Married With My Besti

Married With My Besti
Berguru ke Agha


__ADS_3

*


*


*


Agha sedikit mengerutkan heran saat menyadari keberadaan Abbas yang benar-benar datang mendatanginya ke rumah sakit tempatnya dinas, bukan apa-apa ia merasa heran sekaligus iri terhadap pria itu, bagaimana tidak, pria itu akhir-akhir ini bersikap seolah tidak memiliki pekerjaan dan itu membuatnya iri.


"Lo beneran ke sini, Bas?"


Pria itu langsung mengangguk sebagai jawaban. Helaan napas panjang terdengar tak lama setelahnya. Hal itu tentu saja mengundang kerutan heran pada pria itu. Ada apa gerangan dengan pengantin baru ini? Sudah dilanda masalahkah? Batinnya bertanya-tanya.


"Kenapa lo sibuk banget sampai nggak bisa gue ganggu kah?"


"Bukan begitu, cuma heran aja sih. Setahu gue Alisa nggak ambil cuti lama deh, kok lo nggak kerja?"


"Ngantor kok gue, cuma emang nyolong waktu buat ke sini aja." Abbas kemudian mengintip arlojinya, "temenin gue ngopi bentar,yuk?'' ajaknya kemudian, "pengen ngobrol deh gue. Tadi gue mau ke kantor Ohim awalnya, tapi itu orang nggak bisa karena ada meeting."


Agha mengangguk paham lalu mengajak pria itu ke salah satu Cafe langganannya, yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit. Kebetulan perutnya butuh amunisi. Batinnya bertanya-tanya, mau curhat apa pria ini? Masa iya pria ini berselisih paham terus dengan sang ibu. Baru juga menikah berapa hari.


Agha melirik ragu-ragu ke arah Abbas saat keduanya tengah menunggu pesanan mereka. Entah kenapa ia merasa kalau Abbas sedang beradu dengan pikirannya sendiri. Bukannya langsung mengutarakan isi kepalanya. Ingin sekali rasanya ia menanyakan apa yang mengganggu pikiran pria itu, tapi Agha merasa tidak enak melakukannya. Alhasil, yang mereka lakukan saling diam seperti orang yang sedang musuhan.


"Gha," panggil Abbas.


Agha langsung bernapas lega saat akhirnya Abbas membuka suara. "Ya? Gimana, Bas?"


Bukannya langsung menjawab, Abbas kembali sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Bas," panggil Agha ragu-ragu, "lo kenapa sih? Kalau lo nggak langsung pada intinya yang ada ntar gue keburu sibuk ngurusin pasien gue loh. Bukan maksud sok sibuk, tapi aseli gue emang beneran sibuk sih."


Abbas menghela napas panjang. "Gue bingung gimana ngomongnya, Gha."


"Bingung yang gimana? Kan tinggal nanya, kayak sama siapa aja sih lo."


Abbas kembali menghela napas panjang. Hal ini semakin membuat batin Agha bertanya-tanya.


"Lo jangan bikin gue makin penasaran lah, Bas. kenapa sih? Abis berantem sama nyokap lo lagi?" Agha menggeleng cepat lalu meralatnya, "sorry, maksud gue berselisih paham."


"Enggak, bukan itu kok."


"Terus?"

__ADS_1


"Gue mau nanya."


Agha berdecak kesal. "Iya, iya, Bas, gue udah mempersilahkan lo untuk bertanya dari tadi loh, lo jangan mencoba menguji kesabaran gue ini dong. Dokter koas gue tadi abis bikin ulah, gue bawaannya pengen marah-marah aja nih."


Emosi Agha benar-benar nyaris meledak saat Abbas justru bilang. "Enggak jadi deh, lain kali aja gue ceritanya."


Dengan emosi yang mencoba ia tahan sekuat tenaga, Agha mendengus. "Lo pikir bakalan ada lain kali setelah lo begini, Bas? Jangan harap!"


"Kok lo emosian?"


"Ya lo juga yang bikin gue emosi, Bas, kalau lo lupa."


Bukannya merasa bersalah atau langsung mengutarakan niat dan tujuannya datang kemari, Abbas malah garuk-garuk kepala seperti orang kebingungan.


Agha menghela napas panjang. "Ya udah lah, Bas, kalau lo ngerasa kurang nyaman curhat ke gue, nggak papa. Mending lo curhat ke Ohim aja lah ntar," ucapnya pasrah. Ia kemudian memilih untuk menyantap pesanannya. Perutnya lapar memberontak minta diisi.


"Menurut gue kalau curhat ke Ohim kurang tepat deh, soalnya kurang related sama apa yang gue alami."


