Married With My Besti

Married With My Besti
Tetiba Ngambek


__ADS_3

*


*


*


Wifei ❤️ : sent a picture


Gue spontan melotot kaget saat membuka chat yang Mala kirimkan. Ternyata isinya sebuah foto gue dikelilingi para dokter muda yang mengajak gue konsultasi kemarin. Masalahnya foto yang Mala kirimkan itu hanya gue cowoknya, sedangkan sesi konsultasi kemarin ada cowok lainnya juga. Tak ingin membuat Mala salah paham, gue langsung mencoba menghubunginya melalui telfon.


Butuh waktu sedikit lebih lama sampai akhirnya panggilan gue terjawab.


"Aku bisa jelasin, La," ucap gue begitu sambungan terhubung. Gue tidak membuka pembicaraan dengan sapaan atau basa-basi, "ini nggak seperti yang kamu pikirin."


Terdengar dengusan dari seberang. "Emang aku mikir apa?"


Gue garuk-garuk kepala karena salah tingkah. "Ya, pokoknya itu semua nggak begitu, La. Aku beneran bisa jelasin, kamu di mana biar aku ke situ."


"Enggak usah, aku bentar lagi ada operasi."


"La?" panggil gue ragu-ragu. Nada suara Mala yang barusan sulit gue tebak.


"Enak, ya, dikelilingi cewek-cewek? Cantik-cantik, masih muda lagi."


Nada bicara Mala terdengar ketus. Fix, ini mah Mala ngambek.


"Enggak gitu, La, itu rame-rame kok, nggak cuma sama cewek doang, ada cowoknya juga. Kita bahas kasus penyakit."


"Oh, ya?" tanya Mala terdengar seperti orang yang tidak percaya, "bahas kasus apa emang?"


Mampus gue, ini kejadiannya udah sekitar seminggu yang lalu, atau mungkin lebih. Pokoknya tepat dua atau tiga hari setelah masa cuti gue habis dan Kai sudah keluar dari rumah sakit.


Kondisi Kai sekarang sudah beraktivitas seperti biasa, nggak bisa diem dan sedang asik belajar jalan. Alhamdulillah, setelah sembuh dari sakitnya Kai langsung belajar jalan bahkan sekarang jalannya udah mulai lancar pelan-pelan.


"Aku tutup lah, Gha," ucap Mala tiba-tiba. Nada bicaranya terdengar kesal, mungkin karena gue tidak kunjung mengeluarkan jawaban atau bahkan suara.


"La, itu kejadian udah lumayan lama loh, aku ya mana inget, anak koas yang bahas kasus penyakit sama aku ada lumayan, nggak cuma mereka loh. Lagian meski mereka sering ajak aku diskusi kan yang dibahas banyak, mana inget aku pas hari itu apa yang lagi dibahas."


"Hm."


"Kamu seriusan marah ya?"


Hening. Tidak ada jawaban. Gue sedikit menjauhkan ponsel gue dari telinga, untuk memastikan apakah sambungan masih terhubung atau tidak.


Masih kok.


"La?"


"Kita bahas kapan-kapan."


Gue mengerutkan dahi tidak paham. "Kok kapan-kapan?" protes gue kemudian, "kenapa nggak nanti aja? Kan nanti juga ketemu di rumah?"


"Siapa yang kasih izin kamu pulang?"


Buset, ini seriusan gue nggak boleh pulang?


"La, jangan gitu? Masa aku nggak boleh pulang? Masa pulang ke rumah sendiri nggak boleh?"


"Ya udah, kalau kamu pulang biar aku sama Kai yang pulang ke rumah Mama."


Gue langsung melotot kaget. "Lah, kenapa gitu? Jangan dong, La, oke, kamu pulang biar nanti aku yang nginep di apartemen Abbas."


Karena terlalu panik, gue bahkan sampai tidak sadar kalau malah menyetujui ucapan Mala agar tidak pulang.


Aduh, kok gue bego sih?

__ADS_1


"Hm."


Gue berdecak samar lalu menghela napas berat. "Ini seriusan aku nggak boleh pulang? Terus Kai gimana kalau nyariin aku? Emang kamu bisa ngurus Kai sendirian?"


"Kamu ngeremehin aku?"


Mampus! Salah nanya nih.


Wajah gue seketika langsung berubah panik. "Enggak gitu, La, aku nanya, maksud aku kan Kai lagi aktif banget belajar jalan, emang kamu yakin bisa handle Kai sendirian. Aku cuma khawatir, La, kok kamu jadi mikir yang aneh-aneh."


"Tahu lah."


Tanpa meminta persetujuan atau sekedar pamit, tiba-tiba Mala mematikan sambungan telfon begitu saja. Saat gue mencoba untuk menghubunginya beberapa kali, Mala justru mengabaikan panggilan gue. Astaga, Mala serius ngambek sampai begininya?


Karena panik gue cepat-cepat menghubungi dokter koas yang kemarin ikut acara sesi konsultasi.


"Selamat siang, dokter Agha, ada yang bisa--"


"Buruan kirimin foto yang kemarin, yang ada kamunya juga. Sekarang, saya tungguin," potong gue tidak ingin berbasa-basi. Gue bahkan tidak membiarkan Yudi, orang yang gue telfon sekarang, menyelesaikan kalimat sapaannya. Karena situasi saat ini cukup genting.


