
*
*
*
"Kai, sayang, udahan, yuk, tidur! Papa udah ngantuk banget ini," ucap Agha dengan nada bicara memelasnya.
Mala, istrinya sudah tidur sejak satu jam yang lalu sedangkan Kai, putra mereka masih sibuk bermain kesana-kemari. Seolah menulikan telinganya dan tidak menggubris kalimat sang Papa sama sekali. Tadi begitu bangun Kai langsung mencari Mala, bahkan ia sempat menolak saat Agha mencoba menggendongnya. Tapi tentu saja pria itu tetap memaksanya lalu mengajak Kai untuk turun. Kai baru diam saat digendong Mala, tapi begitu perutnya kenyang, Kai beralih menempel padanya sampai sekarang.
"Kai, sayang, Papa beneran ngantuk, nggak bercanda. Besok pagi Papa ada operasi loh, harus visit pagi-pagi juga, kalau sampai telat gimana?"
Kai masih abai. Bocah itu langsung pergi meninggalkan Agha untuk mengambil mainan yang lain. Hal ini membuat Agha semakin frustasi dibuatnya.
"Astaga, Tuhan, anak siapa sih kamu ini, Nak! Kalau dikasih tahu nggak pernah mau dengerin," keluh Agha putus asa. Ia menoleh ke arah ranjang di mana sang istri sudah terlelap nyenyak. Mau bangunin Mala nggak enak karena istrinya itu pasti kecapekan jaga Kai seharian. Tapi enggak bangunin, dia yang kecapekan karena harus begadang demi menjaga anak mereka. Sekarang ia merasa serba salah dibuatnya.
"Ngeng... Ngeng..." ucap Kai sambil menghampiri Agha dan menyerahkan mobil-mobilan kepada sang Papa.
Agha menggeleng cepat. "Enggak mau, Papa capek, ngantuk, Kai main sendiri aja," tolaknya kemudian, "Papa beneran ngantuk, sayang. Suer, nggak bohong deh," imbuhnya sambil mengangkat kedua jarinya tinggi-tinggi.
Tapi Kai terlihat tidak peduli. Ia tetap memaksa sang Papa agar mau bermain dengannya.
"Kamu mah enak, Kai, tadi udah tidur, siang juga tidur siang, besoknya bisa bangun sesuka hati kamu. Lah, Papa? Papa enggak, Nak. Udah siang nggak tidur siang, capek kerja, sekarang harus begadang nemenin kamu, besok masih harus bangun pagi-pagi. Kok kamu tega sih sama Papa?"
"Ngeng!" seru Kai ngotot. Memaksa Agha agar menerima mainannya. Tapi Agha masih menggeleng tegas.
"Enggak. Papa ngantuk," tolaknya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Ngeng... Ngeng..."
Tidur Mala akhirnya terusik juga karena suara ribut antara Agha dan juga Kai. Ia bangun dari posisi berbaringnya dengan kedua mata yang masih enggan terbuka.
"Pada ngapain sih? Udah malem loh ini, nggak tidur?"
Menyadari Mala bangun, Agha langsung menghampiri sang istri dan mengadu padanya.
"La, itu Kai, nggak mau diajak tidur padahal aku udah ngantuk berat. Liat mata aku udah tinggal 5 watt, mana besok aku ada visit pagi-pagi sebelum operasi. Aku takut kesiangan, La."
"Astaga, ya ampun!"
Mala menguap sekali lalu turun dari ranjang. "Ya udah, sana kamu tidur duluan. Biar Kai aku yang jaga."
__ADS_1
"Enggak kamu ajak tidur aja Kai-nya?"
Mala kembali menguap. "Nanti kalau ngantuk juga tidur sendiri, dia sekarang nggak suka dipaksa tidur, yang ada ntar malah ngamuk. Kamu tidur aja duluan. Biar Kai aku yang jaga."
Agha mengangguk paham lalu memilih langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Karena sudah mengantuk berat, ia langsung terlelap tak lama setelahnya.
*
*
*
Agha langsung tertawa kegelian saat tiba-tiba merasakan pipinya dikecup. Batinnya terheran-heran, tumbenan sekali sang istri bangunin pake acara kecup-kecup segala. Biasanya juga brutal banget kalau bangunin dirinya. Kira-kira abis nonton apaan ya sang istri. Batinnya bertanya-tanya.
Belum sampai membuka mata sepenuhnya, tiba-tiba ia merasakan perutnya diduduki. Merasakan pantat yang kecil membuat Agha langsung menyimpulkan siapa sang pelaku. Dan benar saja saat ia membuka mata, ia langsung menemukan sang putra sedang tersenyum cerah saat menatapnya. Secara tidak terduga wajah mungil itu mendekat dan kembali mengecup pipinya.
"Astaga, ya ampun, Kai, kok kamu udah bangun aja sih? Mama kamu mana?"
"Mam."
"Oh, maksudnya masak?"
Kai mengangguk sebagai tanda jawaban.
Kai jelas saja langsung memberontak lalu menggeleng tegas.
"Ini masih pagi, kalau nggak mau tidur mau ngapain?"
Kai kemudian menunjuk ke arah sajadah yang masih terbentang di atas lantai. Biasanya kalau salat sendiri-sendiri, Mala memang memilih untuk tidak langsung menggulungnya. Membiarkan Agha lebih dulu memakainya baru setelah itu akan digulung pria itu. Jadi kalau sajadah itu belum digulung jawabannya sudah jelas. Pasti Agha belum melaksanakan salat subuh.
