
*
*
*
Setelah merasa lebih baik, baru gue memutuskan untuk pulang. Kalau boleh jujur, sebenarnya gue antara siap belum siap untuk bertemu Mala, tapi rasanya enggak mungkin kan kalau gue nggak pulang? Status kami sudah sah menjadi suami-istri, jadi kalau sedang ada masalah jelas sudah bukan pilihan yang bagus kalau mau melarikan diri terlalu lama. Mau pulang ke rumah Bunda juga nggak mungkin kan, yang ada juga gue bakalan kena ceramah panjang lebar lalu diusir bokap. Apalagi mengingat sifat bokap yang begitu, udah jelas pasti bokap bakalan lebih membela anak mantu ketimbang anak sendiri. Padahal kalau gue pikir-pikir lagi, ya kan gue nggak ngerasa salah juga. Toh, gue hanya menunjukkan rasa kecewa gue. Emang salah? Gue rasa enggak.
Saat gue masuk ke dalam rumah, ternyata Mala menunggu gue. Ia bahkan sampai ketiduran dengan kondisi televisi masih menyala. Sambil menghela napas pendek, gue langsung mematikan televisi dan membangunkan Mala.
"Pindah ke kamar aja, La," ucap gue sambil mencolek pundaknya menggunakan jari telunjuk.
Mala menggeliat sesat. Namun, bukannya langsung bangun, dia malah mencari posisi ternyamannya. Gue kembali menghela napas sambil menatap Mala.
Masa iya gue harus gendong Mala buat mindahin dia ke kamar? Sebenarnya bisa saja gue gendong dia, toh, Mala juga nggak berat-berat banget karena tubuhnya termasuk ideal. Tapi tetap saja, kalau gendong dia untuk naik ke lantai atas kayaknya bisa bikin gue nyeri pinggang esok harinya.
"La, bangun dulu, yuk! Pindah ke kamar aja," ucap gue mencoba membangunkan Mala sekali lagi.
Hening. Masih tidak ada respon.
"Terserah lo deh, kalau emang mau tidur di situ."
Gue berdecak agak kesal lalu naik ke lantai atas untuk mandi dan bebersih diri.
Gue pikir setelah gue selesai mandi, Mala akan menyusul dan pindah sendiri, soalnya kadang begitu. Tapi ternyata gue salah, Mala masih tetap pada posisinya tadi saat gue tinggal naik ke lantai atas. Akhirnya dengan terpaksa gue harus gendong dia.
Gue tarik ucapan gue yang tadi bilang kalau Mala nggak berat-berat amat. Ternyata gue salah, Mala lumayan berat. Perasaan terakhir gue gendong dia enteng banget deh. Apa berat badannya naik gegara hamil ya?
Buset, pinggang gue rasanya jadi syahdu banget.
"La, buset BB lo naik berapa kilo sih?" gerutu gue sambil mencoba membuka pintu kamar kami dengan susah payah.
Sialan. Biasanya juga gue jarang nutup kamar kecuali tidur malam, kenapa tadi gue tutup ya?
Tubuh gue spontan menegang, saat mendengar bunyi 'krak' di bagian pinggang gue, saat gue mencoba membenarkan posisi.
"La, melek dulu, La!" seru gue panik.
Gue bersyukur lega karena Mala akhirnya bangun.
"Hah? Kenapa, Gha?" tanya Mala seperti orang linglung.
__ADS_1
"Turun!" suruh gue sambil berusaha menahan nyeri.
Mala langsung turun dari gendongan gue. "Lo kenapa gendong gue?" tanyanya heran.
"Lo susah dibangunin, anjir." Gue meringis menahan ngilu pada bagian pinggang gue, "anjir, pinggang gue sakit banget," keluh gue kemudian.
"Gegara gendong gue?"
Gue mengangguk dan mengiyakan.
Bukannya meminta maaf atau merasa bersalah. Mala malah mengomel.
"Ya, lo bego apa gimana sih? Lo nggak liat bentuk badan gue sekarang? BB gue aja sampe naik 4 kilo, anjir, ya pantesan lo langsung encok."
