Married With My Besti

Married With My Besti
Keterkejutan Abbas


__ADS_3

*


*


*


"Dari mana aja sih?" decak Agha saat akhirnya berhasil menemui Abbas. Ia kemudian celingukan mencari seseorang, "anjir, kok lo sendirian? Anak gue mana? Lo nggak lupa kan tadi kalau ngajak anak gue?" tanyanya panik.


"Emang belum sama lo--"


Reflek Agha memukul Abbas cukup keras. "Kan tadi gue titipin ke lo, gue lagi sibuk ngurus administrasi sama kamar inap buat Mala, Bas. Gimana sih lo?" potongnya emosi.


"Jangan potong omongan gue, anjir! Anak lo diajak bokap lo!" decaknya tak kalah emosi.


Agha langsung bernapas lega. "Oh, gue kirain lo lupa kalau tadi ngajak anak gue. Lo sih tadi nggak bilang kan gue jadi panik duluan."


Abbas mendengus. "Salah siapa main motong omongan orang."


"Ini lo barusan dari mana?"


Wajah Abbas tadi yang terlihat kesal, kini terlihat semakin kesal. "Gara-gara bokap lo."


Agha menaikkan sebelah alisnya heran. Emang sang Ayah berulah apa nih sampai membuat Abbas sekesal ini?


"Emang bokap gue ngapain?"


Keduanya kemudian berjalan beriringan menuju kamar inap Mala.


Abbas berdecak kesal sambil melotot tajam ke arah pria itu. "Bokap lo mau jodohin gue, anjir," keluhnya kemudian, "enggak ngerti lah gue."


"Tapi lo tolak kan?"


"Gha, lo kenal gue berapa lama sih?" Abbas balik bertanya dengan wajah datarnya.


Kalau Abbas bertanya dengan wajah kesalnya maka Agha langsung terbahak. "Lo iyain?" tebaknya tepat sasaran.


Abbas hanya mampu meresponnya dengan dengusan samar.


"Yee, itu mah salah lo sendiri siapa suruh jadi orang nggak enakan. Lagian apa susahnya sih bilang 'maaf, nggak bisa Om, saya udah punya pacar'."


"Ya mana bisa, anjir, kan gue nggak ada pacar, mau ngakuin pacar siapa coba?"


"Alisa? Bukan?"


Abbas menggeleng. "Kan kalau Alisa bukan pacar gue."


Cklek!


Tubuh Abbas seketika membeku saat menemukan Alisa keluar dari ruang rawat inap Mala. Suasana mendadak canggung, Agha sendiri langsung salah tingkah.


"Gue kayaknya kebelet deh, gue duluan ya," pamit Agha langsung masuk ke dalam ruang rawat inap Mala dan menutupnya begitu saja.

__ADS_1


Sementara Alisa dan Abbas masing-masing dalam mode diamnya, sampai akhirnya Alisa membuka suara.


"Em, gue mau pulang duluan ya, Bas. Gue lupa kalau mau bimbingan sama mahasiswa gue."


Abbas yang masih sedikit linglung, hanya mengangguk dan mengiyakan. Setelah memastikan Alisa menghilang dari pandangannya, barulah Abbas masuk ke dalam ruang inap Mala.


"Lah, kok cepet?" protes Agha.


"Emang mau ngapain lama-lama?" Abbas balik bertanya dengan raut wajah bingung.


Mala dan Agha saling bertukar pandang, lalu tak lama setelahnya keduanya berdecak heran. Sekarang keduanya paham betul kenapa Abbas sampai ditikung orang hingga pelaminan. Pria ini benar-benar payah, pikir keduanya merasa sedih.


"Kenapa ekspresi kalian begitu?" tanya Abbas heran.


Mala menggeleng. "Enggak, gue cuma kasian sama Alisa."


"Gue juga," sahut Agha kemudian, "masa lo nggak nyadar sih, Bas, sama sikap Alisa barusan?"


Cklek!


Obrolan mereka terpaksa terhenti karena pintu kamar inap Mala terbuka lalu muncul Randu bersama Kai.


"Lah, kok udah di sini, Bas?" tanya Randu heran.


Abbas hanya membalas dengan tersenyum canggung


Agha mendengus. "Emang Ayah berharap Abbas di mana?" ia berdecak kemudian tanpa membiarkan yang ayah membalas, "ck, Ayah ini nggak usah sok ikut campur urusan asmara Abbas, dia itu udah punya calon sendiri."


"Ya iya lah, makanya Ayah jangan jodoh-jodohin sama kenalan Ayah. Kayak nggak pernah muda aja sih Ayah ini."


Randu menurunkan Kai dari gendongannya. "Ya kan maksud Ayah baik, lagian Abbas juga nggak nolak kok, kenapa kamu yang jadi marahin Ayah?" protesnya kemudian.


