Married With My Besti

Married With My Besti
Posesif Mode On


__ADS_3

*


*


*


"Ngapain?"


Tanpa perlu melebarkan pintu kamar inap Mala, gue bertanya kepada segerombolan perawat dari tim bedah yang berdiri di depan kamar rawat inap Mala.


Mereka memasang wajah tersenyum dan salah satunya mewakili untuk menjawab. "Jengukin dokter Mala dong."


"Kita juga udah bawa kado dong, dok," sahut yang lainnya sambil mengangkat bingkisan besar yang dibungkus dengan kertas kado.


"Besok aja."


"Hah? Emang kenapa, dok? Dokter Mala-nya udah tidur?"


Gue menggeleng santai. "Udah jam 6 lewat, jadi saya udah nggak terima tamu."


"Ya ampun, dok, kita kerja bareng tiap hari loh. Udah kayak keluarga, masa masih dianggap tamu?"


Gue menatap mereka satu persatu dengan tatapan datar. "Iya kan? Kita kerja tiap hari bareng udah kayak keluarga, tapi bisa-bisanya kalian baru jenguk istri saya sekarang, padahal kalian dinas di sini setiap hari. Istri saya bahkan udah lepas kateter loh, tapi kalian baru jengukin?" Gue mendengus tidak percaya sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada, "di jam yang nggak tepat lagi."


"Enggak tepat gimana sih, dok? Ini masih termasuk jam besuk loh, kalau semisal dokter Agha lupa."


Dengan wajah tidak ingin dibantah, gue kembali menggeleng. "Itu peraturan rumah sakit, peraturan saya pokoknya kalau udah lewat jam 6 nggak terima tamu buat besuk. Soalnya siang dia udah terima banyak tamu, jadi kalau malam waktunya istirahat. Orang tua sama mertua saya aja bahkan udah saya suruh pulang loh. Jadi, saran saya lebih baik kalian pulang atau lanjutin kerjanya."


"Jadi ini kita beneran nggak dikasih izin buat jengukin dokter Mala, dok?"


Akhirnya yang paling senior kembali bertanya untuk memastikan. Tanpa banyak berpikir apalagi sungkan gue menggeleng sebagai tanda penolakan. Karena udah mengenal mereka dengan akrab makanya gue nggak sungkan sama mereka.


"Jenguk bentar doang masa nggak boleh sih, dok?"

__ADS_1


Kali ini gue berdecak. "Perempuan ketemu perempuan kalau udah ngobrol itu nggak abis-abis, nanti istri saya nggak jadi istirahat. Bentar versi kalian itu lama bagi saya. Pokoknya nggak bisa ditawar, kalau kalian mau jengukin Mala mending besok. Saya juga mau istirahat. Bye!"


Setelah mengatakan itu, gue langsung menutup pintu ruang inap Mala, tanpa menunggu mereka membalas atau bahkan berpamitan. Bukan tanpa alasan kenapa gue melakukan ini, selain karena tidak ingin jam istirahat Mala keganggu. Tapi karena gue juga udah gerah banget dan gue butuh mandi dengan segera.


"Siapa?"


"Perawat tim bedah."


"Kok nggak kamu suruh mampir? Itu kan ada makanan bisa mereka bawa, Gha. Buat temen jaga malam."


Gue mendengus sambil menyampirkan handuk pada pundak. "Apaan, orang mereka ke sini mau jengukin kamu tapi aku usir."


"APA?!" seru Mala dengan suara kagetnya, "kamu usir?" tanya Mala dengan ekspresi tidak percayanya.


Gue pun tidak kalah kaget dari dia karena seruannya.


Kondisi Mala sudah bagus, Ayah bahkan sudah mengizinkan untuk pulang kalau semisal Mala menginginkan pulang. Tapi mengingat kondisi putra kami yang masih perlu observasi lanjutan, Mala memilih untuk stay di sini. Biar nggak ribet bolak-balik.


"Kan jam istirahat kamu, La. Meski Ayah udah kasih izin kamu pulang, tetap aja kondisi kamu masih belum sepenuhnya pulih. Udah ah, aku mau mandi dulu."


Gue memutuskan untuk cepat-cepat keluar dari kamar mandi, saat samar-samar mendengar suara gaduh dari luar. Dan benar saja saat gue keluar dari kamar mandi, sudah ramai. Ada Ohim beserta istri dan juga Abbas. Meski hanya bertiga tapi mengingat keberadaan Ohim sama Abbas doang aja pasti udah rame, apalagi dipadukan sama Mala.


"Kok kalian bisa masuk?" tanya gue heran.


