Married With My Besti

Married With My Besti
Panik


__ADS_3

*


*


*


Begitu kelar jaga poli, gue langsung menghubungi Mala untuk mengajak perempuan itu makan siang. Butuh sedikit waktu lebih lama sampai akhirnya panggilan itu terjawab.


"Hm," respon seadanya dari seberang.


"Udah di RS kan?" tanya gue.


"Udah."


"Temenin maksi bentar, yuk! Gue traktir bebas milih."


Bukannya langsung membalas, Mala malah tertawa kecil. "Enggak bisa, bro, sorry, kapan-kapan aja ya?"


"Kenapa? Lo ada operasi?"


Tumbenan, biasanya juga paling gercep soal traktiran apalagi bebas milih.


"Bukan. Tapi gue abis kecelakaan ini, wkwk, lagi di IGD nih gue."


Astaga, apa dia bilang barusan? Habis kecelakaan tapi nada bicaranya sesantai itu dan masih sempat ketawa-ketiwi? Gue aja yang denger udah ketar-ketir.


"Apa lo bilang? Kecelakaan? Kok bisa?" tanya gue panik, "terus sekarang kondisi lo gimana?"


"Enggak papa lecet dikit. Sini aja deh, ntar gue ceritain kronologis kejadiannya. Ini si Fajar udah melototin gue dari tadi minta gue udahan main hp-nya. Padahal kan ya gue cuma jawab telfon lo doang."


Gue mengangguk paham. "Ya udah, gue langsung ke sana. Gue tutup telfonnya."


"Yo i. Nggak usah lari!" ucap Mala memperingatkan sebelum sambungan terputus.


Tapi mana bisa, gue sudah kepalang khawatir. Meski Mala terdengar baik-baik saja, tetap saja perasaan cemas itu tidak bisa hilang begitu saja sebelum gue memastikan kondisinya secara langsung.


Tanpa berpikir lama gue langsung berlari menuju IGD. Sesaat gue sudah tidak memperdulikan beberapa orang yang mungkin menatap gue heran. Gue tidak peduli. Untuk sekarang yang ada di otak gue hanya segera sampai di IGD dan memastikan kalau kondisi Mala benar-benar baik-baik saja seperti yang terdengar di telfon tadi.


Napas gue masih terdengar ngos-ngosan saat gue sampai di IGD. Kondisi Mala terlihat tidak begitu serius, tapi tidak bisa gue katakan baik juga karena ada


Cervical Collar yang terpasang di lehernya. Dahinya pun hanya ada luka kecil yang kini sudah ditempeli perban, sedang kaki dan tangannya tidak terlihat memiliki luka luar. Dan semoga tidak ada luka dalam. Mala langsung melambaikan sebelah tangannya sambil tersenyum cerah saat kedua netra kami saling bertemu.


Gue mendengus sedikit kesal lalu berjalan menghampirinya.


"Dibilang nggak usah lari juga, ngos-ngosan kan lo jadinya. Udah tahu udah tua, masih aja ngeyel," omelnya kemudian.


Gue baru mau membuka suara untuk balas mengomelinya balik. Namun, kalah cepat karena tiba-tiba ada suara yang menyahut.


"Nirmala, administrasinya udah selesai aku urus. Semoga nanti kamu bisa langsung pulang begitu hasil CT-Scannya keluar, ya. Tapi gimana ya, ini aku harus ke resto sekarang banget. Aku tinggal ke resto bentar ya, ntar aku janji aku bakalan ke sini lagi. Kamu di sini sendirian nggak papa?"


Gue langsung menoleh ke asal suara. Loh, ini kan tetangga Mala kok bisa di sini? Mana tadi apa dia manggilnya Nirmala? Segala pake aku-kamu lagi. Dih, sok asik.


"Gimana?" ulang pria itu karena Mala tidak kunjung memberikan jawaban.


Gue berdehem keras. Membuat pria itu menoleh ke arah gue.


"Eh, maaf, dok, apa hasil CT-Scannya sudah keluar? Udah bisa pulang?"


"Rob, dia temen gue yang cuma mau jenguk gue. Dia bukan dari pihak


Neurologis."


"Oh, maaf, saya pikir ini dokternya. Maaf ya, dok, sekali lagi." Tangannya kemudian terulur untuk mengajak gue berjabat tangan, "perkenalkan saya Robby, tetangganya Nirmala."


Gue tersenyum tipis dan membalas jabat tangannya. "Agha," balas gue singkat.


"Lo ke resto aja, Rob, gue gampang. Temen gue di sini banyak."


"Iya, juga sih, cuma yakin kamu nggak papa? Aku nanti perlu balik ke sini lagi nggak?"


"Enggak usah, ntar paling juga begitu hasil CT-scannya keluar gue langsung pulang kok. Udah lo fokus sama kerja aja, gue ntar gampang bisa nebeng siapa aja."