Agha jelas tidak bisa menahan diri untuk tidak melongo. Terkejut, tentu saja. Karena Kai seolah sedang mengingatkan dirinya agar melaksanakan salat subuh. Kalau tidak diingatkan Mala, biasanya Agha suka kelewat salat subuh karena bangun kesiangan.
Perasaan haru melingkupi dirinya. "Masha Allah, Nak, kamu lagi ngingetin Papa buat salat subuh? Ya ampun, anak gue udah beneran gede ya? Udah pinter ya? Udah mau punya adek juga?"
Untuk kalimat terakhir, agaknya Agha sedikit melantur. Namun, lucunya Kai justru mengangguk seolah sedang mengiyakan.
"Sabar dulu, ya, nanti Papa sama Mama lagi mau usaha biar kamu cepet punya adek lagi. Doain nanti kalau adek kamu udah ada di perut Mama, biar dia kuat dan sehat, nggak sakit-sakit, nggak ngerepotin Mama juga. Oke?"
Dengan wajah polosnya, seolah paham semua kalimat Agha, Kai mengangguk. Hal ini membuat Agha merasa senang bukan main.
"Oke, kalau gitu Kai tunggu sebentar di sini ya, Papa ambil air wudhu dulu, oke. Nggak boleh nakal!" ucap Agha memperingatkan sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Selesai menunaikan ibadahnya, Agha langsung mengajak Kai turun ke bawah, mencari keberadaan Mala.
"La, Mala! Sayang! Kamu di mana?"
Mala yang sedang asik mencuci sayuran berdecak kesal. "Apaan sih? Berisik banget, ganggu tetangga kamu ntar yang ada, Gha."
"Hehehe." Agha meringis malu-malu lalu menurunkan Kai dari gendongannya dan mendudukkan sang putra pada baby chairnya.
"La, kamu tahu nggak tadi Kai masa nyuruh aku salat subuh dong. Hebat banget deh anak aku. Keren. Tadi kan aku ajak dia tidur lagi karena masih pagi, eh, dia nolak dong, terus-terus dia malah nunjuk ke arah sajadah yang abis kamu gunain pas salat subuh tadi," cerita Agha heboh, "terus-terus nggak sampai di situ tadi aku tanya dia udah mau punya adik apa belum, dia bilang mau. La, Kai beneran udah gede ya?"
"Ya, emang beneran udah gede kali, Gha. Kamu lupa kalau dia hampir mau punya adik?"
"Kita wujudin, yuk, biar dia cepet punya adik."
"Nanti dulu ya, pelan-pelan. Aku nggak mau terburu-buru. Kita nggak usah nunda, tapi jangan program juga, biasa aja. Boleh kan?"
"Boleh dong. Boleh banget sayang." Agha kemudian berjalan mendekat ke arah sang istri, bermaksud memberi ciuman atau sekedar kecupan. Tapi dengan cepat Mala menghindar.
"Ada Kai, Gha," tegur Mala kemudian, "tuh, liat! Dia lagi ngeliatin kita," sambungnya kemudian.
Agha langsung menoleh ke arah Kai, dan benar saja ternyata putranya sedang menatap mereka seperti orang kebingungan.
"Hehe, nggak papa kok, sayang. Mama sama Papa nggak lagi ngapa-ngapain. Ini semua nggak seperti yang kamu pikirin. Oke? Enggak gitu kok, tenang aja!"
Mala terkekeh sambil geleng-geleng kepala. "Emang menurut kamu Kai mikir apaan sampai kamu bilang kalau semuanya nggak sesuai yang Kai pikir."
"Ya, kali aja itu bocah mikir kalau kita mau macem-macem."
"Aneh-aneh aja kamu, Kai mana ngerti mikir macem-macem. Kamu aja itu yang mikirnya macem-macem. Udah ah, sana kamu mandi dulu! Kemarin katanya mau visit pagi."
Agha langsung menepuk dahinya reflek. "Astaga, ya ampun, aku lupa, La. Ya udah, aku mandi dulu, ya." dengan secepat kilat, ia kemudian berlari kecil menuju lantai atas. Saat sampai di kamar, niatannya yang hendak langsung masuk ke kamar mandi terpaksa ia urungkan karena ponsel Mala berbunyi.
Ragu-ragu ia menghampirinya lalu mengecek siapa yang menelfon. Nama Ale yang tertera di sana. Cepat-cepat ia mengangkatnya.
"Ya, halo, Kak?"
"Astaga, ya ampun, Gha? Ini lo kan? Pada ke mana aja sih kok ditelfon susah banget."
"Sorry, sorry, namanya juga pagi sibuk lah apalagi ngurus bocah. Kayak nggak pernah aja lo, mana sempet pegang hape. Emang ada apaan sih kok sampe nelfon ke Mala segala?"
"Soalnya gue mau nelfon lo nggak bisa-bisa, makanya gue nelfon nomer Mala. Gue mau kasih kabar kalau nyokap sama bokap kecelakaan, lo bisa ke sini sekarang?"
__ADS_1
Deg. Jantung Agha rasanya seperti berhenti detik itu juga. Pikirannya berkecamuk. Astaga Tuhan, kedua orang tuanya kecelakaan?
Tbc,