
*
*
*
"Kan, gue bilang lo bakal nyesel kalau gue ajak ke sini," ucap Abbas saat mereka masih berada di bibir pintu. Alisa nampak cukup terkejut melihat penampilan rumah Abbas yang hampir tidak pernah berantakan kini justru terlihat seperti kapal pecah.
Ada hiasan balon dengan tulisan 'will you' saja, karena Agha belum menyelesaikan tugasnya karena insiden parfum pecah. Belum pernak-pernik yang masih tersebar di lantai dengan berantakan, lalu ditambah dapur yang tak kalah berantakan.
Alisa meringis. "Iya sih, sekarang gue nyesel." ia mengangguk lalu menoleh ke arah Abbas, "jadi siapa perempuan itu?"
"Bentar," ucap Abbas sambil merogoh saku celananya, pria itu mengeluarkan ponselnya dari dalam sana.
Hal ini membuat Alisa menjadi berdebar. Batinnya bertanya-tanya, kira-kira siapa ya perempuan beruntung itu. Mendadak perasaan iri hinggap dalam dirinya.
"Lama banget sih," decak Alisa tak sabaran. Ia sedikit melongok ke arah ponsel pria itu, namun, dengan cepat Abbas menghindar.
Karena mulai kehilangan kesabaran, Alisa merebut ponsel pria itu. Ia hanya mampu mengerutkan dahi bingung saat menemukan dirinya di dalam galeri ponsel pria itu.
"Bas?" panggil Alisa ragu-ragu.
Abbas mendengus setengah terkekeh. "Bukan itu orangnya, Sa."
"Oh," respon Alisa seadanya. Kekecewaan menghantamnya telak, tapi ia harus tetap terlihat baik-baik saja, tidak boleh protes sedikit pun.
"Nih, gue kasih lihat," ucap Abbas sambil meraih ponselnya sebentar lalu menunjukkan pada Alisa kembali, "yang ini baru bener."
"Apaan, anjir, ini nggak ada fotonya. Ini cuma kamera depan," decak Alisa emosi. Kedua matanya melotot tajam. Kesabarannya mulai menipis, kenapa pria ini senang sekali mempermainkannya. Batinnya keheranan.
"Ya orangnya emang ini, Sa."
"Hah?" Alisa melongo seperti orang kebingungan, "maksudnya?"
"Orang yang mau gue lamar itu lo, Sa. Tapi berhubung persiapan gue belum selesai jadi ya udah lah, gini aja kali ya? Tunggu, sebentar!"
Abbas pamit undur diri lalu bergegas menuju kamarnya, tak lama setelahnya ia kembali sambil membawa kotak cincin.
"Sejujurnya gue masih agak gengsi sih karena persiapan gue masih begini, tapi nggak papa, gue tetep bakal lamar lo sekarang. Karena gue nggak mau bikin lo semakin bingung."
"Anjir, Gha, lo mau ngapain?" seru Alisa panik saat menyadari kalau Abbas hendak berlutut di hadapannya, "no, no, no, bangun!" perintahnya dengan suara tegas.
Wajah Abbas berubah panik. "Lo langsung nolak gue bahkan di saat gue belum mulai kalimat gue, Sa?"
Alisa menggeleng cepat. "No, bukan itu maksud aku, Bas, tapi kamu nggak perlu berlutut."
Abbas mengerutkan dahinya bingung. "Bukannya konsep ngelamar harus berlutut ya?"
Alisa tersenyum tipis lalu menggeleng. "Gue nggak mau lo ngelakuin itu. Pria lain mungkin melakukannya, tapi khusus buat kamu, aku nggak mau kamu sampai harus berlutut. Bukankah kita teman?"
"Sa?" raut wajah sedih tidak bisa Abbas sembunyikan. Teman? Bukankah itu bukti sebuah penolakan secara keras?
"Aku mau jadi teman kamu, teman berbagi cerita suka dan juga duka, teman berjuang melewati rintangan dan segala cobaan sekaligus teman hidup. Kamu spesial, Bas, saking spesialnya kamu, aku nggak rela kalau harus melihat kamu berlutut. Kamu paham kan maksud aku?"
