Married With My Besti

Married With My Besti
AA Couple Story 4


__ADS_3

*


*


*


"Selamat pa--"


"Sarapan udah aku siapin di meja, aku mau berangkat duluan," potong Alisa tanpa membiarkan sang suami menyelesaikan sapaan paginya.


Abbas dibuat heran karenanya. Apalagi melihat tingkah sang istri yang terlihat begitu buru-buru.


"Mau ke mana?" tanya Abbas langsung mengekor di belakang sang istri yang hendak pergi duluan.


"Kamu nggak liat penampilan aku kayak gimana? Emang keliatan kayak orang mau ke pasar atau main?"


Abbas makin dibuat heran oleh sikap sang istri yang terkesan sedikit ketus. Batinnya bertanya-tanya, memang apa yang sudah ia lakukan sampai sang istri bersikap ketus seperti demikian?


Abbas menggeleng cepat. "Tapi kenapa kamu harus pergi ke kampus pagi-pagi banget gini? Bareng aku aja kenapa sih? Temenin sarapan dulu, masa aku makan sendiri?"


Alisa mendengus. "Terus kamu berharap aku suapin gitu?"


Abbas melongo. Memang ini sudah tanggalnya sang istri menuju tanggal merah kah? Kok Alisa jadi mode senggol bacok begini.


"Ya, enggak gitu maksud aku, Sa. Temenin makan gitu, lagian emang kamu udah sarapan?" Abbas mencoba untuk tetap bersikap tenang, karena khawatir sang istri akan semakin sensi dibuatnya.


Alisa langsung mengangguk cepat untuk mengiyakan.


"Ya udah, temenin doang kalau gitu."


Perempuan itu menggeleng cepat tak lama setelahnya. "Enggak bisa, aku buru-buru," tolaknya kemudian.


Abbas sedikit berdecak. "Buru-buru ke mana? Enggak biasanya kamu begini."


"Ya, berarti hari ini luar biasa."


Abbas semakin menatap sang istri dengan ekspresi tidak percayanya. "Kamu kenapa sih, Sa? Apa gara-gara obrolan kita semalem?"


"Pokok aku mau berangkat duluan."


Alisa terkesan acuh tak acuh. Hal ini membuat Abbas semakin bingung dibuatnya.


Tanpa menunggu persetujuan sang suami, Alisa langsung pergi begitu saja. Abbas bahkan tidak bisa berbuat banyak, ia tidak bisa protes atau bahkan mencegah kepergian sang istri. Maka dengan pasrah, akhirnya ia berjalan menuju dapur dan makan sarapan yang dibuat sang istri. Cukup spesial karena ada telur goreng di atas nasi putihnya. Benar kan, biasanya yang pake telur itu spesial?


Selesai dengan sarapannya, Abbas kemudian memutuskan untuk mandi baru setelahnya ia bersiap untuk berangkat ke kantor. Terbiasa selalu ditemani istri atau disiapkan beberapa keperluannya, membuat Abbas merasa hampa. Padahal juga baru ditinggal berapa menit doang tapi efeknya lumayan berasa.

__ADS_1


"Kira-kira Alisa kenapa sih begini? Masa iya cuma gegara obrolan kita semalem," gumam Abbas merasa heran.


Sebenarnya bukan karena dirinya tidak setuju dengan ide itu, hanya saja ia masih menikmati waktu berdua mereka. Bukan tidak menginginkan anak dalam waktu dekat, hanya saja ia masih cukup bersabar kalau memang belum dikasih. Menurutnya, kalau Tuhan belum mau memberi, itu tandanya baik dirinya atau Alisa mungkin bisa jadi belum terlalu siap, makanya ia belum bisa langsung menyetujuinya. Tapi sepertinya sang istri berpikir hal lain sehingga Alisa merasa kecewa duluan dan mungkin berpikir kalau ia tidak setuju dengan ide itu. Padahal kan tidak demikian, tapi sepertinya Alisa terlanjur salah paham.


Lantas bagaimana ia membujuk sang istri nanti ya? Karena Alisa lumayan jarang ngambek jadi ia bingung cara membujuknya. Biasanya ngambeknya Alisa hanya karena PMS, kalau PMS didiemin juga udah jinak sendiri. Tapi kalau ngambek beneran begini Abbas harus ngapain nih?


*


*


*


Abbas : bro, mau nanya


Agha : nanya apaan?


