
*
*
*
Gue langsung membuka mata saat merasakan tepukan pelan pada pundak gue. Tubuh gue terasa sedikit kebas karena tidur dengan posisi duduk dan Kai berada di atas gue. Spontan gue meringis kala menyadari posisi tidurnya. Pasti rasanya nggak nyaman.
"Salat subuh sekalian, Gha, terus tidur bentar. Biar Kai sama aku," ucap Mala dengan nada berbisik karena takut mengusik tidur putra kami.
Gue bangun dan memilih membaringkan Kai pada box bayinya daripada menyerahkannya pada Mala. Gue kemudian tersadar akan sesuatu. Oh iya, Mala kan semalam juga demam. Tangan gue kemudian terulur dan mengecek suhu tubuhnya.
"Udah nggak demam, Gha, aku juga ngerasa lebih seger kok pagi ini," ucap Mala langsung menyingkirkan tangan gue yang menyentuh dahinya, "sorry, ya, semalam aku ketiduran dan nggak gantian jagain Kai."
"Enggak papa, yang penting sekarang kamu udah sehat." wajah gue hendak maju dan mencium pipi Mala, tapi dengan cepat di elak perempuan itu. Bahkan tak tanggung-tanggung, Mala langsung mendorong dahi gue cukup keras hingga membuat badan gue oleng ke samping.
"Kamu belum mandi dari kemarin, belum sikat gigi juga, nggak usah aneh-aneh. Sana buruan mandi!" perintahnya kemudian.
Setelah memastikan sang putra masih terlelap di dalam box bayi, Mala kemudian memutuskan keluar kamar.
"Mau ke mana?" tanya gue heran.
"Dapur. Bikin sarapan."
Gue berdecak. "Masih jam segini, La, tidur lagi aja udah, ntar giliran kelonin aku," ucap gue sambil memainkan kedua alis naik-turun, bermaksud menggodanya. Tapi Mala malah bersiap melepas sandal rumahnya.
Mau tidak mau, gue pun langsung berlari menuju kamar mandi. Buset, jinaknya cuma berlaku semalem doang ternyata, paginya langsung abis seketika.
Selesai mandi dan menunaikan ibadah salat subuh, gue berniat membaringkan tubuh di ranjang. Tapi baru bokong gue yang menyentuh kasur, Kai sudah menangis dengan posisi tengkurap. Mau tidak mau, gue langsung berlari, menghampiri Kai, lalu menggendongnya. Tak butuh waktu lama, Kai langsung diam saat gue menggendongnya.
Lah, tumben banget awet masih mau sama gue. Soalnya kadang kalau nempel hampir seharian sama gue, besoknya Kai ogah gue gendong. Harus dibujuk rayu macem-macem biar mau lagi sama gue. Lah, ini, tumbenan langsung mau aja.
"Badannya masih nggak enak ya, Dek?" tanya gue kepada Kai.
Kai diam saja karena, mungkin, tidak terlalu paham dengan pertanyaan gue. Bocah ini hanya menyandarkan kepalanya pada dada gue. Mungkin karena terasa masih pusing kali ya, soalnya badan Kai masih terasa agak hangat.
"Cari Mama, yuk!" ajak gue sambil mencari kain gendongan. Setelah ketemu gue langsung mengajak Kai turun ke bawah.
Saat kami sampai di bawah, Mala tampak sibuk memotong sayur. Ia sedikit kaget dengan keberadaan kami berdua.
"Loh, kok udah bangun? Kamu nggak jadi tidur dong, Gha?"
Gue memasang wajah memelas. "Boro-boro tidur, La, baringan aja belum kok."
"Astaga, ya ampun, sini-sini kalau gitu biar Kai aku gendong kamu tiduran bentar sana mumpung masih jam segini."
Gue mengangguk setuju. "Enggak usah masak sekalian lah, ntar Kai biar makan di rumah Bunda, kita makan di luar," saran gue kemudian.
Mala menatap gue tidak suka lalu mencuci tangannya. Gue tadi sempat melarangnya saat ia hendak membereskan dapur, karena gue sudah tidak sabar untuk berbaring. Biar nanti semua diberesin Mbak Ratih.
