Married With My Besti

Married With My Besti
AA Couple Story 18


__ADS_3

*


*


*


"Bas, beneran ya istrimu habis keguguran?"


Abbas sedikit panik saat mendengar pertanyaan sang ibu. Ia sudah susah payah agar berita ini belum sampai ke telinga sang ibu. Karena kalau mengingat kondisi sang istri yang belum begitu bagus, ia tidak enak. Lalu dari mana sang ibu tahu tentang kondisi sang istri?


"Ibu tahu dari mana?"


"Enggak penting ibu tahu dari mana, yang jelas sekarang kamu jawab jujur. Bener atau nggak?"


Tanpa mengeluarkan suara, Abbas hanya mengangguk dan mengiyakan tanpa perlu repot-repot mengeluarkan suara.

__ADS_1


Hapsari terlihat sangat shock. "Kok bisa? Jadi maksudnya sebelum itu Alisa sempat hamil?"


"Iya. Ibu jangan khawatir, Alisa bisa hamil kan? Walau belum rejekinya tapi setidaknya ini bisa jadi bukti kalau Alisa beneran bisa hamil. Sekarang ibu percaya ya kalau Alisa beneran bisa hamil?"


"Sekarang bukan itu intinya, Bas. Istrimu memang bisa hamil, tapi kamu lihat dia mengalami keguguran untuk yang kedua kalinya, dan bahkan kondisinya ia tidak tahu sebelum kalian kehilangan calon bayi kalian. Kamu tahu artinya, Bas?"


Abbas diam saja dan tidak membalas.


"Itu artinya perempuan itu tidak cukup peka terhadap dirinya dan calon cucu-ku, Bas. Apa kamu mengerti?"


"Bu, bisa nggak sih ibu kalau ngomong tentang Alisa lebih hati-hati. Mana boleh ibu bersikap demikian hanya karena dulu status Alisa janda. Lagian masalah kami yang nggak tahu soal kondisi dia yang sempat hamil, itu emang sudah takdirnya. Harusnya ibu kasih kami nasehat agar tidak menyerah atau berputus asa bukannya malah seolah-olah nyalahin Alisa begini. Cukup, Bu, Alisa orng baik, dan aku nggak bisa kalau dia diperlakukan seperti ini."


Ya memang begitu lah.


"Bu, Abbas dan Alisa posisinya sedang terluka karena habis kehilangan calon bayi kami. Bagi kami itu berat, Bu, kalau nggak mau kasih semangat atau lainnya minimal ya nggak usah bersikap demikian." Abbas kesal setengah mati karena sikap sang ibu masih terkesan kurang welcome terhadap sang istri padahal dirinya dan Alisa menikah sudah beberapa bulan. Tapi entahlah seperti tidak semudah itu untuk menerima status yang dulu pernah Alisa sandang.

__ADS_1


"Padahal kalau kamu mau nikah dan hamil anak orang lain, hidup kamu nggak akan begini."


Abbas tidak protes. Pria itu mengangguk dan mengiyakan. "Iya, bener banget. Karena bisa jadi aku nggak akan bisa bahagia kalau nggak nikah sama Alisa."


"Sebenernya spesialnya perempuan itu apa? Atau memang kamunya nggak mau punya anak, makanya kamu ngerasa senang aja karena istrimu nggak jadi hamil."


Abbas menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Oke, baiklah, harap tenang dan bersabar. Tidak masalah, semua akan baik-baik saja.


"Bu, aku sama Alisa sedih sekaligus terpukul, sekarang aja aku lagi pusing gimana caranya biar Alisa kembali ceria. Tapi kenapa ibu bersikap demikian? Baik aku sama Alisa sama-sama menginginkan anak, tapi kalau memang belum rejekinya ya seperti sekarang ini, Allah akan langsung mengambilnya tanpa kasih tahu kami lebih dulu. Abbas minta tolong banget supaya ibu bisa lebih sabar. Bisa, bu? Insha Allah secepatnya lagi kami akan diberi amanah. Aamiin."


"Terus kenapa kamu nggak kasih tahu ibu pas kondisi Alisa pendarahan sampai keguguran itu?"


"Abbas sama Alisa cuma nggak mau kalau ibu khawatir makanya kami nggak kasih tahu lebih dahulu."


"Bukan karena kamu sudah nggak nganggep ibu lagi?"

__ADS_1


"Astagfirullah, terserah ibu lah. Abbas capek gimana harus ngedepi ibu yang sekarang." Abbas tidak mampu berkomentar lebih lanjut dan memilih untuk pamit.


Tbc,


__ADS_2