
*
*
*
Wajah Alisa seketika langsung panik saat ia tidak menemukan stok pembalut di dalam lemari. Cepat-cepat ia mencari keberadaan sang suami, yang ternyata kini sedang memasak di dapur.
"Kenapa?" Abbas menoleh sekilas lalu kembali fokus mengaduk nasi gorengnya.
"Bas, aku boleh minta tolong."
"Boleh. Apa sih yang enggak buat istri tercinta? Mau minta tolong apaan sih? Sok, atuh, tinggal sebut!"
"Bener ya, kamu mau bantu?" ulang Aisa mencoba memastikan.
Tanpa keraguan, Abbas langsung mengangguk cepat. "Iya, beres, tinggal sebut kamu mau minta tolong apa sih, kayak sama siapa aja sih, Sa. Minta tolong, ya, tinggal bilang."
"Beliin pembalut."
"Hah?"
"Beliin aku pembalut, Abbas," ulang Alisa membuat Abbas melongo. Ia bahkan hampir lupa mematikan kompor saking kagetnya dengan perintah sang istri.
Mampus. Ia tidak punya pengalaman beli begituan, tidak seperti Agha yang sudah sangat sering beli begituan. Lagian tumben banget sih ini perempuan nggak menyetok barang yang selalu dibutuhkan tiap bulan ini. Kenapa bisa lupa? Batinnya mulai kesal.
"Bas," decak Alisa sedikit kesal, "kamu denger aku ngomong nggak sih?"
"Hah?"
Alisa yang sedang berusaha mati-matian menahan nyeri pada perutnya pun semakin bertambah kesal. Ditambah lagi sensasi tidak nyaman karena belum memakai pembalut.
"Kamu ini ditanyain kenapa jawabnya cuma hah-heh-hoh aja sih?" decaknya sebal, "kamu denger nggak aku tadi ngomong apa?"
Abbas menggaruk-garuk bagian kepalanya yang tidak gatal lalu mengangguk. "Ya, denger."
"Terus kenapa hah-heh doang jawabnya?"
Abbas diam karena tidak tahu harus membalas apa.
__ADS_1
"Kan, sekarang malah diem aja. Kamu ini jangan bikin aku tambah emosi bisa nggak sih, Bas? Tolong lah, aku lagi nyeri haid ini, jangan kamu uji kesabaran aku."
Abbas manggut-manggut cepat. "Oke, oke, aku berangkat sekarang." tanpa banyak berpikir lebih lama, ia langsung bergegas meninggalkan apartemen menuju mini market.
Sesampainya di sana, Abbas mendadak seperti orang bodoh. Tunggu, sebentar, kenapa dirinya tadi langsung pergi begitu saja tanpa bertanya kepada sang istri lebih dahulu. Kan ia sama sekali tidak punya pengalaman membeli pembalut. Lantas apa yang harus ia lakukan sekarang?
"Ada yang bisa kami bantu, Kakak," sapa si penjaga kasir mini market saat mengetahui Abbas yang terlihat kebingungan.
Pria itu menoleh sambil meringis lalu mengangguk cepat tak lama setelahnya. "Anu, Mbak, kira-kira rak pembalut di mana ya?"
"Oh, Kakaknya mau cari pembalut buat pacarnya ya?"
Abbas menggeleng. "Bukan. Tapi buat istri saya."
"Oh, maaf, Kak. Rak pembalut ada di bagian belakang paling ujung, Kak, deket pempers."
Abbas manggut-manggut paham lalu menuju rak paling belakang setelah mengucapkan terima kasih kepada sang penjaga kasir. Ia kembali tercengang saat melihat deretan pembalut dengan berbagai merk dan ukuran. Mampus, ini yang dipakai Alisa yang merk mana coba?
Sekarang ia menyesal kenapa dia tidak memperhatikan sang istri tiap kali berbelanja?
Sekarang ia sudah tidak malu karena berdiri di depan rak pembalut, tapi yang jadi masalah ia kebingungan.
"Maaf, Mbak," panggil Abbas pada perempuan yang baru saja lewat, "boleh saya nanya sebentar."