"Yuk, sama Mama biar Papa istirahat bentar, ya? Nanti sama Papa lagi abis ini."
__ADS_1
Di luar dugaan, Kai menggeleng sambil menempelkan kepalanya di dada gue. Tubuhnya bahkan secara reflek memberontak dan mengajak menjauh. Gue tentu saja melotot tidak percaya.
"Eh, eh, bentar, ini Mama loh, tuh, lihat Mama, Dek. Sekarang Mama udah sembuh, ikut Mama, ya, mimik dulu, abis itu ikut Papa lagi," ucap gue berusaha membujuk sambil menunjuk Mala.
Tapi Kai tetap menggeleng dan menolak Mala gendong. Baik gue sama Mama, kita sama-sama heran sikap Kai yang tidak biasa.
"Lah, ini gimana, La, kok tumbenan Kai nggak mau sama kamu? Kamu kemarin abis marahin dia ya?" tuduh gue kemudian.
Mala melotot tidak terima sambil memukul lengan gue. "Enak aja, enggak ya, aku nggak ada itu yang namanya marahin Kai. Kapan aku begitu?"
Benar juga sih, meski Mala sangat galak kalau sama gue, tapi kalau sama Kai ia tidak pernah yang namanya galak. Mala bukan tipe orang tua yang suka memanjakan anaknya, tapi kalau disebut galak, enggak juga. Paling kalau Kai agak susah dikasih tahu, Mala cuma perlu merubah ekspresinya menjadi datar dan nada suaranya berubah tegas. Tapi enggak terkesan kayak orang marah-marah lah, menurut gue sih.
"Terus ini kenapa?" tanya gue heran.
"Ya, mana aku tahu, Gha."
Mala kembali mencoba membujuk Kai, tapi tetap saja, ia masih enggan digendong Mala.
"Sayang, jangan gini dong, ayo ikut Mama, mimik sama Mama!"
Kai masih teguh pada pendiriannya, ia menggeleng tegas lalu mengajak gue untuk menjauh. Gue jadi serba salah sendiri melihatnya.
Gue mau tidak mau pun menurut. "Iya, iya, mau ke mana?" gue menoleh ke arah Mala sebentar, "kalau gitu ASI-nya Kai dipompa aja, La, daripada kamunya juga nggak nyaman. Sekalian buat stok ntar siang juga."
Mala memasang wajah sedihnya. "Sayang, beneran nggak mau ikut Mama?"
Kai menggeleng cepat.
Mala mengangguk pasrah. "Terus kamu gimana? Enggak capek kamu gendong dari semalem?"
Gue meringis sedih. "Ya capek, tapi mau gimana lagi. Apa kita telfon Bunda ke sini aja sekarang?"
Kali ini Mala langsung menggeleng tidak setuju. "Jangan dong, Gha, ini masih terlalu pagi, kasian Ayah. Ntar aja kalau udah agak siangan, kalau masih pagi begini kan beliau pasti masih harus ngurusin sarapan Ayah."
Gue mengangguk paham dan memutuskan untuk naik ke lantai atas. "Bobok di kamar ya?" ajak gue.
Kai tidak merespon dengan celotehan anehnya, dia hanya diam saja dan tetap menyandarkan kepalanya pada dada gue.
Tangan gue kemudian terulur dan menyentuh dahinya. Terasa masih hangat. Ya ampun kasian anak gue, biasa jam segini lincah ngajak jalan nggak mau duduk sambil minta makan ke Mala, eh, ini minta gendongan doang dan nggak mau turun.
"Turun ya?"
Gue berusaha menurunkan Kai dari gendongan. Kedua matanya seketika berubah kemerahan dan bersiap untuk menangis.
"Enggak, enggak, sayang, enggak. Ayo, ayo, sama Papa."
Cepat-cepat gue kembali menggendong Kai sambil menghela napas panjang dan mengajaknya untuk turun ke bawah.
Ini gimana, kalau sampai ntar siang begini, gimana sama operasi gue?
"Dek, sekarang sama Papa, tapi nanti kalau jamnya Papa berangkat kerja, Adek ikut Uti, ya?" ucap gue berusaha memberitahunya, "oke? Adek pinter kan? Anak Papa pinter?"
