Married With My Besti

Married With My Besti
Rencana Abbas Gagal?


__ADS_3

*


*


*


"Mamam!"


Abbas langsung meletakkan pisaunya lalu berjalan mendekat ke arah Kai. "Apa, Kai?" tanyanya tidak paham.


"Mamam! Mamam! Mamam!"


Abbas kemudian menoleh ke arah Agha. "Gha, ini anak lo minta apaan dah?"


"Makan. Kasih makanan apa aja, asal jangan camilan ber-MSG."


"Anti MSG lo?" Abbas kemudian mengangguk paham tak lama setelahnya, "oh iya, keluarga lo kan mayoritas dari kesehatan, jadi wajar sih."


Agha sedikit terkekeh. "Ya enggak anti lah, Bas, lo kayak baru kenal gue aja. Bahkan lo tahu kayak apa gaya makan gue. Maksudnya dia masih kecil, Bas, masih setahun, MSG mah nggak usah dikenalin sejak dini ntar juga doyan sendiri. Jadi ya gue sama Mala emang nggak ngenalin dulu."


Sekali lagi Abbas mengangguk paham lalu berjalan menuju kulkas untuk mencari sesuatu dari dalam sana. "Ini ada cake, ini aja ya?"


Agha menoleh ke arah Abbas sebentar. "Buah aja nggak ada?"


Abbas kemudian menunjukkan apel merahnya. "Adanya apel, emang bisa?"


"Bisa lah. Kasih itu aja."


Abbas mengangguk paham, lalu membawa buah apel itu mendekat ke arah Kai. Mengupasnya, memotong menjadi potongan lebih kecil lalu menyerahkan pada Kai.


Agha sendiri sudah selesai membuat susu untuk Kai lalu ikut mendekat ke arah mereka.


"Mau nggak?"


Abbas mengangguk dan mengiyakan. "Mau. Ini udah mau abis setengah."


"Ya udah, lo bisa lanjut masak lagi biar Kai gue ajak dekor."


"Emang ntar nggak ngerusuh?"


"Ya pasti ngerusuh lah, cuma sambil gue jagain lah biar nggak sampe ngerusuh yang ngerusakin barang."


Abbas mengangguk setuju lalu kembali melanjutkan kegiatan memasaknya yang tadi sempat tertunda.


"Btw, Mala udah bilang mau dibeliin apa belum? Apa dia butuh buat perlengkapan lahiran ntar?"


"Enggak lah kalau itu, buat perlengkapan lahiran ntar jadi urusan gue, lagian punya Kai dulu masih bagus-bagus kok, jadi ntar gue paling cuma beli sebagian aja."


"Terus minta apa doi?"


"Dipending."


Abbas mengerutkan dahi bingung. "Apanya yang dipending?"


"Lo mau beliin apa, soalnya kalau sekarang Mala nggak lagi ngerasa butuh sesuatu. Jadi dia minta dipending dulu, jadi ntar begitu dia pengen sesuatu tinggal bilang ke lo."


Abbas seketika langsung melongo. Ekspresinya tidak setuju dan seperti ingin protes, tapi di sisi lain ia merasa tidak berhak untuk protes karena Agha membantunya sebegini niatnya. Tentu saja ia jadi merasa sungkan kalau harus menolak.


"Ya udah deh, terserah. Yang penting ntar kalau minta sesuatu suruh kondisiin sama kondisi keuangan gue juga."


Agha terbahak. "Emang kenapa kondisi keuangan lo? Perasaan stabil mulu deh."

__ADS_1


"Ya itu menurut kacamata lo, tapi kenyataannya nggak demikian, bro! Udah nggak usah banyak ngobrol, langsung kerja sana lo! Katanya mau dekor?"


Agha berpikir sejenak. "Eh, bentar dulu, kan Mala cuma kasih izin gue bantuin lo, terus yang ngebantuin lo, kenapa Mala yang lo tawarin mau dibeliin apa sedangkan gue enggak?" protesnya kemudian, "mana boleh begitu? Gue mau lensa kamera baru."