Tangan gue masih sibuk mengeringkan rambut yang masih basah, lalu berjalan menghampiri mereka. Bersiap mengusir mereka juga sih. Gue heran kenapa mereka bisa masuk ke sini padahal gue udah pesen sama perawat jaga buat nggak kasih siapapun jenguk Mala kalau udah lewat jam 6 sore.


"Bisa lah, kan ada pintu," balas Abbas sarkas. Pria itu mendengus sambil melirik gue tajam.


Lain dengan Abbas, Ohim langsung memukul kepala gue dan tentu saja langsung mengomel panjang. "Enggak nyangka gue kalau pertemanan kita cuma sebatas ini. Bisa-bisanya lo nggak kasih izin kita masuk. Temen macam apa lo? Untung aja gue punya inisiatif buat nelfon bini lo, kalau enggak, bisa mubazir banget usaha kita buat sampe sini. Lo nggak kasian apa bini gue lagi hamil muda!"


"Apaan sih? Gue emang nggak kasih izin siapapun buat jenguk Mala kalau udah lewat jam 6. Kalian aja yang ngeyel. Lagian gue juga udah share info ini di grup kita."


"Sorry, ya, guys, Agha emang lagi posesif mode on. Tadi aja perawat tim bedah mau jengukin gue udah sampe depan ruangan beneran diusir dong sama dia."

__ADS_1


"Dan sekarang pun gue siap ngusir kalian," sambung gue tanpa beban, "kita udah overload terima tamu, kalau enggak dibatasi ntar kita kecapekan. Gue sama Mala sama-sama kerja di sini, bokap gue bahkan praktek di sini juga. Lo bisa ngebayangin kan udah sebanyak apa tamu yang gue terima dari nakes di rumah sakit ini doang? Belum keluarga besar kita dan lain-lainnya. Lo kata nggak capek apa. Kata gue masih mending pas resepsi deh, Him, terima tamu lahiran nggak ada habisnya. Acara resepsi, begitu acara kelar, ya udah selesai. Lah ini? Jadi tolong lah, pengertiannya. Pulang ya kalian, ntar kalian jenguknya pas dokter udah acc kepulangan anak gue aja."


Baik Ohim sama Abbas langsung bertukar pandang.


"Jadi ini kita beneran langsung diusir?"


Tanpa berpikir panjang gue langsung mengangguk cepat sambil menguap.


"Ya udah, kita pulang deh. Mala juga kayaknya kondisinya udah bagus."


Gue mengangguk dan membenarkan. "Tinggal masa pemulihan aja kok, bokap gue juga udah nawarin pulang, cuma kita nunggu si baby sekalian. Soalnya perkembangan dia bagus, tinggal nunggu observasi lanjutan, kalau semua udah oke, kita bisa pulang."


"Cowok ya, Kak? Siapa namanya? Udah ada belum?"


Lagi-lagi gue mengangguk. "Iya, cowok." Gue kemudian garuk-garuk kepala, "tapi untuk nama kita masih belum dapet yang fix nih. Karena semua terlalu dadakan jadi belum sempet nyari. Beberapa keluarga sih udah kasih saran, cuma gue sama Mala belum ngerasa ada yang cocok."


"Butuh sumbangan nama nggak lo?" Kali ini giliran Abbas yang menyahut.


Gue langsung menggeleng cepat. "Enggak, makasih deh kalau lo yang nyariin. Lo kalau nyari nama aneh-aneh."


Selera Abbas suka unik, dia biasa bikin nama panggung buat artisnya. Jadi kalau bikin nama pasti yang anti mainstream. Ya bagus sih, ntar nama anak gue jadi nggak pasaran. Tapi tetap aja selera gue sama Abbas tuh sukanya berlawanan.


"Ya udah, kalau gitu kita langsung cabut deh. Cepet pulih ya, La."


"Iya, thanks ya udah sempetin jenguk. Sorry juga kalian langsung diusir gini."


"Santai."


"Jaga bini lo baik-baik! Jangan suka bikin dia kesel. Lagi hamil anak lo itu."


Ohim tertawa. "Kebalik kali. Gue yang biasa dibikin kesel," ucapnya setengah bercanda, setengah curhat. Hal ini sukses membuatnya mendapat pukulan manja dari sang istri.


Haha. Coba kalau gue berada di posisi Ohim, udah pasti gue digeplak Mala kenceng banget sampe bunyi. Benar, istri gue emang berkekuatan wonder woman, makanya dia agak lebih cepat pulihnya, jika dibandingkan dengan wanita yang lain.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2