__ADS_1
Gue nggak tahu ini bocah beneran ngerti atau enggak, tapi namanya juga usaha.
*
*
*
Ternyata drama masih berlanjut sampai kami mau berangkat ke rumah Bunda. Tadi Kai sempat kembali tidur dan mau dibaringkan di ranjang, alhasil gue sempat mandi dan berganti pakaian. Tapi waktu kami hendak akan berangkat, Kai terbangun dan langsung menangis kencang saat menyadari kalau sedang dipangku Mala. Posisinya gue lagi nyetir, tapi tiba-tiba Kai minta ikut gue. Gue sama Mala otomatis panik.
"Dek, sama Mama dulu, ya, ini Papa lagi nyetir."
Kai terlihat tidak peduli, ia tetap memaksa untuk ikut gue. Mala sendiri pun mulai kewalahan.
"Pinggirin mobilnya kalau gitu, Gha, biar aku yang nyetir!" suruh Mala.
Gue melotot kaget. "Eh, serius kamu yang nyetir?" tanya gue tidak yakin.
Ya, Mala memang terbiasa nyetir, dulu sebelum kami menikah dan bahkan setelah menikah pun kami lumayan sering gantian nyetirnya, tapi begitu Kai lahir harus selalu gue yang nyetir.
"Ya daripada Kai-nya nggak diem, Gha. Kasian, aku nggak tega."
Gue mengangguk paham lalu mulai menepikan mobil saat dirasa jalanan agak sepi. Kami kemudian sama-sama turun dari mobil, gue langsung mengambil alih Kai dan Mala masuk dan duduk bangku kemudi sedangkan gue duduk di bangku penumpang. Kali ini Kai lebih anteng. Gue cukup takjub dengan sikap Kai sejak semalam, tapi di sisi lain gue juga agak bingung.
"Ternyata Kai rewelnya persis kamu ya kalau sakit," ucap Mala sambil terkekeh geli.
Gue mengangguk setuju. "Iya, berarti kamu capek banget ya kalau lagi ngurusin aku sakit."
"Iya lah, segala pake nanya," dengus Mala dengan wajah kesalnya.
Gue sedikit terkekeh sambil mengelus dahi Kai yang kali ini demamnya sudah turun. "Padahal udah nggak panas, tapi rewelnya masih ampun-ampunan."
"Ya kayak kamu, persis banget. Kamu kan kalau sakit juga gitu, disuruh makan susah, suruh ini-itu susah, udah sembuh aja masih suka bandel. Untung anak kamu kalau urusan makan sama minum obat masih gampang, nggak nurun dari kamu," komentar Mala. Ia melirik ke arah Kai sekilas, "udah tidur lagi, tuh!" sambungnya dengan nada berbisik.
Gue sedikit mengintip ke arah Kai. "Iya, cepet banget. Efek obat kali ya? Tapi bagus deh, La, biar ntar nangis juga kalau kita tinggal."
"Iya, enggak tega banget aku liatnya. Baru pertama kali kan Kai begini."
"Ternyata ngurus anak sendiri kalau pas dia lagi sakit capek banget ya?"
"Ya capek lah, Gha, ngurus orang sakit aja capek gimana kalau ngurus bayi yang sakit? Capeknya dobel lah, mana kalau bayi kan belum bisa ngomong, jadi kita nggak ngerti sakitnya di bagian mana. Atau yang mana yang bikin dia nggak nyaman."
Gue mengangguk setuju dengan kedua mata yang mulai sedikit memberat. "La, kok mata aku mendadak berat ya? Maafin ya, kalau semisal nanti aku ketiduran."
Mala mendengus. "Ya udah, tidur aja. Ntar kalau udah sampai aku bangunin."
Gue tersenyum senang. "Makasih, sayang, janji abis itu nanti kamu aku kasih bonus yang banyak."
"Enggak butuh," ketus Mala membuat gue terkekeh dengan kedua mata terpejam. Sepertinya ia langsung paham dengan arah 'bonus' yang gue maksud.
Tbc,
__ADS_1