Abbas melongo tidak percaya. Demi Tuhan, ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran pria itu. Bentar lagi udah mau punya dua anak, tapi masih aja kepikiran buat beli kamera atau printilan lainnya. Kok bisa sih? Apalagi kalau mengetahui harga fantastisnya.


"Lo bentar lagi jadi bapak dua anak, masih aja kepikiran beli lensa baru sih, Gha?"


"Ya emang kenapa? Enggak boleh? Lo nggak boleh mendiskriminasi bapak-bapak lah, meski gue udah bapak-bapak kan tetap aja gue butuh membahagiakan diri. Kan yang perlu gue bahagiain nggak cuma anak istri, diri sendiri juga perlu. Pokok gue mau dibeliin lensa baru, ntar gue kirimin tagihannya. Oke."


Agha mengacungkan jempolnya lalu menggendong Kai, mengajak sang putra untuk diajak mendekor surprise untuk Alisa. Meski kemampuannya tidak seberapa tapi Agha bertekad besar agar tidak mengecewakan keduanya, baik Abbas maupun Alisa.


*


*


*


Prang!


Agha sedikit tersentak kaget saat mendengar suara benda jatuh berasal dari kamar Abbas. Ia kemudian menoleh ke arah pria itu yang sedang sibuk di depan kompornya. Mendadak ia bergidik ngeri.


"Bas, lo punya simpenan?"


Abbas menoleh ke arah Agha. "Duit maksudnya?" tanyanya tidak paham.


"Bukan, anjir, itu di kamar lo?"


"Emang kenapa sama kamar gue?" Abbas malah balik bertanya.


"Ada suara benda jatuh. Masa iya di apartemen lo ada tikus?"


"Ngawur! Ya enggak lah, sembarangan aja lo."


Abbas celingukan. "Anak lo mana?"


"Anak gue?" beo Agha bingung, "ikut em...ak Astagfirullah, anak gue!" ia menepuk dahinya reflek lalu berlari ke dalam kamar Abbas.


Detik berikutnya ia langsung melongo kaget saat melihat kamar berantakan Abbas. Tak lama setelahnya si pemilik kamar ikut menyusul dan mengecek apa yang terjadi pada kamarnya. Dan betapa shocknya Abbas saat menemukan kamarnya seperti kapal pecah, belum lagi parfum mahalnya yang ia pesan langsung dari luar negeri, baru sampe dua hari yang lalu dan baru ia coba saat sampai. Rencananya baru akan ia pakai nanti malam saat menemui Alisa. Tapi kini rencana tinggal lah rencana.


"Astaga Tuhan, parfum baru gue!" jerit Abbas histeris.


Agha meringis dengan wajah bersalahnya. "Sorry, bro, nanti gue ganti. Sumpah! Lensa kameranya nggak jadi deh kalau gitu. Tapi maafin Kai ya?"


Sejujurnya Abbas ingin marah, setidaknya pada Agha karena pria itu sudah lalai dalam menjaga Kai. Tapi melihat wajah polos bocah itu membuat emosinya mereda seketika. Ia hanya gemas lalu mendekat ke arah bocah itu dan menggelitikinya hingga Kai terbahak puas.


"Ayo, Kai minta maaf dulu sama Om Abbas!" perintah Agha, "salim!" sambungnya kemudian.


Kai tidak menurut, bocah itu menggeleng sejenak. Membuat Agha melotot tegas.


"Kalau nggak mau nanti nggak boleh main lagi!" ancamnya serius.


Seolah paham, begitu mendengar ancaman sang Papa, Kai langsung menurut dan mau salim ke Abbas.


"Janji nggak boleh diulangi loh!"


Seolah benar-benar paham, Kai mengangguk cepat lalu mengajak Abbas salim lagi. Hal ini membuat Abbas bertambah gemas dan kembali menggelitiki bocah itu. Lagi-lagi Kai kembali terbahak senang.


"Sorry, beneran gue minta maaf ya, bro, gue lupa, anjir kalau ngajak Kai," ringis Agha merasa bersalah sekaligus tidak enak, niat hati mau membantu malah mengacaukan semuanya.


