak nggak pengen mempertahanin janin Mala? Bukannya lo bilang gk masalah meski jarak usia mereka deket?


Anda : Ya kalau kondisinya begini tentu saja masalah buat gue, Bas. Apalagi bokap sempet kasih saran buat relain


Abbas : emang gk ada harapan? Meski kecil tetep ada harapan kan? Bokap lo kasih saran begitu gue rasa cuma karena ini kehamilan tidak terencana.


Anda : bokap gue kasih sarannya sebagai dokter


Abbas : ohh


Ohim : gue paham, Gha, ini gk mudah buat kalian. Baik lo atau Mala. Tapi gini, yang ngejalani kan Mala, saran gue lu sebagai suami cukup kasih support dan kasih semangat buat dia karena yang dia butuhin cuma itu untuk saat ini. Dukungan dari lo yang paling dia butuhin, Gha


Abbas : gue setuju sama bapak cina arab kw kita


Ohim : lo harus menguatkan Mala dan diri lo, Gha. Jangan lemah! Mala benar-benar butuh support dan dukungan lo


Abbas : lo gk sendirian, bro, ada kita yang bakalan setia di belakang lo buat kasih dukungan dan juga semangat buat lo dan Mala


Gue merasa terharu saat membaca chat yang mereka kirimkan.


Anda : thanks ya kalian


Awalnya gue berniat kembali mengetik beberapa kalimat tambahan, tapi mendadak urung karena Mala terbangun dengan ekspresi seperti ingin muntah. Cepat-cepat gue meraih ember dan mendekatkannya pada mulut Mala. Gue kemudian memijat tengkuknya agar muntahannya keluar lebih mudah.


"Udah?"


Mala mengangguk. Gue kemudian membantu menyeka bekas muntahannya menggunakan tangan kosong. Hal ini membuat Mala langsung berdecak kesal.


"Pake tisu dong, Gha," rengek Mala dengan nada jengkel.


Gue terkekeh kala mendengar rengekannya. "Enggak papa," balas gue santai.


"Aku yang kenapa-kenapa," gerutunya kemudian, "ambil tisu! Jijik banget tau, Gha, lagian kamu tumbenan sih nggak gampang jijik?"

__ADS_1


Gue hanya mengangkat kedua bahu acuh tak acuh sebagai respon.


Mala mendengus. "Lagi berlagak jadi suami siaga ya kamu?"


Sambil terkekeh gue mengangguk dan mengiyakan. "Iya."


Mala mendengus lalu menyandarkan punggungnya pada ranjang. Sementara gue langsung membersihkan telapak tangan menggunakan tisu.


"Mau minum?" tawar gue


Mala mengangguk untuk mengiyakan. Ia bersiap kembali bangun, namun, gue tahan dengan cepat.


"Baringan aja, nggak papa. Kan pake sedotan, La."


Mala langsung berdecak kesal. "Kayak orang penyakitan tahu, Gha," gerutu Mala. Namun, meski demikian ia tetap menurut.


"Mau makan apa abis ini?"


Mala berpikir sejenak. "Rujak?"


Gue mendengus sambil menggeleng. "Nggak pake sambel tapi, ya?" ucap gue pasrah setelah mendapati wajah cemberut Mala.


"Ya itu namanya nggak makan rujak, tapi makan buah, Gha. Gimana sih?" decaknya sebal.


Gue kembali mendesah pasrah. "Ya udah, boleh tapi dikit banget, ya?"


Mala mengangguk semangat. "Yeay," ucapnya sambil bersorak kegirangan. Persis seperti Kai kalau keinginannya dituruti.


Gue mendengus. "Kayak bocah," cibir gue meledek, "padahal bentar lagi mau punya dua bocah," sambung gue kemudian.


"Ngomongin bocah aku jadi kangen Kai deh." Ekspresi Mala berubah muram.


"Mau ditelfonin? Soalnya kan Kai tadi baru abis dari sini, dia masih kecil, La, kasian kalau diajak ke sini terus. Telfon aja ya?" tawar gue langsung meraih ponsel yang tergeletak di atas meja nakas.


Mala menggeleng. "Kalau ditelfon nanti malah tambah kangen." bibirnya merengut sedih.


"Terus maunya gimana?"


Mala berpikir sejenak. Ekspresinya terlihat lucu dengan bibir mengerucut. Entah perasaan gue atau bagaimana, tapi menurutnya tingkah Mala akhir-akhir benar-benar menggemaskan. Entah bawaan bayi atau apa. Yang jelas Mala memang jauh lebih manja akhir-akhir ini, meski untuk mengomel tidak pernah absen.


"Kamu jaga poli jam berapa?"


"Masih sekitar 15 menitan lebih sih. Kenapa?"


Mala tidak langsung menjawab. Ia malah garuk-garuk kepala sambil mengigit bibir bawahnya.


"Kenapa?"


"Kayaknya anak kamu maunya deket-deket kamu terus deh," ucap Mala dengan bibir mengerucut lucu.


Spontan gue langsung terbahak. "Bagus dong?"


Mala menggeleng. "Tapi akunya bosen sama kamu."


"Ya udah, aku pergi."


Gue pura-pura merajuk dan langsung berdiri. Dengan gerakan cepat, Mala langsung menahan lengan gue dengan ekspresi cemberutnya.


"Temenin aku sampe ketiduran ya, telat dikit nggak papa."


"Eh, kok gitu?" gue menaikkan sebelah alisnya heran.


"Sekali aja." Mala kembali merengut dengan ekspresi sedikit memelas.

__ADS_1


Gue terkekeh lalu mengangguk setuju. Sejujurnya gue benar-benar merasa tidak terbiasa dengan perubahan sikap Mala yang begini.


Tbc,


__ADS_2