"Saya bingung mau beli pembalut buat istri saya, soalnya saya nggak paham soal beginian, Mbaknya bisa bantu nggak? Kira-kira Mbaknya biasa pake apa?"
"Waduh, Mas, selera orang biasanya beda-beda. Beda merk, beda ukuran, terus ad yang bersayap atau enggak. Istri Mas-nya biasa pake yang gimana?"
Jujur, Abbas sedikit kesal dengan jawaban perempuan itu. Karena kalau ia tahu, ia tidak mungkin repot-repot bertanya, lalu kenapa perempuan ini malah balik bertanya padanya?
"Kalau saya tahu, saya nggak akan nanya Mbaknya."
Perempuan itu meringis malu. "Iya, juga sih. Duh, gimana ya, Mas, saya nggak tahu harus gimana bantuinnya. Kalau saya sih biasa pake yang ini, yang nggak ada sayapnya. Sebagian orang emang ada yang nggak suka pake sayap, tapi sebagian juga mau yang pake sayap. Tapi kayaknya kebanyakan suka yang ada sayapnya deh soalnya mungkin lebih ngerasa aman, nggak takut bocor. Ini pendapat saya aja sih, Mas."
Abbas manggut paham. Otaknya kembali berpikir keras sebelum akhirnya menoleh ke arah perempuan itu. "Apa saya ambil dua-duanya aja ya? Ntar kira-kira saya bakal kena omel nggak?"
"Boleh tuh, Mas, biasanya kalau yang biasa pake saya bisa pake yang nggak pake sayap tuh buat kalau haidnya udah nggak terlalu deres. Terus kalau yang biasa nggak pake sayap masih tetep bisa kok pake itu karena udah terlanjur dibeli."
Abbas kali ini mengangguk yakin. "Oke, kalau gitu saya ambil dua-duanya saja deh," ucapnya sambil mengambil dua bungkus pembalut dengan isi yang banyak.
__ADS_1
"Eh, tapi, Mas."
"Kenapa?"
"Itu," ucap perempuan itu ragu-ragu, "anu, kayaknya jangan beli yang isinya banyak deh, yang ini aja," sarannya kemudian.
"Oke, makasih, ya. Belanjaan kamu mana? Itu aja? Ayo, sekalian saya bayarin, itung-itung buat ucapan terima kasih."
"Eh, nggak usah, Mas, terima kasih. Mas-nya duluan aja, nanti istrinya keburu nyariin."
"Oh iya, bener juga deh. Kalau gitu saya permisi, ya, sekali lagi terima kasih ya. Saya duluan."
"Iya, Mas, semoga pilihan saya nggak salah ya?"
"Aamiin."
Abbas langsung bergegas untuk membayar dan pulang begitu saja. Takut kalau sang istri kelamaan menunggu.
Begitu ia sampai di rumah, Abbas panik sekali saat mendapati sang istri sedang meringkuk sambil memegangi perutnya.
"Sa, kamu kenapa?"
"Perut aku sakit banget, Bas, sakitttt."
"Terus gimana? Mau ke rumah sakit?" tawar Abbas khawatir.
Alisa menggeleng lemah. Wajahnya terlihat begitu pucat.
"Cuma mens, Bas, nggak perlu sampai ke rumah sakit."
"Tapi muka kamu pucat banget, Sa, nggak biasanya loh kamu begini. Aku khawatir. Telfon Agha gimana?"
Alisa kembali menggeleng. "Pembalut aku mana?"
"Ini, tapi nggak tahu sih bener atau enggak." Abbas kemudian membantu Alisa yang terlihat berusaha hendak bangun, namun, sedikit kesusahan, "ke rumah sakit aja gimana? Serius, kamu beneran keliatan pucet, nggak biasanya loh kamu begini."
Alisa mencoba untuk tersenyum lalu mengelus sebelah pipi Abbas. "Enggak papa, aku ganti dulu lah biar nggak risih."
Dengan sedikit susah payah, Alisa berdiri dan melangkah meninggalkan ruang tamu. Namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba tubuhnya oleng dan ambruk.
__ADS_1
"Astagfirullah, Sa!"
Tbc,