"Hah? Gimana, dok?"


Gue berdecak kesal. "Saya butuh foto yang waktu itu, yang pas kita bahas kasus penyakit di Cafe depan. Sekarang, sebelum istri saya makin ngamuk nih. Cepetan saya tungguin!"


"Tapi maaf, dok, itu udah foto lama."


Gue menaikkan sebelah alis tidak percaya. "Foto lama bagaimana? Kan baru seminggu lebih?"


"Udah hampir dua minggu, dok. Saya kalau foto lebih dari seminggu biasanya langsung saya apus soalnya memori saya suka penuh kalau nggak dihapusin."


Gue berdecak kesal. "Masa kamu nggak nyisain satu gitu?"


"Enggak. Saya kalau nyimpen foto langsung di sosmed, dok."


"Baik, dok, akan segera saya lakukan."


Klik. Gue mematikan sambungan telfon begitu saja. Kepala gue mendadak pening, gue serius stres kalau Mala yang ngambek.


Tak butuh waktu lama, Yudi langsung mengirimkan foto dengan cepat. Minusnya, dia kebanyakan kirim foto.


"Astaga, kan gue cuma minta satu, kenapa dia kirim sebanyak ini?" gumam gue sambil menahan kesal. Pengen ngamuk tapi kayaknya gue lebih nggak punya waktu buat itu, lebih baik gue segera mengirimkan foto itu ke Mala.


Anda : sent a picture


Anda : tuh, La, kalau kamu nggak percaya. Ini fotonya rame-rame banget, ada cowoknya juga.


Wifei ❤️ : tapi harus banget kamu nempel2 begini sama cewek2?


Gue menelan ludah dengan susah payah, karena Mala tiba-tiba membahas foto yang dia kirimkan tadi.


Wifei ❤️ : kamu juga kenapa sih mau2nya begitu? Kenapa? Kamu ngiri sama Ohim makanya hobi banget deketin anak koas?


Kamu nyesel nikah sama aku?


Anda : enggak lah, La, mana ada aku deketin mereka?


Wifei ❤️ : ya itu buktinya, kamu nempel-nempel sama anak koas. Masih kurang buktinya?


Wifei ❤️ : apa aku perlu sebutin semua?


Anda : La, serius jangan begini lah. Aku takut deh kalau kamu begini. Kita bahas nanti di rumah ya?


Wifei ❤️ : enggak ada yang nyuruh kamu pulang. Kamu berani pulang, aku pergi ke rumah Mama


Anda : 😭😭😭😭😭

__ADS_1


Anda : La


Anda : sayang😭


Anda : jangan begini lah


Wifei ❤️ : diem atau aku block?


Anda : oke


Menghindari di-block istri sendiri, gue tidak berani mengetik balasan lain. Sepertinya gue beneran nggak bisa pulang malam ini, alhasil, pilihan gue adalah langsung menghubungi Abbas.


Anda : Bas


Abbas : ape?


Anda : gue malam ini nginep di apart lo ya?


Abbas : lah, kenapa?


Anda : Mala nggak kasih izin gue pulang, gue nggak mungkin pulang ke rumah Bunda. Bisa kena ceramah bokap 24jam gue ntar kalau pulang ke sana. Mala ngancem kalau gue berani pulang ke rumah, ntar Mala mau pulang ke rumah Mama. itu lebih bahaya, jadi daripada Mala pulang ke rumah mertua gue, lebih baik gue nginep di apartemen lo aja. Malam ini aja deh, janji ntr gue bantu2


Abbas : kaga bisa, bro.


Anda : jangan pelit-pelit kenapa sih sama temen sendiri?


Abbas : lo yang jangan kayak orang susah, nginep di hotel kan bisa? Ngapain nginep di tempat gue?


Anda : sayang, anjir, duitnya, orang cuma semalam kok, mending uangnya buat beli popok anak gue. Sekarang gue bisa tidur di mana aja.


Abbas : anjir, lo sekarang perhitungan banget yee🤣🤣


Anda : 😑 pokok gue nginep di tempat lo


Abbas : dibilang gk bisa juga, ya nggak bisa, bro


Anda : emang kenapa sih lo ngotot banget gk kasih izin gue nginep di tempat lo? Lo sembunyiin cewek ya di apartemen lo?


Abbas : sembarangan aja lo!


Abbas : sent a picture


Gue menaikkan sebelah alis heran karena Abbas tiba-tiba mengirim foto Alisa


Anda : apa maksudnya nih?


Abbas : lagi gk di Jakarta gue, nemenin si ibu dosen seminar


Anda : hah? Dalam rangka apaan, anjir? Emang lo siapa? Ngapain lo nemenin seminar mantan istri orang?


Anda : perasaan gue kalau ngisi seminar kaga pernah ajak Mala, begitu juga sebaliknya


Abbas : ya, itu lo sama Mala. Ini gue sama Alisa. Beda, bro.


Anda : kalian udah nganu?


Abbas : woi, ketikan lo?!


Anda : bukan nganu yang itu, maksud gue, nganu... Lo sama Alisa udah resmi?


Abbas : no komen🙃


Lah, kok mencurigakan? Jangan-jangan mereka udah beneran resmi nih?


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2