Married With My Besti

Married With My Besti
Masih Ngeyel


__ADS_3

*


*


*


Gue langsung terbangun dari tidur pulas gue saat mendengar suara gemercik air yang beradu dengan suara seperti orang muntah. Gue menoleh ke arah sebelah lalu turun dari ranjang. Dengan langkah santai, gue kemudian berjalan menuju kamar mandi. Dan benar saja, ternyata memang Mala yang sedang muntah-muntah dengan wajah pucatnya.


Karena sudah menebak sebelumnya, gue tetap pada ekspresi tenang gue sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada dan menyandarkan bahu pada kusen pintu.


"Ngapain?" tanya gue sambil menguap.


Mala berbalik sambil menatap gue sinis. "Gali sumur," balasnya ketus.


Gue mendengus sambil melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar mandi, tangan gue kemudian terulur membantu memijat tengkuk Mala. Karena ia terlihat sedikit kesusahan mengeluarkan sesuatu di dalam perutnya.


"Katanya udah sembuh. Katanya udah sehat, kok masih muntah?" sindir gue kemudian.


Mala terlihat tidak terlalu menggubrisnya, karena fokusnya sekarang adalah mengeluarkan sesuatu yang bergejolak di dalam perutnya yang kali ini berhasil keluar berkat pijatan gue pada tengkuknya.


"Makanya jangan ngeyel kalau dikasih tahu suami itu, La. Gegara makan mi instan semalam pasti."


Mala menegakkan tubuhnya, setelah selesai mengeluarkan isi perutnya. Ia kemudian menggelengkan kepala tidak yakin tak lama setelahnya.


"Kayaknya bukan deh," balas Mala sambil membersihkan bibirnya.


Gue menaikkan sebelah alis heran. "Terus? Kenapa? Karena morning sick?"


Gue kembali menyilangkan kedua tangan di depan dada. Sedangkan Mala langsung sewot dan keluar dari kamar mandi dengan wajah cemberutnya.


Setiap gue bahas hal ini Mala memang akan selalu bersikap begini. Gue menghela napas panjang, mencoba meyakinkan diri agar lebih bersabar menghadapinya. Karena siapa tahu Mala beneran sedang hamil. Toh, tidak pun gue tetap harus sabar karena biasanya gue yang suka rewel.


"Mau dibikinin teh anget?" tawar guesetelah menyusul Mala.

__ADS_1


Mala menggeleng. "Air putih aja."


Gue mengangguk paham lalu turun ke bawah untuk mengambilkan minum. Setelah selesai mengambil minum, gue bergegas ke kamar lagi. Gue sedikit mengintip ke arah box di mana Kai masih terlelap di sana sebelum mendekat ke arah Mala dan menyerahkan air minum untuk Mala.


"Kok dingin?" protes Mala saat gelas itu berpindah ke tangannya.


Gue menggeleng cepat. "Enggak kok, bukan dingin," elak gue. Soalnya gue ingat betul kalau gue nggak mengambil air minum dari dalam kulkas.


"Tapi nggak anget, Gha."


Kali ini gue mengangguk dan mengiyakan. "Lah, emang kamu pesennya anget? Kan cuma bilang air putih aja kan?" tanya gue memastikan. Benar kan tadi Mala cuma bilang kalau air putih aja.


Mala merasa kesabarannya benar-benar sedang diuji, ia berdecak kesal sambil menatap gue galak. "Ya logikanya aja lah, Gha, orang kalau abis mual apalagi sampai muntah pasti nggak enak banget mulutnya. Bisa-bisanya kamu ambilin air dingin bukan air hangat."


"Itu bukan air dingin, La," elak gue tidak terima, masalahnya kan gue nggak ambilin dia air dingin, "ya udah, bentar aku ambilin lagi," sambung gue kemudian.


"Enggak usah. Mending aku ambil sendiri aja," ketus Mala judes, "punya suami kok nggak bisa diandelin banget,"gerutunya kemudian.


"Kamu itu yang parahnya kebangetan, masa gitu aja harus dikasih tahu."


"Ya, namanya nggak tahu, ya harus dikasih tahu dulu kan, La, biar tahu?"


Mala berdecak kesal tanpa berkomentar lebih lanjut dan memilih untuk langsung keluar kamar. Sepertinya ia sudah enggan melanjutkan perdebatan ini. Mungkin karena takut nanti akan mengusik tidur Kai.


*


*


*


"La, coba ini."


Gue menyerahkan kantong kresek kecil berwarna hitam di hadapan Mala, yang kini tengah menikmati sarapan roti bakarnya. Meski habis muntah-muntah, biasanya Mala tidak terlalu kesulitan untuk makan setelahnya.

__ADS_1


"Nah gini dong, jadi suami tuh yang perhatian, peka, inisiatif. Kalau tahu semisal obat anti mual yang kemarin kurang ngefek, ya dicariin yang lain. Kalau begini kan aku jadi percaya kamu ini beneran dokter, Gha," ucap Mala tetap asik menikmati roti bakarnya, padahal ia belum mengintip isi plastik yang gue kasih.


"Nggak mau liat isinya dulu baru komentar?" balas gue, yang akhirnya membuat Mala mendadak curiga.


Cepat-cepat ia membuka kantong plastik itu. Dan betapa terkejutnya Mala saat justru menemukan testpack bukan obat anti mual seperti dugaannya. Lalu dengan emosi ia melempar testpack itu ke arah gue.


Gue terkekeh samar. "Ya salah sendiri disuruh cek nggak mau, dibeginiin nggak mau, dibegituin nggak mau. Ya udah, aku beliin testpack sekalian."


Gue sudah merasa benar-benar kewalahan menghadapi Mala yang moodnya gampang banget naik-turun, yang dari kemarin juga sering mual muntah. Gue merasa kalau Mala itu beneran hamil dan gue mau Mala memastikan itu.


"Ogah!" tolak Mala mentah-mentah. Ia melirik gue tajam.


Gue menghela napas panjang. "Kamu ngerasa ada yang aneh sama diri kamu nggak sih, La? Menurut aku, kamu tuh beneran hamil lagi deh. Kita coba tes ya?" bujuk gue kemudian.


"Enggak!"


"Iya."


"Enggak."


"Iya."


"Enggak."


"Ah, tahu lah, ngeyelan banget sih kamu jadi istri. Dikasih tahu juga." gue berdecak kesal sambil menatap Mala galak, "terus aku harus gimana ngadepi kamu yang begini, La? Jangan begini kenapa sih?"


"Kamu juga sama ngeyelan kali, Gha," balas Mala tidak mau kalah, "udah sana buruan naik ke lantai atas. Cek siapa tahu Kai udah bangun. Kalau udah bangun langsung ajakin turun ya, jangan diajak mandi dulu. Ntar aja mandinya kalau udah selesai makan."


"Kamu serius nggak mau coba tes?"


Dengan wajah tanpa keraguan, Mala langsung menggeleng cepat. Gue menghela napas pasrah, kenapa susah banget sih ngasih tahu Mala?


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2