
*
*
*
Memiliki rumah sendiri setelah menikah adalah impian semua pasangan yang sudah menikah, bahkan beberapa yang belum menikah pun lebih dulu mentargetkan diri mereka agar memiliki rumah terlebih dahulu sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah. Tapi untuk Abbas, pria itu memilih membangun rumah bersama pasangannya, jadi impian memiliki rumah sendiri baru terwujud saat perempuan itu bersedia menikah dengannya.
Senyum sumringah terlihat jelas pada wajah Alisa saat mereka akhirnya turun dari mobil mobil. Padahal mereka bahkan belum masuk ke dalam area rumah mereka tapi melihat dar kejauhan saja sudah membuat Alisa tersenyum. Akhirnya rumah impiannya dengan sang suami hampir selesai pengerjaannya, ia rasa tidak butuh waktu lama agar mereka bisa tinggal di sana.
“Bas, kok kamu nggak bilang kalau rumah kita udah hampir jadi begini?”
Abbas mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. “Kalau bilang itu artinya nggak jadi surprise dong?”
Alisa cemberut. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, karena senyum cerah perempuan itu langsung terbit tak lama setelahnya.
“Makasih, ya, selalu berusaha buat bahagiain aku. Aku seneng banget deh, Bas.”
Abbas mengangguk seraya memeluk pinggang sang istri, ia kemudian memberikan kecupan manis pada pelipis perempuan itu tak lama setelahnya. “Sama-sama sayang, aku juga seneng kok kalau kamunya seneng. Terima kasih juga ya udah kasih aku kesempatan buat bahagiain kamu. Masuk ke dalam, yuk!”
Alisa mengangguk setuju, lalu keduanya masuk ke dalam. Senyum Alisa makin cerah saat mereka masuk ke dalam rumah. “Bagus, ya,” komentarnya kemudian.
Abbas mengangguk dan mengiyakan. “Kamu suka?”
__ADS_1
“Banget. Jadi nggak sabar pengen cepet-cepet pindah ke sini.”
“Sabar, ya, bentar lagi kita bisa pindah ke sini kok. Untuk interior dan lainnya bebas kamu mau yang gimana.”
Alisa mengangguk cepat. “Nanti abis pulang dari sini kita mampir ke IKEA, yuk,” ajaknya kemudian.
Abbas tertawa. “Enggak sabar banget ya kamu?”
“Iya.”
Abbas terkekeh gemas saat melihat ekspresi lucu sang istri. Mungkin begini yang disebut dengan bahagia itu sederhana. Melihat orang yang kita cintai bahagia sudah membuat kita ikut bahagia. Abbas merasa bersyukur karenanya. Ia tidak akan meminta hal yang neko-neko, cukup melihat sang istri bahagia itu lebih dari cukup.
*
*
*
Abbas pikir sang istri akan langsung tidur karena sudah merasa kelelahan berkeliling hampir seharian tadi. Tapi ternyata ia salah. Sang istri masih nampak sibuk dengan olshop yang menampilkan berbagai jenis perabotan rumah tangga.
"Menurut kamu warnanya bagus yang ini atau yang tadi di toko sih, Bas?"
Abbas sedikit memiringkan wajahnya utuk melihat ke arah ponsel sang istri. Posisi mereka kini sudah berbaring di atas ranjang, Abbas sendiri suda terlihat mulai mengantuk tapi Alisa terlihat sedang asik dengan ponselnya.
__ADS_1
"Sama aja nggak sih?"
"Ya beda dong, Bas, yang tadi itu lebih ke abu-abu terus yang ini lebih ke grey gitu."
Abbas manggut-manggut saat meresponnya, meski sebenarnya ia tidak terlalu paham karena mengantuk.
"Aku sebenernya suka yang di toko tadi, Bas, tapi harganya murahan yang di online deh. Gimana ya?"
"Ya kalau kamu suka yang di toko jawabannya udah jelas lah, kita ambil yang di toko aja. Lebih murah ya biarin, yang penting kamu suka dan puas."
Alisa sedikit merengut. "Tapi kalau harga lebih murah juga aku lebih puas lagi, Bas."
"Ya dari pada dapet harga murah tapi kamu nya nggak puas? Mending mana?" Abbas menguap lalu membenarkan selimutnya, "mending kita tidur deh. Yuk , aku udah ngantuk. Lagian besok juga kamu kan harus ngajar kelas pagi, daripada telat mending kita tidur." ia kemudian merebut ponsel sang istri lalu menyimpannya begitu saja.
Alisa tentu saja langsung protes. "Abbas, iiih, aku masih mau liat-liat dulu."
"Tidur!"
Alisa langsung berdiri untuk mengambil ponsel yang tadi sempat disembunyikan sang suami. Setelah ketemu, ia langsung kembali bergabung dengan Abbas yang terlihat sudah sangat mengantuk. Pria itu berdecak lalu membenarkan selimutnya.
"Terserah kamu lah, Sa, tapi aku nggak mau tanggung jawab kalau semisal besok kamu bangunnya kesiangan."
Alisa hanya merespon dengan mengacungkan jempolnya.
__ADS_1
Tbc,
"