
*
*
*
Alisa baru saja menyelesaikan jam kelas mengajarnya, sekarang ia hendak kembali menuju ruang dosen, tapi terpaksa harus ia urungkan karena ia mendadak mendapat tamu tak diundang. Kalau boleh jujur ia merasa malas sekali untuk menemui pria itu. Tapi ia tidak ingin membuat keributan di kampus, maka ya sudah lah. Pasrah saja.
“Ngapain?”
Alisa terlihat sama sekali tidak ingin berbasa-basi dengan pria itu. Kalau bisa ia ingin sekali langsung mengusir pria itu, kalau bisa. Tapi sayang sekali tidak semudah membalik telapak tangan.
“Kamu kenapa nggak balas pesan aku? Bahkan telfon aku aja nggak kamu angkat. Kenapa, Sa?”
Alisa langsung tertawa sarkas saat mendengar pertanyaan pria itu. Enggak penting. Batinnya kemudian.
“Ya sorry, gue nggak bisa sembarang terima pesan nomor asing. Lumayan selektif soalnya gue. Sorry.”
Permintaan perempuan itu tidak terdengar cukup tulus. Terkesan hanya seperti formalitas saja.
“Sorry, kalau nggak ada yang penting gue mau duluan, soalnya gue sibuk. Permisi.”
“Sa, tolong lah jangan begini, gue cuma minta kesempatan aja. Gue pengen sama lo lagi.”
“Yu, sorry, gue udah nggak bisa, lo sendiri yang putusin gue kok, kenapa setelah gue udah nikah lo bersikap seolah-olah bisa sama gue lagi. Jelas nggak bisa lah.”
Pria yang bernama Bayu itu sontak tertawa. “Lo pikir gue nggak tahu kalau lo udah diceraikan sama mantan suami lo yang satu itu. Dari pada lo hidup menjanda mending sama gue, Sa. Gue jamin kalau lo nikah sama gue lo bakal bahagia,” ucapnya dengan kepercayaan penuh.
Kali ini giliran Alisa yang tertawa meremehkan. “Emang dasar lo aja yang nggk tau apa-apa, Yu.” Ia kemudian mengangkat jari manisnya, di mana cincin berlian yang menjadi cincin mas kawinnya tersemat di sana, “gue udah nikah lagi, Yu, sama temen gue sendiri. Dan sekarang gue udah bahagia sama dia. Jadi, please, jangan ganggu hidup gue lagi. Fokus sana ke bahagia lo sendiri.”
Bayu menggeleng tidak percaya. “Gue yakin lo pasti bohong kan? Nggak munngkin lo udah nikah lagi.”
Alisa mengangkat kdua bahunya secara bersamaan. “Ya, itu sih terserah lo. Lo mau percaya ya silahkan, nggak percaya juga silahkan. Gue nggak peduli. Yang jelas gue udah nikah lagi. Itu inti yang penting.”
“Kenapa?” tanya Bayu masih terlihat seperti orang yang tidak percaya.
Kalau boleh jujur, Alisa bahkan sempat merasa bersalah kala melihatnya. Tapi mau bagaimana lagi, statusnya kini sudah berubah dan sudah jadi istri orang.
“Karena Tuhan sayang sama gue, Yu. Meski gue pernah gagal sama pernikahan gue sebelumnya, tapi gue masih dikasih kesempatan buat dicintai orang yang tepat.”
"Bullshit, aku tetep nggak percaya. Please, Sa, kasih aku kesempatan. Aku janji aku akan berusaha yang terbaik asal kamu beri kesempatan itu."
Alisa menghela napas panjang. "Gimana gue bisa kasih kesempatan semetara gue sendiri udah nikah, itu jelas nggak mungkin, Yu."
"Tapi gue tahu lo udah cerai, Sa."
__ADS_1
Alisa kebingungan bagaimana harus menjelaskan pada pria ini. Oke, ia mencoba untuk tetap sabar.
"Iya, bener, gue emang udah bercerai dengan mantan suami gue yang sebelumnya, tapi gue udah nikah lagi, Yu. Gue udah jadi istri orang. Oke? Cukup jelas kan sampai di sini?"
Pria itu diam seolah sedang berpikir, hal ini membuat perempuan itu mengambil kesempatan untuk pergi begitu saja.
"Gue duluan, Yu, sorry."
*
*
*
Alisa melamun saat menunggu sang suami menjemputnya. Spesial hari ini, ia memang tidak menyetir sendiri, tadi pagi Abbas mengantarnya ke kampus jadi pulang pun ia harus menunggu dijemput.
Tin Tin Tin
Lamunannya seketika langsung buyar saat menyadari keberadaan mobil sang suami. Cepat-cepat ia menegakkan tubuhnya dan masuk ke dalam mobil.
"Ngelamunin apaan sih dipanggil-panggil sampai nggak nyahut gitu?" sambut Abbas saat sang istri masuk.
Alisa meringis tidak enak. "Ngantuk," ucapnya sedikit berbohong, "ternyata nunggu jemputan nggak enak banget, Bas, capek nunggunya. Bosen."
"Ya, mungkin beda dong, kan kalau tiap hari mungkin udah mulai terbiasa, kalau hari ini masih belajar."
"Jadi mau dijual?"
Respon Alisa hanya berupa ringisan dan gelengan pelan. Hal ini mengundang dengusan tidak percaya dari sang suami. Alisa kemudian tertawa tak lama setelahnya.
"Aku pengen makan sate kambing deh, ntar coba cari ya."