"Terus kalau sama gue lebih related? Gitu?"


Abbas kembali mengangguk cepat untuk mengiyakan.


"Ya udah, buruan cerita! Ini beneran waktu gue nggak banyak, gue harus diskusi sama tim gue juga. Mau bahas kasus penyakit."


"Oke, gue bakalan lanjut cerita asal abis ini lo jangan ketawain gue, ya!"


"Ya, Tergantung. Kalau lucu ya masa iya nggak gue ketawain."


Abbas mengangguk paham lalu mencoba untuk meyakinkan diri. "Lo dulu pas mau 'nganu' sama Mala ngilangin canggungnya gimana?"


Uhuk Uhuk Uhuk


Agha seketika langsung terbatuk-batuk karena terkejut dengan pertanyaan Abbas. Kedua matanya memerah karena efek tersedak.


"Kalian belum? Kok bisa?" Agha memasang wajah tidak percaya dramatis, "anjir, kalian udah nikah berapa hari!"


Agha tidak tertawa sesuai yang ditakutkan Abbas. Tapi masalahnya sekarang tatapan Agha terlihat seperti menahan diri agak tidak tertawa.


Abbas langsung menendang sebelah kaki pria itu karena tidak memelankan suaranya sehingga menarik beberapa pengunjung Cafe.


"Sorry, kelepasan," sesal Agha tidak terlalu merasa benar-benar bersalah. Itu lah yang terlihat oleh Abbas, "ya abis lo aneh-aneh. Umur lo berapa, anjir, masa iya kalah sama bocah? Masa iya begini aja masih harus berguru. Lo duluan kalau nganu sama pacar lo mana?"

__ADS_1


"Gue bingung."


"Bingung gimana? Bingung masukin ke mana?"


Abbas berdecak kesal sambil melotot tajam. "Mulut lo, Gha."


Kali ini Agha tertawa. "Ya abis, lo bilang bingung. Kali aja lo bingung ke mana masukinnya."


"Sumpah, Gha, nggak lucu banget. Gue beneran bingung, harus gimana ngomongnya ke Alisa."


"Padahal ya gampang aja, tinggal minta. Nih, gue kasih contoh. Sa, bikin anak, yuk! Udah beres kan? Ngapain pusing sih?" Agha berdecak sambil geleng-geleng kepala heran.


"Tapi ini masalahnya gue sama Alisa temenan terlalu deket, gue agak ragu cara mintanya. Takut kalau Alisanya nanti kurang siap."


Agha langsung memutar kedua bola matanya. "Coba lo pikir lagi, lo pikir gue sama Mala gimana? Musuhan? Kita juga sama-sama bolo kentel kali. Gue sama Mala bahkan saling manggil lo-gue sedangkan lo udah aku kamu. Harusnya sih nggak susah."


Abbas menggeleng tidak setuju. Ia benar-benar merasa canggung dan bingung cara memperbaikinya. Bahkan keduanya sampai sekarang tidak terlalu mengobrol banyak.


"Justru gue ngerasa ini susah banget loh, Gha."


"Masa sih? Gue kok ngerasa biasa aja deh, nggak ada canggung dan ya terjadi begitu aja. Gue lebih canggung pas kemarin dia abis kuret sih, takut banget gue kalau bikin dia sakit. Tapi untung Mala meyakinkan gue kalau semua baik-baik saja dan akan baik-baik saja, gitu doang sih."


"Terus kenapa gue sama Alisa berasa kayak aneh ya? Apa gue nggak menarik? Dia lebih suka sama mantan suaminya itu? Apa cuma karena gue belum pengalaman."


Pletak!


Dengan gerakan gemas, Agha memukul kepala Alisa termasuk gemas.


"Enggak usah aneh-aneh! Kata gue ya mending langsung jujur sih. Maksudnya tanyain pelan-pelan kira-kira Mala udah siap atau belum."


"Hah?" Abbas melongo, "lo suruh gue lepas perjaka sama bini lo?"


Agha makin dibuat melongo karenanya. "Alisa," komentarnya, "Jadi lo masih perjaka?" tanyanya random tiba-tiba


"Bukan itu intinya."


"Gokil," komentar Agha tak lama setelahnya. Saat menyadari kalau Abbas baru saja berbo


"Apanya?" tanya Abbas heran.


"Enggak ada. Pokok kalau lo mau ilangin canggungnya ya jujur sama Alisa. Enggak papa kali, Bas," ucap Agha sambil mengangguk dan mengiyakan. Mencoba agar Abbas tidak terlalu mengkhawatirkan yg tidak-tidak.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2