Married With My Besti

Married With My Besti
Hah?


__ADS_3

"Gha, kamu udah dapet kabar belum?" tanya Mala tiba-tiba.


Saat ini kami sedang bersantai di ruang keluarga, Mala duduk di sofa sedangkan gue sama Kai duduk di atas karpet ditemani berbagai mainan.


"Kabar apaan?"


Gue balik bertanya karena merasa tidak paham arah pembicaraan Mala, fokus gue sekarang adalah bikinin mobil-mobil buat Kai dari Lego. Kemarin gue nggak sengaja menemukan mainan Lego yang menarik perhatian gue. Akhirnya, tanpa perlu berpikir panjang gue langsung membelinya begitu saja. Meski akhirnya begitu sampai di rumah gue langsung diomelin Mala setelahnya.


"Soal Alisa."


Mendengar nama Alisa, reflek gue langsung mengangkat wajah. Perasaan gue mendadak tidak enak, bayangan kejadian tempo hari langsung terputar kembali. Ini tidak seperti yang gue pikirkan bukan?


"Kenapa sama dia?" tanya gue kepo.


Bukannya langsung menjawab, Mala malah terlihat seperti orang yang sedang berpikir serius. Wajahnya tiba-tiba berubah meragu lalu menggeleng tak lama setelahnya.


"Enggak jadi deh, kalau semisal kamu belum tahu."


"Loh, kenapa begitu?" protes gue tidak suka. Gue paling kesel sama yang begini, ngasih spoiler dikit doang abis itu dibuat penasaran setengah hidup setelahnya, kan ngeselin.


"Udah nggak papa, ntar juga tahu sendiri," balas Mala kemudian.


Gue berdecak kesal. "Ada hubungannya sama Abbas?" tebak gue kemudian.


Gue benar-benar tidak bisa untuk tidak menaruh kecurigaan terhadap pria itu. Masalahnya gue tahu betul tingkat sayang dan cintanya Abbas terhadap perempuan itu. Jadi wajar kalau otak gue over thinking duluan.


"Kenapa emang sama Abbas?" kali ini giliran Mala yang bertanya.


Gue menghela napas sambil membereskan mainan Lego yang tersisa karena mahakarya gue udah jadi. Mencoba mengabaikan pertanyaan Mala barusan, gue langsung menyerahkan mainan itu kepada Kai dengan perasaan bangga.


"Tara! Udah jadi nih, Dek, liat keren banget kan?" ucap gue langsung memamerkan mainan tersebut.

__ADS_1


Awalnya, Kai menerima Lego itu dengan perasaan senang. Namun, di luar tak lama setelahnya Kai tiba-tiba langsung membanting mainan itu hingga ambyar. Mulut gue seketika langsung melongo tidak percaya. Detik berikutnya, baru lah gue menjerit heboh.


"Kaivan Ashanka Gajendra!! Kenapa dibanting begitu, sayang!"


Bukannya takut, Kai justru malah tertawa puas lalu merangkak meninggalkan gue begitu saja, hal ini semakin membuat Mala terbahak. Dan yang bertambah ngeselinnya, ia kemudian langsung menyalahkan gue.


"Syukurin, nggak mau dengerin apa kata istri sih, ya begini dapetnya. Kan kemarin aku udah bilang, Gha, Kai masih kecil belum ngerti mainan apalagi Lego, lagian nggak aman juga loh buat bayi di bawah setahun. Kamu ngeyel sih." Mala kemudian berdecak kesal, "Sabar kenapa sih? Ntar juga ada masanya sendiri, Gha, liat aja ntar begitu udah gede kamu-nya pusing karena Kai minta mainan mulu. Serius. Berhubung dia masih kecil, biarin dulu kenapa sih?" tanya Mala heran.


Seketika gue langsung merengut kesal. Mala langsung menepuk pundak gue simpati, sementara Kai sudah merangkak lumayan jauh dari pandangan kami.


"Udah ya, Pak, sekarang beresin dulu ini mainan semuanya," ucap Mala sebelum berlari kecil, menyusul Kai yang tidak sengaja menemukan tempat sampah.


