Married With My Besti

Married With My Besti
Mala Emosi


__ADS_3

*


*


*


"La, gue kurang cantik ya?"


Mala merasa aneh dengan pertanyaan Alisa yang menurutnya secara tiba-tiba. Sebelah alisnya terangkat heran.


"Atau kurang menarik?"


Belum juga membuka suara, Alisa kembali bertanya.


"Lo kenapa sih? Kok ngomong gitu? Kayak bukan Alisa yang gue kenal banget," responnya heran.


Jadi tadi begitu perempuan itu pulang mengajar, langsung mampir ke rumahnya. Awalnya, Mala pikir Alisa mampir karena ingin main dengan Kai tapi ternyata dugaannya salah, perempuan itu justru duduk di sampingnya dengan ekspresi sedih. Hal ini membuat Mala terheran-heran.


Apakah mertua barunya habis menyakiti perasaannya? Bukan apa-apa ia tahu hubungan mereka tidak begitu bagus. Meski pada akhirnya ibu Abbas kasih restu agar menikah dengan Alisa tanpa syarat pada akhirnya, tapi tetap saja, ibu Abbas pasti masih perlu penyesuaian dengan menantunya. Biasanya kalau sekalinya kurang suka, tidak mudah bagi orang itu untuk menerimanya begitu saja.


"Gue emang ngerasa kayak bukan gue banget deh, La."


Mala kemudian lebih mendekatkan diri ke arah Alisa. "Sa, lo ngomong apaan sih? Coba sini cerita pelan-pelan. Lo sebenernya kenapa? Ibu Abbas nyakiti perasaan lo?"


Alisa menggeleng cepat.


"Terus?"


"Abbas nggak mau sentuh gue, La, apa karena gue bekas orang lain ya makanya dia nggak mau sentuh gue?" Nada bicara Alisa terdengar seperti bergetar, kedua matanya pun terlihat sedikit berkaca-kaca meski perempuan itu tidak benar-benar menangis.


Mala langsung menampilkan wajah kagetnya. Yang jadi permasalahan itu dari Abbas-nya sendiri?


"Lo nggak boleh ngomong gitu, Sa, gue yakin Abbas bukan tipe yang begitu."


"Tapi buktinya dia nggak mau sentuh gue, La. Bahkan di malam pertama setelah gue nikah sama dia, Abbas malah lebih milih tidur di sofa. Terus paginya dia malah milih langsung pergi nge-gym ketimbang ngehabisin waktu sama gue. Bukankah itu udah cukup jadi bukti kalau gue kurang menarik?"


Mala berdecak sambil geleng-geleng kepala. "Ya, enggak bisa lo asumsiin begitu lah, Sa. Gue yakin Abbas pasti punya alesan kenapa bersikap demikian."


"Ya itu, La, alasannya pasti itu karena gue kurang menarik atau kurang cantik. Makanya Abbas nggak mau sentuh gue. Menurut lo, gue harus gimana ya, La, biar Abbas mau sentuh gue?"


Mala garuk-garuk kepala bingung. Waduh, harus dijawab apa nih? Jujur, ia takut karena takut salah ngomong.


"Sa, lo percaya kan kalau Abbas sangat mencintai lo? Lo tahu betul setulus apa perasaan dia buat lo, jadi, please, gue mohon lo jangan mikir yang aneh-aneh! Menurut gue, lo bisa tanyain ini baik-baik ke Abbas-nya langsung sebenernya, biar nggak terlalu mengganggu pikiran lo. Tapi gue juga nggak akan maksa biar lo ngelakuin itu. Nanti gue coba bantu ngomong ke Agha ya, biar dibantu Agha buat ngomong ke Abbas nantinya. Lo tenang aja, nggak usah terlalu pusing mikirin ini semua. Kita bantu kok, Sa, pasti. Masa pengantin baru sedih sih?"


Alisa diam sejenak lalu menatap Mala ragu-ragu. "Tapi gue ngerasa hubungan gue sama Abbas begitu abis nikah justru malah ngerasa canggung, La. Apa itu semua karena gue nggak sesuai dengan yang dia harepin kali ya? Makanya dia kecewa terus bersikap begini."


"Sa, gue bilang jangan terlalu overthinking!"

__ADS_1


"Ya gimana gue nggak overthinking sih, La, kalau Abbas-nya aja begitu."


"Oke, Abbas yang salah, ntar gue omelin deh dia."


"Bukan itu yang gue mau, La."


Mala manggut-manggut paham. "Iya, gue nggak akan omelin dia. Ntar biar Agha yang ngomelin dia."


"La!" seru Alisa sedikit kesal. Ia merengut sebal tak lama setelahnya. Mala langsung mengelus pundaknya untuk menenangkan.


"Iya, iya, gue cuma bercanda."


*


*


*


Begitu mendengar suara mobil sang suami, Mala langsung bergegas turun dan menyambutnya. Ia bahkan sampai repot-repot membukakan pintu gerbang untuk pria itu. Padahal biasanya boro-boro, disuruh saja susahnya minta ampun. Lah, ini Agha yang baru lepas seat belt, belum buka pintu, tahu-tahu Mala sudah terlihat berlari-larian dari dalam.


Tumben. Batin Agha keheranan. Mungkin Kai sudah tidur makanya Mala berbaik hati dengan membukakan pintu gerbang untuknya.


"Kai udah tidur?" tanya Agha saat turun dari mobil.


Mala melenggang masuk ke dalam rumah lebih dahulu. Agha makin dibuatnya. Abis bikin salah apa lagi nih dirinya? Perasaan ia tidak habis bikin ulah deh. Sekuat tenaga ia mencoba mengingat-ingat, tapi tetap saja hasilnya nihil. Ia tidak habis bikin salah. Harusnya.