Abbas langsung menggeleng tidak setuju. Bukan apa-apa, masalahnya sang istri memiliki riwayat darah tinggi pasca keguguran kala itu, jadi Abbas jelas saja sangat protective terhadap sang istri.
"Sekali aja, terus ntar makannya dikit, aku janji ntar yang ngabisin kamu. Pengen banget ini loh."
"Ngidam?"
Alisa langsung merengut. "Jadi kamu cuma mau nurutin anak kamu doang, enggak sama aku?"
Waduh, salah pertanyaan nih. Batin Abbas panik.
"Enggak gitu maksudnya."
"Makanya kalau gitu, ayo, beli! Lebih nggak memungkinkan kalau pas aku hamil loh, Bas, nggak baik buat janin."
__ADS_1
Kali ini Abbas menghela napas pasrah, mau tidak mau akhirnya mengangguk pasrah. "Ya udah, oke, tapi janji dikit doang."
"Iya, janji, dikit doang. Ntar kamu yang abisin, jadi kita beli sebungkus aja."
Abbas kembali mengangguk. Dengan ekspresi pasrah akhirnya ia membelokkan mobilnya saat menemukan rumah makan yang menjual sate kambing langganannya. Sejujurnya sih ini tempat makan mereka berdua dulu, tapi sejak Alisa sering kali mendadak tekanan darahnya naik setelah makan olahan kambing dan beberapa jenis makanan yang memicu tekanan darah naik, mereka pun sudah sangat jarang datang kemari. Abbas sendiri bahkan lupa kapan terakhir mereka ke sini.
"Enggak usah ikut turun," cegah Abbas saat menyadari sang istri hendak melepas seat beltnya.
"Loh, masa kamu turun sendiri?"
Abbas mengangguk tidak masalah lalu turun dari mobil. Sementara Alisa hanya menunggu sang suami. Demi membunuh rasa bosan, ia pun memilih untuk mengotak-atik ponselnya. Mencari hiburan dengan melihat-lihat postingan sesama rekan dosen maupun teman-temannya.
Ada perasaan aneh yang tidak mampu ia jelaskan saat ia menemukan postingan milik Mala, yang mana terdapat fotonya bersama sang putra. Ia yakin foto itu diambil oleh Agha karena kalau dilihat dari hasil jepretannya terlihat dibidik oleh ahlinya. Foto tersebut nampak candid dengan pose Mala yang sedang duduk di sofa membawa semangkuk cemilan buah-buahan sedang tertawa, lalu Kai, putra mereka sedang menempelkan kepalanya pada perut Mala yang sudah terlihat besar.
Kira-kira kapan ya ia bisa merasakan momen seperti Mala? Tidak dapat dipungkiri kalau ada perasaan iri yang hinggap dalam dirinya. Kenapa nasib Mala sangat beruntung ya? Tidak seperti dirinya.
"Ngelamun terus, kesurupan baru tahu rasa," ledek Abbas sambil memasang seat beltnya.
Loh, kapan sang suami masuk ke dalam mobil? Kenapa ia bahkan sampai tidak menyadarinya.
"Kamu lagi kepikiran apaan sih, Sa? Kok dari tadi ngelamun terus. Kalau ada masalah tuh cerita, jangan dipendem sendiri, nanti jadi penyakit loh. Lagian kamu itu udah ada aku, temen kamu. Temen curhat, temen tidur, dan temen-temen lainnya."
"Enggak, nggak ada masalah kok."
"Bohong."
"Beneran, enggak ada, cuma ngiri aja sama Mala."
Niat Abbas yang tadinya hendak menyalakan mobil mendadak urung. Ia menoleh ke arah sang istri dengan ekspresi sedihnya.
"Sa," panggil Abbas.
"Aku tahu, Bas, cuma aku manusia biasa yang tetep bisa ngerasain yang namanya iri. Kalau dipikir-pikir yang nikah aku sama dia duluan aku kan, sekarang Mala udah hamil ketiga kalinya, meski kehamilan kedua dia ngalami keguguran, tapi di kehamilan ketiganya dia langsung dikasih anak kembar. Enak banget kan jadi Mala?"
"Sa, semua orang punya masa enak dan enggak enaknya masing-masing, mungkin kehidupan Mala yang kita lihat enak, tapi kita nggak tahu loh apa yang bener-bener udah dilewati. Jadi, stop bandingin hidup kamu sama orang lain, apalagi itu Mala. Kita tahu kisah hidupnya yang nggak mudah juga loh, Sa. Dulu dia hampir jadi korban pemerkosaan mantan pacarnya, dituduh selingkuh sama mantannya itu, kamu lupa? Bahkan ibu dari mantannya memohon ke Mala biar nggak memenjarakan mantannya itu padahal Mala sempet trauma cukup serius, dia mungkin terlihat kuat dari luar, tapi aku tahu, Sa, dulu dia bahkan sempat harus konsul sama temennya yang psikolog, dan Agha nggak bisa nemenin."
"Suami Mala itu Agha loh, Sa, kamu tahu betul gimana rewelnya dia. Kamu sama Mala beruntung dengan porsi kalian masing-masing, jadi stop banding-bandingin diri kamu sama orang lain. Oke? Meski nggak mudah, ayo kita tetap berjuang, Sa. Berjuang sama aku, apa rasanya masih seberat itu?"
Alisa tersenyum tipis. "Sejujurnya masih, Bas, tapi nggak apa asal itu sama kamu."
"Udah, nggak usah galau-galauan lagi, mending kita sekarang pulang," ajak Abbas lalu menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya menuju apartemen mereka.
Tbc,
Btw, ada yang kangen sama Agha-Mala, Kai dan calon baby twin-nya nih?🙃
__ADS_1