"No, no, no, sayang, ini sampah. Nggak bisa dimakan, yuk, ikut Mama, kita ambil cemilan adek sendiri." Mala langsung menggendong Kai lalu menoleh ke arah gue sebentar, "Gha, buruan beresin itu mainannya, abis ini aku kupasin buah buat cemilan."


Tentu saja gue langsung protes. "La, nggak boleh gitu dong, Kai harus diajarin beresin mainan sejak dini. Sini Kai biar sama aku sementara kamu siapin cemilan buat kita."


"Itu kamu yang mainan, ya, Gha, kamu jangan cari-cari alasan. Orang Kai aja nggak bisa anteng kok. Udah, nggak usah banyak protes langsung beresin kalau masih mau dapet jatah cemilan." setelah mengatakan itu Mala langsung bergegas menuju dapur.


"Udah selesai beresinnya?" tanya Mala begitu gue menyusulnya ke dapur.


Gue mengangguk lalu menarik kursi mendekat ke arah baby chair-nya Kai. Bocah itu sedang asik bermain menggunakan sendoknya. Berhubung gegara dia gue harus membereskan mainan sendiri, gue pun langsung merebut sendok yang ia mainkan. Detik berikutnya Kai langsung menangis kencang setelahnya, tentu saja hal ini membuat Mala langsung melotot tajam ke arah gue.


Gue meringis takut lalu mengembalikan sendok itu pada Kai lagi.


"Hobi banget ngisengin anak sendiri," omelnya kemudian.


"Ya abis, Kai duluan yang mulai, La," protes gue tidak terima.


Mala langsung melotot tidak terima. "Emang Kai ngapain? Orang dia anteng gitu kok. Kamu itu bisa nggak sih nggak suka nyalahin anak sendiri?" ia mendengus tidak percaya sambil geleng-geleng kepala.


Gue makin cemberut dan tidak terima. "Ya justru karena dia nggak ngapa-ngapain, La, karena dia nggak bantuin aku beberes mainan. Masa curang banget, aku doang yang beberes," gerutu gue kemudian, "kamu mah pilih kasih, yang disayang Kai doang, padahal yang transfer tiap bulan tuh aku loh, La. Tapi kenapa bisa-bisanya kamu begitu?"

__ADS_1


Mala tidak membalas dan hanya menatap gue datar sambil geleng-geleng tidak percaya diiringi dengusan ringan.


"Kan, kan, kamu tuh gitu kok, La. Ngeselin."


"Halah, ngeselin-ngeselin juga kamu cariin tiap hari kan?" balas Mala meledek.


Gue terkekeh geli. "Nah, ya, justru yang ngeselin begini tuh ngangenin tahu, La. Yang ngangenin dari kamu tuh justru ngeselinnya, kamu kalau jinak tuh malah serem, giliran ngeselin, nah, bari deh itu Mala-nya Agha banget."


Mala mendengus, lalu gantian terkekeh geli. "Dasar kamu itu."


Gue mengangkat kedua bahu secara bersamaan. "Kamu serius nggak mau cerita soal Alisa?" tanya gue mencoba mengalihkan pembicaraan.


Sekali lagi Mala mendengus. "Kamu belum cerita soal Abbas juga kali, Gha," balasnya tidak mau kalah.


"Kalau soal Abbas, aku nggak perlu cerita aja kamu udah pasti paham, La."


Mala menggeleng tidak setuju. "Buktinya ini aku nggak tahu loh, Gha."


"Abbas kan cinta mati banget sama Alisa, La."


Mala menghentikan kegiatan mengupas buahnya dan menatap gue heran. "Terus hubungannya?"


"Cocokologi, La, aku khawatir kalau yang mau kamu bahas tadi itu ada hubungannya sama perasaan cinta matinya Abbas."


"Mungkin," gumam Mala diiringi helaan napas, "tapi semoga aja bukan," imbuhnya cepat-cepat.


Gue menatap Mala penasaran. "Sebenernya ada apa sih?" tanya gue makin kepo. Pasti ada sesuatu nih.


"Alisa mau gugat cerai suaminya," ucap Mala dengan suara pelan.


Gue langsung menatap Mala dengan wajah kaget gue. "Hah? Apa kamu bilang, La?"

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2