Married With My Besti

Married With My Besti
Rencana Ayah


__ADS_3

*


*


*


Pintu kamar gue tiba-tiba terbuka saat gue sedang sibuk membersihkan lensa kamera gue. Rencananya hari ini gue mau hunting foto karena udah lama banget nggak motret. Kebetulan Mala juga lagi nggak minta ditemenin pergi jadi gue bisa me time deh minggu ini.


"Sibuk, Dek?"


Ternyata bokap gue yang buka pintu dan masuk ke dalam kamar gue begitu saja. Beliau duduk di tepi ranjang seraya menatap gue yang tengah asik dengan barang-barang kesayangan gue. Kalau gue lirik dari pakaiannya sih, kayaknya beliau mau olahraga. Nggak tahu kenapa beberapa minggu terakhir ini bokap gue lagi rajin banget olahraga, padahal dulu kalau gue ajakin susah.


"Iya," jawab gue kemudian.


"Ada job?"


Karena nggak mau mubazir dengan keahlian gue yang satu ini. Sesekali gue memang mengambil job memotret, nggak seberapa sih emang bayarannya, apalagi kalau dibandingin sama harga koleksi kamera gue. Tapi rasanya senang aja melakukannya. Enggak ngerti, tapi kadang tuh gue merasa lebih bahagia kalau abis motret ketimbang habis nyelamatin nyawa orang. Kalau pikiran gue udah mulai gini, kadang gue tiba-tiba kepikiran. Jangan-jangan passion gue sebenernya di motret kali ya, bukan di kedokteran.


"Enggak sih, Yah, bersih-bersih--"


"Anterin Ayah, yuk, kalau gitu," potong bokap tiba-tiba.


"Lapangan?" tebak gue.


Bokap langsung mengangguk dan mengiyakan.


"Tapi Agha mau hunting foto, Yah, abis ini."


"Ya, kan bisa abis nganter Ayah."


"Ya, tetep nggak bisa lah, Yah. Kan Agha kalau hunting foto naik ojek, Yah."


"Halah, kebanyakan gaya kamu. Naik mobil aja udah, naik ojek panas, ntar kamu nambah item, makin susah dapet jodoh nanti. Udah, ayo, naik mobil aja sekalian anter Ayah. Buruan ditata apa aja barang yang perlu di bawa, Ayah tunggu di bawah," ucap Ayah tidak ingin dibantah. Bahkan beliau langsung bangkit dari duduk dan ngacir keluar dari kamar gue begitu saja.


Gue hanya mampu menghela napas seraya menutup punggung bokap yang udah menghilang di balik pintu.


Kalau sudah mendapat titah begitu gue bisa apa selain pasrah? Dari pada diusir dari rumah kan?


*


*


*


"Turun dulu, Gha, bawain barang-barang Ayah!"

__ADS_1


Gue seketika langsung melongo saat mendengar perintah bokap. Kepala gue melongok keluar jendela melihat punggung Ayah yang kian menjauh tanpa membawa barang-barangnya. Sejujurnya gue ingin berteriak memprotes, tapi melihat ke arah sekitar gue jadi sungkan. Masalahnya tempat parkir terlihat cukup ramai. Alhasil, dengan sangat terpaksa gue turun dari mobil, membuka bagasi mobil dan mengeluarkan tas bokap dari sana dan menyusul beliau dengan langkah buru-buru.


"Janjian mau main sama siapa, Yah?" tanya gue saat berhasil menyamakan langkah kaki gue dengan beliau.


Bokap gue kemudian menunjuk seseorang yang gue kenal. Dalam hati gue langsung berseru heboh. Anjrit, itu kan dokter Saga, bokapnya Mala. Sejak kapan mereka jadi akrab? Setahu gue mereka cuma saling kenal doang deh dan tidak bisa gue bilang akrab untuk sampai main badminton bareng begini.


"Sejak kapan Ayah akrab sama dokter Saga?"


"Ya, sejak kalian akrab. "


Gue menaikkan sebelah alis tidak paham. "Maksudnya?"


Bokap mengabaikan pertanyaan gue dan lebih memilih menyapa dokter Saga. Merasa sungkan, gue pun akhirnya ikut menyapa beliau. Rasanya nggak sopan aja kalau gue langsung pulang begitu saja.


"Apa kabar, dok, sehat?" Gue langsung mencium punggung tangan beliau sambil berbasa-basi sebentar.