"Ya udah sih, nggak papa, udah terlanjur juga mau ngamuk juga nggak bakal bikin parfum mahal gue balik."

__ADS_1


"Gue ganti deh ntar, lo belinya di mana itu?"


"Enggak usah lah, mampu gue kalau beli sendiri. Kayak sama siapa aja lo. Santai aja. Udah lah, lupain, mending lo beresin kamar gue udah cukup kok."


Agha mengangguk paham lalu bergegas membereskan kekacauan yang Kai buat. Sementara Kai sendiri ikut Abbas, bocah itu mendadak menjadi penurut dengan Abbas setelah pria itu memberinya makanan. Memang Kai sangat mirip dengan Mala yang sangat suka makan.


Agha akhirnya bisa bernapas lega setelah selesai membereskan kekacauan yang dibuat sang putra. Ia berencana pergi ke dapur karena haus, namun, terpaksa harus ia urungkan karena ponselnya berbunyi. Nama sang istri tertera di layar.


"Ya, halo, istriku sayang, ada apa gerangan? Udah kangen suami ya?" goda Agha begitu sambungan terhubung.


"Kamu masih lama pulangnya?"


"Belum tahu nih, belum kelar soalnya ini dekornya, tadi si Kai malah ngerusuh dan berantakin kamar Abbas, nggak sampai di situ, La, parfum Abbas sampai dipecahin. Aku jadi nggak enak deh sama dia, mana katanya baru lagi, baru nyampe. Sumpah nggak enak banget aku."


"Ya udah, ntar diganti lah kalau nggak enak."


Agha mengangguk setuju. "Iya, rencana emang mau tetep aju ganti meski Abbas bilang nggak usah. Kan nggak enak juga."


"Hm," respon Mala seadanya.


"Kamu nelfon ada apa? Mau nitip dibeliin sesuatu?"


"Enggak."


"Terus?"


"Anterin ke rumah sakit, yuk!"


"Hah? Rumah sakit? Emang kenapa? Kamu nggak papa kan, La? Kamu jangan bikin aku panik deh."


"Ya, makanya jangan panik dulu!"


Agha menggeleng tidak setuju. Bagaimana bisa ia tidak panik? Tentu saja tidak bisa.


"Ya enggak bisa lah, La, kamu minta dianterin ke rumah sakit kok. Jelas aku panik."


"Aku cuma flek doang, aku minta dianter cuma buat cek doang. Buat memastikan si adek nggak papa, soalnya aku juga ngerasa baik-baik aja, Gha. Kamu kalau pulang hati-hati ya! Apa aku telfon Alisa aja buat nemenin aku?" tawar Mala yang langsung ditolak Agha dengan tegas.


"Enggak! Enggak boleh, kamu harus tetep aku yang anter, kamu boleh telfon Alisa, tapi tetep harus sama aku. Ini aku langsung meluncur ke sana."


"Oke. Hati-hati, Gha! Jangan panik!"


Agha berdecak kesal. Entah kenapa setiap Mala bilang 'jangan panik!' yang ada dirinya justru merasa semakin panik. Pikirannya kacau.


"Bas, anterin gue!"


"Ke mana, anjir? Gue belum kelar masak, dekor juga belum beres."


"Mala perlu ke rumah sakit?"


Abbas melotot panik. "Hah? Emang kenapa?"


"Enggak tahu, ini makanya gue perlu segera pulang. Ya udah gue naik taksi aja deh."


"Jangan lah!" cegah Abbas, "gue anter. Yuk!"


"Tapi acara lo mau ngelamar Alisa gimana?" Agha merasa sungkan.


"Gampang itu, gue bisa lamar Alisa kapan aja. Bisa besok lagi. Sekarang yang penting pastiin kondisi Mala sama calon anak kalian baik-baik saja."


Agha tersenyum sambil mengucap terima kasih. Mau heran tapi ini Abbas, yang selalu mengutamakan orang lain dibandingkan diri sendiri. Selain berdoa agar Mala dan kondisi janinnya baik-baik saja. Agha ikut mendoakan semoga rencana Abbas melamar Alisa tidak batal.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2