Agha : tips dan trik biar Alisa cepet tekdung? πŸ™ƒ


Abbas menghela napas saat membaca balasan chat yang Agha kirimkan. Kalau boleh jujur, sebenarnya di awal pernikahan dirinya dan Alisa, Abbas begitu sangat ingin mendambakan hadirnya momongan di tengah-tengah mereka lebih cepat, tapi seiring berjalannya waktu, Abbas sadar ada banyak hal yang masih perlu mereka sesuaikan dan kompromikan. Jadi dia tidak ingin gegabah dengan menginginkan buah hati hadir dengan cepat. Apalagi kalau ingat rumah mereka masih dalam tahap pembangunan, rasanya ia semakin merasa belum terlalu siap untuk semuanya.


Abbas : bukan


Abbas : belum


Abbas : apa-apa sekarang mahal, cuy, jadi entar dulu lah, sedikasihnya aja


Agha : Bas, lo nggak lagi kekurangan uang kan? Gue ada nih kalau semisal beneran butuh, ya meski nggak banyak juga


Agha : lo butuh berapa?


Agha : kalau banyak nanti coba gue pinjemin ke mertua gue deh, kalau dari keluarga bokap Mala insha Allah ada sih.


Agha : berapa aja, jangan sungkan!


Abbas : gue nggak sungkan. Nggak papa, thanks udah peduli. Gue hargai itu


Abbas : tapi seriusan beneran nggak papa, lagian lo sama aja butuh banyak uang buat biaya lahiran anak lo ntar. Ingat, Gha, adik Kai kembar


Agha : masih jauh, ntar juga dapet gantinya lagi


Agha : santai aja, Bas. Seriusan, meski nggak bisa bantu banyak, gue yakin bisa bantu kok


Abbas : 🀣🀣🀣


Abbas : seriusan kaga, bro. Aman kok

__ADS_1


Agha : syukur deh kalau aman. Gue beneran ikut seneng dengernya


Agha : terus apa yang ganggu pikiran lo?


Agha : kalau bukan soal uang, terus soal apa?


Abbas : Alisa


Agha : kenapa sama bini lo?


Abbas : emang bener ya Mama mertua lo dulu sebelum hamil Mala, suntik hormon dulu? Terus efek samping dari suntik hormon itu apa aja sih?


Agha : lo dapet info dari siapa? Gue malah nggak tahu sih kalau beliau dulunya suntik hormon.


Agha : kalau untuk efek samping sih ya hampir-hampir kayak orang morning sick.


Agha : tapi gue kasih tahu ya, Bas, morning sick itu nggak enak parah, sumpah apalagi kadang nggak cuma pagi aja itu terjadinya. Buset sih, kehamilan Mala yang kali ini sih mending, tapi yang pas hamil Kai kan gue sampai nggak bisa liat nasi doang, nyium aroma nasi aja gue bisa muntah beneran loh, pokoknya morning sick tuh nyiksa banget lah.


Agha : bahkan katanya nih yang suntik hormon tuh morning sicknya bisa jadi makin parah loh, kalau gue jujur nggak saranin sih buat ini, lagian bukannya nggak ada masalah sama Alisa, harusnya nggak perlu sih kalau emang nggak ada masalah


Abbas : masalahnya pagi ini Alisa diemin gue, keknya gegara gue kurang setuju sama usul dia buat suntik hormon


Agha : eh, bisa ngambekan juga nih sekarang bini lo? Anjir lah, perasaan dulu dia tipe yang independen woman yang nggak dikit-dikit ngambek deh. Kenapa sekarang begini? Lo apain Alisa, anjir? 🀣🀣


Abbas : gue tidurin tiap malem, puas lo? πŸ˜’


Agha : wkwk, bisa, bisa 🀣🀣


Agha : masuk akal


Abbas : malah ngeledek lo, ini gimana nasib gue biar Alisa nggak ngambek lagi. Biasanya kalau Mala ngambek lo apain?


Agha : ajak bobo bareng 🀣🀣


Abbas : 🀬😑😠😀


Agha : beneran, ntar kalo udah bobo bareng biasanya tetiba lupa. Normalnya begini, soalnya kalo pake cara lain beda-beda, Bas, kek misal Kak Ale kalo lagi ngambek sama lakinya butuhnya cuan, entah tetiba ditransfer atau dibantu chekout keranjang belanjaan, kayak Rumi butuhnya dibujuk dan disayang-sayang, Mala bini gue butuhnya diajak jajan atau makan. Nah, kalau Alisa? Gue belum tau, soalnya lo belum pernah cerita🀣🀣 dan sekarang malah nanya. Ya jelas gue nggak tahu lah


Agha : udah dulu ya, bro, gue ada pasien


Agha : btw, lo kalau mau program hamil ke Om Mala aja. Namanya dokter Malvin ntar gue kasih kartu namanya, bilang aja lo kenal gue.


Abbas hanya mampu mendengus saat membaca balasan dari Agha. Otaknya kembali berpikir keras, kira-kira dirinya harus ngapain ya biar Alisa nggak ngambek lagi?


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2