Meski gue cukup lama mengenal beliau, tapi sampai sekarang gue rasanya masih begitu sungkan untuk memanggil beliau dengan sebutan Om atau lainnya. Lain ceritanya kalau sama Tante Yana.


"Sehat, Gha. Ikut main juga?"


"Ikut."


Bukan, itu bukan suara gue. Melainkan suara bokap gue. Dengan wajah kaget, gue langsung menoleh ke arah beliau, meminta penjelasan. Apa-apaan ini? Kan tadi ceritanya cuma minta anter kenapa jadi diajakin main?


Nurut aja gimana? Ini masalahnya gue masih shock, anjir. Maksud gue kenapa nggak bilang di awal aja kalau emang mau ngajakinĀ main, kenapa musti dadakan begini. Kan seenggaknya kalau dibriefing di awal gue ada persiapan.


Gue ingin protes tapi sungkan ada dokter Saga. Sambil meringis canggung gue meminta izin permisi sambil mengajak bokap. Dokter Saga mengangguk tidak masalah dan membiarkan gue mengobrol dengan bokap, sementara beliau mulai melakukan pemanasan.


"Maksudnya apa sih, Yah?" protes gue kesal, "bukannya tadi cuma minta anter doang? Kenapa malah diajakin main?"


"Astaga, harus banget Ayah ulang nih? Kan sekalian pendekatan sama calon mertua, udah kamu nurut aja. Dijamin aman."


"Calon mertua gimana? Katanya nggak mau punya menantu dokter, ini nggak cuma menantu loh berarti yang dokter, tapi besannya juga. Dokter Saga sama Tante Yana tuh sama-sama dokter loh kalau Ayah lupa?""


"Ayah mungkin udah nggak muda, tapi Ayah belum lupa, Gha," dengus bokap dengan wajah tersinggungnya.


Meski sadar kalau dirinya sudah tua, tapi bokap itu kurang suka kalau disebut tua.


"Ya, terus?"


"Ayah emang maunya bukan dari kalangan dokter tapi kalau dapetnya emang dari sana, ya Ayah bisa apa? Enggak bisa apa-apa kan? Ya udah, terima takdir. Lagian Mala baik kok, Ayah suka."


Mood gue kembali turun hanya dengan mendengar suaranya. Padahal gue lagi males banget cuma denger namanya. Gue mencoba mengalihkan pandangan gue ke sembarang arah karena malas membahas perempuan itu lebih banyak. Namun, sialnya kedua netra gue malah menangkap sesosok itu.


Anjir, ini gue nggak salah lihat kan? Itu beneran Mala? Dia ikutan? Ikut main badminton dan gue juga harus ikut main?

__ADS_1


Gue langsung menoleh ke arah bokap. "Yah, Mala ikut?"


"Ikut lah. Tenang aja kamu--"


"Enggak," potong gue cepat, "kalau Mala ikut, Agha pulang. Mending hunting foto, lebih seru."


"Lah, tumben? Biasanya juga ke mana-mana berdua, kenapa sekarang sok-sokan nggak mau gegara ada dia? Lagi berantem ya kalian?" tebak bokap dengan kedua mata memicing curiga.


Gue menghela napas. "Enggak berantem, cuma lagi males aja ketemu."


"Ya, berarti itu berantem."


"Enggak berantem, cuma kalau dipaksa ketemu sekarang beneran bakal berantem," gerutu gue, "udah lah, Agha mau pulang aja. Bilangin ke dokter Saga kalau Agha sakit perut atau apa gitu jadi mendadak nggak bisa ikut," sambung gue langsung meninggalkan bokap begitu saja.


Jelas saja beliau protes. Namun, gue nggak peduli. Gue benar-benar belum siap untuk bertemu Mala.


Gue merasakan ponsel bergetar tak lama setelahnya dan saat gue buka ternyata chat dari Mala. Sepertinya perempuan itu menyadari keberadaan gue.


Simalakama : woe!


Simalakama : kok cabut?


Simalakama : gk jadi ikutan main?


Simalakama : Gha?


Simalakama : Agha


Simalakama : lo masih ngambek?


Simalakama : anjir, gue dikacangin


Simalakama : salah gue apa woe?


Simalakama : au dah, kesel gue lama2 sama lu


Simalakama : bodo amat. gue gk peduli.


Simalakama : Gha!!


Simalakama : buruan bales! gue samperin terus gue tampol ya lu lama2, ngeselin banget sih?😤


Benar ternyata. Tapi malas berdebat, gue memilih untuk memasukkan ponsel gue kembali dan masuk ke dalam mobil begitu saja.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2