Gue memandang Mala dengan ekspresi tidak percaya. "Ini gue lagi kesakitan dan bisa-bisanya lo malah ngomel?"
Mala mendengus. "Ya, terus gimana? Mau dicariin tukang urut? Jam segini mana ada sih tukang urut yang buka?"
Gue menggeleng tidak perlu. Dengan sedikit kesusahan, gue masuk ke dalam kamar dibantu Mala.
"Apa mau dikasih koyo?" tawar Mala setelah gue duduk di tepi ranjang, "atau conterpain aja gimana?" tawarnya lagi.
"Masa sih? Bentar gue coba cek dulu."
Mala langsung bergegas membuka kotak P3K kami. Karena dia sudah hafal betul di mana ia meletakkannya, jadi tidak perlu pusing dicari lagi.
"Ini masih." Mala kemudian menunjukkan bungkus koyo pada gue.
"Dicek dulu dong, La, ada isinya apa enggak."
Mala menurut dan langsung mengeceknya. Ekspresinya berubah masam setelahnya. Detik berikutnya, ia menggerutu kesal.
"Lo itu kenapa sih kebiasaan banget, gue harus ngingetin berapa kali lagi sih, Gha? Apa-apa kalau udah abis itu dibuang bungkusnya, kenapa malah lo balikin ke kotak lagi kalau udah nggak ada isinya?" omelnya kemudian.
Duh, kena lagi.
Gue meringis canggung. "Lupa, La."
"Lupa kok tiap hari," sindir Mala sambil menatap gue sinis. Ia kemudian membuang bungkus koyo itu ke dalam kantong sampah yang ada di kamar mandi, lalu bergegas mencari sesuatu.
"Nyari apaan?" tanya gue heran.
__ADS_1
"Dompet. Kunci motor di mana?"
"Buat apaan?" tanya gue makin heran. Mau ngapain malem-malem begini nyari kunci motor.
"Beli conterpain sama koyo di apotik."
"Ini udah malem, La, nggak usah lah. Lagian lo sekarang hamil," cegah gue.
Enggak tega juga gue ngebiarin Mala pergi malem-malem sendirian dengan kondisi hamil begini. Mana gue nggak bisa nemenin lagi.
"Gue cuma hamil, Gha, nggak sekarat. Nggak papa, cuma ke apotik depan. Deket. Udah nggak papa." Ia kemudian langsung mencari jaket dan langsung memakainya begitu ketemu.
"Jangan bawa motor, bawa mobil aja," ucap gue pasrah dan akhirnya merelakan Mala pergi.
Ekspresi Mala awalnya terlihat sedikit berubah, namun, pada akhirnya ia langsung mengangguk paham tak lama setelahnya. Sepertinya memang Mala sedang mencoba menghindari konflik.
"Iya."
"Sama ini, belinya di indomaret aja."
Mala menoleh dengan sebelah alis terangkat. "Emang kenapa?"
Gue meringis tipis. "Sekalian beliin chitato. Kita punya stok mi goreng nggak sih?"
Bukannya menjawab pertanyaan gue, Mala menatap gue dengan ekspresi tidak percaya dan malah balik bertanya. "Lo ngidam?"
Gue diam saja.
Mala kemudian mengangguk paham. "Ya udah, ntar gue beliin. Gue pamit pergi dulu, ya. Ntar kalau butuh apa-apa, telfon aja. Gue bawa hp kok. Hp lo di mana, biar gue deketin di lo sekalian."
"Enggak usah, itu di meja, ntar gue ambil sendiri. Gue kan cuma sakit pinggang, jadi masih bisa jalan, La."
Istri gue meski hobinya ngomel hampir tiap saat, tapi kalau soal menunjukkan perhatian tetep nomor satu. Dia langsung mengambil hape gue dan meletakkannya tepat di sebelah gue.
"Gue pergi dulu, ya," pamitnya sebelum pergi.
"Hmm. Hati-hati! Nggak usah ngebut!" teriak gue kemudian.
Mala hanya mengacungkan jempol sebelum menghilang di balik pintu kamar.
Tbc,
__ADS_1