"Aku jemput aja ya?"


"Enggak usah." Kali ini giliran gue yang menyahut, gue kemudian berdehem karena merasakan dua pasang mata tengah menatap gue intens, "Mala sama gue. Ntar gue yang anter dia."


"Oh, oke, kalau gitu. Aku duluan ya, cepet sembuh, Nirmala."


"Iya, thanks ya, Rob. Sorry ngerepotin."


"Enggak lah, sama sekali nggak ngerepotin kok. Ini kan gunanya tetangga. Kalau gitu aku langsung ya."


"Hm, hati-hati." Robby tersenyum tipis ke arah gue, "mari, dok, saya duluan. Titip Nirmala ya. Permisi, dok," pamitnya lalu pergi.


Gue hanya mengangguk dan mempersilahkan pria itu pergi. Gue yang mendadak merasa gerah langsung melepas snelli gue lalu meletakkan di ujung bed.


"Kenapa itu orang bisa di sini?" tanya gue sambil menggulung lengan kemeja lalu duduk di tepi ranjang.


"Ya, soalnya dia yang nolongin sama bawa gue ke sini, Gha."


Gue langsung menyipitkan kedua mata curiga. "Kok bisa? Kebetulan banget nih?" sindir gue terdengar tidak percaya.


Mala menatap gue datar. "Ini serius lo ngajakin gue berantem soal beginian? Gha, ini status gue masih pasien loh, tega lo?"


Diiringi helaan napas gue menggeleng. Gue menatap Mala intens. "Mana aja yang sakit?"


Bukannya menjawab Mala malah mendengus. Hal ini membuat gue terkekeh samar, pandangan gue kemudian beralih pada luka di dahinya.


"Gue lihat ya?"


"Jangan ntar lo nyinyirin lagi," larang Mala.


"Dijahit?" tanya gue.


"He em."


Gue sedikit membuka perban Mala untuk mengintip lukanya. Reflek gue kemudian berkomentar, "Siapa yang jahit lukanya sih? Nggak rapi banget, udah tahu di dahi, harusnya lebih hati-hati."

__ADS_1


"Kan, kan, lo tuh, ya. Biarin kenapa deh, berhenti ribet. Bikin kepala gue tambah pusing aja."


"Iya, iya, maaf." Tangan gue kemudian terulur dan mengelus rambut Mala, "sekarang ceritain kronologis kejadiannya dulu. Kenapa bisa sampe kecelakaan?"


"Nabrak pohon."


"Kok bisa?"


"Enggak tahu, kejadiannya cepet banget, Gha. Perlu diservis lagi kali ya mobil gue, soalnya rem gue kayak nggak berfungsi gitu, kayak blong gitu remnya. Tapi nggak tahu deh, apa cuma perasaan gue kali ya. Ah, nggak tahu, nggak inget gue. Masih pusing, anjir, jangan disuruh mikir dulu."


"Ya udah, jangan dipikirin dulu. Ntar juga kita bakal tahu dari tukang bengkelnya, udah dibawa ke tukang bengkel kan?"


"Udah diurus sama temen Robby, ntar lo yang ambil ya kalau udah beres?"


Gue mengangguk. "Iya. Santai."


"Sekalian lo juga yang bayar tapi?"


Gue mengacungkan jempol. "Beres. Sekalian nanggung biaya hidup lo juga nggak masalah gue," gurau gue kemudian.


"Wkwk, nikahin gue dulu lah."


"Ayok, mau kapan? Minggu depan?"


"Besok aja gimana? Mumpung besok gue cuti."


"Waduh, nggak bisa kalau besok jadwal operasi gue penuh."


Mala langsung mencibir. "Dih, sok sibuk lo."


"Sirik aja lo," komentar gue sambil merogoh kantong celana dan mengeluarkan ponsel dari dalam sana, "btw, ini Tante Yana udah lo kabarin belum? Gue kabarin, ya?"


"Enggak usah, ntar malah khawatir."


"Lah, terus gimana? Masa nggak dikabarin? Terus ntar yang ngejagain lo siapa? Ini gue ntar sore gue ada operasi, La, nggak bisa stand by buat lo."


"Ntar gue langsung pulang ke rumah aja, Gha, biar nyokap-bokap gue tahu langsung kalau kondisi gue baik-baik aja. Kalau dikabarin sekarang yang ada ntar malah panik."


"Oh." Gue mengangguk paham sekaligus setuju dengan idenya, "gue kira lo nggak mau kasih tahu mereka."


"Ya, kali lo, gue anak tunggal, Gha. Masa gue tega begitu."


Gue tersenyum bangga sambil mengelus pipi Mala. "Ya udah, kalau gitu lo istirahat dulu, ya, gue ke sana dulu nanyain hasil CT-Scan lo dulu udah keluar apa belum."


