
*
*
*
"Gha, sini bentar deh!"
Gue langsung menghampiri Mala yang kini tengah duduk di sofa sambil bermain ponsel.
"Kenapa?" tanya gue heran. Sesekali pandangan gue beralih pada Kai yang kini sedang memainkan bolanya.
Bukannya menjawab pertanyaan gue, Mala malah mengkode gue agar duduk di sampingnya. Mau tidak mau gue pun akhirnya langsung duduk di sana. Kepala gue bahkan gue sandarkan pada pundaknya. Hal ini membuat Mala berdecak kesal.
"Berat, Gha!" omelnya kemudian. Meski demikian ia tidak ada pergerakan tangan atau tubuhnya untuk menyingkirkan kepala gue pada pundaknya.
"Capek, La," keluh gue kemudian, "kayaknya aku beneran udah tua deh, main bentar sama Kai udah ngos-ngosan aja."
Mala terkekeh geli. "Ya, emang udah tua kali, kan aku juga udah suruh kamu sempetin olahraga kan meski sibuk. Aku juga udah sering ajakin kan? Salah sendiri nggak mau kalau tiap diajakin, sejak Kai udah bisa jalan, kamu tuh pemalas banget tahu, Gha. Nyadar nggak sih?"
Gue tertawa sambil mengangguk dan mengiyakan. "Kan olahraga aku udah main sama Kai, La, itu bocah udah ngajakin keliling komplek terus. Capek juga aku kalau masih harus olahraga yang lain."
Mala mendengus sambil memutar kedua bola matanya. "Dasar!"
Gue mengangkat kepala gue dari pundaknya. "Jadi ngapain kamu manggil aku ke sini, itu kasian Kai main sendiri."
Mala tiba-tiba menyodorkan ponselnya. Gue mengerutkan dahi bingung dan bukannya langsung menerima atau melihat ke arah layar ponsel.
"Kenapa? Minta di chek outin barang di olshop? Check Out aja lah, ntar aku yang bayar, aman."
Gue mengacungkan jempol.
Mala berdecak sambil melotot. "Lihat dulu, Gha!"
Gue menghela napas lalu meraih Ponsel Mala dan melihat apa yang sedang coba ia tunjukkan. Gue tidak bisa menahan wajah bingung gue saat melihat ke arah layar dan menemukan wajah gue semasa awal kuliah.
"Ini maksudnya apa, La?" tanya gue bingung.
"Kamu ganteng deh di situ."
Tunggu sebentar!
"Emang yang di sini nggak ganteng?" tanya gue heran sambil menunjuk diri sendiri.
Dengan wajah polos dan tanpa perlu repot-repot berpikir, Mala langsung menggeleng cepat. Gue mendengus tidak percaya.
"La?" panggil gue dengan nada putus asa.
"Ini foto kapan sih?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Gue kembali melihat foto pada layar ponsel Mala, kemudian berpikir sejenak.
"Entah, lupa. Ini kayaknya pas jaman masih kuliah deh." gue mencoba mengingat lebih jelas, "kayaknya pas libur semester sih, diajak ke Jogja Abbas sama Ohim kalau enggak salah. Eh, ini yang pas mau ke Jogja apa Malang ya? Entah lah, La, aku nggak inget udah lama banget soalnya. Emang kenapa?" tanya gue heran.
Mala terlihat tidak percaya. "Kayak bukan kamu, Gha."
"Bukan aku gimana? Itu jelas-jelas aku, La, yang fotoin Abbas. Kalau nggak percaya coba kamu telfon orangnya," suruh gue kemudian.
"Males," ucap Mala kembali merebut ponselnya dari tangan gue.
Gue melongo. Karena Mala tiba-tiba membandingkan wajah gue dengan foto yang ada di ponselnya.
"Apa gegara potongan rambut kamu ya, Gha? Soalnya foto kamu yang ini tuh gimana gitu loh, Gha. Kayak beda. Masa sih ini pas jama kuliah? Kok aku nggak tahu padahal kan kita satu kampus?"
Gue kembali mencoba mengingat. "Kayaknya bener deh itu pas awal semester, kan kita dulu belum terlalu akrab pas awal semester, La. Maksudnya untuk sampai main bareng pas libur semester kan belum, La."
Mala manggut-manggut paham lalu berdiri secara tiba-tiba. "Berangkat, yuk!"
"Berangkat ke mana?" tanya gue heran.
"Salon. Aku mau kamu potong rambut kayak itu."
Mala kemudian berjalan menghampiri Kai dan menggendongnya. Namun, dengan cepat bocah itu memberontak ingin turun. Akhirnya secara terpaksa Mala kemudian menggendong tangan Kai dan mengajak putra kami untuk mengikuti langkah kakinya.
"Kamu siap-siap juga gih, biar aku gantiin baju buat Kai. Sekalian Kai kayaknya juga perlu potong rambut."
"La," panggil gue tidak yakin. Gue menggeleng, "aku abis potong rambut loh."
