Married With My Besti

Married With My Besti
Curhat Berujung...


__ADS_3

*


*


*


Akhirnya gue pergi ke tempat grand opening sendirian, eh, ya enggak sendirian deh, bareng Ohim. Soalnya ini bapak anak satu minta dijemput, alhasil gue berangkat bareng dia, enggak bareng Mala atau Kai.


Sebenarnya Mala sempat menyarankan gue agar mengajak Kai tapi tentu saja langsung gue tolak lah. Bukan apa-apa Kai itu kalau diajak pergi keluar tuh ribet, dan gue males ribet jadi ya tentu saja gue menolak saat Mala menyuruh gue mengajak Kai. Sejujurnya gue agak kasian juga sama Kai, karena dia lumayan terlihat seperti ingin ikut.


Tapi berhubung gue nggak ngerasa cukup mampu bisa menjaga Kai seorang diri, maka ya lebih baik enggak usah mengajak Kai saja. Cari aman.


"Lah, kok bareng? Kenapa nggak nyetir sendiri, Him?"


"Males. Ada yang bersedia antar-jemput gue kenapa musti repot-repot nyetir sendiri?"


Mendengar jawaban Ohim yang seenaknya, gue langsung melotot tajam ke arahnya. Sedangkan yang dipelototi terlihat tidak peduli. Double sialan si Ohim.


"Yah, tahu gini gue tadi juga ikutan nggak nyetir deh biar diantar-jemput juga macem bapak CEO."


Gue langsung memukul kepala Abbas kesal, sedangkan pria itu hanya terbahak tak lama setelahnya. Ia tidak protes dan hanya mengelus kepalanya.


"Udah lah, yuk, masuk, ntar keburu abis makanannya," ajak Abbas yang langsung gue dan Ohim angguki dengan cepat.


Saat kami masuk ke dalam ternyata memang acaranya hampir mirip seperti reunian, meski beberapa di antara mereka yang namanya udah nggak gue inget, tapi wajah mereka cukup tidak asing.


Kami menyapa mereka satu persatu tapi tidak semua, hanya beberapa wajah yang menurut kami tidak asing yang kami sapa, mengobrol sebentar, basa-basi lalu mulai mencari meja sendiri dan pesan makanan. Sejujurnya, gue tipe yang sangat jarang ikut acara reuni jadi tidak bisa berlama-lama ngobrol sama mereka yang sudah tidak akrab dengan gue.


Setelah pesanan kami sampai di meja kami, gue langsung memfotonya.


"Dalam rangka apaan lo foto makanan? Mau bantu promosi?" tanya Abbas terlihat sedikit heran.


Gue menggeleng. "Laporan ke Mala."


Abbas yang tadinya sedang minum tiba-tiba tersedak saat mendengar jawaban gue. Lah, emang ada yang aneh sama jawaban gue?


Gue kemudian menoleh ke arah Ohim, bermaksud meminta penjelasan. Namun, pria itu hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu. Tak punya pilihan lain, gue pun bertanya langsung ke orangnya.


"Emang kenapa? Ada masalah?"


"Ya, enggak sih, cuma kenapa lo laporan segala?"

__ADS_1


"Kepo lo. Entar kalau lo udah nikahin Alisa, lo bakalan ngerti sendiri tanpa gue jawab pertanyaan lo barusan."


Gue kemudian langsung mengirimkan foto ke Mala.


Anda : sent a picture


Anda : La


"Pamer ya lo?" tanya Abbas begitu gue meletakkan ponsel dan mulai menyentuh sendok.


Gue terkekeh samar lalu mengangguk dan mengiyakan. "Iya, semacam itu. Soalnya menu makan gue udah seminggu lebih ini soto terus, Bas. Jadi hari ini gue mau pamer kalau gue makan enak."


"Kenapa makan soto terus?" kali ini Ohim yang bertanya dengan heran sambil menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.


Gue menggeleng pasrah. "Gue juga nggak tahu, Him, kelakuan Mala akhir-akhir ini aneh, sensitif, mood swim banget lah. Ntar nih semisal gue tanyain kenapa makan soto terus, ujungnya ngambek dan berpikir gue nggak mau beliin."


"Hamil lagi jangan-jangan si Mala."


Gue mengangkat kedua bahu secara bersamaan. "Enggak tahu juga, tapi seingat gue, gue selalu main aman kok, keknya enggak deh kalau sampai kebobolan."


"Ya itu kan seingat lo, tapi kalau lo yang lupa gimana? Bisa jadi beneran kebobolan kan?"


Gue berpikir sejenak dan mengangguk. Benar juga sih kata Ohim. Eh, tapi Kai kan masih setahun, kalau beneran kebobolan gimana dong?


Gue menggeleng cepat. Tapi kemudian gue teringat kejadian Mala yang mau masak tapi nggak jadi kala itu.


"Eh, tapi enggak juga deh, sejauh ini sih gue belum pernah memergoki Mala mual atau bahkan muntah. Tapi ada kejadian aneh sih waktu itu."


"Aneh yang gimana?" tanya Abbas kepo.


"Jadi waktu itu ceritanya Mala mau masak, dia udah numis bumbu gitu di wajan, tapi nggak lagi dilanjut masak dan malah beli bubur ayam. Menurut kalian ini aneh nggak sih?"


"Ya aneh lah, terus emang lo nggak nanya Mala kenapa dia nggak lanjut masak?"


"Ya, tanya lah, cuma Mala jawabnya katanya nggak mood lanjut masak."


Ohim terkekeh. "Terus lo percaya gitu aja?"