"Enggak makan siang dulu? Tadi kan kata lo mau makan siang?"


"Iya, ntar gampang. Lambung aku kan fleksibel jadi aman." Gue mengacungkan jempol.


"Dih, aku?" sindir Mala, "katanya geli?"


Lah, emang tadi gue bilang aku? Perasaan enggak deh.


*


*


*


"Ya ampun, Gha, bawaannya kok banyak banget?"


Gue meringis lalu memilih untuk mencium punggung tangan beliau. "Sehat, Tante?" basa-basi gue.


"Sehat, yuk, masuk, masuk! Ya ampun, kamu ini kebiasaan banget deh kalau main ke sini pasti bawaannya banyak. Jangan terlalu dimanjain anaknya, Gha, ntar ngelunjak."


"Hehe, nggak papa, Tante. Sesekali kok," balas gue sambil meringis malu-malu, "Mala-nya belum tidur kan?"


Tante Yana mendengus. "Sekali apanya, udah keseringan kamu tuh. Belum kok, itu masih nonton tv ditemenin Papa-nya. Biasa lah itu anak kalau lagi sakit emang manjanya sama Papa-nya."


Waduh, ada dokter Saga? Gue tuh masih suka nervous parah kalau deket beliau, takut salah ngomong.


"Yuk, Tante anterin."


"Iya, Tante."


Dengan langkah pasrah, gue akhirnya mengekor di belakang beliau. Sebenernya dokter Saga itu nggak galak cuma nggak banyak omong, kalau ngomong singkat dan itu yang bikin gue merasa kayak canggung gimana gitu. Takutnya ntar gue dikira sok asik.


Saat gue sampai di ruang keluarga, gue menemukan pemandangan yang membuat hati gue menghangat saat melihatnya. Bagaimana tidak? Posisi Mala saat ini sedang duduk bersandar di sofa, sebelah kakinya diletakkan di atas meja dengan alas bantal sofa, dokter Saga tepat di sebelahnya sambil sesekali menyuapi Mala potongan buah. Padahal kedua tangan gadis itu menganggur tapi masih aja makan buah doang minta disuapi.


"Sayang, ini Agha udah dateng udahan manja-manjaannya."


Ekspresi Mala langsung cerah. "Udah nyampe lo? Pesenan gue nggak lupa kan?" Ia sedikit menegakkan tubuhnya.


Tanpa menjawab gue langsung mengangkat kantong kresek bawaan gue lalu berjalan mendekat ke arah keduanya.


Gue memilih menyapa dokter Saga lebih dulu. "Sore, dok, sehat?"


Bugh!


Mala langsung memukul pantat gue. "Om!" koreksinya dengan ekspresi sebal, "lo udah kenal berapa lama sih sama bokap gue, masih manggil 'dok' aja." Ia kemudian menoleh ke arah dokter Saga, eh, Om maksud gue. Takut dipukul lagi gue soalnya.


"Papa juga kenapa sih nggak protes kalau Agha masih panggil 'dok' terus?"


"Kenapa?" Om Saga bertanya dengan wajah andalan beliau.


"Ya kesannya kaku banget loh, Pa, kan padahal udah kenal lama."


"Sama aja," balas Om Saga. Tak lama setelahnya beliau langsung berdiri sambil meletakkan mangkuk buahnya di atas pangkuan Mala, "duduk, Gha, saya tinggal."


"Ya ampun, saya? Papa, iiih, dibilang jangan kaku-kaku juga," omel Mala dengan bibir cemberutnya.


Om Saga tidak terlalu menggubrisnya sedangkan Tante Yana hanya menertawakannya sambil geleng-geleng kepala. Tangannya kemudian merangkul sang suami lalu dadah-dadah ke kita sebelum meninggalkan ruang keluarga.


Gue kemudian duduk di sisi Mala. "Itu kenapa kakinya digituin? Bukannya kata lo kemarin nggak papa?" tangan gue terulur, berniat mengambil mangkok yang ada di pangkuan Mala. Namun, dengan cepat Mala malah menjauhkannya.


"Memar, baru kerasa semalem."


Gue menatap Mala sebentar lalu menyingkap celana piyamanya dan benar saja, ada memar cukup lebar. "Sakit?"

__ADS_1


Mala menggeleng. "Enggak, cuma kalau dibuat jalan lumayan agak berasa dikit."


Gue hendak kembali bertanya, tapi dengan gerakan tidak terduga Mala tiba-tiba menyuapi gue dengan potongan buah. Gue hendak protes tapi tidak bisa karena mulut gue penuh.


"Enak nggak?"


Gue hanya mengangguk untuk mengiyakan.


"Mau lagi?" tawar Mala.


Gue menggeleng. "Semalem gimana? Ada mual atau muntah nggak?"