Gue menggeleng tidak setuju. "Enggak mau lah, kata kamu, aku udah tua, masa pake potongan rambut begitu?"
"Ya emang kenapa?" Mala malah balik bertanya.
Gue menghela napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "La, kamu yang bener aja dong, aku udah kepala tiga, udah punya kamu dan juga Kai, udah jadi bapak-bapak loh aku tuh, masa kamu masih nyuruh aku potong rambut gaya under cut?"
"Ya, terus masalahnya apa? Papa muda masih banyak kali yang pake gaya rambut under cut begini."
"Iya, kalau dia eksekutif muda atau public figur sih cocok aja, lah aku?" gue memasang wajah memelas, "aku malu sama pasien aku lah, La, kamu yang bener aja?"
Gue berdecak tak lama setelahnya sambil menatap Mala sinis. "Lagian kamu ini kenapa sih? Hamil aja kamu nggak aneh-aneh kok giliran anaknya udah segede itu malah aneh-aneh. Hamil lagi kamu?"
"Emang nyenengin istri itu harus nunggu pas istrinya hamil sama ngidam doang?"
Gue berdecak gemas. "Ya enggak gitu maksud aku, La. Cuma ini perkaranya..." gue menghentikan kalimat gue secara reflek saat menyadari tatapan tajam mata Mala.
"Apa?"
Gue mulai gugup dan juga salah tingkah. "La, jangan begini lah, ayo, kamu bakalan aku turutin minta apa aja meski nggak lagi hamil. Yok, mau apa aja boleh, tas, sepatu, baju, atau apapun. Atau kamu mau aku chek out-in keranjang olshop kamu? Boleh, semuanya juga aku nggak bakalan protes. Asal jangan minta aku potong rambut gaya itu, please, sayang!" ucap gue memelas.
"Emang ada masalah apa sih kamu sama potongan rambut ini? Toh, dulu juga kamu pernah. Enggak usah lebay deh, ayo, berangkat, kamu tenang aja nggak usah khawatir, ntar kamu nggak sendiri kok, Kai juga bakalan potong rambut gaya ini, biar couple-an, Gha, pasti cocok deh kalian."
__ADS_1
Gue langsung bertukar pandang sama Kai yang kini sudah mulai kabur dari gandengan tangan Mala. Karena ditinggal berdebat dulu, Kai sudah asik bermain tisu.
Ragu-ragu gue memanggil Mala. "La."
"Apa?" semburnya galak.
"Lihat anak kamu!"
Mala langsung menoleh ke arah Kai. Detik berikutnya ia langsung menjerit histeris.
"Astagfirullah, Kai! Itu tisunya jangan dibuat mainan begitu, sayang."
Cepat-cepat Mala menghampiri Kai dan merebut tisu yang sudah hampir setengah dari isinya dikeluarkan Kai. Detik berikutnya ia kemudian menoleh ke arah gue dan melotot tajam.
"Kamu itu, udah tahu anaknya mainan tisu bukannya diminta malah dilihatin doang. Lihat nih udah hampir abis setengah, aku baru buka loh, Gha."
"Ya udah, ntar beli lagi. Yang banyak, yang penting aku nggak perlu potong rambut gaya itu."
"Bener-bener ya kamu itu, ngeselin banget deh."
"Ya, makanya jangan aneh-aneh, La!" balas gue tidak mau kalah, "pokoknya aku bakalan ngeselin terus kalau kamu masih maksa aku buat potong rambut gaya itu. Serius, La, aku nggak pede loh."
Mala merengut kesal. "Emang dasar kamu aja yang nggak mau nyenengin istri."
"Loh, loh, kok gitu ngomongnya?" protes gue tidak terima, "bukan aku nggak mau nyenengin kamu, La, tapi permintaan kamu ini menurut aku agak nggak wajar."
"Aneh gimana? Kan aku cuma minta kamu potong rambut doang kok."
Gue menghela napas panjang. "Tapi aku nggak mau, La," rengek gue putus asa.
"Ya udah kalau nggak mau, jangan minta jatah, jangan minta dimasakin, jangan minta tidur bareng. Bye!"
Gue melongo tidak percaya. "La, kamu tega sama aku?"
"Kamu tega juga sama aku, kenapa aku nggak boleh tega sama kamu?"
"Ya, enggak begini dong, sayang."
"Bodo amat, pokok keputusan aku fin-"
"Oke, kita potong rambut sekarang," potong gue pada akhirnya dengan raut wajah pasrah.
Kedua mata Mala langsung berbinar cerah. "Serius?"
Kini giliran gue yang merengut kesal. "Ya dari pada nggak dapet jatah," gerutu gue kemudian.
Mala tersenyum puas. "Hehe, makasih, sayang," ucapnya kemudian.
Seketika gue merasa merinding saat mendapat perlakuan demikian, kok lama-lama gue agak ngeri ya sama Mala? Berasa kayak nggak biasa. Ini beneran Mala istri gue, Mama-nya Kai bukan sih? Kok serem?
__ADS_1
"