Gue menggeleng. "Sejujurnya ya enggak, cuma mau gimana lagi gue takut Mala ngambek kalau gue tanya lebih, makanya gue diem aja dan nggak berani nanya-nanya lebih lanjut."


"Berarti fix, Mala hamil sih kalau menurut gue," ucap Abbas sok tahu.

__ADS_1


Dia bahkan belum ada pengalaman menikah dan punya punya istri, tapi sok tahunya udah kayak orang paling berpengalaman saja.


"Sok tahu lo," sahut Ohim, "ya lo ngerasa ada perubahan pada tubuh Mala atau enggak? Kan lo dokter juga lah, Gha, meski nggak terlalu paham hal detailnya tapi seenggaknya tahu lah, apalagi mengingat lo udah ada pengalaman karena Mala sebelumnya udah pernah hamil."


"Gue nggak terlalu memperhatikan sih, Him. Tiap gue tanya dia kayak berubah kesel gitu, jujur gue bingung juga sih jadinya mau gimana. Takut salah," aku gue jujur.


"Kalian plan anak kedua maunya Kai pas umur berapa?"


"Ya, sekitar umur empat atau lima tahun lah, biar dia udah ngerti dan paham jadi Abang. Soalnya kan gue sama Mala juga sibuk kerja takutnya ntar kita nggak bisa ngurusnya."


"Berarti bisa jadi Mala tahu kalau lagi hamil tapi dia denial makanya dia sensi kalau lo singgung soal kehamilan. Kan Kai baru setahun."


"Tapi menurut gue Kai cukup pinter kok, jadi meski gap years setahun nggak akan ada masalah, lo sama Kak Ale bukannya gap years-nya cuma setahun juga?"


Gue langsung mengangguk cepat. "Iya. Tapi kan nyokap bokap gue nggak masalah dengan itu."


"Lo ada masalah?"


"Sejujurnya kalau gue enggak sih, mau dikasih sekarang pun gue nggak masalah, soalnya menurut gue kalau Tuhan udah kasih lagi berarti Tuhan udah percaya sama gue me dan Mala. Jadi, untuk apa gue khawatir kalau nggak bisa? Pasti bisa lah, pasti tetep bakalan dikasih kemudahan."


"Tapi Mala nggak mau?"


Gue meringis samar. "Minimal Kai harus udah umur tiga tahun kalau semisal Mala mau hamil lagi."


"Buset, gitu banget sih si Mala?" komentar Abbas.


"Bro, tolong maklumi profesi istri gue, dia bukan wanita karier yang kerjaannya bisa dikerjain sambil nyusuin anak di rumah. Istri gue tenaga kesehatan loh yang kerjaannya di rumah sakit, gue paham dan sangat mengerti kenapa dia begini. Mala cuma pengen jadi ibu yang baik, kalau Kai masih setahun dan dia hamil lagi, pasti berat buat dia."


"Emang lo nggak pengen Mala di rumah aja ngurusin anak-anak dan lo doang yang kerja? Lo khawatir banget keuangan keluarga lo bakal berkurang kalau semisal Mala berhenti bekerja? Kalau semisal Mala hamil lagi ya tinggal disuruh berhenti kerja buat ngurus anak-anak kan beres? Iya nggak sih? Rumi aja yang kuliah ambil cuti kok buat ngurus anak, masa Mala yang kerja nggak mau berhenti kerja buat ngurus anak?"


Jujur, gue agak kesal dengan kalimat panjang Abbas. Kalau enggak lagi di tempat umum pasti gue udah ngajakin dia berantem sih saking ngeselinnya omongan dia. Tapi berhubung kami sedang di tempat umum, jadi ya gue harus menahan diri agar tidak ngamuk.


"Bro, rumah tangga gue dan Ohim beda, Rumi dan Mala beda. Jangan lo sama-samain dan jangan pernah berpikir untuk menyamakan!"


"Enggak menyamakan, Gha, cuma maksud gue gini, Rumi yang notabenenya usia jauh lebih muda dibanding Mala aja rela mengorbankan kuliahnya--"


"Bro, kayaknya kalimat lo cukup menyinggung gue deh," potong gue dengan wajah kesal, "gue nggak terima istri gue dibeginikan, menurut lo atau orang-orang, mungkin keliatannya Mala nggak mengorbankan pekerjaannya demi Kai, tapi dia udah mengorbankan banyak hal atau pun waktu buat anak gue. Dia sudah melakukan yang terbaik dan semampu dia, dan gue menghargai semua itu. Lo jangan seenaknya lah, gue dan Ohim beda. Kalau Ohim memilih membiarkan istrinya mengorbankan kuliahnya demi ngurus anak mereka, gue enggak. Gue nggak mau istri gue mengorbankan karir yang udah dia capai dengan susah payah demi ngurus gue dan anak gue. Sebagai suami gue pengen tetep mendukung karir dia. Mala tetep bekerja bukan semata-mata demi uang saja, tapi karena dia memang suka melakukannya dan gue bakalan mendukung hal yang Mala suka asal itu tidak mengganggu norma. Lo bahkan belum menikah, Bas, jadi lo mungkin nggak tahu pasti rasanya kayak apa." karena kesal, gue langsung berdiri, "gue tetiba nggak nafsu makan deh, cabut aja lah gue."


"Buset, Gha, masa langsung cabut?" protes Abbas.


"Iya, Gha, kan kita sekalian mau nongkrong masa lo langsung cabut? Kita pesen makannya lumayan loh ini."

__ADS_1


"Next time aja lah," balas gue langsung memilih pergi.


__ADS_2