"Mual sama pusing sih iya, cuma nggak sampe muntah."


"Ngeyel sih, kan gue udah bilang stay dulu di rs minimal sehari biar dipantau sekalian. Terus sekarang gimana?"


"Lebay banget sih lo, gue kan cuma gegar otak ringan ngapain dirawat rs dulu? Lagian gini-gini gue juga dokter ya, Gha, nyokap-bokap gue juga dokter kalau lo lupa. Jadi, ya ngapain gue masih di rs? Menuh-menuhin bed rs aja."


"Tapi semalam lo pasti nggak bangunin Om atau Tante kan?" tebak gue.


"Ya enggak lah--"


"Kan, kan, lo itu kebiasaan banget sih."


Mala langsung memukul lengan gue. "Jangan dipotong dulu, gue belum selesai. Gue nggak bangunin nyokap atau bokap karena emang ngerasa nggak perlu. Abis minum obat gue mendingan, terus bisa tidur, jadi ya ngapain bangunin? Ganggu orang tidur aja."


"Tapi tetep aja--"


Kini giliran Mala yang memotong ucapan gue. "Iya, iya, bawel banget sih lo. Makanya buruan nikahin gue biar gue kalau kenapa-kenapa bisa langsung lo urusin. Gue juga nggak sungkan buat bangunin lo malem-malem." Alisnya naik-turun sengaja menggoda gue.


Mendengar itu gue langsung berdiri.


"Dih, ngambekan," ledek Mala, "mau langsung balik nih?"


"Dih, siapa juga yang mau balik."


"Terus mau ke mana?"


"Nyari Papa kamu."


"Ngapain?"


"Mau bilang kalau mau nikahin anaknya minggu depan," balas gue serius. Namun, direspon dengan tawa terbahak-bahak dari Mala. Sambil menghela napas gue kembali duduk, "gue serius, La. Nikah sama gue, yuk!"


"Minggu depan banget?" Mala menaikkan sebelah alisnya tidak yakin.


Kali ini gue tersenyum. "Ya, enggak mungkin lah, kan banyak hal yang harus diurus. Paling cepet paling ya, dua atau tiga bulanan lah ya."


"Lama banget," keluh Mala sambil memajukan bibirnya. Bikin gue gemes.


"Emang lo beneran mau nikah sama gue?"


Dengan perasaan ketar-ketir menunggu jawaban, ponsel Mala tiba-tiba berbunyi. Dan saat gue intip ke arah layar, ternyata orang itu lagi.


"Ngapain itu orang nelfon? Ganggu orang aja."


"Hussh, nggak boleh ngomong gitu. Ini paling si Robby mau ngabarin soal mobil gue. Bentar gue jawab dulu."


"Gue aja," ucap gue sambil merebut ponsel Mala.


Beruntung dia tidak protes.


"Ya, halo?"


"Eh, maaf, bukannya ini nomor Nirmala?"


"Iya bener, ini dia orangnya lagi di samping gue. Ada apa ya? Mau ngabarin mobil?"


"Oh... iya, anu... mau ngabarin mobilnya udah beres."


"Oke, kirim aja alamat bengkelnya biar ntar gue ambil."


"Oh, nggak perlu, ini udah saya ambil dan saya taro di basement apartemen. Cuma mau ngabarin aja kok."


"Oh, oke, thanks, kalau gitu lo kirim aja rekening lo, biar gue transfer biaya semuanya."


Di samping gue Mala tiba-tiba menyenggol lengan gue sambil berbisik, "Jangan galak-galak!" Namun, gue abaikan.


"Enggak perlu diganti, nominalnya nggak banyak kok jadi tidak perlu diganti."


"Loh, nggak bisa gitu dong, tetep harus gue ganti. Soalnya lo udah bantuin banyak calon istri gue. Gue paling nggak suka hutang budi, jadi tolong kerja samanya!"


Mendengar kata calon istri, Mala langsung mencubit pinggang gue. "Heh, gue belum bilang mau, ya."


Yang gue balas dengan isyarat menempelkan jari telunjuk gue pada bibir, menyuruh Mala untuk diam.


"Oh baik, nanti saya kirim nomor rekening saya, meski sebenernya tidak perlu."


"Iya, gue tungguin secepatnya."


"Baik."


"Udah kan? Kalau sudah, gue tutup." Gue bersiap mengakhiri sambungan telfon.


"Tunggu sebentar! Sepertinya saya harus bilang ini."


Gue menaikkan alis bingung. "Soal?"


"Soal kondisi mobil Nirmala."


"Hah? Maksudnya?"


"Sepertinya mobil Nirmala disabotase, ada orang yang sengaja berusaha mencelakai Nirmala."


Mendengar itu darah gue seketika mendidih. Siapa orang yang berani mencelakai Mala gue?


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2