"Soalnya Abbas nggak enak mau nolaknya. Makanya sekarang ini Agha kasih tahu." Agha kemudian melirik Abbas, "buruan balik deh lo, Bas! Daripada ntar dijodohin sama kandidat lain loh."


Randu yang tidak terima langsung memukul sang putra. "Enak aja kamu kalau ngomong! Kamu pikir Ayah tukang maksa."


"Iya," balas Agha tanpa berpikir panjang. Pandanganya kemudian beralih pada Abbas, "sana balik, Bas! Thanks ya udah anterin kita dan bantu jaga Kai. Sorry juga buat kejadian di apartemen tadi."


Abbas mengangguk tidak masalah lalu pamit pulang.


*


*


*


Niat Abbas yang awalnya ingin segera pulang mendadak batal karena tidak sengaja melihat Alisa, perempuan itu duduk melamun di kursi tunggu dekat meja informasi. Tanpa ragu ia kemudian berjalan menghampirinya.


"Sa?" panggilnya ragu-ragu.


Yang dipanggil sontak langsung menoleh ke asal suara. Perempuan itu tersenyum tipis lalu menyapa pria itu seadanya.

__ADS_1


"Hai!"


"Lo ngapain di sini?"


Alisa menggeleng. "Enggak. Tadi agak pusing dikit makanya gue milih buat duduk bentar." ia kemudian tersenyum tipis.


"Kamu sakit? Mau anter anter ke IGD?"


"Enggak perlu, sekarang udah enakan kok, tadi doang yang ngerasa pusing. Sekarang udah baik-baik aja."


"Kamu lagi marah ya sama aku?"


"Kenapa gue harus?" Alisa balik bertanya.


Abbas menggeleng. "Gue juga nggak tahu, tapi... Gue ngerasa lo agak beda aja."


Alisa mencoba memaksakan senyumnya. "Itu perasaan lo aja kali, gue nggak ngerasa begitu kok. Gue ngerasa biasa aja."


"Enggak. Gue yakin ada yang beda," ucap Abbas penuh keyakinan, "ada apa sih, Sa? Gue ada salah? Lo ada masalah? Atau kenapa? Kasih tahu gue!"


Alisa menghela napas. Pandangannya lurus ke depan. Terlihat seperti orang yang sedang menahan emosi.


"Bas, menurut kamu, kita ini apa sih?" tanya Alisa tiba-tiba, hal ini membuat Abbas terkejut bukan main, "lo bisa nggak sih, jangan bikin gue bingung. Gue udah terlalu tua buat ngerasain itu semua, Bas. Tolong kasih sebuah kepastian! Jangan perlakukan gue dengan nggak jelas. Lo selalu ada buat gue, tapi gue nggak ngerti maksud lo apa semua ini. Gue bingung, anjir. Lo lupa nggak sih umur kita ini udah berapa? Udah kepala tiga, Bas."


"Sa?" Abbas gelagapan karena masih berusaha untuk mencerna kalimat Alisa. Mendadak otaknya tidak bisa berpikir jernih. Sebut dirinya bodoh karena menjadi laki-laki sepayah ini.


"Jangan terlalu baik kalau memang perempuan itu bukan aku, Bas!"


Abbas menggeleng tidak setuju. Ia celingukan ke arah sekitar. Ini bukan tempat yang bagus untuk membicarakan isi hati mereka. Maka dari itu ia memutuskan untuk berdiri sambil mengulurkan telapak tangannya.


"Mau ngapain?" tanya Alisa heran.


"Ikut aku!" ajak Abbas. Tanpa permisi, ia langsung meraih telapak tangan Alisa dan mengajak perempuan itu mengikuti langkah kakinya.


Tak ingin membuang waktu lama, Abbas cukup membawa Alisa masuk ke dalam mobilnya.


"Kamu nggak papa kan kalau semisal kita ngobrol di sini?"


Kali ini giliran Alisa yang celingukan ke arah sekitar. Ekspresinya terlihat ragu-ragu, ia kemudian menggeleng pelan.


"Kita bicara di apartemenmu saja," saran Alisa, membuat pria itu menggeleng cepat.


"Jangan di sana!"


Alisa menaikkan sebelah alisnya heran. "Memangnya kenapa? Kamu menyembunyikan perempuanmu di sana?"


"Kamu jangan asal bicara, Sa!" sahut Abbas dengan nada bicara tidak terima, "oke, kalau emang itu mau kamu, kita ke apartemen aku. Tapi jangan nyesel nanti kalau kita udah sampai di sana," sambungnya kemudian.


Setelah memastikan Alisa sudah memakai sabuk pengamannya, Abbas langsung mengemudikan mobilnya menuju apartemennya. Hatinya sudah bertekad.


Baiklah, meski semua rencananya belum siap tapi ia akan mengakui semuanya sekarang.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2