Dengan wajah polos dengan raut wajah kebingungan. Abbas menggeleng. "Aku nggak ngerti, Sa, jadi intinya kamu mau nggak sih sama aku?"
__ADS_1
Sambil tersenyum malu-malu, Alisa mengangguk cepat.
"Mau apa?"
Kedua bola mata Alisa reflek membulat sempurna. "Ya, mau... Kamu ngajakin apa?"
"Kalau aku ngajak nikah apa kira-kira kamu bersedia, Sa? Tapi kalau kamu belum siap, nggak papa, aku bakal nunggu sampai kamu siap."
Alisa mengangguk sekali lagi. "Aku mau, Bas, mungkin kalau yang menawarkan pernikahan itu bukan kamu, aku nggak akan seyakin ini, tapi berhubung orang itu kamu, aku rasa, aku tidak punya keraguan untuk nolak kamu."
Binar wajah bahagia sekaligus tidak percaya terlihat jelas pada wajah Abbas. "Kamu serius, Sa?" tanyanya mencoba memastikan.
Lagi-lagi Alisa menjawab dengan anggukan kepala cepat.
"Makasih, Sa, makasih banget," ucap Abbas dengan kedua mata berkaca-kaca.
Penantian super panjangnya akhirnya membuahkan hasil. Abbas merasa bahagia sekaligus terharu. Ia memeluk tubuh Alisa erat, ucapan terima kasih tak henti-henti diucapkan pria itu. Alisa bahkan sampai hampir bosan mendengarnya.
"Udah sih, Bas, aku juga mau bilang makasih karena masih mau nerima aku padahal aku udah bekas orang."
"No. Aku nggak suka kamu menyebut diri kamu bekas orang. Kamu berharga, Sa," ucap Abbas sambil melepaskan pelukannya, "aku nggak peduli dengan status kamu, karena yang jelas aku sayang dan cinta sama kamu sejak dulu, sekarang dan seterusnya."
Alisa mengerutkan dahinya heran. "Sejak dulu itu maksudnya kapan?"
"Zaman putih abu-abu."
Alisa melotot kaget. "Sudah sejak itu dan kamu baru ngelamar aku setelah aku jadi janda, Bas? Kamu gila ya?" dengan wajah emosi ia memukul Abbas.
Sambil terkekeh geli, Abbas mengangguk dan mengiyakan. "Iya, aku emang gila, Sa. Gila karena kamu."
"Karena kamu memilih pria lain, aku nggak mungkin bilang kalau aku mengharapkan kamu kan, Sa? Kamu sangat bahagia saat itu, Sa, dan bagi aku itu sudah cukup."
Perasaan Alisa mendadak bersalah. "Bas," panggilnya dengan suara bergetar, "maafin aku! Aku bodoh banget ya selama ini? Kalau tahu perasaan kamu sejak awal, aku nggak akan pacaran sama Kevin atau bahkan sampai nikah sama dia."
"Sa, kita sama-sama salah, aku juga salah karena terlalu pengecut jadi cowok. Jadi mulai sekarang kita nggak usah mengungkit yang udah-udah ya? Lebih baik kita mulai merencanakan masa depan kita. Aku serius mau menikahi kamu."
Alisa mengangguk. "Aku juga siap kamu nikahi, Bas. Secepatnya pun aku siap," ucapnya sambil tersenyum.
Saking bahagianya, Abbas langsung mengangkat tubuh Alisa tinggi-tinggi.
"Abbas! Turunin gue!" teriaknya panik.
Abbas mengerutkan dahi tidak suka. "Kok gue sih?" protesnya tidak senang.
"Emang kenapa? Cuma panggilan aja kan? Lagian Agha sama Mala dulu malah sampai hamil masih panggil lo-gue, kita udah di HTS aja kadang udah panggil aku-kamu. Ngapain gini doang protes sih?"
"Soalnya aku lebih seneng aku-kamu." Abbas merengut manja.