"Kenapa sih?" tanya Agha saat akhirnya menyusul masuk ke dalam rumah, menyusul sang istri.


Dengan ekspresi takut-takut Agha kemudian memutuskan untuk duduk. Susah payah ia menelan salivanya. Perasaannya benar-benar gugup.


"Abbas ada nemuin kamu atau telfon kamu nggak?"


Agha diam sebentar. Mencerna pertanyaan sang istri barusan. Yang ditanyain Abbas? Otaknya berpikir sebentar sebelum akhirnya menegakkan tubuh dan mengubah ekspresinya.


"Emang kenapa?"


"Ditanyain nggak usah balik, nanya, tapi dijawab, Gha."


Mendengar nada tidak bersahabat sang istri, Agha cepat-cepat mengangguk dan mengiyakan.


"Emang kenapa sih?" tanyanya heran.


"Dia ada masalah apa sih sama Alisa? Atau dia lagi ada masalah dengan dirinya sendiri?" Mala berdecak kesal, "aku kesel deh liat kelakuannya. Lupa apa dia gimana susahnya dapetin Alisa, kenapa setelah udah dapet malah dianggurin gini. Jadi bikin Alisa overthinking yang berlebih."


Kali ini ekspresi Agha berubah terkejut. "Overthinking? Maksudnya overthinking gimana?"


Mala melirik sang suami sedikit galak. Padahal kalau dipikir-pikir kan yang salah Abbas, kenapa Agha yang disinisin?

__ADS_1


"Abbas belum ada cerita sesuatu?" Mala balik bertanya.


"Alisa juga ada cerita ke kamu?"


Mendengar kata 'juga' membuat Mala pada akhirnya mengangguk cepat. "Iya, dia cerita ke aku, Gha. Abbas juga cerita?"


Kali ini giliran Mala yang mengangguk dan mengiyakan. "Aku mau denger versi cerita Abbas."


"Abbas bingung."


"Sama perasaannya?" Mala melotot kaget.


Cepat-cepat Agha menggeleng sambil mengibaskan telapak tangannya. "Enggak, bukan itu, tapi dia bingung mulainya."


"Hah? Maksudnya?"


"Kayaknya dia masih belum terbiasa dengan status mereka yang udah nikah deh, ibarat kata Abbas itu malu-malu tapi sebenernya mau banget. Kan mereka dulunya temen, kayaknya Abbas masih belum mampu beradaptasi dengan baik."


"Ya kalau emang beneran mau kan tinggal ajakin kan? Simple kan? Sa, ayo, bikin anak! Udah beres. Kita dulu juga temen kan? Bahkan kalau kita, kita bahkan lebih kayak kemusuhan kan sejak awal. Terus juga kita kalau ngobrol malah nggak bisa langsung aku-kamu, lo-gue. Terus kenapa Abbas masih sok malu-malu? Dia sadar nggak sih sikapnya yang begini bikin Alisa overthinking jadinya."


Agha terkekeh. Ternyata mereka cukup sehati ya, bahkan kalimatnya sebagai contoh pun sama.


"Kenapa kamu malah ketawa?" tanya Mala heran, "aku lagi emosi loh, Gha, sama temen kamu itu. Bisa-bisanya sikapnya cemen banget. Mau kok nggak berani bilang, terus dia berharap Alisa gitu yang minta? Yang bener aja dong, ya kali seorang Alisa minta diapa-apain. Mikir lah!"


"La, kenapa kamu malah ngomelin aku?" protes Agha tidak terima, "kan yang salah Abbas, yang nggak berani dia loh, kenapa aku yang kamu sembur."


"Ya soalnya kamu temennya, aku emosi dan aku butuh melampiaskannya." Mala berdecak sambil geleng-geleng kepala, "enggak ngerti banget aku sama Abbas."


"Ya kan semua orang punya sifat dan karakter masing-masing, La, nggak bisa disamain. Abbas mungkin cuma perlu waktu."


"Ya, kalau Abbas nggak segera ngapa-ngapain Alisa, ya gimana bisa Alisa hamil lah, Gha. Kamu ajarin dia yang bener lah!"


Agha melotot kaget. "Ajarin yang gimana, La? Prakteknya?"


Mala berdecak kesal. "Ya teorinya lah, Gha, biar dia nggak bersikap begini sama Alisa. Kasian loh dia, dia jadi ngerasa kayak nggak menarik sampai suaminya sendiri nggak mau nyentuh dia. Apalagi status dia lumayan sensitif loh, dia pernah menikah dan gagal. Dan itu udah cukup membebani dia, terus kalau suaminya nggak mau nyentuh kan, dia-nya jadi mikir kalau nggak pantes buat suaminya yang sekarang."


"Kita kasih kesempatan buat mereka dulu lah ya, biar mereka selesaiin sendiri nanti kalau nggak bisa baru kita turun tangan," saran Agha.


"Pokok kalau sampai Abbas bikin overthinking Alisa lagi, awas aja!"


"Enggak, nanti gue coba ngomong sama Abbas."


Mala menggeleng tidak setuju. "Jangan nanti-nanti lah, Gha, tapi sekarang! Kasian Alisa."


Agha menampilkan wajah datarnya. "Kamu nggak kasian sama aku? Aku belum makan loh dari siang."


"Ya siapa suruh nggak makan? Kamu udah besar, tua, makan aja masa iya nunggu disuruh sih, Gha?" decak Mala langsung berdiri, "ya udah, tunggu bentar, kamu telfon Abbas sana! Biar aku ambilin makan."

__ADS_1


"Makasih, sayang."


Tbc,


__ADS_2