Alisa sampai tidak tahan menahan ketawanya. "Iya, iya, kita tetep aku-kamu kok, lagian enakan aku-kamu. Ya abis tadi kamu bikin aku kesel sih, ya aku pake lo-gue."
"Hehe, iya, maaf." Abbas cengengesan, namun, tidak terlalu merasa bersalah, "btw, cincinnya mau dipake sendiri atau dipakein?"
"Pakein dong, Bas, masa gitu aja pake nanya?" decak Alisa agak kesal.
"Ya kan nanya dulu, abis tadi aku mau berlutut kamu nggak kasih izin, siapa tahu kamu mau pake cincin sendiri juga." setelah mengatakan kalimat itu, Abbas langsung membuka kotak cincinnya lalu memakaikan cincin tersebut pada jari manis Alisa.
__ADS_1
Tidak sesuai rencana, cincin yang Alisa pakai ternyata sedikit kebesaran.
Alisa berdecak sambil berpura-pura memasang wajah sedih. "Duh, sayang banget cincin bagus-bagus begini kok malah kegedean."
Abbas seketika langsung panik. "Maaf, sayang, ini yang pilihin Agha, aku kurang ngerti. Besok kita coba tuker deh ya?" dalam hati ia langsung mengumpati sang sahabat.
Alisa terkekeh. "Enggak papa, Bas, ini bisa aku pake di jari tengah kok," ucapnya lalu memindahkan cincin itu ke jari tengah, "nanti jari manisnya buat cincin kawin. Gimana?" usulnya kemudian.
Abbas mengangguk dengan ekspresi terharu. "Makasih ya, Sa, maaf karena mengecewakan. Ini semua gara-gara si Agha sialan. Katanya kalau nurut dia semua akan berjalan lancar, eh, taunya cincinnya malah kegedean gini."
"Enggak papa, namanya manusia kan cuma bisa berencana, tetep Tuhan lah yang menentukan. Ya, meski kalau dipikir-pikir emang nggak ada yang berhasil satu pun sih," ringis Alisa dengan wajah prihatin.
"Kan, emang nyebelin banget itu si Agha, tahu gini aku nggak usah ngikutin saran dia kali ya?"
Alisa menggeleng tidak setuju. "Tapi menurut aku, kalau kamu nggak coba ikutin saran dia, mungkin kamu belum berani ngelamar aku. Iya kan?"
Dalam hati Abbas mengangguk dan mengiyakan. Alisa ada benarnya juga.
"Ya udah, ayo, mending kita beberes aja lah."
"Eh, nggak mau dilanjut dekor dulu buat foto-foto?"
Alisa terkekeh lalu menggeleng. "Enggak butuh aku, Bas, yang begituan. Udah pernah," guraunya membuat Abbas terkekeh, "eh, bentar, hape aku bunyi."
"Siapa?" tanya Abbas heran.
Alisa kemudian menunjukkan layar ponselnya, terdapat nama Ohim di sana.
"Ya, halo, Him? Kenapa?"
"Lo di mana? Lagi sama Abbas nggak?"
Alisa mengangguk. "Iya, ini lagi sama orangnya. Kenapa?"
"Gue mau ngajakin dia ke rumah sakit sama lo juga nggak papa."
"Emang siapa yang sakit."
"Mala. Kondisinya katanya tiba-tiba drop, ini gue sama Rumi mau otw ke sana, ntar kita ketemu di sana aja ya."
"Iya, iya, ini gue sama Abbas langsung ke sana sekarang."
Sambungan telfon langsung terputus.
"Kenapa?" tanya Abbas panik.
"Mala. Kondisinya katanya tiba-tiba drop, kita harus ke rumah sakit sekarang."
"Hah? Mala? Mala-nya atau janinnya?"
Alisa menggeleng tanda tidak tahu. "Enggak tahu, pokok katanya nggak bagus, entah yang siapa, mending kita ke rumah sakit sekarang deh, Bas."
Abbas mengangguk setuju. Keduanya kemudian bergegas menuju rumah sakit tempat Mala dirawat.
Tbc,
__ADS_1